Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Mengevakuasi Korban


__ADS_3

Anggota Red Blood membantu mengevakuasi korban-korban dari rekan Ansel dan Ardolp menuju markas Black Wolf, Ardolp dan Ansel meminta dokter pribadi mereka mengobati rekan-rekannya disana saja.


Mads dan Grisham di tugaskan Ansel dan Ardolp untuk menghilangkan jejak peperangan yang terjadi semalam.


"Felix evakuasi semuanya ke markas." suruh Ansel, Felix mengangguk.


Kemudian Ansel berjalan menghampiri Ardolp dan rekan-rekan Ardolp yang masih berkumpul dengan wajah penuh luka.


"Thanks for you guys." ucap Ansel dengan canggung.


"Your welcome, kami akan mengumpulkan semua korban ke markasmu." ucap Ardolp.


Ansel tersenyum dan mengangguk, langkahnya berbalik ke arah Damien yang masih berdiri disana.


"Thank you for your help." Ansel tepat berdiri di depan Damien sembari mengulurkan tangan.


"Relax man, I sincerely do it." Damien tersenyum smirk, ia pun menjabat tangan Ansel.


"Nanti malam jangan lupa datang ke mansion ku." ucap Ansel.


Damien hanya menjawabnya dengan anggukkan.


Di sebrang sana wanita cantik dengan gayanya yang tomboy ini melebarkan senyumnya, akhirnya Bella bisa membuat ketiga gangster yang awalnya lawan kini menjadi kawan.


Selepas itu Ansel menghampiri istri dan kedua mertuannya.


"Sayang aku akan antarkan kalian pulang dulu." Ansel mengajak istri dan kedua mertuanya untuk pulang ke mansion.


"Baiklah."


Sembari berjalan menuju mobil Ansel menyapa semuanya.


"Kalian langsung ke markas oke." Ansel membentuk jarinya berbentuk O.


"Siap bos." teriak Garvin di susul yang lainnya.


Vero sudah menunggu bosnya di mobil, diam-diam ia melirik wanita dengan sejuta pesona itu.


"Kamu baik-baik saja kan Ver?" tanya Ansel.


Vero hanya mengalami luka lebam di pipinya.

__ADS_1


"Saya baik-baik saja Tuan."


"Terima kasih nak Vero." ucap Papa Tio.


"Sama-sama Om, mari silahkan."


Semuanya pun memasuki mobil, sebelum Bella ikut masuk dirinya mengucapkan rasa terima kasihnya pada Vero.


"Terima kasih Ver." Bella tersenyum tulus.


"Sama-sama Nona." Vero memandang lekat istri bosnya ini, makin bertambah saja kekagumannya pada sosok wanita di hadapannya.


"Sayang cepat masuk." Ansel yang sudah duduk di samping kemudi menjadi kesal.


Seketika Vero sadar, ia pun cepat menutup pintu mobil dan berlalu ke tempat kemudi.


Di lokasi kejadian rekan-rekan dari Black Wolf maupun Jevarck banyak yang sudah sadar, mobil mereka juga mulai meninggalkan gudang itu satu persatu.


Selama di perjalanan Bella memeluk Mamanya erat, ia duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya, sementara Ansel duduk di depan menemani Vero.


Sepanjang jalan tidak ada percakapan apapun, karena mereka sama-sama kelelahan, perjalanan mereka hanya di temani musik yang sengaja di putar oleh Vero, sementara fikiran Ansel melayang, istrinya benar-benar penuh dengan kejutan, dia begitu takjub saat melihat istrinya beraksi mengunakan pistol.


Akhirnya perjalanan yang memerlukan waktu sekitar dua jam ini pun usai, mereka sudah turun dari mobil.


"Iya nak Ansel, Papa ucapkan terima kasih."


"Sama-sama Pa."


Mereka sudah berada di depan pintu, Ansel tidak masuk ia langsung pergi lagi menuju markas, karena Arka juga berada disana.


"Sayang aku tinggal ke markas dulu, nanti jelaskan padaku kenapa tadi kamu bisa datang bersama Damien." bisik Ansel di akhir kalimatnya.


Bella mengangguk, sebelum pergi Ansel mencium pipi istrinya, hal itu membuat kedua orang tua Bella tersenyum, sementara Bella menunduk malu.


Mobil Ansel pun berlalu dari mansion, Bella membawah kedua orang tuanya masuk.


"Ma, Papa Robert dan Mama Tia berada di ruang tamu, Papa dan Mama kesana duluan, Bella mau ke kamar." ucap Bella.


"Baiklah sayang." Mama Eva dan Papa Tio mengangguk.


Bella pun berlalu menuju kamar setelah mendapat anggukkan dari kedua orang tuanya.

__ADS_1


Di ruang keluarga kedua pasutri parubaya ini terkejut melihat sang besan berada di mansion mereka, keadaan besannya begitu memprihatinkan.


"Jeng Eva.." Mama Tia berdiri, ia menghampiri Mama Eva dan memeluknya.


"Mari- mari." Papa Robert mempersilahkan mereka untuk duduk.


"Ririn.." panggil Mama Tia.


"Iya Nyonya."


"Buatkan minuman, teh hangat saja." perintah Mama Tia.


"Baik Nyonya." Ririn berlalu pergi.


Mama Tia terkejut melihat wajah kedua besannya penuh dengan luka.


"Astaga apa yang mereka lakukan pada kalian, apa kalian baik-baik saja?" tanya Mama Tia terlihat kawatir.


"Kami baik-baik saja jeng." jawab Mama Eva.


Obrolan mereka terputus saat Ririn membawah minuman untuk semuanya.


"Silahkan di minum." ucap Papa Robert.


Papa Tio dan Mama Eva mengangguk.


Mama Eva menceritakan semuanya pada sang besan, hal itu membuat Mama Tia dan Papa Robert ikut prihatin.


Beberapa saat kemudian, Mama Tia menyuruh kedua besannya untuk membersihkan diri, dan meminjamkan bajunya pada kedua orang tua Bella.


Tidak lama dokter pribadi keluarga Abraham datang atas permintaan dari Ansel, Bella menemani kedua orang tuanya untuk di periksa.


Jangan Lupa dukungannya untuk Author😍


________________________Like Vote Dan Komen


________________________


Kenalan sama othor yuk follow instagram othor.


Wuland4ri_05

__ADS_1


Facebook


Wulan


__ADS_2