
Disisi lain
Wanita berkulit putih dengan penampilan glamour tengah berjalan di ikuti oleh empat pengawal yang memakai baju serba hitam, meskipun usianya tidak mudah lagi namun ia masih terlihat sangat cantik, semua orang yang berpapasan dengan mereka tidak berani melihat, karena keempat pengawal itu berbadan besar dengan wajah sangar, nampak sangat menakutkan, wanita itu masih ingin berkeliling untuk memborong semua yang dia inginkan padahal dua pengawal yang berada di belakang sudah kualahan membawah beberapa bag hingga tangan keduanya tidak cukup, sementara dua pengawal di depan bertugas untuk melindungi wanita itu, jika terjadi hal buruk yang tidak di inginkan.
"Cek cek.." ucap Dimitri.
"Ya Lard disini." sahut Lard.
"Sepertinya mereka masih lama berada di dalam." ucap Dimitri.
"Ya, tapi kita tidak boleh gegabah jangan sampai kehilangan jejak mereka." Lard menatap benggis target mereka.
"Dimana Bray?" sesaat Dimitri menginggat satu rekannya, ia tidak mendengar suara Bray sama sekali.
"Entahlah." Lard cuek, ia hanya fokus mengikuti targetnya dari belakang.
Sementara di sebuah resto cepat saji yang berada di dalam mall, ada dua wanita cantik nan seksi yang sedang di goda oleh seorang pria tampan.
"Hai boleh aku duduk disini." ucapnya sembari tebar pesona pada dua wanita cantik itu.
Mendengar suara bariton yang menyapa mereka, membuat keduanya menatap pria itu dengan serempak, mereka terhiptonis dengan ketampanan yang di miliki pria tampan di depannya.
"Ah boleh silakan." ucap cewek dengan belahan dada terbuka hingga menunjukkan sesuatu yang menyembul dari balik baju ketatnya, sementara temannya hanya bisa terpaku menatap pria di depannya.
"Kenalkan namaku Bray, boleh tau siapa nama kalian." Bray mengerlingkan mata pada kedua wanita seksi itu, ya pria yang di cari-cari oleh kedua rekannya ternyata sedang berada di food court bersama dua orang wanita, Bray belum mendapat jawaban dari keduanya, tiba-tiba saja ada seseorang yang menoyor kepalanya dari belakang.
"Aduh.." Bray terkejut lalu menenggok ke belakang.
"Brengsek, ada misi penting malah main disini." umpat Dimitri menatap tajam rekannya.
"Hehe sambil menyelam minum air." Bray cengegesan, melihat Dimitri yang akan menelannya hidup-hidup, dengan berat hati ia meninggalkan dua gadis cantik nan seksi itu, sementara kedua wanita itu menatap Bray dan Dimitri dengan sendu.
"Yah ngak jadi dapet cowok cakep." keluh wanita yang
memakai dress minim bahan.
"Sudahlah bukan rezeki." sahut temannya.
Waktu terus berputar akhirnya wanita yang mereka incar saat ini sudah menaiki mobil, sepertinya ia akan pulang. Dimitri, Bray dan Lard langsung memasuki mobil, disana sudah ada Lano dan Damien yang menunggu mereka, tak lama mobil wanita itu melaju meninggalkan mall di susul mobil milik Lano di belakangnya, Damien meninggalkan mobilnya disana, memilih satu mobil bersama rekan-rekannya.
*Mobil yang di kendarai wanita itu terus melaju, sepertinya para pengawalnya tidak menyadari jika ada mobil asing yang mengikuti mereka, hingga kedua mobil itu melewati jalan yang begitu sepi, hanya ada pohon-pohon besar disisi kanan dan kiri, hal itu menjadi kesempatan untuk Lano menghentikan mobil yang membawa targetnya.
'Ciiiiiiiiitttt' mobil yang menjadi target mereka seketika berhenti mendadak saat Lano berhasil menyalip mobil itu.
"Brengsek, siapa mereka."umpat salah satu pengawal.
"Nyonya berdiamlah di dalam jangan sampai anda keluar." ucap pengawal lain memberi peringatan pada wanita itu, wanita yang menjadi target hanya bisa mendengus dan menatap tajam saat tau siapa yang sudah berani menghadangnya.
__ADS_1
Para pengawal yang berada di mobil itu keluar satu persatu begitu juga dengan Damien dan rekan-rekannya.
"Berani-beraninya kalian menghadang kami, mau apa kalian?" tanya salah satu pengawal.
Damien dan lainnya tersenyum menyeringgai menatap keempat pengawal di depannya.
"Kami menginginkan wanita yang ada di dalam, suruh wanita itu keluar." sorot mata Damien begitu menakutkan membuat nyali ke empat pengawal itu menciut, tapi walau begitu mereka harus tetap melindungi majikannya.
"Ciih langkahi dulu mayat kami." ucap pengawal lain menantang.
Tanpa banyak bicara kelima orang yang tidak lain Damien dan keempat rekannya mulai menyerang ke empat pengawal itu.
'Bugh..'
'Bugh..'
"Kalian kuat juga." ucap Bray menyeringgai karena sempat mendapat tendangan dari lawannya.
Perkelahian tidak terelakkan, hingga pertarungan ini di menangkan oleh Damien dan rekan-rekannya.
"Akhirnya.." ucap Lard, sementara wanita yang berada di dalam mobil sudah gemetaran, wanita itu sempat mencari bantuan tetapi kenapa bantuan itu tak kunjung datang.
"Tok tok.. keluar wanita ular." teriak Damien dengan penuh amarah.
"Kalau kau tidak mau membuka mobilnya, akan ku bakar dirimu bersama mobil mu ini." gertak Dimitri membawah satu tor bensin di tangannya.
Tidak ada pilihan lain wanita itupun akhirnya keluar. "Mau apa kau Dam?" wanita itu menatap Damien dengan tajam.
"Santai Callista kau hanya butuh mengulur waktu, hingga bantuan datang dan kau selamat." batin Calista tersenyum menyeringai.
Tanpa banyak bicara Damitri yang sudah tau jika wanita itu berniat mengulur waktu, langsung menyeretnya ke mobil di ikuti Damien dan yang lainnya.
"Brengsek, lepaskan aku." Calista meronta berteriak histeris.
"DIAM." teriak Damitri, ia mendorong wanita itu begitu keras ke dalam mobil.
Harapan Calista untuk selamat pun pupus, nyatanya mereka berhasil membawahnya pergi, entah bagaimana nasipnya nanti, mungkin benar apa kata Damien, wanita itu pulang hanya tinggal nama.
....
Di mansion Stella tengah mondar mandir di ruang keluarga, gadis itu penasaran apa sebenarnya yang ingin di bicarakan Damien tadi kepadanya, ia juga merasa jenuh berada di mansion sendirian, tak lama terdengar suara Vero yang mengagetkannya.
"Selamat pagi Nona." ucap Vero membungkukkan badan, gadis itu terlihat sangat berantakan pagi ini.
"Ah Vero kau menggagetkan ku saja." Stella memegang dadanya yang berdebar, dari tadi ia mondar mandir tidak jelas, saat kedatangan Vero membuatnya begitu terkejut karena Stella hampir saja menubruknya, ia menatap penampilan Vero dari atas sampai bawah.
"Iyuuh kenapa penampilanmu kacau begini."
__ADS_1
"Maaf Nona saya tadi kesiangan, oh ya apa benar jika tiga hari kedepan anda tidak pergi ke kampus?"
"Ya.." jawabnya datar.
Mendengar pertanyaan Vero membuatnya kembali kesal, ia pun mendudukan dirinya di sofa.
Di kampus
Jam masuk kelas pun tiba, kini semua pelajar sudah berada di kelas mereka menunggu dosen datang, kelas itu terdengar begitu riuh dengan suara para mahasiswi yang sedang bergosip, keriuhan seketika menjadi senyap saat Dosen Albert memasuki kelas.
"Selamat pagi anak-anak."
"Pagi Pak .."
Albert menebarkan senyuman manisnya, membuat para wanita yang berada disana meleleh, saat mata itu menatap kursi milik Stella yang nampak kosong, membuat senyum itu seketika memudar.
"Kemana dia, kenapa dia tidak masuk?" batin Albert bertanya-tanya.
"Tugas yang ku beri sudah kalian kerjakan?"
"Sudah Pak." teriak semuanya.
Tidak adanya Stella disana membuat Albert lesu, dia menjadi Dosen hanya untuk mendekati Stella tapi gadis itu malah tidak hadir hari ini.
Sepulang mengajar di kampus, Albert langsung menuju markas milik Cartel untuk menjari tahu perihal Damien, mobil sport milik Albert kini berjalan meningalkan parkiran sekolah, tak lama tibalah Albert di markas, seperti biasa sang Daddy selalu menyambut dirinya dengan hangat.
"Ada angin apa kamu tiba-tiba kemari son?" Derward mengiring sang putra duduk di sofa, sedang ia berjalan menuju almari pendingin mengambil dua botol minuman bersoda, dan menaruhnya di meja kemudian mendudukkan dirinya tepat di samping sang putra.
"Dad aku sudah berhasil mendekati gadis itu tapi Damien, pria itu mengagalkan semua rencana ku." Albert membuka minuman bersoda itu dan meneguknya.
"Sepertinya ada yang janggal dengan hubungan mereka, kemarin aku menyuru Om Dru untuk menyelidiki hal ini, dan sesuai dugaan ku keduanya tengah menjalin hubungan, bukankah kata Arra keduanya masih bersaudara?" lanjut Albert.
Mendengar penuturan putranya membuat Derward tersenyum miring, sepertinya ia baru saja mendapatkan ide.
"Kamu tidak perlu tau son, tugasmu hanya menghancurkan keluarga Damien dan Ansel sampai ke akar-akarnya melalui gadis itu." ucapnya penuh penekanan.
"Apa hubungannya Stella dengan Ansel? apa mereka-."
"Ya gadis itu anak dari Ansel, kita bisa mengunakan gadis itu untuk memecah belah mereka ." terdengar suara tawa dari bibir Derward menggema di seluruh ruangan, sementara Albert tersenyum menyeringai ini kesempatannya untuk merebut Stella dari Damien, jujur saja Albert sudah menyukai gadis itu sejak ia pertama kali bertemu.
Tak berselang lama tawa Derward berganti dengan kemarahan saat mendapat laporan dari rekannya, jika Damien dan rombongannya berhasil membawah Calista kabur.
"Brengsek, Pyar.." vas guci seharga ratusan juta kini hancur tak berbentuk, beserta meja berbahan kaca yang berada di hadapannya pun menjadi sasaran empuk.
'Pyaarr.."
Rekan-rekan Derward yang tau jika pria itu sedang kacau tidak ada yang berani mendekat, mereka lebih memilih ikut dengan Albert untuk mencari keberadaan istri dari mantan pemimpin Cartel.
__ADS_1
Albert yang mendengar kabar buruk ini langsung meninggalkan markas dengan membawah beberapa rekannya.
Bersambung ...