Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Kejujuran Papa Robert


__ADS_3

"Ada apa Pa?" tanya Ansel sikapnya kembali dingin.


"Papa ingin berkata jujur padamu." jawab Papa Robert membuat putranya mengernyit.


"Apa?" tanya Ansel.


"Sebenarnya Papa mantan anggota Red Blood." jawab Papa Robert.


Ansel terkejut, dia diam mematung tanpa kata.


"Daniel dan Tedi dulu sahabat Papa nak, putra dari Daniel sudah salah faham dengan Papa, dia menggira Papa yang membunuh Mamanya dan membuat Papanya lumpuh, sejak detik itu Papa keluar dari anggota gangster, Papa ingin hidup aman tanpa gangguan dari musuh." ucap Papa Robert.


Ansel masih diam tidak ingin berbicara, sesungguhnya dirinya kecewa dengan sang Papa, kenapa tidak jujur dari dulu, pantas saja Red Blood selalu membuat ulah.


"Black Wolf." dua kata yang terucap dari bibir sang Papa mampu membuat Ansel jantungan, yang awalnya kesal kini malah membuatnya tegang, ia seperti berada di ruang introgasi.


"Maaf Pa." ucap Ansel dengan suara lemah.


"Kenapa kamu menyembunyikan hal ini dari Papa Sel, Papa kecewa sama kamu." ucap Papa menundukkan kepalanya, seperti ada beban berat yang mengantung di lehernya saat ini, Papa Robert juga tahu jika Red Blood lah yang membunuh kedua orang tua Calista, mungkin Damien mengira Calista istri dari Ansel.


"Aku akan melindungi kalian semua, pengamanan di mansion akan Ansel perketat lagi." ucap Ansel.


"Harus nak, Damien sudah keluar dari sarangnya kamu harus hati-hati dengannya." ucap Papa Robert.


"Damien?" tanya Ansel.


Ya sebenarnya musuh rahasia Black Wolf bukan Red Blood tapi Damien, Damien lah di balik semua masalah, Damien menyembunyikan identitasnya, dia menggunakan nama Red Blood untuk membalaskan dendamnya.


"Damien anak dari Daniel, dia yang menculik istrimu." ucap Papa Robert.


Seketika itu wajah Ansel berubah, sorot matanya menyimpan dendam, berani sekali orang itu ingin mengambil apa yang sudah menjadi miliknya.


"Sepertinya dia ingin membalas dendamnya lewat Bella nak, jaga Bella baik-baik jangan biarkan dia pergi sendiri." ucap Papa Robert beranjak dari duduknya meninggalkan putranya yang masih mematung.


Di fikiran Ansel saat ini hanya satu, kenapa Jevarck bisa tahu jika Bella akan celaka, dan apa tujuannya menolong Bella.


"Brengsek kenapa keempat cecungguk itu mau repot-repot menolong istriku, apa ke empatnya menyukai Bella? astaga." monolog Ansel menjambak rambutnya sendiri.


Apa tidak ada wanita lain selain istrinya yang harus mereka taksir, apa kelebihan Bella? cantik? banyak wanita cantik yang mendekati ke empat pria itu, tapi tidak ada satupun yang menarik perhatian mereka, lalu apa?.


Ansel di buat pusing sendiri. "Wanita cupu itu hanya milik ku, hanya untuk ku." monolog Ansel.


Ansel beranjak dari sana dan berlalu menyusul istrinya di kamar, tidak terasa hari sudah mulai siang, Ansel ingin mengajak istrinya untuk makan di luar saja, ia ingin menghindari Calista yang semakin hari semakin agresif padanya.


Saat Ansel membuka pintu, ia melihat istrinya sedang tiduran di ranjang sambil membaca novel.


"Istriku sayang, hari ini kita makan siang di luar saja ya?" tanya Ansel sembari mengunggkung istrinya di bawah tubuhnya.

__ADS_1


"Jangan seperti ini, penggap." renggek Bella.


Ansel masih tidak berkutik, di tatapnya wajah Bella lekat-lekat.


"Cantik, memang cantik tapi tidak mungkin ke empat cecungguk itu menyukai istriku hanya karena parasnya." batin Ansel.


Bella menatap suaminya yang terlihat melamun, ia mencoba mengibaskan tangannya di depan wajah Ansel, benar dugaannya Ansel sama sekali tidak merespon, dengan iseng Bella membalikkan tubuh suaminya, hingga posisi Bella saat ini berada di atas Ansel.


"Kau membuatku kaget." ucap Ansel sedikit terkejut, sedangkan Bella tertawa melihat wajah lucu Ansel.


Setelah puas tertawa, Bella akan beranjak dari sana tapi dengan cepat Ansel melingkarkan tangan kekarnya di pinggang ramping istrinya.


"Mau kemana?" tanya Ansel.


"Aku akan bersiap suamiku." jawab Bella tubuhnya meronta membuatnya merasakan sesuatu yang keras dibawah sana.


"Diamlah kau membangunkannya." ucap Ansel.


Seketika tubuh Bella menegang, ia menatap suaminya dengan tatapan puppy eyes andalannya.


"Cium dulu, nanti aku lepaskan." ucap Ansel menunjuk bibirnya.


'Cup'


Hanya satu kecupan, Ansel pun menggurai pelukannya, dia tidak ingin istrinya telat makan, kalau aktifitas ini berlanjut mungkin mereka gagal untuk makan siang di luar, malah Ansel yang akan memakan habis istrinya.


Keduanya sudah siap, sepasang pasutri ini melangkah keluar, langkah keduanya terhenti saat mendengar Calista memanggil Ansel.


"Ansel." teriak Calista dirinya berlari menghampiri mereka.


Bella mendengus, wanita ini memang benalu bisanya hanya menganggu.


"Mau kemana?" tanya Calista.


"Makan siang di luar." jawab Ansel dingin.


"Aku ikut." ucap Calista bergelanyut manja di tangan Ansel.


"Cal jangan seperti ini, aku sudah beristri." ucap Ansel melepas tangan Calista dengan paksa.


Mata Calita mulai berembun, ia mengunakan senjata pamungkasnya untuk meluluhkan Ansel.


Ansel mendengus dia menatap istrinya meminta izin, Bella mengangkat bahunya acuh, dia berjalan lebih dulu memasuki mobil.


"Maaf Cal, aku harap kamu mengerti." ucap Ansel langsung meninggalkan Calista begitu saja.


Sementara Calista menghentak-hentakkan kakinya ke lantai karena kesal.

__ADS_1


Mobil pun melesat membelah jalanan kota paris, meninggalkan wanita yang saat ini sedang terbakar api cemburu, siapa lagi jika bukan Calista.


"Suamiku." panggil Bella.


"Heemm." jawab Ansel.


"Sampai kapan Calista tinggal bersama kita, aku kurang nyaman jika satu atap dengan wanita itu?" tanya Bella.


"Aku akan bicarakan nanti dengannya." jawab Ansel.


Bella mendengus wajahnya nampak kusut, hal itu bisa di lihat oleh Ansel.


"Secepatnya, kalau bisa besok aku suruh dia pulang." ucap Ansel.


"Janji.." ucap Bella bersemangat kembali.


"Janji.." ucap Ansel mengusap kepala Bella dengan gemas.


Tidak lama mobil berhenti di resto Etait Un Square, restoran steak ala eropa yang terbaik di paris.


Keduanya makan dengan lahap.


"Enak?" tanya Ansel.


Bella mengangguk cepat. " Aku suka." jawab Bella.


Ansel senang karena istrinya menyukai menu resto yang ia pilih.


*Di kantor


Damien saat ini duduk di kursi kebesarannya sebagai Ceo.


'Tok tok tok.' terdengar pintu di ketuk dari luar.


"Masuk." suruh Damien.


"Bos, Ansel dan keluarganya besok akan kembali ke negara A." ucap tangan kanan dari Damien.


"Siapkan pesawat untuk besok saya akan terbang kesana, selama saya disana kamu handle pekerjaan disini." perintah Damien.


"Baik Bos." ucap Axel, ia melangkah keluar setelah memberi laporan pada bosnya.


Pekerjaan yang masih menumpuk itu teracuhkan sudah, saat Damien menginggat aksi Bella kemarin membuatnya ingin mengenal wanita itu lebih jauh lagi.


"Istrimu telah mencuri hatiku." monolog Damien senyum-senyum sendiri.


Sepertinya pesona Bella memang tak terkalahkan, banyak yang mengaggumi dirinya hingga membuat para gangster ini jatuh hati, semoga Ansel tidak membuat wanita itu kecewa, karena masih banyak stok pria yang mengantri di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2