Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Fitting Baju Pengantin


__ADS_3

Hari berganti malam, jam makan malam juga sudah lewat, tadi Bella sengaja tidak makan karena ingin makan malam bersama dengan suaminya, bahkan saat ini sudah pukul 22.00 malam, tapi Ansel tidak kunjung pulang, ponselnya juga tidak aktif, Bella di kamar sangat menghawatirkan suaminya, kemana pria itu? Bella benci di buat gelisah begini.


"Awas saja nanti kalau pulang." monolog Bella, ia merasa kesal sudah capek-capek masak banyak tapi mubazir, ia belum makan malam pula.


Kesal menunggu suaminya tidak kunjung datang, akhirnya Bella tertidur, ia mengerjap saat merasakan perutnya yang mulai kelaparan.


"Jam berapa ini." monolog Bella.


Helaan nafas berat keluar saat melihat suaminya tidak pulang ke mansionnya malam ini.


"Kemana anak itu." monolog Bella dengan wajah kesal.


"Siapa?" tiba-tiba suara seseorang menggagetkannya.


Ternyata Ansel tadi berada di kamar mandi, ia baru pulang dari kantor pukul 22.00 dan sampai di mansion Bella pukul 23.00, karena lama meninggalkan kantor akhirnya pekerjaan Ansel menumpuk, ia pun harus lembur sampai selarut ini.


"Kenapa diam saja?" tanya Ansel, ia menghampiri istrinya yang saat ini sedang ngambek.


"Maaf aku pulang telat malam ini." ucap Ansel.


"Aku tadi masak banyak untukmu bahkan aku tidak makan malam karena ingin makan bersamamu." ucap Bella tanpa menatap Ansel.


Ansel tersenyum. "Aku juga belum makan malam." ucap Ansel.


"Bohong." Bella masih enggan menatap suaminya.


"Tanyakan pada Revan kalau tidak percaya!" seru Ansel memberikan ponselnya.


Bella membalikkan badannya.


"Aku percaya padamu." ucapnya menarik tangan suaminya menuju dapur.


"Aku panaskan dulu ya makanannya." ucap Bella.


Ansel hanya diam di meja makan sembari menatap istrinya yang sedang memasak, tidak lama makanan siap, saat Bella ingin mengambil makanannya sendiri Ansel menahan tangannya.


"Kita makan bersama, aku ingin kau menyuapiku." seru Ansel.


Bella tersenyum dan mengangguk, akhirnya mereka makan dengan sendok dan piring yang sama.


"Nikmat sekali, apa kamu yang masak makanan ini?" tanya Ansel.


Bella mengangguk. " Spesial untuk suami tercinta." jawab Bella membuat Ansel tersenyum.

__ADS_1


"Sudah larut, ayo kita tidur." ajak Ansel langsung mengendong istrinya menuju kamar.


Keduanya memejamkan mata karena sudah sama-sama mengantuk.


Disisi lain pria berwajah blasteran ini tidak bisa tidur, ia masih teringat sentuhan di bibirnya dari seorang wanita yang sudah membuatnya jatuh hati, entahlah padahal banyak gadis di negaranya yang mendekati, tapi dirinya tak ada yang tertarik sedikit pun.


Barrak, pria ini sebenarnya tampan dia juga pria normal, karena apa? karena dirinya hanya menyamar, Barrak adalah Damien ya Damien sampai mau menyamar karna ingin mengenal lebih dekat siapa dan bagaimana Bella, ternyata Bella wanita yang penyayang dan pasti sikap penyayang itu turunan dari sang Mama, Damien yang memang kurang kasih sayang dari sang Mama, mendapat perhatian dari Mama Bella tadi membuatnya nyaman.


"Bella.." ucapnya tersenyum.


Damien juga mencari tahu bagaimana awal mula percintaan Ansel dengan Bella, hal yang membuatnya terkejut ternyata Bella menikah karena di jodohkan, dan pernikahan mereka di tutupi dari banyak publik, semakin girang saja Damien karena merasa mendapatkan peluang.


"Kamu akan bahagia jika hidup bersama ku Bell." monolog Damien.


Selembar foto di tangannya ia cium dengan sepenuh hati, diam-diam Damien menyuruh anak buahnya untuk memotret Bella saat di mall tadi.


Damien mulai memejamkan mata, ia berharap malam ini akan memimpikan wanita yang sudah bersuami itu.


Gila memang, tapi hati tidak bisa di bohongi, jika hati sudah memilih mau bagaimana lagi, di kamus Damien tidak ada kata mengalah.


*


Keesokan paginya Bella dan Ansel sudah bersiap, lagi-lagi Ansel harus bolos kantor karena hari ini rencana keduannya untuk fitting baju pengantin.


"Ma kita pulang ya, lain kali Bella akan menginap lagi." pamit Bella pada sang Mama.


"Ma Pa kita pulang." pamit Ansel, keduanya memasuki mobil meninggalkan mansion yang penuh dengan pengawal itu.


Setelah mendengar kabar jika Damien berada di kota ini, Ansel menambah pengawal lagi untuk berjaga di mansion istrinya maupun mansionnya sendiri, sempat Mama Tia bertanya-tanya membuat Ansel binggung bagaimana menjawabnya, tapi atas bantuan Papa Robert akhirnya Mama Tia mau mengerti.


Perjalanan ke butik membutuhkan waktu setengah jam, mereka pun sampai disana sesuai janji yang sudah di tentukan.


"Selamat Pagi Tuan Ansel, Nona Bella." ucap Pemilik butik.


"Pagi, bagaimana rancangan yang Mama minta kemarin?" tanya Ansel sementara Bella hanya tersenyum.


"Mari Tuan Nona, gaunnya sudah jadi dan sudah bisa di coba, jika ada yang kurang nanti kita perbaiki lagi." ucap Pemilik Butik.


Ansel menunggu istrinya di sofa, sofa besar yang sudah di siapkan untuk tamu vip seperti Ansel.


Tidak lama Bella keluar dengan pakaian pengantin yang membuatnya nampak mempesona, seketika itu juga bola mata Ansel seakan ingin keluar saat melihat istrinya yang terlihat begitu cantik.


"Cantik.." ucap Ansel menatap Bella penuh kagum.

__ADS_1


Sang pemilik butik ikut tersenyum melihat Ansel menyukai gaun rancangannya.


"Apa ada yang kurang Tuan?" tanya Pemilik Butik.


"Di bagian dada tolong naikan sedikit." jawab Ansel.


Gaun yang berlengan sabrina ini memperlihatkan bahu mulus milik Bella, dengan kerah V yang terlalu ke bawah membuat belahan dada yang menyembul itu nampak terlihat.


"Baik Tuan, Nona juga harus menjaga pola makan ya, agar tidak terjadi penambahan berat badan." ucap Pemilik Butik.


Bella hanya mengangguk.


Sekarang giliran Ansel yang mencoba jas pengantin miliknya, sangat perfect tidak ada kekurangan sedikit pun.


Keduanya sama-sama puas, tidak terasa hari mulai siang, Ansel akan mengajak istrinya untuk makan siang terlebih dahulu.


"Kita makan dimana?" tanya Ansel sembari fokus menyetir mobil.


"Terserah kamu saja suamiku." jawab Bella.


Ansel memilih resto makanan khas italia, sembari menunggu pesanan datang, Bella dan Ansel saling mengobrol membahas tentang pesta pernikahan mereka.


Dari jauh terlihat mobil sport berwarna kuning, tidak lama seorang pria keluar dari dalam mobil sport itu, Barrak si pria cupu, kabar pesta pernikahan itu sudah terdengar di telingga Barrak alias Damien.


Barrak mulai memasuki restoran, ia memilih kursi di sudut ruangan, cukup jauh dari tempat Bella dan Ansel.


Sementara di kursi lain, Bella dan Ansel belum juga makan karena pesanan mereka belum juga datang, lama menunggu membuat Bella ingin ke kamar mandi karena terlalu banyak minum, ia pun pamit ke toilet pada suaminya.


"Suamiku aku ke toilet sebentar." pamit Bella.


Ansel hanya mengangguk, Bella pun beranjak dari kursinya, kebetulan sekali Bella melewati meja milik Barrak, dengan sengaja Barrak menyandung kaki Bella hingga membuatnya hampir saja terjatuh, jika Barrak tidak menangkap tubuhnya.


Kedua bola mata itu saling bertabrakan, tubuh keduanya menempel tanpa ada jarak sedikit pun, membuat jantung Barrak bertalu-talu.


"Maaf .." ucap Bella melepaskan diri dari dekapan Barrak, membuat Barrak sadar dari lamunannya.


"Tidak apa-apa Kak." ucap Barrak.


"Loh kamu Barrak kan?" tanya Bella.


Barrak mengangguk dengan cepat.


"Sebentar ya Bar, aku ke toilet dulu." ucap Bella meninggalkan Barrak yang saat ini tersenyum sambil mengigit bibir bawahnya karena menang banyak bisa memeluk Bella seperti tadi.

__ADS_1


Tidak lama Bella kembali, ia mengajak Barrak untuk makan bersamanya.


Jangan Lupa Dukungannya😍


__ADS_2