
Malam pun tiba kini pasangan pasutri ini sudah berada di atas ranjangnya.
"Sayang." panggil Ansel sembari membawah sang istri ke dalam pelukannya.
"Iya." jawab Bella memeluk suaminya dengan erat.
"Seandainya ada laki-laki tampan, kaya, yang menyatakan cintanya padamu, apa kamu akan memilihnya dan meninggalkanku?" tanya Ansel mengusap kepala istrinya dengan lembut dan sesekali menciumnya.
Bella mendonggak menatap suaminya. "Tentu saja aku memilihmu." jawab Bella.
Ansel tersenyum. " Benarkah?" tanya Ansel.
"Heemm." jawab Bella mengangguk dengan cepat.
"Baiklah aku puas dengan jawabanmu, sekarang saatnya menagih janjimu." bisik Ansel sembari mengigit gemas telingga Bella.
"Janji apa?" tanya Bella.
"Ini.." ucap Ansel langsung menautkan bibirnya pada bibir Bella.
Bella dan Ansel seakan melayang, bibir keduanya sama-sama memagut, tangan Ansel tidak kunjung diam, ia mencari tempat favoritnya membuat desahan lolos begitu saja dari bibir istrinya.
Suara itu, Ansel sangat merindukan suara sexy itu, mendengar desahan Bella membuat Ansel semakin gila.
Seperti ucapan Ansel tadi pagi, ia menagih janji istrinya sampai 4 ronde, membuat Bella lemas tidak berdaya, Bella mengakui jika suaminya benar-benar perkasa.
Di kamar lain wanita berambut pirang ini menangis tersedu, saat dirinya ingin mengambil minum di dapur, tidak sengaja Calista mendengar suara desahan dari Ansel dan Bella yang membuat hatinya kembali sakit.
"Sel aku mencintaimu hiks hiks." ucap Calista, sakit memang jika perasaan kita bertepuk sebelah tangan.
Calista menangis hingga larut malam, tidak lama ia pun tertidur karena kelelahan.
Pagi pun tiba pasangan pasutri ini masih bergumul dengan selimut tebalnya, aktifitas semalam membuat Ansel puas, hingga pagi ini keduanya tidak kuat untuk membuka mata, padahal rencananya pagi ini mereka akan kembali pulang ke negara kelahiran, untung saja Ansel memiliki pesawat pribadi, jadi dirinya tidak takut kalau sampai ketinggalan pesawat, tapi itu hanya untuk Ansel tidak untuk Mama dan Papanya, kedua pasutri paru baya ini heboh sendiri di bawah, karena waktu penerbangan kurang 30 menit lagi.
"Astaga anak-anak kemana Pa, ini kurang 30 menit lagi loh." ucap Mama Tia.
Papa menyeruput kopi hangat dengan nikmat.
"Panggil saja Ma!" suruh Papa Robert.
Mama Tia lekas ke atas membangunkan putra dan menantunya.
__ADS_1
'TOK TOK TOK.' suara gedoran terdengar sangat keras hingga mengejutkan penghuni di dalam kamar ya sedang terlelap.
"ANSEL.." teriak Mama Tia.
Ansel seketika itu juga bangun, begitu juga dengan Bella keadaan keduanya saat ini sama-sama masih tidak menggunakan apapun.
Ansel pun beranjak ingin membuka pintu.
"STOP.." teriak Bella membuat Ansel terkejut.
"Astaga kenapa pagi-pagi harus mendengar semua orang berteriak sih." ucap Ansel mengaruk kepalanya dengan mata terpejam.
"Buka matamu, berkacalah?" suruh Bella, ia sebisa mungkin menahan senyumnya.
Ansel pun melakukan apa yang Bella perintahkan, matanya seketika membelalak melihat penampilannya saat ini, dengan segera Ansel mengambil boxer miliknya, untung saja Bella tadi ikut terbangun, tidak bisa di bayangkan jika Ansel keluar tanpa apapun, mungkin Mama Tia akan pingsan saat melihat kelakuan putranya.
"ANSEL.." teriak Mama Tia kembali karena Ansel tak kunjung keluar.
"IYA MA.." teriak Ansel, ia pun membuka pintunya.
"Astaga anak nakal, ini jam berapa katanya kita pulang hari ini, kenapa kamu belum bersiap-siap, jam berapa ini? kita pasti telat." ucap Mama Tia sembari menjewer telingga putranya, jeweran itu bertambah keras saat Mama Tia menginggat nasip guci Ibunya kemarin.
Bella di dalam kamar membungkam mulutnya dengan bantal, dirinya geli sendiri melihat suami gangsternya di jewer seperti anak kecil yang ketahuan mencuri buah mangga.
"Lepas dulu Ma, aku akan jelaskan." ucap Ansel.
Mama Tia melepaskan jewerannya.
"Cepat katakan." ucap Mama Tia.
"Kita tidak akan telat, karena Ansel membawah pesawat pribadi." ucap Ansel membuat Mama Tia terperanjat kaget.
"Kamu punya pesawat nak?" tanya Mama Tia sembari tersenyum.
"Iya." jawab Ansel, ia mengelus telingganya yang memerah.
"Baiklah Mama akan bilang pada Papamu, pasti dia bangga." ucap Mama Tia pergi meninggalkan putranya begitu saja.
"Huh kenapa lebih sakit di jewer Mama dari pada tertembak peluru." monolog Ansel sembari menutup pintu.
Tawa yang dari tadi Bella tahan kini lepas sudah.
__ADS_1
'Hahahahaha..' tawa Bella dengan keras, ia tidak sadar jika saat ini tidak mengunakan apapun membuat mata Ansel kembali nakal.
Ansel berlari ke arah istrinya dan mengungkung tubuh polos itu, membuat Bella tidak bisa berkutik.
"Kamu mengejekku hemm." ucap Ansel, ia merampas bibir yang dari tadi mengejeknya, hal itu berujung penggulangan aktifitas semalam, membuat Bella mencebik mau tidak mau diapun melayani suaminya dengan pasrah.
Aktifitas ranjang di pagi hari pun usai, sepasang pasutri ini sudah bersiap begitu juga dengan yang lainnya, Ansel tidak sengaja melihat mata Calista yang terlihat sembab, ia pun kembali merasa bersalah mungkin wanita itu menginggat kedua orang tuanya.
"Semuanya sudah siap kan?" tanya Ansel.
"Sudah sayang." jawab Mama Tia sembari tersenyum, ia sudah tidak sabar menaiki pesawat pribadi milik putranya.
"Mama sama Papa ikut mobil di belakang ya." ucap Ansel.
Kedua mobil itu pun membelah jalanan kota menuju bandara, tak lama pesawat lepas landas meninggalkan kota kelahiran Mama Tia.
Saat ini Bella duduk di samping suaminya, sedangkan Calista duduk di samping Arka, wajahnya sudah seperti baju kusut belum di setrika.
"Kenapa Wajahmu kusut sekali Kak, pasti karena Kak Ansel ya?" tanya Arka.
"Udah tahu masih nanya lagi." jawab Calista dengan malas.
"Kasian." ucap Arka dengan senyum mengejek.
Calista hanya bisa mendengus Adik dan Kakak sama-sama menyebalkan.
Cukup lama perjalanan udara ini, hingga membuat semua penumpang di belakang pilot tertidur.
Akhirnya sampai juga di negara kelahiran, Bella menghembuskan nafas dalam lalu mengeluarkannya lewat mulut, setiap langkah Bella ada harapan, semoga pernikahannya benar-benar di publish, ia turun dari pesawat dengan mengandeng mesra tangan suaminya, Ansel pun sama ia mengenggam tangan istrinya dengan erat, senyuman terukir di bibir keduanya.
Berbeda dengan dua orang ini, Arka tersenyum kecut melihat Kakaknya semakin mesra dengan istrinya, sementara Calista bermuka masam, mood nya hancur saat melihat Ansel sengaja pamer kemesraan di depannya.
Semuanya menuju mobil masing-masing, mobil pun melaju menuju mansion utama di iringgi beberapa mobil pengawal jauh di belakangnya.
Di sisi lain Damien juga baru turun dari pesawat pribadi miliknya, di negara orang ini dia akan bertarung melawan musuh-musuhnya.
Saatnya dia turun tangan sendiri, dengan berat hati harus meninggalkan Papanya yang masih terbaring lemah.
" I'm coming my enemy.." ucap Damien sembari tersenyum smirk.
Jangan dukungannya untuk othor biji cabe😘😍
__ADS_1