Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Pria Blasteran?


__ADS_3

Satu orang pria berbadan besar itu mondar mandir memperhatikan sekitar sambil menunggu Bos besarnya tiba, tanpa dirinya ketahui gudang itu sudah terkepung beberapa pria tampan yang siap menyerangnya.


'Ssssttthh' seperti sebuah busur panah tanpa suara, tembakan obat bius berhasil mendarat tepat di leher pria besar itu.


"Cepat ikat tikus itu." suruh seseorang.


Sedangkan yang lainnya menerobos masuk dengan mudah, tapi juga tetap dengan kewaspadaan.


Kedua pria bertubuh besar yang sedang meneguk kopi itu, terkapar tidak berdaya karena semburan pistol seseorang.


Bella masih berpura-pura pingsan, terdengar suara langkah semakin mendekat ke arahnya, orang itu membuka penutup matanya, membuat Bella berfikir mungkin itu Bos yang di maksud pria besar tadi.


Buram, hal pertama yang di lihat oleh Bella, matanya melotot saat dengan jelas melihat siapa orang yang berada di hadapannya.


"Ardolp." ucap Bella.


"Kita tidak punya banyak waktu." ucap Ardolp berusaha melepas ikatan tali yang melilit di tangan dan kaki Bella.


Empat nyawa dari Jevarck? ya mereka Ardolp, Kaya, Sea dan Grisham, diam-diam ke empatnya memiliki ketertarikan pada wanita cantik milik Ansel ini, ke empatnya juga tahu jika akan ada musuh lain yang ingin membalas dendam pada keluarga Ansel, bukan pembalasan dendam antar kelompok, tapi dendam pribadi.


Dengan cepat kelima orang ini berlari keluar, Bella berada di tengah-tengah pria tampan yang ingin melindunginya, niat mereka saat ini untuk melarikan diri, tapi na'as langkah mereka yang belum jauh dari gudang kecil itu terhenti, saat suara peringatan terdengar muncul dari arah barat.


"Berani kalian membawah wanita itu, kalian akan habis di tanganku." ucap pria tampan berwajah blasteran.


"Sebelum kalian membawah wanita ini, langkahi dulu mayat kami." ucap Ardolp menatap pria blasteran itu dengan mata elangnya, begitu pun dengan ketiga rekannya, tanpa rasa takut sedikit pun kelima orang itu menabuh genderang perang pada musuhnya.


"Saatnya beraksi." batin Bella.


Dengan gerak cepat tak terbaca Bella mengeluarkan pistol dari sakunya dan menembakkan anak peluru ke arah musuh.


'Dor Dor..'


Peluru tepat sasaran berhasil menancap di dada keduanya, dua nyawa melayang di tangan Bella, kelima orang ini berlari mundur menghindari serangan balik dari musuh, Ardolp menarik tangan Bella agar mengikutinya.


Untung saja pria berwajah blasteran ini tidak membawah banyak personil, jadi bisa memudahkan Bella dan ke empat anggota Jevarck untuk melawan mereka.


Ketiga anak buahnya sibuk menyerang musuh, tapi tidak dengan Bosnya, dia masih mematung mencerna kejadian tadi.


Wow orang ini sangat terpukau dengan aksi Bella, bukan hanya cantik tapi pesonanya berhasil menusuk jantungnya.

__ADS_1


"Cepat cari wanita itu sampai dapat." teriak pria blasteran itu saat menyadari jika wanita cantik itu sudah di bawah lari oleh anggota Jevarck.


"Bos mereka berhasil lolos." ucap salah satu anak buahnya.


'Plaaaass' tamparan keras mendarat di pipi pria berbadan besar itu hingga membuat bibirnya sobek.


"Brengsek, saya tidak mau tahu cepat kalian cari wanita itu sekarang juga." teriak pria blasteran itu, ia berjalan memasuki mobil, di kursi kemudi sudah ada supir yang setia menunggunya, mobil pun melesat pergi meninggalkan tiga orang berbadan besar yang masih berdiri di tempatnya.


"Ayo cepat kita cari, sebelum Bos marah." ajak salah satu dari mereka.


Ketiga pria ini kembali mencari kelima orang yang berhasil melarikan diri, mereka mencari dengan menaiki mobil yang mereka bawah.


Di sisi lain wanita cantik dengan rambut tergerai, sedang duduk di sofa di temani ke empat pria tampan.


"Terima kasih." ucap Bella tersenyum manis pada keempatnya, membuat keempat pria ini sama-sama mengalihkan wajah masing-masing, karena pesona Bella membuat mereka terpanah.


Bella dan keempat pria ini sudah berada di mansion milik Ardolp.


"Sama-sama." ucap ke empatnya serempak.


"Aku harus pulang, kenapa kalian membawah ku kesini?" tanya Bella pada ke empatnya.


"Lalu kapan aku harus pulang?" tanya Bella lagi.


"Besok saja, sekarang kamu beristirahat dulu mungkin stamina mu saat ini habis karena berlari tadi." jawab Sea.


"Kamu bercanda, aku masih bisa membunuh 10 musuh dengan tangan kosong." ucap Bella.


Ucapan Bella membuat ke empat pria tampan ini tersenyum.


"Ya ya kami percaya padamu." ucap Kaya.


Bella berdiri, " Dimana kamarnya?" tanya Bella membuat pria-pria ini gemas, baru saja menyombongkan diri tapi ujung-ujungnya menanyakan kamar.


Ardolp berdiri mengantarkan Bella ke kamar utama, dia ingin yang terbaik untuk wanita yang sudah mencuri hatinya.


"Ini kamar mu kalau butuh apa-apa panggil aku saja atau pencet tombol di sebelah ranjang." ucap Ardolp.


"Oke, thanks." ucap Bella tersenyum, begitu pun dengan Ardolp.

__ADS_1


"Aku tutup ya." ucap Bella.


Ardolp mengangguk, Bella pun menutup pintunya membiarkan pria tampan itu masih berdiri di depan pintu.


Ardolp mengeleng sembari tersenyum, ia tidak habis fikir bisa menyukai istri dari musuh bebuyutannya.


Ardolp pun kembali ke ruang tamu menemui ketiga rekannya.


Disisi lain Ansel marah-marah karena kehilangan jejak istrinya, ya anak buahnya sempat melihat Bella di bawah empat orang pria tapi mereka tidak tahu siapa ke empat pria itu, saat Ansel ke lokasi yang di maksud, dia harus menelan pil pahit mendengar anak buahnya kehilangan jejak.


"Bodoh kenapa kalian bisa kehilangan jejak mereka, cepat cari istriku sampai dapat." teriak Ansel tak terkendali.


Dirinya sangat menyesal membiarkan Bella keluar sendiri, karena menuruti egonya Ansel malah kehilangan istrinya.


Tadi Ansel marah karena Bella berani memeluk pria lain di depannya meskipun itu adiknya sendiri.


Ansel kembali ke mobil, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, malam sudah sangat larut membuatnya terpaksa pulang tanpa membawah istri cantiknya.


"Bagaimana ini, apa aku harus mengabari Papa Tio, Ah tidak usah, bisa habis aku kalau sampai Papa Tio tahu." monolog Ansel.


Akhirnya mobil sampai di mansion oma, Ansel keluar dari mobil dan berjalan lemah menuju pintu.


Pintu tidak di kunci, Ansel langsung masuk, ternyata di ruang tamu terlihat Mama dan Papanya menunggu kedatangannya.


Mama mendonggak saat mendengar derap langkah kaki mendekat, ia berdiri menghampiri putranya.


"Sayang bagaimana? dimana Bella?" tanya Mama Tia mencari Bella di belakang Ansel.


"Bella belum ketemu Ma." jawab Ansel lemah, ia merasa gusar takut terjadi sesuatu dengan istrinya.


"Astaga dimana anak itu." ucap Mama Tia kembali menangis.


Di ruangan lain, di dalam kamar yang cukup luas, wanita berambut pirang ini tertidur lelap, dirinya berharap Bella tidak akan pernah di temukan.


Yang nunggu up nya othor biji cabe ngaku😜


Jangan lupa kasih dukungan kalian ya sayang😘


lope-lope buat emak-emak pecinta novel🥰

__ADS_1


__ADS_2