
"Dia mengajak Calista ke Prancis? mau tidak mau dia harus jujur dong dengan statusnya." batin Bella tersenyum.
Hati yang tadinya gersang seketika berubah menjadi taman bungga yang bermekaran.
Ansel melirik istrinya yang sedang senyum-senyum sendiri.
"Kenapa kamu senyum-senyum?" tanya Ansel.
Bella terdiam sebentar lalu menjawab. " Bukannya kalau dia ikut ke Prancis, status kita akan terbongkar." jawab Bella.
"Mau bagaimana lagi, lebih baik berkata jujur." ucap Ansel.
Sebenarnya Ansel tidak enak hati harus berkata jujur pada temannya itu, dirinya masih menginggat kejadian di pantai saat wanita itu menyatakan cintanya, membuatnya tidak sampai hati mengatakannya, tidak lama mobil Ansel sudah sampai di garasi, keduanya segera turun.
Di sisi lain wanita berambut pirang yang sedang asik menonton tv langsung berlari keluar saat mendengar mobil Ansel datang, senyuman yang terukir di bibirnya pudar saat melihat Ansel berjalan berdampingan dengan Bella.
"Kenapa harus ketemu sih." batin Calista kesal.
"Sel, kamu capek? mau makan?" tanya Calista begitu perhatian pada Ansel, membuat Bella ingin menjitak wanita itu sekarang juga, ia pun masuk ke kamar lebih dulu meninggalkan keduanya.
"Aku tidak lapar, bereskan baju-baju mu!" suruh Ansel, membuat Calista mematung.
"Apa kau mengusir ku?" tanya Calista dengan mata yang sudah berembun.
"Tidak, aku ingin mengajakmu ke Prancis, cepatlah kita tidak punya banyak waktu." ucap Ansel meninggalkan Calista yang masih mencerna ucapan Ansel.
Bibir yang semula cemberut itu kembali tersenyum, dia bergegas ke kamar untuk menyiapkan pakaian yang akan dia bawah.
Di kamar tamu yang Bella tempati, diam-diam ia mengantonggi pistol di sakunya, hanya untuk berjaga-jaga saja, menggingat ucapan Ardolp kemarin jika dirinya menjadi incaran musuh Ansel.
Semuanya sudah siap terutama Arka, dirinya juga mendapat telpon dari Papanya, setelah mendengar kabar yang membuatnya syok, Arka langsung bergegas pulang menyuruh tangan kanannya untuk menghandel segala pekerjaan di kantor, begitu juga dengan Ansel beberapa hari ini tanggung jawab kantor ia limpahkan pada Devan.
__ADS_1
Hari ini Ansel terbang dengan pesawat pribadinya, Arka yang baru tahu jika Kakaknya memiliki pesawat pribadi bertanya-tanya, di sepanjang perjalanan adik dari Ansel ini begitu cerewet, keduanya duduk berdampingan, tidak seperti biasanya mereka begitu akrab, sedangkan Bella duduk di samping Calista wanita tercerewet yang pernah Bella temui.
Saat ini Bella seperti berada di negara Burkina Faso yang memiliki rata-rata suhu sebesar 28,25 ⁰C yang membuatnya kepanasan saat mendengar Calista bercerita, jika wanita ular itu pernah berciuman dengan suaminya saat di pantai.
Bella masih ingat waktu itu, Ansel sampai malam hari tidak kunjung pulang, segala macam fikiran buruk pun timbul dalam benaknya.
"Sialan, lebih baik aku tidur dari pada mendengarkan kaset rusak ini." batin Bella.
Ansel melirik istrinya yang mulai memejamkan mata, sementara Calista di buat kesal saat pendengarnya tertidur, Calista menyuruh Arka untuk berpindah posisi, Arka dengan semangat mengiyakan permintaan wanita itu.
Ansel mendengus, tapi tunggu mungkin ini kesempatannya untuk berbicara pada temannya.
Calista saat ini sudah berada di samping Ansel.
Sebelum berbicara Ansel mengatur nafasnya.
"Call.." panggil Ansel.
"Call aku ingin jujur padamu." ucap Ansel memotong ucapannya, ia mengambil nafas dalam.
Sementara Calista tersenyum senang, ia menggira Ansel akan menyatakan cinta padanya.
"Sebenarnya aku sudah menikah, Bella adalah istriku." ucap Ansel, ia merasakan kelegaan saat berhasil mengatakannya.
Kebahagiaan yang Calista bayangkan ternyata semu semata, Calista menggeleng cepat.
"Kamu bohong kan Sel?" tanya Calista, matanya tidak dapat berbohong jika dirinya merasa sangat terpukul, setelah kedua orang tuanya meninggal, ia berharap Ansel yang akan menemaninya hingga tua, tapi kenyataan saat ini menamparnya telak.
"Maafkan aku Call sudah berbohong padamu, tapi ucapanku ini benar." jawab Ansel.
Tanggis Calista pecah di dalam pesawat, Arka yang melihat hal itu mengernyitkan dahi, mungkin Kakaknya sudah berkata jujur.
__ADS_1
Bahu itu bergoncang, tubuhnya gemetar, harapan satu-satunya tempat untuknya berlindung musnah sudah, pria yang ia gadang-gadang menjadi miliknya kini sudah di miliki orang, Ansel hanya bisa menghembuskan nafas kasar, inilah yang dirinya takutkan.
Bella terbangun saat tidak sengaja tangan Arka menyenggol tubuhnya, ia menoleh kesamping melihat wanita berambut pirang itu menanggis tersedu membuatnya bertanya-tanya, saking seriusnya Bella melihat Calista, ia tidak sadar jika Arka saat ini sedang menatapnya lekat, hal itu tidak lepas dari pandangan Ansel.
"Sudah jangan menangis, aku minta maaf." ucap Ansel.
Calista memeluk Ansel erat sembari menangis sesenggukkan, Ansel juga tidak dapat menolak ia tidak tega melihat teman masa kecilnya seperti ini, tanpa Ansel sadari di sebrang sana juga ada hati yang kembali terluka, luka tapi tak berdarah, dengan sekuat tenaga Bella menahan airmatanya.
"Menangis saja jangan di tahan." ucap Arka membuyarkan lamunan Bella.
"Kamu? dari kapan kamu disini?" tanya Bella membuat Arka tersenyum.
"Aku tahu kamu cemburu, mendekatlah buat Kakak ku yang bodoh itu kesal." ucap Arka.
Tanpa berfikir panjang karena Bella juga kesal, ia pun mengangguk, ia mendekati Arka dan memeluknya, Arka mengusap kepala Kakak iparnya dengan lembut, ia mencoba melirik ke samping melihat reaksi sang Kakak, hanya satu kata untuknya 'Menakutkan'.
Mata itu sudah seperti panah yang akan melesat ke arah musuhnya, membuat siapa saja yang melihatnya bergidik.
"Jangan berulah, ingat hanya berpelukan." ucap Bella di dekapan Arka.
"Tenang saja, kalau ada lebihnya itu artinya bonus untukmu." ucap Arka membuat Bella mencebik.
Kedua pasutri ini sama-sama memeluk orang di samping mereka, sebuah pelukan hampa tanpa adanya rasa, di balik kehampaan itu ada rasa cemburu, marah semua bercampur menjadi satu.
Perjalanan memakan waktu cukup lama, akhirnya pesawat lepas landas di Bandara Udara International Charles de Gaulle - Paris, di sana sudah ada empat mobil menunggu kedatangan Ansel, mobil siapa? apa kerabatnya yang menjemput? jawabannya bukan, ke empat mobil itu berisi para pengawal, bukan hanya pengawal biasa mereka orang-orang Ansel yang selalu menemani sang majikan jika berkunjung ke negara-negara lain untuk urusan dunia bawah, karena musuh seorang Ansel ada dimana-mana.
Ke empat mobil ini mengikuti mobil Ansel dari jarak jauh atas permintaan Bosnya, Ansel tidak ingin adik dan teman masa kecilnya tahu siapa jati dirinya, mereka berempat berada di mobil yang sama menuju Mansion milik oma Ansel.
Kasih dukungannya untuk Author ya, pembaca masih sepi😔 kadang jadi males mau lanjutin nulis 😌
Terima kasih mau mendengar curhatan othor🙈 lope-lope buat pembaca setia🥰
__ADS_1