Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Dibutakan Rasa Dendam


__ADS_3

Ansel lekas membersihkan tubuhnya, sebelum itu ia memberikan satu pasang baju untuk Vero asisten pribadinya, untung saja postur tubuh mereka hampir sama, hanya Vero lebih sedikit tinggi dari Ansel, jadi baju Ansel bisa pas saat di pakai Vero.


"Ini bajunya." Ansel memberikan satu stel pakaian untuk Vero.


"Terima kasih Tuan." Vero segera berlalu dari hadapan bosnya.


Kucuran air dari shower membuat tubuh six pack pria ini kembali segar, saat Ansel mulai mengeringkan rambutnya yang basah, ia teringat lagi dengan kejadian tadi, rasa penasaran masih menari-nari di fikirannya.


"Sayang, jika kamu tidak mau jujur padaku, akan aku cari sendiri kebenarannya." monolog Ansel.


Pekerjaan yang masih menumpuk di meja kerja jadi terbengkalai, hanya karena rasa penasaran Ansel yang masih bersarang di kepalanya.


Hari ini kedua pria tampan ini melewatkan makan siangnya, walaupun begitu Ansel dan Vero tetap mengerjakan tanggung jawabnya di kantor, mereka harus menahan lapar sampai waktu pulang kantor tiba.


Tidak terasa hari sudah sore, para karyawan yang seharian fokus bekerja kini serasa mendapat angin segar, karena waktu jam pulang kantor sudah tiba, semua orang bergegas untuk pulang, begitu juga dengan Ansel dan Vero.


"Ver apa kamu tidak lapar?" tanya Ansel, mereka saat ini sudah berada di dalam mobil.


"Iya Tuan saya lapar sekali." jawab Vero, cacing di perutnya dari tadi meminta jatah makan.


"Kita mampir ke resto dulu." pinta Ansel pada Vero.


"Baik Tuan."


Mobil pun mulai menjauh dari gedung tinggi perusahaan Guinandra.


Ansel memilih restoran jepang, keduanya sudah duduk santai di kursi yang mereka duduki, sembari menunggu pesanan datang, sesekali keduanya mengobrol, tidak lama makanan datang Ansel dan Vero segera memakannya, karena perut keduanya sudah sangat lapar.


Di meja lain pandangan mata wanita berambut pirang tertuju pada Ansel, kebetulan sekali Calista juga sedang makan disana, entah kebetulan atau sengaja.


Calista berdiri menuju meja yang di tempati Ansel dan Vero.


"Sel.." panggil Calista, ia tersenyum menunjukkan deretan giginya yang putih


"Calista, kamu makan disini juga, mari bergabung." ajak Ansel, keduanya sudah selesai makan.


Tanpa sungkan pada Vero Calista duduk menempel di samping Ansel, sampai-sampai tidak ada jarak di antara keduanya, hal itu membuat Vero mendengus, awas saja jika bosnya berani menyakiti Bella pikirnya.


"Aku kangen banget sama kamu Sel." Calista memeluk tangan kekar Ansel dari samping.


Ansel tersenyum. "Sering-sering main ke mansion saja." ucap Ansel.


"Benarkah, aku boleh sering-sering main kesana?" tanya Calista dengan antusias.


Ansel hanya mengangguk.


"Apa kamu sudah makan?" tanya Ansel.


"Belum, temani aku makan ya." pinta Calista dengan wajah memelas, bohong jika dia belum makan, wanita ini hanya beralasan dia masih ingin dekat-dekat dengan Ansel.

__ADS_1


Vero menatap bosnya lekat.


"Kenapa mereka terlihat mesra begitu, siapa wanita ini?" batin Vero.


Ansel mengerti arti tatapan Vero padanya, tatapan itu menunjukkan rasa penasaran, Ansel melirik teman masa kecilnya.


Tanpa ragu Ansel melepas tangannya yang masih di gelayuti oleh Calista, Ansel tidak ingin Vero salah paham dan mengaduhkan hal ini pada istrinya.


"Baiklah, pesanlah makanan dulu." Ansel melepas tangannya dengan cara halus, dia tidak ingin teman masa kecilnya ini tersinggung.


Calista mengangguk, ia memanggil waters dan memesan satu menu yang menurutnya ringan untuk di makan, karena perutnya sudah sangat kenyang saat ini.


Ansel dan Vero masih setia menunggu Calista makan.


"Oh ya siapa pria ini, apa dia temanmu?" tanya Calista.


"Dia tangan kananku." jawab Ansel.


"Pasti pria ini yang membantu Ansel mengagalkan rencanaku." batin Calista.


"Cal, aku harus secepatnya pulang." suara Ansel membuyarkan lamunan Calista.


"Ah iya, aku sudah selesai kok." ucap Calista.


"Biar aku yang bayar." ucap Ansel saat melihat Calista membuka tasnya.


Calista tersenyum dan mengangguk, ketiganya berjalan keluar.


"Boleh-boleh saja, ya sudah kami duluan." pamit Ansel, ia memasuki mobil disusul Vero.


Mobil Ansel melesat pergi meninggalkan wanita yang masih mematung menatapnya.


Setelah melihat mobil Ansel menghilang, Calista baru memasuki mobilnya meninggalkan resto.


Calista sudah di butakan rasa dendam pada Bella, ia selalu mencari cara untuk menyakiti wanita yang dia anggap sudah merebut Ansel darinya, tapi rencananya selalu gagal.


Ya Calista dalang di balik kejadian tadi siang, dia sampai berani membayar beberapa bandit untuk menculik Bella, tapi usahanya selalu gagal, tanpa Calista ketahui jika Ansel pria yang di cintainya seorang gangster, tidak semudah itu menyakiti Bella jika ada Ansel di sampingnya, begitu juga dengan Bella, Calista tidak tahu saja siapa wanita yang dia lawan saat ini.


Di mansion Ansel.


Ansel sudah sampai di mansionnya, setelah mengantarkan bosnya, Vero langsung izin pulang pada Ansel.


Ansel berjalan menuju pintu, disana berdiri wanita cantik sedang menunggunya dengan senyuman yang terlihat menawan.


"Sayang." ciuman singkat Ansel berikan pada bibir istrinya.


"Malu, kalau Mama lihat bagaimana?" tanya Bella.


Keduanya masuk, Ansel merangkul pundak istrinya, mereka berjalan dengan mesra menuju kamar.

__ADS_1


"Tak apa, tidak akan ada yang berani berkomentar." jawab Ansel.


"Tumben hari ini pulang telat?" Bella membantu melepas jas milik suaminya.


"Aku dan Vero tadi melewatkan jam makan siang, jadi sepulang dari kantor kita mampir ke resto dulu, kebetulan juga tadi bertemu Calista disana." jawab Ansel.


Aktifitas Bella yang sedang melepas kemeja suaminya terhenti, saat mendengar suaminya baru saja bertemu wanita ular itu.


"Ooooo.."


Bella di buat bad mood, ia berlalu meninggalkan suaminya begitu saja.


Ansel tersenyum melihat istrinya merajuk, ia berjalan menghampiri Bella dan memeluknya dari belakang.


"Apa istriku ini sedang cemburu?" bisik Ansel.


"Siapa yang cemburu." jawab Bella dengan sinis.


"Galak sekali." Ansel membalikkan badan Bella agar menghadapnya.


Ditatapnya wajah itu lekat-lekat, tatapannya turun pada bibir merah alami yang terlihat mengodanya.


Ansel menarik tengkung Bella memberikan serangan tiba-tiba pada istrinya, pagutan itu terlepas saat keduanya sama-sama mulai kehabisan nafas.


"Mandi dulu sana." Bella mendorong tubuh Ansel dengan pipi yang sudah bersemu merah.


Ansel terkekeh melihat istrinya yang malu-malu tapi mau.


"Mau ikut?" tanya Ansel.


"Aku sudah mandi suamiku." jawab Bella, pipi itu makin merona saat Ansel mengodanya.


"Kan tadi sendiri, sekarang mandi berdua." ucap Ansel.


"Ngak.." Bella mendorong tubuh suaminya menuju kamar mandi.


Saat mencapai pintu, dengan gesit Ansel menarik tubuh istrinya hingga Bella ikut tertarik masuk ke dalam, Ansel langsung mengunci pintunya sebelum istri nakalnya ini lari.


"Aku kan sudah bil.." belum selesai dengan ucapannya, bibir itu sudah di rampas kembali oleh Ansel.


Author kasih Visual Bella ya😘




Gangster mana tahan lihat body beginian🤣😂


Visual Calista yang jeng kelin syekali😏

__ADS_1



__ADS_2