
Reni menatap wanita itu dari ujung rambut hingga ujung kaki, mata wanita berambut pirang itu nampak sembab.
"Siapa ya?" tanya Reni pada wanita berambut pirang itu, melihat wanita itu hanya diam Reni kembali bertanya.
"Nona cari siapa ya?" tanya Reni lagi.
"Aku mencari Ansel." ucapnya dengan mata kosong entah pandangan itu tertuju kemana membuat Reni mengangkat satu alisnya.
"Silahkan masuk!" ucap Reni mempersilahkan wanita itu masuk.
Reni pamit undur diri bergegas memanggil Tuannya.
"Tuan di luar ada tamu." ucap Reni.
"Siapa..?" tanya Ansel.
"Seorang wanita." jawab Reni kemudian pamit pergi.
Bella yang baru keluar dari kamar mandi dapur menautkan kedua alisnya saat melihat suaminya berjalan tergesa menuju ruang tamu.
"Cal.." panggil Ansel membuyarkan lamunan Calista.
"Ansel.." ucap Calista berlari memeluk tubuh tegap itu, tangis wanita berambut pirang itu pecah.
Ansel tidak mengerti apa yang membuat teman masa kecilnya ini menangis ia membalas pelukan itu dengan menepuk pundak Calista pelan.
"Kamu kenapa?" tanya Ansel melepaskan pelukannya.
"Sel kedua orang tua ku meninggal mereka di bunuh." ucap Calista dengan wajah terlihat kusut.
"APA, kenapa bisa begitu? apa Om dan Tante memiliki musuh?" tanya Ansel.
"Kita duduk dulu!" ajak Ansel membantu temannya untuk duduk saat melihat Calista tidak mampu berucap hanya terdengar tangisan dari bibirnya.
"Coba ceritakan padaku." ucap Ansel.
*Flash back on
Seorang gadis bertubuh ramping sedang menikmati makan siangnya, tiba-tiba terdengar dering ponsel seulas senyum terbit di bibirnya saat melihat panggilan dari sang Papa.
__ADS_1
"Hallo Pa.."
"Sayang jemput Papa dan Mama nanti sore di bandara ya!"
"Papa not kidding right?"
"Papa is serious."
"Ya Calista akan jemput Papa dan Mama."
'Panggilan terputus'
Calista sangat bahagia mendapat kejutan ini karena Papanya baru kemarin kembali ke negara perantauan, Papa Calista bilang jika tidak bisa menemani putri satu-satunya membuat wanita ini bersedih hati, di luar dugaan Calista, Papa sekalian memboyong sang Mama untuk tinggal bersama di tanah kelahirannya.
Hari sudah mulai sore Calista segera bersiap untuk menjemput kedua orang tuanya di bandara, di perjalanan ponsel Calista berdering dia menepikan mobilnya sejenak untuk mengangkat telpon dari Papanya.
"Sayang Papa dan Mama sudah keluar dari bandara kami tunggu di Cafe Vitaria"
"Yes Pa sebentar lagi Calista sampai"
Saat Calista ingin menutup telponnya terdengar suara Mamanya berteriak.
'Panggilan terputus'
Calista kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak perduli dengan keselamatannya seperti memiliki seribu nyawa Calista membawah mobilnya seperti seorang pembalap yang sedang mengikuti kompetisi.
Calista mencoba mencari keberadaan kedua orang tuanya lewat gps di ponselnya yang sudah di setting oleh sang Papa, ia mengernyit saat melihat dimana posisi kedua orang tuanya saat ini, kecemasan semakin melanda di benaknya.
Akhirnya Calista sampai di tujuan, dia memarkirkan mobilnya cukup jauh terlihat sebuah gedung kosong di sana, ia menatap sekitar tempat itu begitu sepi hanya terdengar suara hewan entah apa itu karena hari sudah mulai gelap, dari mobil terlihat dua koper tergeletak di halaman kosong, instingnya kuat pasti koper itu milik kedua orang tuanya, Calista semakin gelisa di dalam mobil, ia ingin keluar tapi rasa takut mengerogoti dirinya.
Tidak lama Calista melihat dua orang berlari keluar dari dalam gedung kosong, matanya membelalak, hatinya hancur saat melihat kedua orang tuanya di tembak mati di depannya, air bening itu pun mengucur deras tanpa permisi, terlihat beberapa orang seperti sekelompok gangster keluar dari dalam gedung itu, layaknya anak sekolah mereka memakai kaos dengan warna dan corak yang sama, terlihat di belakang kaos terdapat gambar tengkorak.
Calista di rundung rasa takut yang teramat sangat, tanpa berpikir lagi dia memundurkan mobilnya meninggalkan kedua orang tuanya yang tergeletak tidak bernyawa.
*Flashback of
Calista menceritakan semuanya dengan bahu bergetar matanya sudah sangat bengkak karena semalaman tidak bisa tidur.
"Baju bergambar tengkorak?brengsek tidak salah lagi pasti mereka." batin Ansel.
__ADS_1
Ansel merengkuh tubuh ramping itu, semua ini di sebabkan olehnya dia tidak mungkin bilang pada teman masa kecilnya ini jika musuhnya yang membunuh kedua orang tuanya, rasa bersalah pun timbul di benak Ansel karena dia juga sangat dekat dengan kedua orang tua Calista.
Tanpa Ansel ketahui di sudut sana terlihat gadis cantik berdiri menatap nanar suaminya yang sedang memeluk wanita lain, dilakukan di mansionnya pula.
Apa Ansel tidak sadar melakukan hal itu yang bisa menyakiti hati istrinya, suara benda terjatuh mengagetkan kedua insan yang sedang berpelukan membuat Ansel menatap ke arah suara, ia membelalakan matanya saat melihat Bella berdiri menatapnya tajam, dengan segera Ansel melepas pelukan itu, Bella berlari masuk ke dalam kamar dengan hati terluka dan perasaan kecewa.
"Siapa dia Sel?" tanya Calista yang juga melihat Bella.
Ansel binggung harus menjawab apa, dia tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya contohnya seperti sekarang hanya karena Calista dekat dengannya kedua orang tua gadis itu harus meninggal di tangan musuhnya, tanpa Ansel ketahui jika Bella bukan wanita biasa yang lemah.
"Dia dia kerabatku." ucap Ansel berbohong.
"Kerabat? kenapa aku tidak mengenalnya?" tanya Calista masih sesenggukkan.
"Em dia kerabat jauh." ucap Ansel sebisa mungkin menutupi statusnya, tujuannya bukan untuk mencari wanita lain tapi hanya satu untuk melindungi istri dan kedua mertuanya.
Ansel cemas pasti saat ini istrinya sedang menangis di kamar, dia ingin menemui Bella dan menjelaskan padanya tapi tidak mungkin dia meninggalkan Calista sendiri dengan keadaan seperti ini, apa lagi ini semua terjadi gara-gara dirinya.
"Ansel izinkan aku tinggal disini." ucap Calista membuat Ansel terperanjat kaget.
"Kenapa? maksud ku kenapa harus disini, aku akan membelikanmu apartement." ucap Ansel gelagapan.
"Untuk apa? aku juga punya, aku takut Ansel aku takut jika mereka mencariku dan membunuhku juga." ucap Calista wajahnya terlihat ketakutan.
Ansel meraup kasar wajahnya, apa yang harus dia lakukan saat ini dia terlanjur bilang pada temannya jika Bella kerabatnya, mana ada seorang kerabat tidur di dalam satu kamar, rasanya kepala Ansel ingin pecah menghadapi keadaan ini.
Di kamar wanita cantik ini menutup wajahnya dengan bantal agar tangisannya tidak terdengar.
"Kenapa kamu tega suamiku." monolog Bella.
Dirinya teringat kejadian dua hari lalu, suaminya memperlakukannya dengan begitu manis Bella masih menginggat bisikan merdu dari Ansel saat mengucapkan kata cinta padanya, semakin teriris hati Bella melihat suaminya yang tidak perduli padanya, dia mengira jika suaminya akan berlari mengejarnya tapi nyatanya apa, lama Bella menunggu tapi Ansel tak kunjung datang.
"Mungkin wanita itu lebih berarti untukmu." ucap Bella sesenggukkan.
Sudah berapa tisu yang berceceran di bawah lantai sampai tak terhitung jumlahnya.
Dukung Author ya readers🥰
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN
__ADS_1