
Ansel hanya mengumpulkan rekannya sebanyak 20 orang, ia hanya memilih yang terbaik dari semuanya, Ansel tidak ingin sampai rekan-rekannya tewas terbunuh, karena yang di hadapi mereka bukan orang sembarangan.
Di markas 20 orang ini sudah berkumpul untuk menunggu kedatangan Ansel.
Tak lama terdengar suara khas sepatu pantofel milik Ansel, dari yang riuh sekali kini ruangan itu tiba-tiba berubah senyap, semua mata menatap wanita cantik yang sedang di gandeng oleh Ansel.
Bella tersenyum kepada semuanya, hal itu malah membuat 20 kucing liar ini membeku, ini pertama kalinya Ansel mengajak sang istri ke markas Balck Wolf.
Vero tersenyum, ternyata matanya tidak salah, tidak salah jika dirinya terpesona dengan istri Ansel, melihat 20 pria yang menatap Bella dengan mata kagum, Vero melirik Bosnya, ia ingin tahu reaksi dari Ansel, lirikan mata Vero di barengi suara bariton Ansel yang menggema.
"Kalian lihat apa hah." bentakan Ansel membuyarkan lamunan rekan-rekannya.
Seketika itu juga semuanya tersadar.
"Hai Bell.." sapa ketiga rekan Ansel dengan kompak, seperti paduan suara di acara orchestra.
Bella hanya menjawabnya dengan senyuman, Felix Mads dan Garvin dengan serempak memegang dadanya saat melihat Bella tersenyum.
Ansel berjalan menghampiri ketiga rekannya, ia menoyor satu persatu kepala mereka, semua yang berada disana malah mendapat tontonan gratis, melihat seorang Ansel sedang cemburu, itu sebuah hiburan yang langkah.
"Kita akan membahas hal serius, kalian malah main-main." cercah Ansel.
Ketiga pria itu mengusap kepalanya.
Ansel mengajak mereka berkumpul di ruang rapat.
"Aku mengumpulkan kalian disini karena butuh bantuan dari kalian, kedua mertua ku di sekap oleh Darren, Darren adalah adik tiri dari Papa Tio, pria itu membayar mafia untuk melancarkan rencananya, kalian tahu gang Cartel Sinaloa yang terkenal dari meksiko? mereka akan menjadi lawan kita kali ini." ucap Ansel.
Ketujuh belas orang saling pandang, mendengar nama gangnya saja membuat mereka ragu bisa mengalahkannya apa tidak.
"Sel, kita butuh orang yang skillnya sama rata denganmu."
"Iya kita ragu bisa mengalahkan mereka."
"Ya benar."
Ruang rapat itu seketika ramai dengan pendapat-pendapat mereka.
__ADS_1
Keempat nyawa Black Wolf berfikir, benar juga apa kata rekannya, mereka belum tahu Darren akan menambah personilnya apa tidak, jika hal itu benar terjadi, meskipun personil Black Wolf lebih banyak dari mereka, tetap saja tidak menjamin mereka menang, melawan satu orang saja mungkin butuh 10 orang untuk bisa melawan gang mafia ini.
Suara keriuhan seketika senyap saat Ansel menaruh jari telunjuk di bibirnya.
Bella mendapat telpon dari nomor yang tidak di kenal kemarin.
"Angkat saja sayang, jangan lupa loudspeaker." suruh Ansel.
Bella mengangguk, ia mulai mengangkat telponnya, terdengar suara tawa dari sebrang sana.
"Hahahaha.."
"Selamat pagi keponakan ku yang cantik."
"Jangan omong kosong, apa mau mu?" alis Bella terpaut tajam, aura wanita ini berubah, ia seperti Bella yang lain, dua nyawa di raga yang sama.
"Wow slow sayang, Paman ingin bernegoisasi dengan mu."
Ansel mengeletukkan giginya, suara pria ini membuat telingganya panas.
"Brengsek, jaga ucapanmu Paman."
"Hahahaha, Paman minta hari minggu temui paman di Holker beat, sampai jumpa nanti sayang."
"Cup" satu kecupan di akhir kalimatnya sebelum panggilan itu terputus.
"Pria sialan berani sekali dia mengodamu." umpat Ansel.
Penyakit Ansel yang over posesif mulai kambuh.
Bella memutar bola matanya malas, saat melihat suaminya cemburu tidak tahu tempat.
Tidak lama Bella mendapat panggilan dari nomor lain.
"Siapa sayang?" Ansel menautkan kedua alisnya.
Bella menunjukkan ponselnya pada Ansel, tertulis nama Ardolp JV disana.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu memiliki nomor pria itu?" Ansel mulai terpancing emosi.
"Bukankah kamu menyadap ponselku, tidak mungkin bukan, dirimu tidak tahu akan hal ini." setelah mengatakan hal itu Bella langsung mengangkat panggilannya, sementara rekan-rekan Ansel yang lain begitu juga dengan Vero, berlomba-lomba menahan tawa, saat Ansel mendapat skakmat dari Bella.
Ansel membuang muka, sepertinya gangster terkenal paling dingin di antara semua anggota ini sedang menahan malu.
"Hallo.." Bella meloudspeaker ponselnya.
"Bella apa kamu butuh bantuanku? aku dan rekan-rekanku siap membantu menolong kedua orang tuamu."
Alis Ansel menukik tajam, semua orang yang berada disana juga menautkan kedua alisnya, apa anggota Jevarck merencanakan sesuatu.
"Darimana kamu tahu, jika kedua orang tuaku sedang dalam bahaya?"
"Penyerangan yang di terima oleh Papamu kemarin malam itu yang kedua kalinya, sehari sebelum itu kami berhasil mengagalkan rencana Pamanmu."
Ucapan Ardolp membuat hati Bella tersentuh.
"Terima kasih sudah menolong Papaku." ucap Bella dengan tulus.
"Sama-sama, lawanmu kali ini bukan orang sembarangan, jika kamu butuh bantuan kami, temui kami besok di Belmont Cafe, sampai jumpa besok."
Ardolp langsung menutup telponnya.
Jangan Lupa dukungannya untuk Author😍
________________________Like Vote Dan Komen
________________________
Kenalan sama othor yuk follow instagram othor.
Wuland4ri_05
Wulan
__ADS_1