
Damien akhirnya memberanikan diri menatap wajah keempat pria di depannya.
"Ya aku dan Stella saling mencintai." ucapnya tanpa ragu.
"Argh BRENGSEK.." Ansel hampir saja lolos dari cekalan kedua rekannya.
"Katakan padaku. Hal apa saja yang kau lakukan pada putriku." Ansel berusaha membrontak namun usahanya gagal.
"A-aku tidak melakukan apapun." Damien kembali menunduk. Bohong jika dirinya tidak sama sekali menyentuh Stella.
"Kalian bisa lihat. Pria ini berbohong padaku." Ansel menunjuk Damien, menatap tajam pria di depannya dengan penuh amarah.
"Dengar, ini peringatan pertama dan terakhir untukmu. Jauhi putriku, jika tidak kau akan tau akibatnya." Ansel mengancam Damien lalu pergi begitu saja.
"Sel tunggu, maafkan aku sel. Aku sangat mencintai Stella. tolong mengerti perasaan ku. SEL ANSEL.." Damien mencoba mengejar Ansel namun apa mau di kata, pria itu sudah masuk mobil lebih dahulu.
"SEL BUKA, AKU INGIN BICARA..ANSEL"
'TIIIIIIN TIIIIIIN TIIIIIIIIIIIIN.." Ansel berkali-kali mengklakson agar ketiga rekannya yang masih berada di dalam mansion secepatnya memasuki mobil.
"Cccck padahal belum minum." gumam Mads.
Mads, Felix dan Garvin terpaksa keluar dari mansion dengan wajah di tekuk.
"Ansel tolong buka."
"Sudah Dam, mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk bicara dengannya. Maaf kami harus pergi." Felix menyingkirkan tubuh Damien dengan sedikit kasar. Jujur ia juga merasa kecewa dengan jawaban yang Damien berikan.
Kini Damien hanya bisa menatap mobil milik Ansel yang tengah berjalan cepat meninggalkan halaman mansionnya.
"AAAAARRRRGGGGHH.." Damien melampiaskan kekesalannya pada tiang besar yang berada tepat di sampingnya. Hingga membuat jari-jari tangannya terluka.
Jika Damien tengah di landa gunda gulana berbeda dengan kekasih kecilnya Stella.
Negara A
"Kenapa Kakak bisa berada disini?"
Saat ini Stella tengah berada di cafe dengan seseorang.
__ADS_1
"Ada suatu hal yang harus ku kerjakan, aku cukup terkejut saat bertemu denganmu disini." ucap pria itu beralasan, padahal dia sengaja mengikuti Stella dari siang.
"Ya aku pulang karena adik ku yang minta." Stella duduk santai sembari memegang ponselnya. Sementara Albert terus memandang Stella tanpa gadis itu sadari.
Ya seseorang itu adalah Albert. Albert sengaja mencari cela untuk menemui Stella.
"Kau akan lama disini?" tanya Albert tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Sepertinya begitu, oh ya kak aku ingin tanyakan sesuatu?" Stella menyimpan ponselnya di dalam tas. Ia membenarkan duduknya agar lebih santai.
Albert mengernyitkan dahi. Kira-kira hal apa yang akan di tanyakan Stella, wanita yang sudah mencuri hatinya ini.
"Sejak kapan Kak Al menjadi ketua mafia?" Stella terlihat mulai serius.
Sebelum menjawab Albert tersenyum manis ke arah Stella.
"Aku di paksa Daddy mengantikan posisinya. Sebenarnya aku sama sekali tidak tertarik." Albert mengambil segelas jus lalu meminumnya, ia berusaha mengalihkan kesedihannya agar tidak terlihat lemah di mata Stella.
Stella hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Ia yakin pria di hadapannya adalah pria baik.
"Kak sebenarnya..." ucapan Stella terputus saat tiba-tiba ponsel milik Albert berbunyi.
"Sebentar ya."
"Paman Dru tumben." gumam Albert kemudian mengangkat telponnya.
"Ya paman."
"Al pulang lah! kelompok Rick Devil mengagalkan misi kita. Semua barang yang akan kita selundupkan berhasil mereka rampas." ucap Dru di sebrang sana.
"Baik paman." setelah mengucapkan hal itu Albert langsung menutup panggilan.
"Brengsek, mereka selalu mencari gara-gara." umpat Albert, ia ingin meninggalkan Cafe begitu saja tapi setelah menginggat Stella masih berada disana ia pun kembali ke dalam.
"Ckk hampir saja lupa." bule tampan itu pun kembali memasuki cafe.
Dari jauh Albert bisa melihat pujaan hatinya sedang menunggunya sambil memainkan ponsel.
"Ada apa Kak?" Stella merasa jika Albert sedang tidak baik-baik saja saat ini.
__ADS_1
"Maaf Stell ada hal penting yang harus aku selesaikan."
"Oke fine, tidak apa-apa Kak."
"Kita masih bisa bertemu kan?" Albert menatap Stella penuh harap.
"Tentu Kak, kapan pun." jawab Stella sembari tersenyum.
Usai berpamitan Albert pun meninggalkan Stella. tepat di tempat parkir ia menemui seorang pria yang dari tadi menunggunya.
"Ikuti wanita ku kemana pun dia pergi! Kabari aku jika ada sesuatu yang penting. Aku akan kembali malam nanti."
"Siap bos."
Usai memberi perintah Albert segera memasuki mobil dan menjalankannya.
Kini tinggal lah Stella sendiri nampak gadis itu juga tengah mengangkat telpon. Dari wajahnya terlihat raut was-was. Entah siapa yang tengah menelponnya. Usai menutup telpon ia bergegas meninggalkan cafe sembari berlari.
Mobil Stella melesat dengan cepat. layaknya seorang pembalap gadis itu mengemudi tanpa memperhatikan rambu-rambu. karena skill mengemudi yang ia miliki akhirnya gadis itu bisa sampai di mansion dengan cepat.
"MAMAAAAA.." Stella berlari memasuki mansion sembari memanggil mamanya.
"MAAAAAA.." teriaknya lagi.
"Kenapa sih kak pulang-pulang teriak-teriak." Bella berusaha bersikap biasa.
"Papa mana Ma?"
"Papa ada urusan nak, dia pergi bersama Daddy-Daddy mu."
"Papa pergi ke Paris kan Ma? Dia ingin menemui Om Dam kan? Kenapa Mama tidak menahan Papa, bagaimana jika Papa menyakiti Om Dam?" Stella mencecar banyak pertanyaan pada Mama nya. Wajahnya terlihat begitu panik.
"Kak itu tidak akan terjadi. Papa hanya ingin yang terbaik buat kamu." Bella memegang kedua pipi putrinya. Ia berusaha meyakinkan Stella jika semuanya baik-baik saja.
"Stella takut Ma, Stella takut Papa menyakiti Om Dam." meleleh sudah airmata Stella.
Melihat putrinya menangis, Bella langsung menarik tubuh Stella dan memeluknya.
"Semuanya akan baik-baik saja. Apa yang Papa lakukan demi kebaikan mu nak. Sekarang kita masuk ya."
__ADS_1
Stella hanya bisa pasrah. Ia pun ikut masuk dengan perasaan yang tidak menentu.
Bersambung ...