
Pagi ini ada kabar bahagia yang datang untuk Damien, ia mendapat kabar jika Papanya sudah terbangun dari tidur panjangnya, membuat Damien langsung meninggalkan pekerjaan kantor begitu saja.
"Xel kamu handle kantor hari ini!" perintah Damien pada Axel.
"Baik Tuan." jawab Axel, ia mengambil alih tugas Damien yang belum selesai di periksa.
Damien langsung berlari dengan terburu-buru, sebelum menuju ke mansion tempat Papanya dan Bella di rawat, Damien berganti mobil dan juga pakaian, menginggat saat ini banyak yang sedang mencari Bella, ia tidak ingin musuh menguntitnya hingga mengetahui keberadaan wanita cantik itu.
Saat ini Damien sudah berganti mobil maupun pakaian, dirinya langsung menancap gas menuju sebuah mansion yang tidak terlalu besar tapi terlihat megah, keberadaan mansion ini sangat jauh dari keramaian.
Perjalanan memakan waktu satu jam, akhirnya Damien sampai juga di mansionnya.
"Terima kasih tuhan." monolog Damien, ia begitu bahagia mendengar kabar ini.
Damien turun dari mobil dan berlari memasuki mansion, langkah Damien semakin cepat saat mencapai pintu kamar, disamping Papa Daniel berdiri Dokter dan 3 perawat.
"Papa.." panggil Damien, Dokter sedikit menjauh memberi ruang untuk anak dan ayah ini.
Dilihatnya Papa Daniel sudah bisa membuka mata, tapi tetap saja badan itu tidak bisa bergerak apalagi berbicara.
Damien mengenggam tangan sang Papa, di ciumnya tangan yang mulai terlihat keriput itu.
"Damien bahagia sekali melihat Papa sudah bangun." ucap Damien, meskipun Papanya tidak bisa membalas ucapannya tapi Damien terus saja bercerita, tentang apa yang dia alami beberapa tahun ini, bagaimana perjuangannya semuanya dirinya ceritakan hingga membuat airmata pria paru baya itu menetes.
Mata Papa Daniel melirik ke arah ranjang Bella, seakan-akan dirinya bertanya siapa gadis itu, Damien yang mengerti akan lirikan sang Papa akhirnya mengenalkan Bella.
"Wanita itu bernama Bella Pa, dia istri dari Ansel." ucap Damien membuat Papa Daniel melotot.
"Kenapa Pa, ini hukuman yang pantas untuknya Pa, dia harus kehilangan orang tercintanya seperti kita dulu." ucap Demian.
Papa Daniel terus melotot ke arah putranya, Dokter tidak ingin melihat pasien ini kembali drop ia pun berusaha membantu pasien berbicara, sepertinya dia mengerti maksud dari pasien, karena di waktu Damien mengajak pasien bicara tentang keluarga Ansel, kesehatannya terus menurun meskipun dalam keadaan koma tapi pasien bisa mendengar.
"Maaf Tuan, sepertinya Pak Daniel tidak sependapat dengan ucapan anda, jangan membuatnya drop lagi, setahu saya saat membahas keluarga itu kondisi Pak Daniel selalu menurun." ucap Dokter sedikit berbisik.
"Aku tidak melakukan apa-apa Pa, aku hanya menolongnya wanita ini baru mengalami kecelakaan." ucap Damien mencoba menjelaskan pada Papanya.
Ekspresi Papa Daniel sudah kembali normal saat mendengar penjelasan dari Damien, hal itu terlihat oleh sang dokter.
"Lihatlah ekspresi Papa anda, sepertinya Pak Daniel tidak suka jika anda membalas dendam pada keluarga itu, bukan begitu Pak Daniel?" tanya Dokter.
Papa Daniel menjawab dengan kedipan mata.
__ADS_1
"Papa anda mengedipkan matanya, itu artinya ucapan saya benar Tuan, kita harus menjaga emosi dari pasien karena itu sangat berpengaruh bagi perkembangannya." ucap Dokter.
Damien diam dirinya memikirkan ucapan dari Dokter, apa benar kesehatan sang Papa tak kunjung membaik karena pengaruh emosional, kenapa Papanya melarang dirinya untuk membalas dendam, bukankah orang yang sudah membunuh Mamanya adalah keluarga Guinandra.
Banyak pertanyaan di dalam benaknya saat ini.
"Baiklah Dok, saya akan mencoba untuk tidak membahas keluarga itu lagi." ucap Damien kemudian.
Papa Daniel sebenarnya masih bisa kembali berjalan, karena kelumpuhan yang di deritanya tidak permanen, asal kesehatannya terus membaik.
"Baiklah kalau begitu saya permisi." pamit Dokter disusul 3 perawat di belakangnya.
Mereka belum juga mencapai pintu terdengar bunyi nyaring di sebelah ranjang Papa Daniel membuat semuanya terkejut.
Damien berlari kearah Bella, ia berteriak memanggil Dokter.
" Dokteeeeer cepat tolong wanita ini." teriak Damien.
Semuanya panik, terlihat garis datar dilayar monitor, perawat berlari membawah alat kejut jantung, Dokter mencoba sekali, dua kali dan ketiga kalinya hasilnya tetap sama.
Dokter menatap Damien, dengan berat hati ia menggelengkan kepala.
"Tidak tidak mungkin, bangun Bell maafkan aku." tanggis Damien tak terbendung lagi cinta pertamanya harus pergi karena dirinya.
Papa Daniel ikut meneteskan airmata melihat putranya histeris seperti itu, apakah wanita itu istimewa hingga membuat seorang Damien menangis?
Disisi lain entah Bella berada dimana saat ini, kabut putih nan tebal sedang menyelimutinya.
"Dimana aku?" Bella melihat sekiling hanya ada cahaya putih, dia tidak bisa melihat apapun.
"Apakah ini sudah waktunya?" ucapnya menunduk dengan mata mulai berair.
Bella berjalan terus melangkah, ia menemukan sebuah lorong, seperti ada dorongan yang membuatnya harus masuk ke dalam lorong itu, ia pun melangkah dengan pelan, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sangat ia rindukan memanggil dirinya.
"Sayang, jangan pergi aku masih sangat membutuhkanmu." ucapnya.
Bella berbalik suara itu memang benar-benar miliknya, langkah Bella berbeda saat ini ia berusaha melangkah ke arahnya, tapi langkah kakinya begitu berat saat mendekati sosok itu, entah kenapa kakinya seperti membawah sebuah batu yang begitu besar, hingga Bella tidak bisa melangkah lagi.
Bella hanya bisa memandangnya dari jauh dengan mata sayu.
"Maafkan aku." ucap Bella berbalik menatap lorong itu kembali, ia mencoba melangkah, langkahnya ringan tidak seberat tadi, apa memang benar-benar sudah waktunya?
__ADS_1
Bella memantapkan hati, ia kembali berjalan dengan langkah pelan hingga sebuah dekapan dari arah belakang berhasil mengapainya.
"Jangan pergi." Ansel memeluk tubuh itu dari belakang.
Pertemuan kali ini sungguh berbeda entah dimanakah mereka saat ini.
Bella membalikkan tubuhnya, matanya menatap Ansel dalam.
"Kaki ku terasa berat suamiku." ucap Bella.
Tiba-tiba Bella samar-samar mendengar suara seseorang pria menangis.
"Bell kamu meminta apa?katakan aku akan mengabulkannya tapi jangan pergi."
Suara itu kembali menghilang, hanya meninggalkan suara isakan tangis.
"Gendong aku menjauh dari lorong itu suamiku." ucap Bella berharap Ansel bisa membawahnya menjauh.
Ansel mengangguk ia mengendong Bella di punggungnya, entahlah dengan sekejap warna putih itu berubah menjadi warna biru, nafasnya terengah-engah.
"Bella, Bella jangan pergi." Ansel menangkup kedua tangannya, ia kembali menangis, suara Ansel membuat ke empat orang pria terbangun dari tidurnya.
Ya Ansel bermimpi, entah mimpi itu terasa begitu nyata, hatinya menjadi gelisah saat ini.
"Tuan kenapa?" tanya Vero yang saat ini duduk disamping Ansel, mereka masih berada di dalam pesawat.
"Istriku, istriku." ucap Ansel membuat keempat pria itu membuang nafas kasar.
Di tempat lain, di kamar yang Bella tempati, suara layar monitor kembali normal, terlihat grafis dari layar kembali bergerak.
Dokter segera memeriksa pasiennya.
"It's like magic." ucap Dokter.
Damien tersenyum bahagia melihat Bella kembali.
"Pasien sudah melewati masa kritisnya, kita tinggal menunggu pasien siuman." ucap Dokter.
Ucapan Dokter membuat Damien kembali mengembangkan senyumnya.
"Terima kasih Bell." ucap Damien mencium punggung tangan Bella.
__ADS_1
Pencet tombol suka dan kasih vote😍😘
Kalian penyemangat othor🥰