
Tidak lama Bella keluar dari wardrobe, ia memoles sedikit wajahnya, entah mengapa istri Ansel ini menjadi sangat genit, ia mengambil ponsel dan berpose di depan cermin.
Kelakuan Bella tidak luput dari pandangan Ansel yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Tumben." Ansel memeluk istri cantiknya dari belakang, menciup pundak mulus Bella yang terekspose.
"Hanya ingin."
"Aku tidak rela sayang, para gangster itu berfikiran mesum jika melihatmu." Ansel terus menyusuri pundak istrinya hingga ciuman itu berpindah ke leher.
"Yang mesum itu kamu suamiku." Bella menjauh dari suaminya.
"Aku turun dulu ya, cepatlah berganti baju." suruh Bella.
Wajah Ansel berubah masam saat sang istri meninggalkan dirinya begitu saja, Ansel pun lekas menuju wardrobe.
Tidak lama pria ini keluar dari ruang ganti, ia duduk di kursi dan memakai sepatu pantofelnya, ia terlihat begitu tampan malam ini.
Di tempat lain keempat pria tampan ini sudah bersiap dengan penampilan yang tidak kalah tampan dari Ansel.
"Tampan sekali." ucap Kaya pada dirinya sendiri, saat ia berkaca.
Ketiga kawannya mengeleng melihat tingkah kaya.
"Ayo kita langsung berangkat." ajak Ardolp pada ketiga rekannya.
Rekan-rekan Ardolp yang lainnya sudah menunggu di bawah, Ardolp membawah rombongannya sebanyak tiga mobil, mobil pun melaju menuju mansion milik Ansel.
Di mansion Damien.
Damien sudah membeli mansion di negara A, pria tampan nan gagah ini sudah bersiap, ia sedang duduk di ruang tamu menunggu sang Papa, Papa Daniel juga turut di undang oleh sahabatnya dalam acara yang dilangsungkan malam ini.
"Papa sudah selesai?" Damien berdiri saat melihat sang Papa sudah berada di hadapannya.
"Sudah nak, mari kita berangkat." jawab Papa Daniel.
Kedua pria berbeda usia ini pun berlalu menuju mansion milik Ansel.
Acara di mansion sudah di mulai, satu persatu tamu sudah berdatangan, ini hanya pesta untuk anggota gangster saja, tidak untuk kolega bisnis atau yang lainnya.
Akhirnya tamu yang di tunggu-tunggu datang juga, para rombongan Jevarck mulai memasuki pintu, di depan sana berdiri Vero dan Arka untuk menyambut para tamu.
__ADS_1
"Selamat malam." sapa Ardolp pada kedua pria yang menyambutnya.
"Malam, mari silahkan masuk, Kakak sudah menunggu kedatangan kalian." ucap Arka dengan senyum ramah.
Sedikit banyaknya Arka tahu siapa-siapa yang ada dihadapannya saat ini, dia tidak menyangka jika musuh anggota Black Wolf yang tidak lain anggota Kakaknya sendiri bisa bergabung di acara malam ini.
Ardolp mulai memasuki ruang tamu yang sudah di sulap menjadi ruangan pesta yang cukup megah.
Saat ini Ansel sedang bercakap-cakap dengan rekan-rekannya yang sudah datang terlebih dulu, sementara Bella masih belum turun, ia kembali ke atas karena ingin memperbaiki penampilannya.
Sementara kedua orang tua Bella hanya duduk saja di temani besannya, karena kondisi dari Mama Eva dan Papa Tio masih tidak baik-baik saja, tadi pagi keduanya harus di infus sebentar karena kesehatan mereka tiba-tiba menurun.
"Wah terima kasih kalian mau datang." Ansel menghampiri anggota Jevarck yang terlihat baru memasuki ruangan.
"Tentu, untuk pertama kalinya kami datang ke mansionmu." mata Ardolp melirik kesana kemari sepertinya ia mencari seseorang, begitu juga ketiga rekannya, mata mereka sudah seperti seekor serigala yang sedang mencari mangsanya.
Ansel tersenyum, tentu senyuman yang dipaksakan, dirinya sudah sangat was-was melihat ke empat pria ini, yang terlihat sedang mencari istrinya.
"Silahkan dinikmati, hidangan ada di sebelah sana, aku tinggal sebentar." pamit Ansel pada Ardolp.
"Ya silahkan." Ardolp dan kawan-kawannya bercakap-cakap sembari memakan hidangan yang sudah di sajikan.
Sementara Ansel menyusul istrinya ke kamar, Ansel sedikit berlari dengan cepat ia mengunci kamarnya, tentu kedatangan Ansel membuat Bella terkejut.
"Astaga.." Bella sampai memegang dadanya.
"Sayang lebih baik kamu di kamar saja ya, di bawah terlalu banyak orang, bisa-bisa kamu pusing lagi." ucap Ansel.
"Astaga kamu ceroboh sekali sayang."
Bella terkekeh, entah mengapa wanita cantik ini jadi kegenitan.
"Semua tamu sudah datang?"
"Hanya anggota Jevarck saja, Damien dan kawan-kawannya belum hadir." jawab Ansel, sebenarnya berat sekali membiarkan istrinya untuk turun.
"Ooooo.." mulut Bella membentuk huruf O, hal itu membuat Ansel gemas.
"Kenapa kamu terlihat mengemaskan sekali malam ini hemm." Ansel ingin mencium bibir istrinya, dengan cepat Bella menahannya dengan jari telunjuk.
"Eits No, nanti lipstik ku rusak." ucap Bella menolak.
"Ayo kita turun sekarang!" Bella menarik tangan Ansel.
"Sayang pelan-pelan."
"Aku terlalu bersemangat ya?" tanya Bella.
Ansel menjadi kesal mendengar pertanyaan istrinya, apa Bella semangat karena ingin menemui para gangster itu, akh pikiran Ansel sangat kacau sekali malam ini.
__ADS_1
"Kamu jangan ganjen-ganjen di depan mereka ya!" ucapan Ansel penuh peringatan.
Bella mengangkat satu alisnya, apa-apaan suaminya ini, bisa-bisanya menuduh dirinya yang bukan-bukan.
"Memangnya aku apa, wanita nakal? tanpa ganjen pun mereka akan terpesona dengan ku." Bella melengos meninggalkan Ansel.
"Aduh salah bicara lagi." batin Ansel mengumpat.
Di bawah semua tamu menatap kagum pada sosok wanita yang baru muncul, Bella dengan ramah memberikan senyuman manisnya pada para tamu yang datang di acara malam ini, disana rekan-rekan dari anggota Red Boold juga banyak yang datang, seketika Bella merasa menjadi sekuntum bungga di antara kumpulan kumbang, bayangkan saja ia satu-satunya wanita yang ikut berkerumun dengan para gangster-gangster tampan ini.
"Malam Bell." Ardolp menyapa Bella dengan senyuman.
"Kamu cantik sekali malam ini." puji Kaya pada Bella.
"Terima kasih." senyuman cantik itu tidak pernah luntur menyapa para tamu, hingga kedatangan Ansel membuat tatapan ke empat anggota Jevarck beralih kearahnya.
"Sayang." Ansel langsung merangkul pinggang istrinya.
Keempat pria ini jadi badmood menatap kemesraan Bella dengan Ansel.
"Bella kami kesana dulu." pamit Ardolp.
Bella mengangguk, tidak lama tamu yang di tunggu-tunggu oleh Papa Robert datang.
Papa Daniel langsung menuju ke arah sahabatnya, sedangkan Damien berjalan ke arah wanita cantik, yang sangat menarik perhatiannya.
"Bella." sapa Damien tersenyum.
"Kenapa hanya menyapa Bella, kamu tidak lihat aku juga ada disini." protes Ansel, menunjukkan rasa tidak sukanya.
"Malam Tuan Ansel yang terhormat." ejek Damien pada Ansel sembari tersenyum miring.
Bella mencium bau-bau perdebatan, sebelum itu terjadi ia memperingatkan keduanya.
"Malam ini jangan ada pertengkaran oke." Bella menengahi perdebatan mereka.
"Tentu saja tidak akan Bell, jika bukan suami mu yang memulainya." Damien melirik Ansel, ia pun berlalu meninggalkan sepasang pasutri ini menuju Papanya.
Jangan Lupa dukungannya untuk Author😍
________________________Like Vote Dan Komen
________________________
Kenalan sama othor yuk follow instagram othor.
Wuland4ri_05
__ADS_1
Wulan