Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Om Damien Mine 25


__ADS_3

Sesuai permintaan sang Daddy, usai mengantarkan Arrabel kembali ke apartemen, Albert langsung melajukan mobilnya ke markas Cartel, pria tampan itu turun dari mobil dengan tampang cool nya, celana jeans warna hitam yang melekat di kaki jenjangnya membuat pria itu nampak keren, apa lagi kaos polos yang ia pakai tercetak jelas hingga nampak tubuh sixpacknya, di tambah kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya membuat siapa saja yang melihatnya terpesona, pria itu berjalan dengan angkuhnya memasuki markas, tidak banyak anggota Cartel mengetahui siapa Albert.


"Hei siapa kau?" salah satu pria menodongkan sebuah pistol ke arah Albert disusul yang lainnya.


Albert tidak menjawab, pria tampan itu membuka kacamatanya dan tersenyum smirk, dia ingin tahu seberapa hebat anggota Cartel bisa melawannya.


"Kalian tidak perlu tahu, kalau berani satu lawan satu dengan tangan kosong." tantang Albert membuat semua yang ada disana tersenyum remeh.


"Fine, kita lawan pria sombong ini." ucap salah satunya, ia membuang pistol yang dia bawah, begitu juga yang lainnya.


Satu persatu dari mereka mulai menyerang, dengan santai tanpa banyak bergerak Albert menyerang kelima pria itu, hanya dalam waktu 10menit kelima pria itu bergantian terjatuh ke lantai, satu persatu anggota Cartel mulai keluar dari dalam mansion begitu juga dengan Derward dan Dru, saat semua pria mengangkat senjata mereka dengan cepat Derward memberikan aba-aba.


"My son kemarilah." Derward merentangkan tangannya menyambut putra kesayangan, sementara yang lain hanya saling pandang begitu juga dengan kelima pria yang sempat beradu jotos dengan Albert.


"Dad sepertinya anggota mu perlu banyak berlatih." Albert mengurai pelukannya.


"Pria tampan dan gagah ini ialah putra ku." ucap Derward dengan lantang, suatu kebanggaan untuknya memiliki putra seperti Albert.


"Maafkan kami telah menyerangmu." ucap salah satu dari 5 orang yang berusaha menyerang Albert tadi.


"Sudahlah, seharusnya aku yang meminta maaf karena membuat kalian babak belur."


Derward menepuk bahu Albert dengan bangga. "Ayo son kita masuk." ajak Derward.


"Om Dru.." sapa Albert pada Dru.


Ketiganya memasuki markas, sementara yang lain berada di luar, mereka tidak ingin menganggu pertemuan putra dan ayah ini.


"Beginilah markas kita son." Derward mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu disusul Albert dan Dru.


Albert menatap sekitar, markas Cartel sangat berbeda dengan markasnya yang berada di Amerika, markas ini terlihat seperti hunian pribadi, sementara di markasnya lebih banyak ruangan luas yang kosong, Albert sebagai pemimpin bukan hanya mengatur anak buahnya, tapi juga ikut andil mengajari semua ilmu yang ia punya kepada rekan-rekannya, tidak hanya dalam ilmu beladiri, Albert juga mengajari semua rekannya dalam hal menembak dan merakit sebuah bom, maka dari itu markasnya lebih banyak ruangan kosong.


"Bagaimana keadaan disana Al, berapa wilayah yang sudah berhasil kamu rebut?" tanya Dru.


"Hanya 5 wilayah Om, fokus kami saat ini merebut kekuasaan kelompok Yakuza tapi sepertinya Daddy menginginkan putranya untuk beristirahat terlebih dulu." jawab Albert melirik sang Daddy.


"Lihat Dru, putraku hebat bukan." ucap Derward tersenyum.


"Ya aku akui putra mu ini memang hebat." puji Dru.


"Tidak salah bukan aku memilihnya untuk mengantikan ku." ucapan Derward membuat Albert terkejut.


"Maksud Daddy?" Albert menautkan kedua alisnya.


"Son usia Daddy sudah setengah abad, stamina Daddy juga tidak setanguh dulu, sementara Daddy harus melawan musuh Daddy yang bisa di bilang musuh terkuat, Daddy butuh kamu son untuk meneruskan misi Daddy." bujuk Derward.


"Musuh terkuat? siapa Dad?"


"Kelompok mafia baru, Rick Devil mereka musuh lama Daddy son, kedua gangster ini bersatu untuk melawan Daddy, mereka membangun marga baru dengan nama Rick Devil." jelas Derward.


"Rick Devil." gumam Albert.

__ADS_1


"Bagaimana son, maukah kamu mengantikan Daddy untuk memimpin Cartel?"


Albert terlihat berfikir, sebenarnya dia senang dan merasa bangga jika sang Daddy mempercayakan misi ini padanya, tapi di satu sisi tanggung jawabnya akan semakin besar, melihat skill yang di miliki anggota Cartel masih di bawah rata-rata menurut Albert, dia masih harus melatih kembali ketangkasan anggota Cartel dan itu membutuhkan waktu yang cukup lama.


Melihat wajah Derward yang sangat berharap padanya, akhirnya dengan berat hati Albert menyetujui permintaan sang Daddy.


"Baiklah, tapi kasih Albert waktu untuk menyiapkan semuanya Dad." jawab Albert tanpa ragu.


Derward mengembangkan senyumnya begitu juga dengan Dru. "Terima kasih son, kamu tidak harus melakukannya sekarang son, Daddy percayakan semuanya padamu." Derward beranjak memeluk sang putra dengan erat.


"Sama-sama Dad."


"Besok Daddy akan mengumumkan kabar baik ini pada semua anggota." Derward kembali ke tempat duduknya, ia merasa sangat lega akhirnya sang putra mau mengantikan posisinya, Derward percaya Cartel Sinaloa akan menjadi kelompok mafia yang di takuti sejagat raya selama gang ini di bawah pimpinan Albert.


.....


Disisi lain untuk pertama kalinya Stella mendapatkan teman baru di kampus, bukan hanya wanita saja tapi para pria pun mengajak dirinya berkenalan, sementara Vero hanya diam saja selama tidak ada orang asing yang mencurigakan, wanita cantik itu tetap diam memperhatikan setiap gerak gerik teman dari bosnya, hal itu membuat Stella bernafas lega, karena Vero tidak setenggil bodyguard sebelumnya.


"Perkenalkan nama gue Lexa ini Rosi, dua pria tenggil ini Ernad dan Anjas."


"Hai.." ucap ketiganya serempak.


Keempat orang ini gang yang paling terpopuler di kampus, mereka populer karena kecantikan dan ketampanannya saja, sementara Stella wanita cantik dan cerdas yang baru saja loncat kelas di kelas barunya, bisa di bilang keempat orang ini para senior Stella, tapi itu dulu sekarang tidak lagi, berkat kecerdasannya Stella bisa sepadan dengan mereka.


"Hai juga gue Stella." Stella menyalami keempatnya satu persatu.


Nampak Stella langsung akrab dengan keempat teman barunya, waktu terus berputar semua mahasiswa dan mahasiswi masuk ke kelas masing-masing, hingga waktu menunjukkan pukul 14.00, mata pelajaran pun telah usai.


"Stell, kita hang out bareng yuk." ajak Lexa.


"Kemana kek kita ke mall atau nongkrong di cafe gitu." jawab Rosi.


"Iya Stell sekali-sekali, buat ngrayain pertemanan kita." ucap Ernad.


Setelah lama berfikir, akhirnya Stella pun mengiyakan, lagi pula saat ini masih pukul 2 sore.


"Cus lah kita cabut." ajak Stella.


Keempat temannya bersorak senang tapi tidak lama semuanya diam serentak saat Vero menatap tajam mereka satu persatu.


"Cantik sih tapi nyeremin." bisik Anjas pada Ernad.


"Iya bener kata loe." Ernad dan Anjas berjalan terlebih dulu, sementara Stella dan kedua temannya menyusul di belakang begitu juga dengan Vero.


"Kalian bareng aku aja, biar Ernad sama Anjas nyusul di belakang." ucap Stella.


Rosi dan Lexa mengangguk serempak, mobil pun bergantian melaju menuju tempat yang sudah di sepakati oleh mereka.


Keempat orang ini lebih memilih nongkrong di cafe, kebetulan sore ini ada hiburan musik disana, tak lama mobil keduanya sampai di tujuan, sebelum Vero ikut masuk ia memberi informasi kepada Damien jika kekasihnya sedang berada di cafe bersama teman-temannya, tidak hanya itu Vero juga mengirimkan foto kebetulan saat itu Stella duduk di hampit oleh Ernad dan Anjas, hal itu membuat Damien seperti cacing kepanasan, tanpa berfikir lagi ia segera menuju lokasi dimana kekasihnya berada.


"Rob urus semuanya, aku harus pergi!" suruh Damien.

__ADS_1


"Tuan mau kemana?" tanya Robby dengan nada panik, melihat Tuannya yang terlihat buru-buru dengan wajah masam, Robby berfikir jika ada masalah serius yang menimpa Tuannya.


"Jangan kawatir ini hanya masalah hati." Damien langsung pergi begitu saja, sementara Robby mendengus sambil mengeleng, apa lagi yang di lakukan Nona Stella pikirnya.


Di cafe kelima orang ini saling berbincang sembari memakan makanan ringan yang sudah mereka pesan, sementara Vero lebih memilih duduk disisi lain sambil memperhatikan sekitar.


"Ternyata loe anaknya seru juga ya Stell." ucap Rosi.


"Tak kenal maka tak sayang." ucap Stella sembari tersenyum.


"Kalau gitu gue boleh dong sayang sama loe Stell?" tanya Ernad dengan senyum mengoda, Anjas juga tidak mau kalah, pria itu juga ikut mengoda Stella.


"Kalau gue ngak cuma sayang Stell."


Kebetulan sekali, saat kedua pria itu mengoda Stella Damien sudah berdiri di belakang Stella dengan wajah masam, berani sekali kedua pemuda itu mengoda wanitanya.


"Loe kenal Ros sama pria tampan itu?" bisik Lexa.


"Gue ngak kenal." jawab Rosi dengan berbisik pula.


"Loe berdua ngapain sih bisik-bisik gitu?" Stella menautkan kedua alisnya saat kedua temannya menatap ke sisi belakang sambil berbisik.


"Tau, pengen kita gombalin kan kalian." ucap Anjas mengoda Rosi dan Lexa.


Sementara Lexa dan Rosi membuang muka sembari menunjukkan ekspresi muntah, Stella pun berusaha menahan tawanya.


"Ekhem.." deheman Damien membuat Stella dan kedua pria itu menoleh.


Tubuh Stella seketika menengang, sementara Ernad dan Anjas hanya saling pandang.


"Om Dam." seru Stella.


"Siapa Stell Om kamu?" tanya Ernad.


Stella pun mengangguk, setelahnya Ernad dan Anjas saling berebut mengenalkan dirinya masing-masing pada Damien.


"Om saya Ernad calon pacar Stella."


"Saya Anjas calon suami Stella." Ucap keduanya memperkenalkan diri.


Wajah Damien telihat tidak baik-baik saja saat kedua pemuda itu memperkenalkan dirinya dengan penuh percaya diri, Stella tidak ingin terjadi kericuhan disana, akhirnya ia memilih berdiri dan pamit kepada teman-temannya.


"Gaes aku duluan ya.." pamit Stella, langsung menyeret tangan Damien, membawah pria itu pergi dari sana di susul Vero di belakangnya.


"Siapa mereka?" tanya Damien tanpa menatap kekasihnya.


"Mereka temanku, terima kasih ya hubby sudah menganti bodyguard kemarin dengan Vero, aku suka." ucap Stella bergelanyut di lengan Damien dengan manja, sementara Vero sudah pulang membawah mobil yang ia pakai tadi.


"Tapi tidak perlu seakrab itu kan."


"Kamu kenapa sih by?" tanya Stella dengan kesal.

__ADS_1


Melihat wanitanya berwajah masam Damien langsung menepikan mobilnya, tanpa basi-basi pria itu langsung menghujam bibir tipis Stella dengan bibirnya.


Bersambung ...


__ADS_2