Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Damien Ke Negara A


__ADS_3

Sarapan pagi pun usai, Arka yang melihat Kakak Iparnya penuh dengan peluh mengernyitkan dahi.


"Kakak ipar habis olahraga ya?"


Saat ini di meja makan hanya ada Arka, Ansel dan Bella sedangkan Mama Tia dan Papa Robert pergi pagi-pagi sekali karena ada urusan.


"Iya.." jawab Bella sembari tersenyum.


"Kakak Ipar, aku boleh tidak minta tolong?" Arka ragu mengatakannya.


"Minta tolong apa? mintalah padaku jangan ke istriku." jawab Ansel dengan kesal.


"Kak Sel boleh tidak, aku pinjam Kakak Ipar sebentar, ke acara party temanku nanti malam?" Arka berharap Kakaknya mengiyakan walau itu tidak akan mungkin.


Ansel melotot, apa-apaan memang istrinya barang bisa di pinjam-pinjam.


"Tidak tidak, kenapa kamu mengajak istriku, ajak pacarmu atau wanita lain saja." Ansel menolak keras.


"Memang acaranya dimana?" tanya Bella.


"Dekat sini kok Kak, aku ngak


ada pilihan lain." wajah Arka memelas pada Bella.


"Suamiku kasihan Arka, kan hanya sekedar menemani." Bella mencoba bernegoisasi pada suaminya.


"Sayang .." Ansel menggeleng.


"Arka maaf ya." Bella jadi kasihan melihat adik iparnya terlihat kecewa.


Arka pergi begitu saja meninggalkan meja makan.


"Tuh kan adikmu marah." ucap Bella.


"Biarkan saja, ayo kita mandi tubuhmu terlihat berkeringat sekali." Ansel menarik tangan istrinya.


Ansel dan Bella sudah selesai mandi, tadi mereka mandi berdua, hanya mandi saja tidak lebih.


"Sayang, aku penasaran sejak kapan kamu menguasai ilmu bela diri, ku lihat kemampuanmu cukup hebat, kamu bisa mengimbangi ku." saat ini keduanya sedang bersantai di balkon.


"Dari kecil." jawab Bella dengan singkat.


"Benarkah?" Ansel tidak menyangka wanita berparas cupu yang di kenalnya dulu jago dalam ilmu beladiri.


Bella hanya mengangguk.


"Lantas kenapa kamu diam saja, saat aku menyiksamu dulu?" Ansel menatap istrinya senduh, ia merasa sangat bersalah menginggat kekejamannya dulu pada Bella.


"Aku ingin meluluhkan hatimu." jawaban Bella membuat bibir Ansel terangkat membentuk sebuah senyuman.


"Ya memang pesonaku tidak ada yang menandinggi." ucapnya dengan percaya diri.

__ADS_1


"Mana ada, yang benar kamu yang jatuh cinta denganku lebih dulu." ucap Bella tidak terima.


Ansel mendekat dan memeluk istrinya dari belakang.


"Ya kamu benar, akulah yang lebih dulu jatuh hati padamu." Ansel mengecup leher istrinya dengan mesra.


Satu Bulan Berlalu


Kini keadaan Papa Daniel dari segi kesehatan sudah sangat baik, perkembangannya terbilang cepat.


Beliau sudah lancar berbicara dan juga mulai bisa berjalan dengan normal.


"Nak Papa minta besok kita terbang ke negara A."


Damien di buat pusing, karena sang Papa terus menagih janji padanya, dengan mantap dan penuh keberanian Damien mengiyakan, ia memutuskan besok akan terbang ke negara A untuk bertemu dengan keluarga Guinandra.


Malam sudah sangat larut, tapi Damien masih belum bisa memejamkan matanya, ia senyum-senyum sendiri saat menginggat ciumannya bersama Bella yang hanya terjadi sesaat.


"Bella aku sangat merindukanmu." Damien memeluk guling dengan erat sembari membayangkan wajah cantik Bella.


"Astaga aku sudah gila, kenapa harus mencintai istri orang."


Meskipun bibirnya berkata kenapa, tapi otaknya tidak sejalan, Damien malah semakin erat memeluk gulingnya sembari sesekali menciumnya, berharap guling yang di peluknya saat ini berganti menjadi sosok Bella.


Ya mungkin Damien memang benar-benar gila, seperti yang di katakan olehnya tadi.


Pagi ini Damien sudah siap membawah sang Papa menemui Om Robert, tidak lupa ia membawah personilnya juga untuk berjaga-jaga.


"Papa sudah siap?" tanya Damien.


Damien tersenyum, keduanya berjalan menuju mobil yang sudah di siapkan oleh pengawal.


Tiga mobil melaju membelah jalanan kota paris menuju bandar udara Charles de gaulle Paris - Prancis.


Di perjalanan wajah Damien terlihat cerah, secerah cuaca pagi ini, mungkin karena akan bertemu dengan tambatan hatinya, siapa lagi jika bukan Bella.


"Nak kenapa wajahmu terlihat bahagia sekali?"


Saat ini semuanya sudah berada di dalam pesawat.


Mendengar pertanyaan dari sang Papa dengan cepat Damien mengalihkan obrolan.


"Damien ngantuk Pa kemarin malam tidak bisa tidur." Damien berpura-pura memijat pelipisnya.


"Tidur saja Nak nanti Papa bangunkan." ucap Papa Daniel.


Damien mengganguk, ia pun mulai menutup matanya.


Disisi lain istri dari seorang Ansel Guinandra sedang iseng membuat kue, hari ini tepat hari ulang tahunnya yang ke 22 tahun.


Bella tidak berharap Papa dan Mamanya ingat dengan hari kelahirannya, karena perayaan ulang tahun menurutnya tidak terlalu penting, yang terpenting bagaimana ia menjadi orang yang lebih baik dari tahun sebelumnya.

__ADS_1


Sudah dua hari ini Ansel tidak pulang, dia bertugas menanggani kantor cabang yang berada di Amerika.


"Huuff, akhirnya jadi juga." kue kecil berbentuk love berhasil di buat oleh Bella, kuenya terlihat begitu cantik, berbalut fondant dengan taburan mutiara di sekeliling, di tengahnya dihiasi dengan bungga bawar yang terbuat dari cream sugar.


Bella menaruhnya di kulkas pendingin, ia akan memakannya nanti malam saja, bersama kedua mertua dan juga adik iparnya.


Tak lama terlihat Mama Tia, sepertinya baru saja pulang, beliau berjalan menghampiri Bella ke dapur sedangkan Papa Robert berlalu menuju kamar.


"Sayang, sedang apa kamu di dapur?"


"Bella hanya iseng membuat kue Ma, nanti malam kita makan sama-sama ya." ucap Bella.


"Wah pasti enak kue buatan kamu, ya sudah Mama ke kamar dulu ya sayang."


Bella mengangguk, Mama Tia pun berlalu ke kamar menyusul sang suami.


Bella kembali ke atas, jam masih menunjukkan pukul 10 pagi.


'Huuffft..' helaan nafas keluar dari bibir wanita cantik ini, ia mengusap perutnya yang terlihat rata.


"Kapan baby akan mengunjungi rahimku." monolog Bella.


Pernikahan Bella dan Ansel sudah berjalan enam bulan tapi Bella belum juga di karuniai momongan, hal itu membuat Bella sedih, meskipun sang suami tidak pernah memintanya lagi, tapi Bella sangat tahu jika suaminya menginginkan seorang anak.


Bella beranjak mengambil buku novel, dua hari ini waktunya hanya di habiskan untuk bersantai, karena sang suami memintanya untuk tetap di mansion saja.


Bella serius saat membaca, hingga ia terbawah suasana, seketika air matanya menetes, alur ceritanya sangat menyentuh hati, hingga terdengar dering ponsel mengenjutkannya.


Ternyata panggilan Video dari Ansel, Bella tersenyum sebelum menerima telpon, ia mengusap airmatanya.


Tuuut Video call tersambung.


"Sayang, sedang apa kamu?" Ansel saat ini duduk di kursi kebesarannya.


"Lagi tiduran, kamu lagi di kantor ya?"


"Iya sayang, maaf sebelumnya aku ingin mengabarimu, jika kepulangan ku di undur dua hari lagi." ucap Ansel.


Wajah cantik yang terus tersenyum itu berubah murung, hal itu tertangkap oleh penglihatan Ansel.


"Jangan bersedih, aku janji dua hari lagi akan pulang."


"Baiklah hati-hati disana, jangan lupa makan." pesan Bella, ia memaksakan senyumnya.


Sambungan video terputus.


Jangan lupa kasih dukungan kalian untuk author😍


________________________


LIKE VOTE DAN KOMEN

__ADS_1


________________________


Kenalan sama Author yuk follow ig. Wulan_056t7


__ADS_2