
Sepulang dari mansion Ansel, mobil Papa Tio mendapat serangan dari orang yang tidak di kenalnya, bahkan jumlahnya tidak sedikit, dua mobil BMW berwarna hitam, di tambah lima orang berkendara motor ikut menghadang ketiga mobil itu.
'Dor Dor..' dua peluru menembus ban belakang mobil milik Papa Tio, ketiga mobil itu seketika bertabrakan saat mobil yang di tumpangi Papa Tio berhenti mendadak
"Aarrrhh.." kepala Papa Tio terbentur keras hingga mengeluarkan darah.
"Mama.." panggilnya dengan lemah, ia menatap istri tercinta yang jatuh pingsan, tidak lama mata pria parubaya itu ikut terpejam.
Para pengawal berusaha keluar dari mobil, keadaan mobil yang berada di tengah hampir ringsek di bagian belakang, sedangkan mobil yang berada di belakang sedikit ringsek di bagian depan, untung saja mereka hanya terluka ringan.
Ke sepuluh pengawal akhirnya keluar, mereka menghentikan segerombolan orang yang akan membawah kedua majikannya.
"Hai berhenti kalian." ke sepuluh pengawal ini cukup takut, melihat orang-orang di depan mereka, tidak tanggung-tanggung di depan mereka berdiri 15 mafia yang di takuti di negara ini.
Ke sepuluh mafia berjalan menghampiri para pengawal, sedangkan kelimanya memindahkan Papa Tio dan Mama Eva ke mobil mereka.
"Kalian tidak tahu siapa kami?"
Kesepuluh pengawal bergidik ngeri melihat paras dari mereka, mata kesepuluh mafia itu seperti mengguliti lawannya hidup-hidup.
"Kami tidak takut pada kalian." salah satu dari pengawal memberanikan diri untuk menjawab, mereka di bayar untuk melindungi majikannya, mereka menerima konsekuensi apapun meskipun harus mati di tangan musuh.
"Wow besar juga nyalimu."
Para pengawal Ansel mulai menyerang para mafia itu, entahlah mereka akan selamat apa tidak malam ini.
Baku hantam terus berlanjut tiga pengawal berhasil di lumpuhkan oleh mereka, ketiganya mengalami patah tulang di bagian kaki, lima menit kemudian satu persatu pengawal tumbang bergantian, mereka kalah, kalah dari segi fisik dan kemampuan.
Kelima belas mafia itu berhasil membawah kedua orang tua Bella pergi, sepertinya Darren bergerak cepat, dirinya tidak ingin menyia-yiakan kesempatan malam ini.
Di mansion Ansel
Terdengar suara jeritan dari Bella, seketika itu juga Bella jatuh pingsan, untung saja Ansel berada di sana.
__ADS_1
"Sayang." Ansel panik, ia mengendong istrinya dan menidurkannya di sofa.
Kedua pasutri ini belum tidur, setelah kedua orang tuanya pulang, Bella mengajak sang suami menonton bola di ruang keluarga, keduanya asik menonton hingga dering pesan dari ponsel Bella terdengar, Bella beranjak mengambil ponselnya, disana ada pesan video dari nomor tidak di kenal, di video itu terlihat sang Papa dengan kepala berdarah-darah, tidak lama terlihat sang Mama dalam kondisi pingsan, keduanya terikat dengan mulut tertutup lakban, hal itulah yang membuat Bella menjerit dan jatuh pingsan.
Setelah menidurkan Bella, Ansel mengambil ponsel istrinya yang terjatuh, ia penasaran apa yang di lihat istrinya hingga wanitanya pingsan, seketika darahnya mendidih, guratan amarah terlihat dari raut wajahnya.
"Brengsek.."
Ansel mengirim video itu pada ketiga rekannya, setelahnya ia berlari menuju kamar kedua orang tuanya.
"Tok Tok Tok.."
"Ma Pa.." Ansel berteriak dengan keras.
Tidak lama pintu terbuka.
"Ada apa nak?" Mama Tia ikut panik saat melihat wajah putranya terlihat tegang.
"Ma Bella pingsan di ruang keluarga."
"Ya ampun Bella, Sel ambilkan minyak kayu putih." suruh Mama Tia.
Ansel berlari, ia kembali dengan membawah kotak obat.
"Kenapa Bella bisa pingsan Sel?" tanya Papa Robert.
"Papa Tio dan Mama Eva di sekap Pa, lihatlah!" Ansel menunjukkan video tadi pada kedua orang tuanya.
"Astaga." Mama Tia menutup mulutnya hampir saja wanita paru baya ini menjerit.
"Siapa yang melakukan hal ini Sel, apa mereka musuh-musuhmu?" Papa Robert mengepalkan tangannya.
"Bukan Pa, Darren yang menyekap mereka, adik tiri Papa Tio."
__ADS_1
"Darren, astaga pria itu."
"Apa Papa mengenalnya?" tanya Ansel.
"Ya Papa mengenalnya, pria itu rakus akan harta, Tio sudah memberikan seperempat hartanya, itu juga harta milik istrimu."
"Dan sekarang pria itu malah meminta semuanya Pa." ucap Ansel.
Papa Robert mencebik, dulu dia pernah menawarkan diri pada sahabatnya untuk menghabisi pria itu tapi Papa Tio menolak, dirinya lebih memilih memberikan seperempat hartanya.
Bella tidak kunjung sadar mungkin dirinya syok, Ansel tidak mungkin meninggalkan istrinya dalam keadaan seperti sekarang.
Di tempat lain Darren tertawa terbahak-bahak, akhirnya rencana singkat ini berhasil juga.
"HAHAHAHA, kalian memang hebat, tugas kalian belum selesai sampai aku mendapatkan harta kekayaan milik Tio." ucap Darren pada 15 orang mafia yang berdiri di hadapannya.
"Baik kami siap, asal bayarannya sesuai perjanjian." ucap salah satu dari mafia itu.
Darren tersenyum menyeringgai.
"Jangan kawatir, setelah mendapatkan hartanya, aku akan membayar semuanya."
Jangan Lupa dukungannya untuk Author😍
________________________Like Vote Dan Komen
________________________
Kenalan sama othor yuk follow instagram othor.
Wuland4ri_05
__ADS_1
Wulan