Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Gagal Surprise


__ADS_3

Di taman mansion


"Bell aku merindukanmu." Damien menatap Bella dengan tatapan sayu, sepertinya pria ini benar-benar mencintai Bella.


"Tidak adakah ucapan lain selain itu?" Bella mendengus pria di depannya ini terlihat menyebalkan.


"Ada, aku mencintaimu." jawab Damien sembari terkekeh.


Wajah Bella terlihat semakin masam saja, tapi hal itu malah terlihat mengemaskan di mata Damien.


"Jangan seperti itu, wajahmu malah terlihat imut." ucap Damien.


"Semua pria sama saja, tukang gombal."


Damien tersenyum kecut, ternyata bukan hanya dirinya yang berkata manis.


"Bell, siapa tadi yang ulang tahun?" Damien mengalihkan pembicaraan.


"Aku.." jawab Bella dengan singkat.


"Benarkah?" Damien sangat antusias mendengarnya, kebetulan sekali sebelum berangkat tadi ia menyiapkan oleh-oleh untuk Bella, sebuah kalung liontin berbentuk hati.


Bella mengangguk.


Damien mengeluarkan kotak berwarna merah, dan memberikannya pada Bella.


"Ini untukmu."


Bella melongo, kenapa Damien bisa tahu hari ulang tahunnya.


"Jangan kepedean, aku sengaja membelikan ini untuk oleh-oleh." ucapan Damien membuyarkan lamunan Bella.


Bella mendengus. "Kau menyebalkan sekali."


Damien kembali terkekeh.


"Ini ambil." Tangan Damien masih mengantung.


"Terima kasih." Bella mengambil kotak merah itu dari tangan Damien, ia tersenyum malu karena terlalu percaya diri.


Damien ikut tersenyum, di hati Damien seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan.


"Kamu tidak ingin membukanya."


"Boleh di buka sekarang?" tanya Bella.


"Silahkan."


Bella terpanah dengan hadiah yang di berikan Damien padanya.


"Cantik sekali." Bella mengeluarkan kalung itu dari dalam kotak.


"Seperti kamu." ucap Damien.

__ADS_1


Damien ingin mengambil kalung itu dan membantu Bella untuk memakainnya, tiba-tiba terdengar suara langkah seseorang yang mendekat membuat Damien mengurungkannya.


"Brengsek berani sekali kamu mengoda istriku."


'Bugh' satu pukulan melayang di wajah tampan Damien.


Bella terkejut, melihat suaminya pulang malam ini.


"Suamiku." Bella langsung memeluk Ansel berusaha meredam amarah suaminya.


"Kamu tidak apa-apa kan sayang?" tanya Ansel dengan kawatir.


"Aku tidak apa-apa, Damien tidak menyakiti ku." jawab Bella.


Damien berdiri tegap, ia merapikan bajunya yang terlihat kusut.


"Aku ingin meminta maaf padamu Sel, bisakah kita berdamai." ucap Damien.


Ansel tersenyum mengejek.


"Dengan mudahnya kamu meminta maaf, setelah apa yang kamu lakukan pada kami." ucap Ansel.


"Ternyata ini hanya kesalahpahaman saja, maafkan aku."


"Kamu ingin aku memaafkanmu?" tanya Ansel.


Damien mengangguk.


"Jauhi istriku." ucap Ansel.


"Kenapa, kamu takut tersaingi?"


Ucapan Damien membuat Ansel seketika naik pitam.


"Brengsek."


Saat tangan itu ingin menyerang, Bella berdiri di tengah-tengah mereka.


"STOP..." teriak Bella.


Tidak lama terdengar suara langkah kaki mendekat.


"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Papa Robert.


"Bibirmu kenapa nak?" Papa Daniel panik melihat bibir putranya berdarah.


"Tidak ada apa-apa Om Pa, kami hanya bercanda tadi, bukan begitu Sel?" Damien merangkul pundak Ansel, menekan pundak itu dengan keras.


"Iya kami hanya bercanda Pa." Ansel juga ikut merangkul pundak Damien, dia membalasnya tidak kalah keras.


Bella menatap kedua pria itu dengan tatapan aneh.


"Oh syukurlah kalau begitu." ucap Papa Robert.

__ADS_1


"Nak sudah malam, kita pulang." ajak Papa Daniel.


Damien mengangguk, kedua pria parubaya itu pun berlalu meninggalkan mereka.


Damien melepas rangkulannya dengan sangat kasar, hampir saja Ansel terjatuh jika tidak menyeimbangkan tubuhnya.


"Brengsek." umpat Ansel.


"Bell aku pulang dulu, sampai berjumpa di lain waktu." pamit Damien pada Bella, dengan sengaja ia mengedipkan satu matanya ke arah Bella, dia berlalu begitu saja tanpa memperdulikan Ansel.


Saat Ansel ingin menyusul pria menyebalkan itu, tangannya di tarik oleh istrinya.


"Kamu sudah membohongiku." ucap Bella pada Ansel.


Ansel tidak jadi menyusul Damien, ia beralih menatap istrinya.


"Maafkan aku sayang, aku ingin membuat surprise untukmu, tapi malah aku yang mendapat surprize darimu." ucap Ansel kesal.


"Sudahlah jangan membahas hal itu." ucap Bella.


Ansel mengangguk, ia mencium sekilas bibir Bella.


"Selamat ulang tahun istriku sayang."


"Hanya sebuah ucapan nih, tidak ada hadiah?" Bella mengalungkan tangannya di leher Ansel.


Bella sengaja menghalangi suaminya, ia tidak ingin suaminya terpancing emosi, nanti malah membuat kedua orang tuanya tahu siapa Damien.


Bella hanya ingin kedua sahabat parubaya itu kembali seperti dulu.


"Tentu saja, hadiahnya sudah ku siapkan." ia kembali mencium bibir istrinya, Ansel menahan tengkuk Bella dan memperdalam ciumannya.


Gara-gara Damien rencana Ansel jadi gagal total, hari ini adalah hari paling apes untuknya, bayangkan saja sore tadi ia harus merelakan Arka membawah istrinya pergi, di tambah malam ini, dia harus melihat Damien di mansion sedang mengoda istrinya.


Pautan keduanya terlepas, tidak lama Mama Eva datang memanggil putrinya.


"Sayang kapan kita potong kuenya?"


Bella tersenyum, Mamanya ini menganggu saja, tidak tahukah jika putrinya sedang melepas rindu.


"Iya Ma, sebentar lagi."


Bella mengambil hadiah yang di berikan oleh Damien tadi, ia menyembunyikan kotak itu di sakunya.


"Apa yang kamu masukan di sakumu tadi?" tanya Ansel.


"Bukan apa-apa, ayo kamu harus mencoba kue buatanku." Bella menarik tangan suaminya memasuki mansion.


"Kamu membuatnya sendiri?" Ansel merangkul pundak istrinya.


"Ya, kamu harus mencobanya."


Malam ini mereka melanjutkan pesta sederhana yang tertunda tadi.

__ADS_1


Jangan lupa kasih dukungan buat Author ya🥰


__ADS_2