
Sebelumnya Damien menceritakan masalahnya pada keempat pria muda ini tanpa ada yang tertinggal sedikit pun, keempatnya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Om Dam ingin kami mengancam pemilik resto dan Hotel mengunakan marga kami bukan begitu Om?" Damitri tersenyum menyeringgai.
Belum juga Damien memberitahu tugas mereka, tebakan dari Damitri sudah menjawab semuanya.
"Cerdas." ucap Damien.
"Ada satu lagi, kali ini Om butuh bantuan mu Lan."
"Apa itu Om?" Lano menegakkan tubuhnya siap menerima tugas dari Damien.
"Cari tahu siapa yang meneror Stella."
Ucapan Damien membuat keempat pria ini terkejut, siapa yang berani meneror gadis cantik itu, mereka tidak percaya jika gadis itu memiliki musuh.
"Baik Om." jawab Lano.
Keempat pria itu beranjak dari sofa dengan serempak. "Kalau begitu kami pulang dulu Om, kami akan segera bertindak." Damitri menjabat tangan Damien khas gangster begitu juga dengan ketiganya.
"Titip salam untuk Stella dari kita berempat Om." tambah Lano.
Damien memutar bola matanya malas, anak muda sekarang terlalu agresif.
"Aku tunggu kabar dari kalian." Damien tidak mengiyakan ucapan Lano.
Keempat anggota Red Blood berlalu meninggalkan mansion milik Damien.
****
Di tempat lain anak dan ibu ini saling berdebat karena kecerobohan yang di perbuat sang putri, rencana yang di susun rapi-rapi dari jauh hari hampir saja hancur, Arrabel sehari semalam tidak pulang ke mansionnya membuat Mamanya semakin murka.
"Kamu bodoh, kenapa kamu ingin menjebak pria bajingan itu? tidak bisakah kamu fokus dengan tujuan kita."
Lagi-lagi Mama nya membahas rencana, rencana dan rencana hal itu membuat Arrabel muak.
"Maafkan aku Ma, awalnya Arra ingin rencana ini berjalan sesuai perintah Mama, tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku menyukainya aku menyukai Damien." ucap Arra dengan wajah memelas.
"Kamu benar-benar gila Ra, kamu mau menghianati Mama iya?" teriak Mama Arra, wanita itu menangis menginggat apa yang pernah Damien lakukan pada orang tuanya.
Tidak lama datang laki-laki yang usianya tidak jauh dengan Mama Arrabel melerai keduanya.
"Cal sudahlah jangan memaksa putri mu, kita akan menghancurkan Damien dengan cara kita sendiri." ucap Derward suaminya.
Apa Mama dari Arabbel itu Calista? jawabannya ya, sejak meninggalnya Darren Calista harus menerima nasipnya, kehilangan ayah dari anaknya, sekaligus kehilangan Ansel dari hidupnya, wanita itu mengasingkan dirinya di suatu tempat hingga waktu persalinan tiba, Calista mempertahankan kandungannya bukan karena sayang pada putrinya, tapi ia memiliki tujuan lain yaitu menjadikan putrinya sebagai alat balas dendamnya pada Damien, pria yang sudah membunuh kedua orang tuanya, hidup Calista semakin terpuruk saat harta miliknya habis tanpa sisa, ia bertekat mencari pria kaya untuk di jadikan suami, hingga dirinya bertemu dengan pria berwajah blasteran yang bernama Derward, Derward sangat mencintai Calista, meskipun Calista seorang janda anak satu, tapi tidak untuk wanita ini, ia menikahi Derward hanya untuk memperlancar rencananya.
"Terima kasih sayang." Calista mengecup bibir Derward sekilas.
__ADS_1
"Mama minta kamu cepat-cepat menemui pria itu, jangan sampai pria brengsek itu curiga padamu." perintah Calista pada Arrabel.
"Baik Ma." Arrabel menjawabnya dengan perasaan kesal.
Kedua pasutri itu pergi dari hadapan Arrabel, sementara Arrabel bergegas melaksanakan perintah sang Mama, Arrabel mengendarai mobil sendiri menuju mansion Damien, gadis itu terus tersenyum menginggat sebentar lagi ia akan menemui pujaan hatinya.
Mobil Arrabel berhenti tepat di bagasi, berpapasan dengan mobil anggota Red Blood yang baru meninggalkan mansion Damien.
"Kak Dam." panggil Arrabel, seketika itu juga Damien berbalik.
Damien mendengus sebal, sebenarnya ia ingin ke ruang bawah tanah menemui Fay, tapi kedatangan Arrabel mengagalkan semuanya.
"Arra, masuklah." suruh Damien, mempersilahkan Arrabel untuk duduk.
"Terima kasih." Arrabel tersenyum manis, senang sekali melihat Damien menyambut dirinya dengan hangat.
"LERII.." teriak Damien.
Leri datang dengan nafas terengah-engah. "Saya Tuan."
"Tolong buatkan minuman satu saja." suruh Damien.
"Baik Tuan." Leri bergegas pergi.
Damien ingin menanyakan hal kemarin pada Arrabel mungkin gadis itu tahu sesuatu.
Arrabel menelan ludahnya dengan susah payah, ia berusaha bersikap setenang mungkin, semoga kebenaran itu tidak akan pernah terungkap, Arrabel percaya Mama dan Papanya sudah menghilangkan jejak kejadian di resto dan kejadian di hotel kemarin.
"Apa maksudmu kak? aku tidak mengerti, siapa yang menjebakmu?" tanya Arrabel memasang wajah polosnya.
Melihat ekspresi gadis di depannya, membuat Damien berfikir jika Arrabel tidak mungkin terlibat dalam rencana penjebakan itu.
"Maaf, lupakan saja pertanyaan ku tadi." ucap Damien tidak enak hati sudah menuduh orang sembarangan.
Arrabel tersenyum akhirnya gadis itu bisa bernafas lega, ia pun memberanikan dirinya menyentuh tangan Damien. "Tidak apa-apa Kak, aku mengerti kamu sedang ada masalah, kamu bisa menceritakan masalah mu padaku, siapa tahu aku bisa membantu mu." wajah dari Arrabel terlihat begitu tulus saat mengatakannya.
"Terima kasih, aku baik-baik saja." Damien membalas gengaman tangan Arrabel.
Dari jauh Stella bisa melihat, wanita yang bernama Arrabel pembohong kelas teri, kenapa Stella menyebutnya pembohong kelas teri? karena wanita itu tidak bisa menutupi kegugupannya, Stella bisa tahu semuanya hanya dengan melihat gestur tubuh Arrabel saat sang Om mengancamnya .
Tanpa permisi Stella menghampiri keduanya, lalu duduk di tengah-tengah mereka.
"Sayang apa yang kamu lakukan?" tanya Damien.
Stella mendekatkan kepalanya, membisikkan sesuatu tepat di telingga Damien, kelakuan Stella membuat darah pria itu berdesir hebat.
"Om tidak boleh dekat-dekat dengannya, Stella tidak suka." bisik Stella.
__ADS_1
Tubuh Damien membeku di tempat, sepertinya laki-laki itu tidak baik-baik saja, terlihat dari wajahnya mulai mengeluarkan keringat, entah kegerahan atau apa.
"Om sakit?" wajah Stella terlihat kawatir, gadis itu mengapit kedua pipi Damien, mengusap kening yang penuh keringat itu dengan tangannya.
Tanpa Stella tahu kelakuannya malah membuat Damien tersiksa. "Stella, Om baik-baik saja." Damien berusaha melepas tangan nakal itu.
Arrabel memandang Stella dengan tatapan membunuh, jari tangannya mulai mengepal.
"Om bohong Om tidak baik-baik saja, sebaiknya Om beristirahat." Stella mulai beranjak berdiri.
"Maaf Om Damien tidak menerima tamu untuk hari ini, sebaiknya kamu pergi saja."usir Stella, ia menarik tangan Damien memaksa pria itu masuk ke dalam.
"Tapi Stell." tangannya di tarik paksa oleh Stella, dengan terpaksa ia menuruti kemauan gadis itu.
Arrabel sangat kesal, ia langsung beranjak dari sofa meninggalkan mansion Damien, Arrabel harus menyingkirkan gadis itu, menurutnya Stella akan menjadi penghalang untuknya mendapatkan Damien.
Sementara di kamar Damien, gadis itu memaksa Om nya untuk tidur dengan mendorong tubuh Damien ke atas ranjang, tangan Damien dengan reflek menarik pinggang Stella, membuat gadis itu jatuh tepat di atasnya, mata keduanya saling tatap, degup jantung keduanya sama-sama berdetak kencang, posisi mereka begitu intim saat ini, membuat sesuatu yang berada di bawah tubuh Damien terbangun.
"Ini apa Om?" dengan polosnya gadis itu memegang benda yang sudah mengeras, Stella penasaran benda apa yang menganjal di perutnya saat ini, entah Stella sengaja atau memang gadis itu terlalu polos.
Mata Damien melotot, tubuhnya membeku, Stella benar-benar membuatnya tidak bisa berkutik.
"S-Stell jangan di pegang sa-sayang." ucap Damien terbata.
Dengan cepat Stella melepas tangannya dan beranjak dari tubuh kekar milik Om nya.
"Om baik-baik saja?" gadis itu terlihat panik, dilihatnya wajah Om nya semakin memerah.
"Buatkan teh hangat untuk Om sekarang." dengan cara itu Damien bisa mengusir gadis nakal di sampingnya.
"Hah.."
"Cepat sa-sayang." wajah Damien memelas.
"Baiklah akan ku buatkan." Stella turun dari ranjang meninggalkan kamar pribadi milik Om nya.
"Aarrggh sial." Damien berlari ke arah pintu dan menguncinya, selepas itu ia berlari ke arah kamar mandi, entah apa yang akan pria itu lakukan untuk menidurkan miliknya.
"Kenapa gadis itu nakal sekali." umpat Damien.
Tidak lama Stella kembali membawah satu cangkir teh untuk Om nya, gadis itu menautkan kedua alisnya saat tahu pintu kamar Om nya terkunci dari dalam.
"Om Dam bagaimana sih, katanya di suruh buatin teh hangat, kenapa pintunya malah di kunci." dengan rasa kesal Stella mengedor pintu kamar milik Damien.
Berkali-kali gadis itu berteriak tapi tidak mendapat jawaban dari dalam, dengan geram Stella berlalu dari sana meninggalkan kamar milik Damien.
"Om Dam menyebalkan sekali." Stella menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.
__ADS_1
Bersambung ...