
"Sepertinya kita harus membicarakan hal ini pada Bella." Ardolp kawatir baru saja dirinya mendapat kabar jika rekan-rekan yang keluar dari kelompoknya mendirikan gang sendiri, mereka berencana untuk menyakiti Bella istri Ansel, karena menurut mereka kelemahan Ansel hanya satu yaitu istrinya.
"Bagaimana bisa menemuinya, jika pengawal Ansel selalu berada di sampingnya." ucap Sea.
"Kaya cari nomor ponsel Bella." suruh Ardolp.
Pria ini juga memiliki kemampuan yang sama seperti Felix.
"Oke nanti aku kirimkan, lebih baik kita istirahat dulu, ini sudah sangat larut." Kaya merasa mengantuk, matanya tinggal beberapa watt.
"Baiklah kita istirahat." Ardolp beranjak lebih dulu meninggalkan kawan-kawannya.
Malam yang gelap kini di gantikan dengan pagi yang cerah, pagi ini Papa Tio dan Mama Eva pulang ke kediaman mereka.
"Ma, Bella pasti bakal kangen banget sama Mama." Bella bergelanyut manja di pundak sang Mama.
Semuanya berada di depan pintu teras untuk mengantarkan kedua orang tua Bella, sebelum memulai tugas mereka masing-masing.
"Mama juga sayang, kamu hati-hati disini." Mama Eva mencium kening putrinya dengan sayang.
"Hati-hati ya jeng, lain kali menginaplah lagi." pinta Mama Tia.
"Tentu Jeng."
"Rob aku permisi dulu, titip putriku ya." pamit Papa Tio.
"Tentu Tio, putrimu putriku juga." seru Papa Robert.
"Mari nak Arka, Ansel." Papa Tio dan Mama Eva berlalu memasuki mobilnya.
Arka dan Ansel hanya mengangguk sembari tersenyum.
Mobil Papa Tio sudah berlalu, Arka pun pamit untuk berangkat ke kantor.
"Aku berangkat dulu Ma Pa." pamit Arka mencium pipi sang Mama.
"Hati-hati sayang."
Disusul Ansel juga ikut berpamitan.
"Aku juga Ma." Ansel pun sama mencium pipi sang Mama.
"Hati-hati putra-putra Mama."
Ansel mendekati istrinya, sebelum pergi ia mencium kening Bella.
"Sayang aku berangkat." pamit Ansel pada Bella.
Bella tersenyum, "Hati-hati suamiku."
Mobil Arka dan Ansel pun berlalu meninggalkan mansion, tidak lama ponsel Bella berdering, ada panggilan dari nomor baru.
"Ma Pa Bella permisi dulu." pamit Bella berjalan menuju kamar.
Sudah 3 kali panggilan Bella baru mengangkatnya.
__ADS_1
"Hallo siapa ini?" tanya Bella.
"Bell ini aku Ardolp" jawab Ardolp membuat Bella mengernyit.
"Darimana kamu dapat nomor ponselku?" tanya Bella penasaran.
"Sudahlah tidak usah di bahas, bisakah kita bertemu?" tanya Ardolp.
"Kapan, untuk apa?" tanya Bella balik.
"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan, kalau bisa sekarang tapi jangan membawah pengawal saat pergi, aku akan menjemputmu." ucap Ardolp.
Bella terdiam, apa dirinya harus menolak, tapi Bella penasaran apa yang akan di bicarakan Ardolp nantinya.
"Baiklah aku akan mencari alasan, tapi awas saja jika kamu membicarakan hal yang tidak penting." ucap Bella.
"Tenang, ini sangat penting, bersiaplah aku tunggu di tempat aku menurunkanmu dulu." ucap Ardolp.
Telpon pun terputus.
Disana Ardolp senyum-senyum sendiri, Bella memang berbeda dengan wanita pada umumnya, jika wanita lain pasti akan takut dengan suaminya, sedangkan Bella tidak, dia sangat menyukai tantangan, bayangkan saja dia mau mengambil resiko menantang Ansel.
"Aku beralasan apa ya?" monolog Bella, ia binggung sendiri jangan sampai para pengawal tahu jika ia akan menemui Ardolp, bisa-bisa pengawal itu melapor pada suaminya.
Tiba-tiba saja Bella memiliki ide, ia pun berjalan ke arah kamar untuk berganti baju.
Tidak lama dirinya keluar, saat ini Bella lebih memilih style tomboy hanya memakai jelana jeans sobek, atasan tang top di balut jaket kulit hitam.
"Ma Bella keluar sebentar ada perlu." pamit Bella pada Mama Tia.
"Kamu pergi dengan pengawal kan?" tanya Mama Tia.
"Baiklah berhati-hatilah." pesan Mama Tia pada menantunya.
Bella mengangguk lalu keluar dari mansion.
"Nona mau kemana?" tanya pengawal yang berdiri tidak jauh dari Bella.
"Keluar sebentar."
Mendengar jawaban dari istri bosnya pengawal itu segera pergi, mengambil kontak mobil.
Tak lama mobil berhenti di depan Bella, dengan cepat Bella mengeluarkan senapan kecil, dan menembakkan besi ke 3 ban sekaligus, sebelum pengawal itu keluar dari mobil.
Ban itu tidak akan langsung kempes, harus menunggu beberapa menit akan mendapat hasil yang di harapkan oleh Bella.
"Yes .." ucap Bella, senapan kecil itu di didesain tanpa harus mengeluarkan bunyi, Bella membelinya karena menurutnya senapan ini akan sangat bermanfaat jika dalam keadaan urgent atau kepepet seperti sekarang ini.
Beruntung juga waktu itu para pengawal yang lain sedang asik mengobrol, mereka tidak menyadari kelakuan istri bosnya.
"Kami harus ikut Nona." melihat rekannya keluar dari mobil, 2 orang yang mengobrol tadi mulai menghampiri.
"Silahkan." Bella masuk mobil, di susul ketiga pengawal.
Mobil pun melaju, saat baru mencapai jalan raya mobil tiba-tiba berhenti.
__ADS_1
Bella tersenyum smirk, "Kenapa berhenti?" Bella berpura-pura tidak tahu apa-apa.
"Sepertinya ban mobil bocor Nona, sebentar saya cek dulu." jawab pengawal yang berada di kemudi.
Pengawal meraup wajah kasar saat melihat 3 ban mobilnya kempes secara bersamaan.
"Kenapa bisa kembes tiga-tiganya sih." Pengawal merasa frustasi.
Bella keluar dari dalam mobil di susul dua pengawal yang masih ada di dalam.
"Kenapa?" tanya pengawal pada rekannya.
"Bannya bocor, mana cuma bawah 1 ban serep." jawab rekannya.
"Begini saja, saya sedang terburu-buru saat ini, saya berangkat naik taksi saja, nanti saya share lokasi pada kalian, kalian boleh menyusul, bagaimana."
"Tapi Nona.." Belum selesai ucapan pengawal, Bella langsung menyetop taksi dan menaikinya.
Bella turun di tempat dimana ia dan Ardolp janjian, ternyata di dalam mobil tidak hanya Ardolp tapi Sea, Kaya dan juga Grisham ikut juga.
"Bagaimana kamu bisa keluar tanpa pengawal?" tanya Ardolp pada Bella.
"Tidak susah, hanya butuh mengempeskan 3 ban mobil." jawab Bella membuat ke empat pria tampan ini tersenyum.
Disisi lain para pengawal Ansel gelisah.
"Wah kacau ini, pasti Tuan memarahi kita." ucap salah satu Pengawal.
"Aku telpon Tuan saja, dari pada kita yang kena marah." salah satu pengawal mulai mengeluarkan ponsel dan menelpon Ansel.
Tuuutttt sambungan terhubung.
"Hallo selamat pagi Tuan."
"Ada apa?" tanya Ansel dingin.
"Saya tadi mengantar Nona Bella pergi, tapi di tengah jalan mobil kita mengalami kendala, Nona Bella memilih menaiki taksi tanpa persetujuan dari kita." adu Pengawal pada bosnya.
Mendengar hal itu Ansel langsung menutup telponnya.
Panggilan terputus.
"Mau kemana dia?" monolog Ansel.
Ansel langsung mengecek ponselnya, tanpa Bella ketahui Ansel sudah menyadap ponsel Bella, dengan hanya mengirim satu pesan dia sudah bisa mendengar apa saja yang di bicarakan istrinya.
"Brengsek, aku kenal suara mereka." umpat Ansel.
Ansel beranjak dari kursi kebesarannya, dia akan menyusul dan mencari tahu kenapa istrinya menemui para anggota Jevarck.
Jangan lupa kasih dukungan kalian untuk author😍
____________________
LIKE, VOTE DAN KOMEN
__ADS_1
______________^_^___
Kenalan sama Author yuk follow ig. Wulan_056t7