
Pagi pun tiba terlihat sinar dari ufuk timur yang mulai menampakkan cahaya kesilauan.
Hari ini adalah hari dimana keberangkatan kedua orang tua Ansel, pagi ini mereka semua berada di bandara untuk mengantar kepergian orang tuanya.
"Mama hati-hati ya." ucap Ansel memeluk Mama Tia, di susul Arka dan Bella.
"Papa juga hati-hati disana." Ansel memeluk Papa Robert.
"Papa titip bisnis Papa pada kalian berdua." pesan Papa Robert pada kedua putranya.
"Tenang saja Pa serahkan semuanya pada Arka."
"Bagus kalian berdua harus akur."
Arka tersenyum sementara Ansel hanya mengangguk, kedua orang tua mereka bergegas untuk chek-in, sementara ke tiga anaknya masih berdiri menunggu, semua pemeriksaan telah di lakukan sudah saatnya Mama Tia dan Papa Robert menaiki pesawat, mereka melambaikan tangan sebagai salam perpisahan.
Mama Tia dan Papa Robert tidak tahu jika Ansel memiliki pesawat pribadi, Ansel merahasiakan itu untuk suatu alasan, setelah melihat pesawat meninggalkan bandara kedua pria itu bergegas ke kantor, sementara Bella pergi kursus.
"Aku akan mengantarmu." Ansel berbicara tanpa menatap lawan bicaranya.
"Tidak usah aku pakai taksi saja."
Bella was-was jika sampai Ansel tahu kalau dirinya berbohong, Bella tidak bisa membayangkan bagaimana nasipnya.
Sebelum Ansel bicara Arka memotong ucapan Ansel terlebih dulu.
"Kak aku duluan." pamit Arka pada Ansel, Ansel hanya mengangguk sementara Bella tersenyum manis pada adik iparnya itu, Arka berjalan lebih dulu meninggalkan Kakaknya.
Ansel melirik tidak suka ke arah Bella, tiba-tiba terdengar dering panggilan di ponsel Ansel.
"Tunggu disini sebentar." Ansel meninggalkan Bella sedikit menjauh untuk mengangkat telpon.
Setelahnya Ansel kembali dengan wajah bringgas, dia berjalan tergesah menuju mobil, meninggalkan Bella di bandara begitu saja.
Wajah Bella terlihat begitu sebal, Ansel yang menyuruhnya menunggu malah di tinggalkan begitu saja, tidak ingin berlama-lama disana, Bella lekas mencari taksi menuju tempat kursusnya.
Tidak lama wanita berkacamata itu sampai di tempat kursus, dari jauh dirinya melihat seseorang, sangat mencurigakan pria itu seperti sedang berlindung, wajahnya juga seperti orang yang sedang kesakitan, Bella jadi penasaran, ia pun menghampiri pria itu.
"Maaf anda tidak apa-apa..?" Bella menatap pria berbadan kekar itu.
Pria itu seketika mendonggak saat mendengar suara seorang wanita.
"Kamu.." ucap keduanya serempak.
Bella lebih mendekat, dia kaget bibir itu hampir saja berteriak, tapi dengan cepat pria itu berdiri dan membungkam mulut Bella.
"Jangan berteriak." Pria itu membawa Bella bersembunyi.
Bella merasa terancam, ia akan memukul pria itu tapi saat melihatnya kesakitan, Bella mengurungkannya.
"Tolong bersihkan luka ku." pinta Pria itu.
__ADS_1
Bella mengangguk dia merobek roknya, kebetulan hari ini Bella membawah baju ganti, dia mengambil minuman botol yang dia beli tadi dan menyiramkannya pada luka pria itu, sepertinya luka itu bekas tembakan.
"Ambil peluru itu." suruhnya.
Bella mendonggak, "Tidak aku tidak berani, pasti akan sangat sakit." Bella meringgis melihat peluru terlihat menancap di tangan pria itu.
"Cepat lakukan aku sudah tidak tahan." Pria itu semakin kesakitan, Bella terpaksa mengambilnya dengan tangan gemetar, setelahnya ia membungkus luka pria itu dan mengikatnya agar darahnya tidak terus mengalir, sementara pria itu hanya diam menatap Bella yang sedang merawatnya.
"Sudah selesai." ucap Bella.
"Siapa nama mu..?" tanya Pria itu dengan tetap menatap Bella.
"Bella.." jawab Bella sebenarnya enggan bicara dengan orang asing tapi karena pria itu meminta tolong jadi ia terpaksa.
"Namaku Ardolp." pria itu melenggang pergi meninggalkan Bella yang mematung.
Dia Ardolp anggota Jevarck? ya empat orang yang bertemu Bella kemarin di arena tembak, semua pria itu anggota dari Jevarck musuh dari Black Wolf yang tidak lain adalah suami Bella sendiri.
Tadi pagi kelompok Jevarck menyerang markas Black wolf, beberapa anggota Black Wolf tertembak, anggota Jevarck juga membakar markas dari Black Wolf.
*flash back on
Pagi itu kelompok Black Wolf sedang berkumpul di markas, kecuali ke empat pria yang skillnya melebihi rekan yang lain, yang tidak lain ialah Garvin, Mads, Felix dan Ansel mereka tidak bisa hadir.
Saat mereka asik berpesta wine dengan di temani wanita bayaran, tiba-tiba terdengar bunyi letusan pistol, semua wanita itu berhambur lari untuk menyelamatkan diri.
"Brengsek.." umpat Anggota Black Wolf, mereka semua beranjak berdiri mengeluarkan senjata mereka masing-masing, ada yang membawah pistol, belati, pedang, pisau lipat dan masih banyak lagi senjata mereka di markas.
"Hahahahaha.." tawa Ardolp menggema di bangunan kosong itu.
"Mana ke empat anggota kalian." mata elang Ardolp menghunus satu persatu musuhnya.
"Mau apa kalian." Anggota Black Wolf tidak kalah tajam menatap musuhnya.
Tanpa menunggu lama, Kaya melepaskan tembakan pada musuhnya, bangunan kosong itu seketika terdengar riuh oleh suara tembakan.
'Dor Dor Dor..'
Sea membawah pedang di tangannya, dia berhasil mengorok beberapa leher musuhnya.
"Arrrgghhh.." terdengar suara kesakitan dari anggota Black Wolf, lehernya hampir saja putus, Sea tersenyum smirk ada kelegaan tersendiri saat berhasil membunuh lawannya.
Sementara Grisham sudah banyak membunuh musuhnya dengan mengunakan senjata api begitu juga Ardolp dan Kaya, untuk kelompok Jevarck yang lain banyak membawah senjata tajam.
Banyak anggota Black Wolf yang mati mengenaskan, merasa tidak bisa mengalahkan anggota Jevarck, Anggota Black Wolf mundur teratur meninggalkan markas, salah satu dari mereka menelpon ke empat anggotanya yang tidak lain Ansel, Garvin, Felix dan Mads.
"Hahahahaha .." terdengar tawa dari kelompok Jevarck, meskipun mereka banyak yang tewas tapi tak sebanyak anggota Black Wolf.
"Cepat bawah mayat dan anggota Jevarck yang terluka." suruh Ardolp pada rekan-rekannya, mereka hanya meninggalkan mayat anggota Black Wolf.
"Bakar markas ini." suruhnya lagi kepada rekan yang lain.
__ADS_1
Ke empat pria tampan ini meninggalkan markas musuh dengan menyeringgai, tanpa mereka sadari ada lawan yang mengintai mereka.
'Dor Dor...'
Terdengar letusan senjata api yang mengarah pada ke empat lelaki ini, hanya sekali tembakan sudah mengenai tangan Ardolp, siapa lagi jika bukan Garvin yang menguasai segala senjata, setelah dia mendapatkan telepon dari rekannya dia langsung ke lokasi, kebetulan Garvin masih di area markas.
"Sialan.." umpat Ardolp mencengkram luka tembaknya.
Kaya dan Ghisam melawan kembali dengan menembak Garvin, sedangkan Sea membantu Ardolp untuk melarikan diri karena luka Ardolp cukup dalam.
Setelah membakar markas Black Wolf, kelompok Jevarck pergi meninggalkan 4 rekannya yang masih di markas musuh, dan ternyata masih ada lawan lain yang baru datang.
'Dor Dor Dor..'
Terdengar lagi suara tembakan, dari Kaya dan Grisham maupun Garvin.
Tak lama datang Mads pembunuh berdarah dingin, dia juga bersembunyi dengan membawah pistol jenis Colt 1911 yang hanya berisi 7 peluru, tapi bisa menumpahkan darah musuhnya dengan hanya sekali tembakan.
Kaya dan Grisham bersembunyi di balik tembok besar, keduanya mencari celah untuk melarikan diri, karena dua temannya sudah pergi.
"Brengsek.." umpat Grisham, dia berjalan mundur ke arah tembok berlubang, terlihat seperti bekas reruntuhan, Grisham lari maraton ke arah sana di susul Kaya, akhirnya mereka berdua berhasil melarikan diri.
Garvin dan Mads keluar dari persembunyiannya setelah tidak mendapatkan perlawanan dari musuhnya.
"Lihatlah Mads markas kita terbakar habis." mata Garvin
memerah alis tebalnya menyatu.
"Kurang Ajar." umpat Mads melihat banyak mayat anggotanya yang gosong.
Tak lama datang Ansel dan Felix, mereka berempat sangat murka, Ansel berencana mengumpulkan para anggotanya di villa kosong miliknya.
Di sisi lain Ardolp dan Sea terpisah karena mereka sempat mendapat penyerangan dari musuhnya.
Ardolp berlari dengan tenaga yang masih tersisa, sementara tangannya masih mengucurkan darah segar, dia sebisa mungkin jauh dari wilayah markas Black Wolf, tak terasa dia sudah berlari beberapa kilo, tubuhnya sudah lemas, dia meringgis saat luka itu merasakan denyutan yang tak kunjung berhenti, Ardolp memutuskan untuk beristirahat sejenak, ia bersembunyi di balik tembok besar dan bersandar disana, mengontrol nafasnya yang memburu.
flash back of
Jangan Lupa dukungannya untuk Author😍
________________________Like Vote Dan Komen
________________________
Kenalan sama othor yuk follow instagram othor.
Wuland4ri_05
Wulan
__ADS_1