Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Aksi Bella


__ADS_3

Ansel berjalan santai menuju 10 orang yang menghadangnya.


"Apa kalian tidak ada kerjaan, hingga menghadang mobil ku siang-siang begini?" tanya Ansel, ia duduk di bonnet mobil sambil bersedekap dada, sedangkan Vero berdiri tegap di samping Ansel.


"Ya, kerjaan kami hanya ingin membawah wanita yang berada di dalam mobil mu." jawab salah satu dari penghalang.


Ansel tersenyum smirk, senyuman yang terlihat mematikan.


"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Ansel, ia melihat plat mobilnya bukan milik anggota Jevarck, Ansel juga menatap orang di depannya satu persatu, tidak ada yang dirinya kenal.


"Hahahaha..jangan banyak tanya cepat berikan wanita itu pada kami." teriak pria yang badannya paling besar.


Ansel berdiri, "Langkahi dulu mayatku." ucap Ansel.


Sepuluh pria berwajah sangar itu langsung menyerang dengan pisau lipat yang mereka bawah.


Vero melawan lima orang, Ansel pun sama melawan lima orang.


Bella di dalam mobil bukannya takut, malah mengambil cemilan, suaminya selalu menampung cemilan di mobilnya.


Dirinya seperti sedang menonton film laga action saat ini, sesuap demi sesuap keripik masuk ke dalam mulutnya, wajah yang tegang itu berubah senduh, saat sepuluh orang tadi berhasil di tumbangkan oleh suaminya dan Vero.


"Ah cemilannya masih banyak, masak udahan." cicit Bella sambil memakan kripik kentang di tangannya.


Dari arah belakang terlihat satu mobil datang lagi, ikut memarkirkan mobilnya disana.


"Siapa lagi itu." monolog Bella.


Bella sudah was-was saat ini, keripik yang dia pegang di buang begitu saja, ia berali mengambil tas milik suaminya yang berisi beberapa pistol.


Mata Bella membelalak di lihatnya pistol Flintlock Simon seharga 23,7 miliar, pistol Emas Hilter seharga 1,6 miliar dan beberapa pistol lainnya yang membuat dada Bella sesak, ia sesak bukan tidak mampu membeli, tapi dia ingin sekali memegang dan memakainya.


Setelah melihat-lihat isinya, di ambilnya Pistol Colt Walker dari sana, pistol itu sudah berada di tangannya, Bella mengembalikan tas itu kembali ke tempatnya, matanya kembali menatap depan, di lihatnya delapan orang keluar dari mobil yang baru tiba tadi.


"Tuan kenapa jumlah mereka semakin banyak." ucap Vero mulai kawatir.


"Entahlah, siapa sebenarnya mereka, tapi setahuku sepertinya mereka para bandit bayaran yang di bayar untuk membunuh seseorang." Ansel menatap pada delapan orang yang baru keluar dari mobil itu.


"Hebat juga kalian berdua." ucap salah satu dari delapan orang itu.


"Oh apa 10 orang ini teman kalian?" tanya Ansel sembari menunjuk pada sepuluh orang yang tergeletak tak sadarkan diri.


"Ya mereka teman kami." jawab pria berkepala botak, delapan orang ini sedikit menghawatirkan, karena mereka membawah laras panjang dan senjata tajam lainya.


"Vero kamu siap?" tanya Ansel pada Vero.

__ADS_1


"Yes, I'm ready." jawab Vero.


Ansel mulai menyerang begitu juga dengan Vero.


"Wah seru nih." ucap Bella kembali mengambil keripik kentang yang sempat di buangnya tadi.


Pertarungan terus berlanjut, hingga lima orang yang pingsan tadi kembali sadar.


Kelima orang itu mengambil pisau mereka masing-masing yang sempat terlempar.


"Wah gawat." Bella membuka sedikit kaca mobilnya.


Saat pisau itu akan di tusukan ke punggung Ansel dan Vero, terdengar letusan pistol dua kali, membuat semua orang yang berada disana menghentikan pertarungan mereka.


'Dor Dor..'


Dua orang yang akan beraksi tadi ambruk bersimbah darah, Bella menembak tepat di betis keduanya, dengan cepat Bella kembali memasukkan badannya dan menutup kaca mobilnya.


"Brengsek, siapa yang menembak mereka." ucap ketiga pria yang baru siuman tadi.


Disini Ansel dan Vero tidak menyia-nyiakan kesempatan, dengan cepat keduanya menembakkan pistol ke kaki sebelas orang itu.


'Dor dor dor dor..' beberapa peluru berhasil menembus kaki mereka.


"Aarrghh.." terdengar teriakan kesakitan dari sebelas orang itu, badan mereka luruh begitu saja.


Vero membelokkan mobilnya, meninggalkan para bandit yang terluka, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Bella lupa mengembalikan pistol yang dia ambil, dia melempar pistol itu ke bawah begitu saja, ia memasang wajah polosnya sembari memakan keripik kentang yang masih setia di tangannya, sedangkan Ansel menatap istrinya penuh selidik.


"Siapa yang menembak dua pria tadi?" tanya Ansel pada istrinya.


Bella beralih menatap suaminya dengan mulut penuh keripik.


"Mana ku tahu, aku dari tadi di dalam sini." jawab Bella dengan pipi mengembung.


Ansel di buat gemas melihat istrinya saat ini, tapi harus ia tahan karena dirinya masih penasaran dengan kejadian tadi, masak ia peluru itu menancap sendiri, saat menatap Bella mata Ansel tidak sengaja melihat pistol di bawah kaki istrinya.


"Kenapa pistol ini ada disini?" tanya Ansel, ia mengambil pistol yang jatuh di bawah kaki Bella, bukan jatuh tepatnya Bella membuangnya, bodohnya kenapa Bella membuangnya disitu.


"Hah mana? mungkin waktu kamu mengambil tadi, pistol itu ikut terjatuh." elak Bella.


"Kenapa aku berfikir Bella yang menembak kaki mereka ya, tapi itu tidak mungkin." batin Ansel.


"Oh ya kalian berdua tidak apa-apa?" tanya Bella mengalihkan keadaan.

__ADS_1


"Saya baik-baik saja Nona." jawab Vero.


"Tidak usah menjawab Vero, Bella juga tahu kamu sedang baik-baik saja." Ansel di buat sewot mendengar jawaban Vero.


"Astaga suamiku." ucap Bella memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa pening.


Drama di mobil pun usai, karena mobil sudah sampai di depan pagar mansion.


"Masuklah, aku harus kembali ke kantor, ingat jangan kemana-mana, kamu lihat tadi bagaimana situasi di luar." ucap Ansel pada istrinya.


"Iya suamiku, aku mengerti." ucap Bella.


"Ver tutup matamu." suruh Ansel.


Vero hanya menurut saja dia menutup matanya dengan kedua tangan.


Ansel dengan cepat memagut bibir istrinya, cukup lama mereka berciuman, setelah puas Ansel melepas pagutannya.


Walau mata tertutup tapi telingga masih berfungsi, siapa yang tidak mengenal suara itu, Vero mencebik bosnya ini tidak tahu tempat, bisa-bisanya dia mencium istrinya di depannya.


"Hati-hati, ingat hukumanmu aku tambah, karena sudah membuatku penasaran dengan kejadian tadi." ucap Ansel.


Bella memutar bola matanya malas, ia pun turun dari mobil.


"Masuk dulu, baru aku berangkat." ucap Ansel.


Bella mengangguk, sebelum masuk dia melambaikan tanggannya, Ansel pun membalas lambaian tangan istrinya.


"Ver, apa mungkin Bella tadi yang menembak kedua orang itu?" tanya Ansel, mobil kembali melesat menuju kantor.


"Entahlah Tuan, saya juga tidak melihatnya." jawab Vero.


Sebenarnya Vero juga berfikir sama dengan bosnya, tapi itu sangat mustahil, tidak mungkin wanita seperti Bella bisa jago memegang pistol.


"Nanti bersihkan dulu badanmu, di ruanganku banyak kemeja dan celana panjang, ambillah satu pasang." seru Ansel.


"Baik Tuan."


Keadaan keduanya saat ini sama-sama kacau karena perkelahian tadi.


Jangan lupa kasih dukungan kalian untuk author😍


__________________


LIKE, VOTE DAN KOMEN

__ADS_1


__________________


Kenalan sama Author yuk follow ig. Wulan_056t7


__ADS_2