Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Ada Harapan


__ADS_3

Dengan langkah gontai tubuh bagai tak bertulang, Ansel berjalan kembali ke mobilnya, ia menyuruh sahabatnya Garvin untuk menyetir.


Kedua mayat akan di kuburkan, sementara satu mayat yang di duga jenazah Bella akan di bawah ke rumah sakit untuk di otopsi.


Di mansion semua orang tidak bisa tidur menunggu kabar dari Ansel, tidak lama terdengar deru mobil Ansel terparkir di garasi membuat semuanya beranjak dari sofa, keempat pria ini berjalan menuju ruang keluarga.


"Bagaimana nak?" tanya Mama Eva pada menantunya.


"Ansel menemukan ini." ucap Ansel menunjukkan kalung liontin yang ia berikan saat pesta berlangsung.


"Bella.." teriak Mama Eva histeris, seketika itu juga Mama Eva kembali pingsang, semuanya panik, Papa Tio di bantu Ansel mengotong Mama Eva ke sofa.


"Apa kamu menelpon pihak berwajib?" tanya Papa Robert.


Ansel mengangguk. "Kita butuh mengotopsi mayat itu Pa, biarkan mereka yang bertugas." jawab Ansel.


Papa Robert pun ikut mengangguk.


"Kita belum mengecek cctv kan Fel?" tanya Ansel pada Felix.


"Tidak ada petunjuk disana." jawab Felix.


Ansel kembali lesu, padahal pesta pernikahan ini sangat di nanti-nantikan oleh istrinya, mata itu kembali berembun, biarlah ketiga sahabatnya mengejek, Ansel tidak perduli.


Akhirnya semua orang beristirahat, mereka semua menginap di mansion milik Ansel.


Ansel hanya bisa menangis dan menangis saat memasuki kamar yang biasa keduanya gunakan untuk memadu kasih, kamar itu sudah di rias seperti kamar pengantin baru, membuat hati Ansel semakin membatu.


Malam pun berganti pagi, hari ini Ansel benar-benar ingin mencari dimana istrinya berada, semalam dia bermimpi jika Bella menemuinya, Bella bilang bahwa dirinya baik-baik saja, dia berada di tempat yang jauh, Bella meminta Ansel untuk menjemputnya.


"Sayang mau kemana kamu? ayo sarapan dulu!" ucap Mama Tia saat melihat putranya berjalan terburu-buru.


Di meja makan, semuanya sedang sarapan.


"Ansel tidak lapar Ma, Ansel mau mencari Bella." ucap Ansel tersenyum.


Hati Mama Tia bagai tersayat pisau melihat anaknya saat ini, apakah Ansel tertekan sehingga membuatnya berhalusinasi.


"Nak ikhlaskan Bella." ucap Mama Tia.


"Bella masih hidup Ma, semalam dia menemuiku." teriak Ansel ia berlalu pergi begitu saja.


Melihat menantunya seperti itu membuat Mama Eva kembali menangis, hingga mata itu terlihat bengkak.


"Tolong susul Ansel." ucap Mama Tia menatap ketiga teman putranya dengan mata sayu.


Untung saja Felix, Mads dan Garvin sudah selesai makan.


"Baik Tante kami permisi dulu." pamit Felix pada semuanya.


Ketiganya pergi mengikuti Ansel.

__ADS_1


"Kenapa kalian kemari?" tanya Ansel pada ketiga sahabatnya.


"Kami akan membantumu mencari Bella." jawab Felix.


Ansel tersenyum ia pun berlalu menuju markas, karena Felix yang memintanya, Felix akan menggunakan skillnya untuk mencari dimana Bella.


Akhirnya setelah 3 jam duduk di depan komputer Felix berhasil meretas data rumah sakit terdekat di tempat kejadian.


"Sel, di Rs.Sehat ada data yang mencurigakan, bukankah yang bertanggung jawab disini atas nama Damien." ucap Felix.


Seketika Ansel berdiri menghampiri Felix.


"Tapi nama pasien Debora." ucap Ansel.


"Lihatlah waktu dan tanggal Damien membawah wanita ini ke rumah sakit, tepat sebelum rekan kita menemukan bangkai mobil itu." ucap Felix.


"Baiklah cepat kita langsung ke lokasi." ucap Ansel berlari di susul ketiga sahabatnya.


Masih ada harapan untuk Ansel, semoga pencarian Felix selama 3 jam tadi bisa membawah hasil.


*


Di rumah sakit yang di tempati Bella sekarang, Damien duduk di depan ruangan ICU dengan kepala menunduk, kondisi Bella saat ini masih belum juga sadar, kata dokter darah yang keluar dari kepala Bella cukup banyak membuat Bella kekurangan darah, kebetulan di rumah sakit pasokan darah yang sama dengan milik Bella kosong, untung saja golongan darah Damien sama, tanpa ragu Damien mendonorkan darahnya untuk Bella.


Dokter juga menyarankan Bella harus di pindahkan ke rumah sakit yang lebih memadai, Damien pun menyetujuinya, ia akan membawah Bella terbang ke Prancis, dimana sang Papa di rawat.


"Terima kasih Dok." ucap Damien.


Damien tersenyum mendengar ucapan Dokter.


Setelah menandatangani berkas dan melunasi administrasinya, Damien membawah Bella ke bandara, pesawat pribadinya sudah siap menunggu kehadirannya.


Tidak lama mobil ambulans yang membawah Bella berangkat, terlihat mobil Ansel baru tiba di rumah sakit.


Ansel langsung keluar dan berlari menuju meja resepsionis di susul ketiga sahabatnya.


"Mbak apakah disini ada pasien kecelakaan yang bernama Debora?" tanya Ansel, ia sudah tidak sabar.


"Sebentar Pak." ucap Resepsionis mengotak atik komputer di hadapannya.


"Ya benar di sini ada pasien atas nama Debora, baru semalam pasien disini keadaannya masih kritis." ucap Resepsionis membuat Ansel gelisah.


"Di ruangan mana dia?" tanya Felix, dia juga tidak sabar ingin menghajar Damien.


"Maaf barusan pasien pulang paksa Pak." jawab Resepsionis.


'Shiit' umpat Ansel menjambak rambutnya.


"Siapa yang menanggani pasien?" tanya Felix.


"Dokter Burhan, ruangannya dilantai atas." ucap Resepsionis.

__ADS_1


Felix langsung menarik tangan Ansel, kedua sahabatnya juga mengikuti mereka.


"Mau ngapain kesini?" tanya Ansel fikirannya sudah kalut ia tidak bisa berfikir dengan jernih.


"Hanya memastikan." jawab Felix ia pun masuk lebih dulu keruangan Dokter Burhan.


"Selamat Pagi Dok.." ucap Felix.


"Ya selamat pagi, ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Dokter Burhan.


"Benarkah tadi malam ada pasien kecelakaan yang bernama Debora?" tanya Felix.


"Ya benar." jawab Dokter Burhan.


"Sel apa kamu memiliki foto istrimu?" tanya Felix.


Ansel diam sejenak, ia menginggat waktu dirinya masih belum menyadari perasaannya pada Bella, Ansel sempat mencuri foto istrinya.


"Iya aku punya." jawab Ansel menyerahkan ponselnya pada Felix.


"Apa wanita itu seperti di foto ini Dok?" tanya Felix menunjukkan fotonya pada Dokter Burhan.


Dokter Burhan mengamati dengan teliti foto itu.


"Ya, ini pasien yang saya tanggani." jawab Dokter Burhan.


Bagai mendapat angin dari surga, hati Ansel berbungga saat ini, ia sangat bahagia mendengar ucapan Dokter hingga tanpa terasa air matanya terjatuh.


Ketiga sahabat Ansel ikut tersenyum mendengarnya.


"Katakan Dok kemana pria itu membawah istri saya?" tanya Ansel.


"Saya tidak tahu Tuan, setelah menandatangani berkas dan melunasi administrasi pria itu membawahnya pergi, saya hanya tahu pria itu akan membawah pasien keluar negeri." jawab Dokter Burhan dengan jelas, ia juga binggung ternyata yang bersama pasien bukan suaminya.


"Brengsek." umpat Ansel sorot matanya menusuk tajam.


"Kendalikan dirimu Sel." ucap Garvin.


"Baiklah terima kasih atas infonya Dok kami permisi." ucap Felix.


Keempatnya berlalu pergi, mereka berjalan dengan tergesa menuju mobil.


"Brengsek Damien, awas saja jika istriku sampai kenapa-kenapa." ucap Ansel, ia mengemudikan mobil layaknya pembalap professional, dirinya tidak perduli dengan pengendara yang lain.


"Secepat apapun dirimu membawah mobil, kita sudah tertinggal, mungkin istrimu sudah di bawah ke negara lain." ucap Felix.


"Bantu aku mencarinya kawan, kalau perlu kita berangkat sekarang juga ke Prancis." ucap Ansel.


"Tentu kami akan membantumu." ucap Garvin.


Mads hanya diam, dia tidak suka melihat teman kulkasnya ini cenggeng, dirinya jadi tidak bisa mengejek Ansel lagi.

__ADS_1


Sempat-sempatnya Mads malah memikirkan hal itu, dasar teman jahanam.


__ADS_2