
Di kamar pink yang cukup luas, seorang gadis cantik sedang menatap kekasihnya dengan wajah cemberut.
"Ha"Hey kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Damien yang baru saja memasuki kamar, ia ingin menjemput Stella untuk makan malam.
"Aku kesal by."
Damien menautkan kedua alisnya, siapa yang berani membuat kekasihnya ini menjadi kesal.
"Apa yang membuatmu kesal heemm?" Damien berjongkok di depan Stella sembari menatapnya lembut.
"Hubby tau ngak di kampus ada Dosen baru yang ganjen."
Damien menautkan kedua alisnya, Dosen ganjen? apa Dosen itu berusaha merayu kekasihnya, di bayangan Damien kali ini ialah seorang pria tua yang memiliki perut buncit.
"Benarkah? apa Dosen itu merayu mu?" tanya Damien dengan santai, hal itu justru membuat Stella geram.
"Apa Hubby tidak cemburu?"
Damien terkekeh lalu mengelus lembut pipi Stella. "Untuk apa aku cemburu pada Dosen mu itu, aku percaya kamu tak akan jatuh cinta dengannya." ucapnya kemudian.
Mendengar jawaban Damien Stella malah semakin menekuk wajahnya.
"Sudahlah kita bahas nanti saja, sekarang kita makan dulu." Damien menarik tangan Stella membawa gadis itu keluar kamar menuju lantai bawah.
Makanan sudah tertata rapi di meja makan, keduanya memandangi satu persatu masakan itu dan mulai mencicipinya, saat Damien akan menyuapkan makanan ke mulutnya, sang asisten datang mengagetkan keduanya.
"Maaf Tuan di luar ada tamu?"
"Siapa malam-malam begini bertamu." gerutu Damien saat santap malamnya di ganggu.
"Kamu makan duluan saja sayang, aku akan melihat siapa yang berani mengacaukan makan malam kita." Damien berdiri, Stella hanya mengangguk lalu melanjutkan makan.
Seseorang sudah menunggu Damien di ruang tamu sedang memainkan ponselnya, ia mendonggak saat terdengar suara deheman dari pemilik mansion.
"Ekheeem.."
"Ada kepentingan apa kamu kemari malam-malam?" tanya Damien.
"Ah Kakak aku merindukanmu." Arrabel berdiri dan menghampur memeluk Damien, ia memeluk dengan sangat erat, sementara Damien sama sekali tidak ada keinginan untuk membalas pelukannya.
"Apakah kedatangan ku menganggumu?" tanya Arrabel menunduk sedih saat pelukan itu terlepas.
Damien menghembuskan nafas kasar, dia menjadi tidak enak hati pada tamunya satu ini.
"Aku sedang makan malam, apa kau mau bergabung?" tanya Damien pada akhirnya.
Wajah yang senduh itu berubah berbinar dan mengangguk semangat, lalu keduannya berjalan bergandengan ups bukan bergandengan tapi Arrabel yqng bergenyut manja di tangan Damien.
Mendengar derap langkah yang semakin mendekat ke arah nya, Stella yang sedang fokus makan kini menoleh ke belakang.
"Siap-.."
Tatapan Stella berubah tajam saat melihat Arrabel mengandeng kekasihnya, malah yang di gandeng terlihat biasa saja dan hal itu membuat Stella geram.
"Dia akan ikut makan disini." ucap Damien kembali duduk ke tempatnya semula.
Sementara Arrabel tanpa sungkan langsung mengambil makanan, gadis itu sengaja duduk di samping Damien membuat mata indah yang berada tepat di depannya menatap marah.
"Aku sudah selesai." Stella berdiri meninggalkan meja lalu pergi tanpa menatap keduanya.
__ADS_1
Damien hanya bisa menghembuskan nafas dalam saat melihat kekasihnya marah. "Cepat selesaikan makanmu, setelah itu pulanglah ini sudah malam."
"Kau mengusirku?" tanya Arrabel menunduk sedih, ia hanya makan 2 suap saja saat mendengar Damien mengusirnya.
"Ini sudah malam, apa orang tua mu tidak mencarimu nanti."
"Justru mereka lah yang menyuruhku kemari." batin Arrabel.
Stella yang saat itu kesal keluar mencari angin segar melewati pintu samping.
"Dasar Om-om playboy." gerutu Stella di setiap langkahnya.
Nona mau kemana?" tanya bodyguard cantik, ia merasa majikannya sedang tidak baik-baik saja.
""Jangan ikuti aku, aku ingin sendiri."
"Tapi Nona." bodyguard cantik itu tetap membuntuti Stella, tiba-tiba Stella menghentikan langkahnya, hal itu membuatnya sangat terkejut.
"Jangan mengikuti ku." Stella berbalik menatap wanita itu dengan tajam, sementara bodyguard menelan ludahnya kasar saat di tatap seperti itu.
"Ba-baik Nona." ucapnya menunduk takut.
Akhirnya Stella melanjutkan langkahnya, ia berjalan-jalan menyusuri taman yang berada di depan mansion, hingga langkahnya terhenti saat mendengar suara gaduh dari arah gerbang.
Malam itu keamanan cukup lenggang, hanya ada beberapa pengawal yang berjaga, sama halnya seperti sang bodyguard, para pengawal pun juga mendapat tatapan tajam dari Stella saat gadis itu menolak untuk di kawal.
"Suara apa itu, ah sebaiknya aku keluar melihatnya." ucap Stella, sementara pengawal yang menjaga di gerbang saat itu sedang pergi ke kamar mandi, membuat Stella dengan gampangnya keluar tanpa harus bersiteru dahulu dengan para pengawal.
Stella terus melangkah, tidak jauh dari sana ada 2 orang laki-laki yang sedang bertengkar, awalnya hanya beradu ucap tapi lama kelamaan keduanya kini beradu jotos, Stella mendekatkan dirinya berusaha melerai keduanya.
"Berhenti, ada masalah apa kalian? kenapa harus mengunakan kekerasan."
Kedua pria itu berhenti saat mendengar suara seorang wanita, keduanya mengangguk kompak lalu dengan sigap mencekal kedua tangan Stella dengan erat, saat gadis itu ingin melawan, salah satu dari mereka mengambil sebuah sapu tangan dan menempelkannya pada hidung Stella, tidak menunggu waktu lama gadis itu akhirnya pingsan.
Tak lama ada satu mobil berwarna hitam yang menghampiri mereka, kedua orang itu langsung membopong tubuh Stella dan membawahnya masuk ke mobil.
Tanpa mereka ketahui ada seorang wanita yang dari tadi menatap mereka dengan tajam.
"Aku harus memberitahu Bos." ucapnya mengambil ponsel dan mulai menelpon.
'Tuut tuuut..'
Tanpa menunggu lama telpon pun tersambung, sesaat wanita itu memberi informasi, tak lama terdengar suara makian dari telpon tersebut.
"Brengsek, kenapa kau membiarkannya begitu saja." umpatnya.
Wanita itu langsung menutup telpon setelah mendapat perintah untuk mengumpulkan para pengawal dan segera mencari Stella.
1 jam setelahnya.
MObil yang membawa Stella tiba-tiba di hadang oleh seseorang, pria itu memakai sepeda sport berwarna merah, dengan gayanya yang manly, ia turun dari sepeda, berjalan menghampiri mobil yang sudah berhenti.
"Shiit..siapa yang menghadang kita?" tanya salah satu pria yang berada di dalam mobil.
"Entahlah, jaga wanita ini kami saja yang turun." ucap uang lain.
Saat ini posisi Stella sudah terikat dari tangan hingga kakinya, gadis itu mengira jika yang menolongnya saat ini ialah Damien.
"Brengsek, siapa kau berani-beraninya menghadang kami?"
__ADS_1
Pria itu tersenyum smirk menatap satu persatu mereka dengan tatapan membunuh, tanpa menjawab dengan gesit ia berlari menendang salah satu dari mereka hingga pria itu jatuh terlentang.
"Sialan, ternyata kau punya nyali juga." ucap salah satu penculik.
"Jangan banyak omong, hadapi aku sekarang."
Ketiganya langsung melawannya secara bersamaan, tapi pria itu berhasil merobohkan ketiganya dengan cepat, tinggal satu orang lagi yang berada di dalam mobil, ia melangkah mendekati mobil untuk melihat orang yang terikat tadi.
"Kamu."
"Pak Albert."
Ternyata penculik yang berada di mobil bersama Stella sudah lari entah kemana, dengan cepat Albert membuka ikatan kaki dan tangan gadis itu.
"Kamu tidak apa-apa?" Albert membawah Stella keluar dari mobil.
"Saya baik-baik saja, Bapak kenapa ada disini?"
"Jangan bicara terlalu formal jika di luar kampus, lihatlah aku masih sangat muda tidak pantas jika kamu memanggil ku Bapak, panggil saja Kak Albert."
"Oh ya, aku setiap hari melewati jalan ini saat pulang, dan tadi kebetulan aku melihatmu di dalam mobil dengan beberapa orang yang mencurigakan." tambahnya lagi.
Stella sempat menaruh curiga pada Dosennya itu, tapi saat melihat cara bicara dan gestur tubuhnya, pria itu tidak sama sekali menampakkan kegugupan, akhirnya Stella hanya mengangguk percaya.
"Terima kasih Kak sudah menolong saya."
"Sama-sama." ucap Albert tersenyum.
Tak lama sebuah mobil sport dan mobil BMW tiba disana, keluarlah Damien dan Robby di susul beberapa bodyguard di belakangnya.
"Sayang bagaimana keadaanmu." Damien terlihat sangat kawatir dia menatap Stella dari kaki hingga kepala untuk memastikan jika kekasihnya tidak terluka.
"Aku tidak apa-apa Om." Stella pun menghambur memeluk Damien.
"Ekhem.." Albert berdehem untuk menyadarkan keduanya.
Damien yang baru sadar ada orang lain disana pun segera melepas pelukannya.
"Siapa kamu?"
"Emm dia yang menolongku Om namanya Kak Albert." jawab Stella.
"Sepertinya kita pernah bertemu tapi dimana, ah aku ingat bukankah kau Kakak dari Arrabel." ucap Damien, sementara Stella tersentak kaget, benarkah yang di ucapkan kekasihnya, oh dunia ini terasa sempit sekali pikirnya.
"Ya anda benar Tuan Damien." Albert tersenyum ramah.
"Jangan memanggil Tuan panggil saja Om Dam, terima kasih sudah menolong kek ah keponakan ku maksudnya." Damien hampir saja keceplosan.
"Sama-sama Om, kalau begitu saya pamit dulu mari Stell." Albert pergi dari sana.
"Sekali lagi terima kasih." Stella tersenyum sangat manis, hal itu membuat Damien cemburu.
"Cukup jangan tersenyum padanya lagi." ucap Damien datar, Stella hanya terkekeh melihat sikap Omnya.
"Om bisa membawah mere-" ucapan Stella terhenti saat menatap sekitar, kemana tiga orang yang tadi tergelatak di aspal, bahkan mobilnya pun menghilang.
"Kenapa sayang?" Damien menautkan kedua alisnya, menatap kekasihnya heran.
"Ah tidak, ayo kita pulang." ajak Stella bergelanyut manja di lengan Damien.
__ADS_1
Akhirnya semua yang berada disana pergi meninggalkan tempat itu.
Bersambung...