
"Ayo nak ikut Papa sebentar." Papa Daniel beranjak dari duduknya di ikuti Damien. pria itu tidak banyak tanya. ia hanya mengekor di belakang Papanya.
Degh
Damien terkejut, di ruang tamu berdiri 5 gadis cantik. tidak ada yang cacat dari diri mereka. kelimanya tersenyum semanis mungkin, berlomba-lomba untuk menarik perhatian pangeran tampan berglimang harta.
"Nak Papa sengaja membawah mereka kesini untuk menjadi kandidat mu."
Damien menatap Papanya, pria itu nampak bahagia terlihat dari wajahnya yang penuh dengan kerutan itu tersenyum. Damien memejamkan matanya ia harus mengambil keputusan demi kebahagian orang terkasih.
Damien tersenyum. "Baik Pa.." ucapnya.
"Pilih salah satu dari mereka yang cocok untukmu nak." Papa Daniel berjalan ke arah sofa, beliau tidak kuat jika harus berdiri lama.
Damien melihat satu persatu gadis di depannya. semuanya terlihat masih muda-muda. ia menanyakan satu persatu usia gadis di depannya yang rata-rata usianya 20an bahkan ada yang berusia 18 tahun. Damien mengelengkan kepala, siapa yang menyuruh gadis kecil itu untuk mendaftarkan diri.
Pilihan Damien jatuh pada gadis yang berusia 22 tahun karena wanita itulah yang usianya paling tua di antara yang lain.
"Dam pilih dia Pa." ucap Damien.
Setelah menentukkan pilihannya Damien berlalu ke sofa.
Papa Daniel memberi kode lewat matanya pada Robby. Robby mengangguk dia membawah keempat kandidat yang tidak terpilih untuk keluar. keempat gadis itu keluar mansion dengan wajah masam.
"Kemarilah nak." panggil Papa Daniel.
Gadis itu tersenyum menghampiri Papa Daniel dan duduk tepat di samping Damien.
"Siapa nama mu?" tanya Papa Daniel.
"Nama saya Arrabel Om." wanita itu bersikap semanis mungkin, Arra merasa dia lah gadis tercantik dari keempat temannya tadi karena Damien lebih memilihnya.
Papa Daniel mengangguk. "Nak Papa ke dalam dulu." pamit Papa Daniel, beliau memberikan ruang untuk keduanya agar saling mengenal.
"Pa.."
Papa Daniel berpura-pura tidak mendengar panggilan putranya. saat ini di ruang tamu hanya ada Damien dan Arrabel.
"Ehem.. sebelumnya saya ingin meminta maaf padamu."
"Saya memilih mu hanya untuk formalitas, jadi jangan terlalu berharap lebih padaku." ucap Damien, setelah mengucapkan itu Damien berdiri meninggalkan Arra begitu saja.
__ADS_1
"Lihat saja nanti Tuan tampan, aku akan membuat mu bertekuk lutut padaku." Arra tersenyum smirk, ia beranjak pergi dari sana.
Di depan pintu Arra bertemu dengan Robby, pria itu baru saja menyelesaikan tugasnya.
"Loh.." Robby terkejut kenapa singkat sekali pertemuan gadis di depannya dengan sang majikan.
"Tuan Damien ada urusan mendadak tadi, saya tidak ingin menganggu pekerjaannya." ucap Arra.
Robby hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, Arra langsung meninggalkan Robby tanpa permisi.
Robby menggeleng. "Sepertinya Bos salah memilih orang." ia pun kembali memasuki mansion.
Satu Hari Berlalu
Hari ini dimana hari perpisahan antara Stella dengan keluarganya. semuanya berkumpul untuk mengantar putri sulung dari pasangan Ansel dan Bella.
"Kakak.." seru Twins dengan serempak, keduanya menghambur kepelukan Stella.
"Belajar yang rajin ya, kalau kangen Kakak kalian video call saja." pesan Stella pada kedua adiknya.
Azzam dan Azzura hanya bisa mengangguk, kabar mendadak ini membuat keduanya terkejut. Stella mengurai pelukannya menatap orang-orang yang sayang padanya. mereka sengaja meluangkan waktunya untuk mengantar kepergiannya kelandasan pribadi milik keluarga Guinandra.
Stella menghambur memeluk Felix, Mads dan Garvin ketiga Daddy yang selalu melindungginya. setelahnya Stella berpamitan pada kedua Oppa Omanya dan yang terakhir Stella memeluk kedua orang tuanya.
"Kalau ada apa-apa langsung kabari Papa." Ansel mencium puncak kepala putrinya lama.
Sepasang pasutri ini berusaha menahan airmatanya agar sang putri tidak terlalu bersedih sedangkan kedua Oma Stella berlomba-lomba menumpahkan airmatanya, untuk pertama kalinya cucu mereka pergi jauh dengan waktu yang begitu lama.
Sebelum memasuki pesawat, Stella melambaikan tangan kepada semuanya. tidak lama pesawat lepas landas meninggalkan semua keluarga yang di landa kesedihan, tanggis Bella tumpah sudah melihat pesawat mulai menjauh dari pandangannya.
"Cup cup, jangan menangis sayang masih ada si twins yang akan meramaikan mansion." Ansel merengkuh tubuh istrinya, mengelus bahu Bella dengan sayang.
Tugas mereka selesai untuk mengantarkan Stella. Ansel mengajak semuanya untuk pulang. hari ini merupakan hari terberat bagi Bella dan Ansel, dimana mereka harus melepaskan kepergian anak gadisnya tapi walaupun begitu Ansel tetap mengawasi putrinya. dia mengirim beberapa anak buahnya untuk mengikuti dan melaporkan semua kegiatan Stella di Prancis, tentunya tanpa sepengetahuan siapapun.
Di pesawat Stella menghabiskan waktunya untuk tidur. gadis ini sudah tidak sabar ingin bertemu dengan pria pemilik hatinya.
Akhirnya pesawat milik Ansel mendarat di landasan pribadi milik Damien. disana berdiri dua orang kesayangan Stella tengah menyambut kedatangannya.
"Om Dam, Oppa Nil." Stella berlari menghampiri keduanya. orang pertama yang Stella tuju ialah Oppa Nil, gadis itu memeluk Oppanya dengan sayang.
"Cucu Oppa." Papa Daniel mencium kedua pipi Stella setelah mengurai pelukannya.
__ADS_1
"Om Dam." gadis itu memeluk Omnya, jantungnya berdebar-debar saat tubuhnya menyatu dengan tubuh Damien.
"Sayang." Damien mencium puncak kepala Stella hal itu membuat pipi Stella merah merona.
Damien membawah Stella ke mobilnya sementara Papa Daniel masuk ke mobil lain di supiri oleh Robby. hanya butuh waktu 15 menit kedua mobil ini sampai di mansion Damien.
"Welcome to om damian's mansion dear." Damien membukakan pintu mobil untuk Stella hal itu membuat Stella salah tingkah sendiri.
"Om Dam punya surprise untuk mu." Damien membawah Stella masuk lebih dulu dengan merangkul pundak gadis itu.
"Is it true?"
"Yes, pasti kamu menyukainya." keduanya melangkah menuju kamar tamu.
Tapi sebelum keduanya melangkah jauh, Robby berlari memanggil Damien.
"Bos.."
Langkah Damien dan Stella terhenti, keduanya berbalik. "Ada apa Robb?" tanya Damien.
"Nona Arrabel mencari anda Bos, saat ini ia berada di ruang tamu bersama Tuan Daniel."
Damien menghembuskan nafas kasar sementara Stella mengernyitkan dahi. siapa Arrabel? siapa wanita itu?
"Sayang Om menemui tamu dulu ya?"
"Stella ikut Om." Stella bergelanyut manja di lengan Damien.
Damien mengangguk, keduanya berjalan menuju ruang tamu disusul Robby di belakang mereka. mata Arrabel melirik gadis yang bergelanyut manja di lengan Damien.
"Siapa gadis itu?" batin Arrabel.
"Dam, Arrabel mengajak mu pergi jalan-jalan." ucap Papa Daniel sembari tersenyum.
"Tapi Pa Stella baru saja tiba mana mungkin Dam meninggalkannya." Damien berusaha menolak.
Wajah Stella seketika masam. dia melirik wanita itu dengan tatapan membunuh. Arrabel pun sama dia menatap Stella dengan tatapan tajam. berani-beraninya gadis itu bermanja-manja di lengan Damien.
"Aku mohon.." Arrabel memohon dengan wajah memelas.
"Pergilah Nak, Stella biar sama Papa."
__ADS_1
Wajah Arrabel berbinar saat mendapat dukungan dari Papa Daniel. ia melirik Stella memberikan senyum smirknya, sepertinya gerbang permusuhan telah di buka.
Bersambung ...