Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Bella Hilang


__ADS_3

Darrak tersenyum saat Bella menarik tangannya, Ansel yang asik memainkan ponsel mendonggak saat mendengar suara langkah kaki mendekat.


Layaknya seorang aktor yang sudah berpengalaman Darrak berjalan di belakang Bella dengan tingkah anehnya.


"Siapa dia?" tanya Ansel mengernyitkan dahi, mata itu melotot saat melihat Bella memegang tangan pria lain.


Peganggan tangan seketika terlepas, "Dia Darrak suamiku." jawab Bella.


"Ayo duduk." Bella mempersilahkan Darrak untuk duduk.


Tanpa takut Darrak duduk di samping Ansel, mata elang itu terus menelisik, ada sesuatu yang membuatnya curiga saat menatap Darrak dari dekat.


"Kamu sudah pesan makanan?" tanya Bella pada Barrak.


Melihat tatapan Ansel yang menunjukkan kecurigaan Barrak langsung berdiri pamit.


"Kak aku tadi sudah makan, aku harus pulang Mama sudah menungguku." ucap Barrak berlalu meninggalkan Bella dan Ansel.


Mata elang itu terus menatap Darrak hingga menghilang dari balik pintu.


"Duduk sini..!" Ansel menyuruh Bella berpindah duduk di sampingnya.


"Siapa pria tadi?" tanya Ansel tanpa menatap Bella.


"Hanya teman." jawab Bella.


"Jangan menemuinya lagi." seru Ansel dengan sorot mata tajam.


Bella menautkan kedua alisnya, kenapa harus semarah itu, itu hanya seorang Barrak, pria yang punya kekurangan.


"Kenapa?" tanya Bella.


"Lakukan saja, jangan banyak tanya ini demi kebaikanmu." jawab Ansel.


Ansel akan meminta Felix untuk mencari tahu siapa pria itu, insting Ansel tidak pernah salah, kecurigaannya pasti benar.


Bella hanya menurut saja, mereka pun melanjutkan makan siang yang tertunda cukup lama.


Di mobil Ansel hanya diam, membuat Bella bertanya-tanya ada apa dengan suaminya saat ini, sampai di monsion pun Ansel masih belum mau bicara.


"Kamu kenapa?" tanya Bella mendekati Ansel, keduanya tidur berjauh-jauhan.


Ansel memiringkan tubuhnya menghadap Bella.


"Lain kali jangan terlalu mudah percaya dengan orang yang baru kamu kenal." ucap Ansel.


Bella menghela nafas ternyata hanya karena Barrak, suaminya dari tadi bersikap dingin.


"Iya maafkan aku." ucap Bella, ia lebih memilih mengalah saja.


Ansel menarik istrinya kedalam pelukannya.


"Aku harus menemui Felix sekarang juga." batin Ansel.


Ansel terus mengelus kepala istrinya hingga membuat Bella tertidur, dengan hati-hati Ansel memindahkan kepala Bella, ia beranjak dari ranjang, menutup pintu dengan pelan takut istrinya terbangun.


"Ma Ansel keluar sebentar." pamit Ansel sembari mencium pipi sang Mama.


"Hati-hati sayang." ucap Mama Tia.


Terdengar deru mobil Ansel mulai menjauh dari mansion.

__ADS_1


Ansel menyalakan earphone, ia ingin menelpon Felix.


'Tuuuuuut tersambung'


"Fel, kita ketemu sekarang di markas."


"Harus sekarang?"


"Sekarang, 10 menit lagi aku sampai."


'Tuuuuut sambungan terputus'


"Butuh kalau ada perlunya saja." monolog Felix menggeleng.


Untung saat ini Felix berada tidak jauh dari markasnya, ia pun langsung meluncur membawah motor sport miliknya.


Felix sampai di markas terlebih dulu, disini cukup banyak anggota Black Wolf yang hanya sekedar berkumpul.


"Tumben Fel siang-siang kesini?" tanya rekannya.


"Ada perlu." jawab Felix, ia melangkah ke tempat pribadinya, disana ada satu komputer dengan alat-alat canggih lain milik Felix.


Tidak lama terdengar suara khas sepatu pantofel milik Ansel, Ansel langsung mendudukkan dirinya di sofa.


"Ada apa lagi, kemarin mengusirku kenapa sekarang mencari ku." ucap Felix mengejek Ansel.


"Diamlah, aku ingin kamu mencari tahu siapa Barrak." ucap Ansel.


"Barrak? Damien." ucap Felix membuat Ansel langsung menatapnya dengan mata elangnya.


"Apa benar kecurigaanku, jika Barrak itu Damien?" tanya Ansel.


Felix mengangguk.


"Tujuannya bukan untuk balas dendam." ucap Felix, seketika itu juga Ansel berdiri.


"Lalu?" tanya Ansel.


"Damien tertarik dengan istrimu." jawab Felix.


Perkataan Felix membuat Ansel cemas, 4 kunyuk jevarck saja sudah membuatnya ingin mengurung istrinya di kamar, sekarang saingannya harus bertambah lagi, Damien pula pria yang punya segalanya.


"Brengsek." umpat Ansel.


Felix terkekeh melihat sahabatnya terlihat kesal.


"Wanita mu memang menggoda, jangan salahkan Damien." ucapnya mengejek Ansel.


"Kamu mau mati Fel." ucap Ansel menodongkan pistol ke arah Felix.


"Weeeist santai, aku hanya bercanda." ucap Felix mengangkat kedua tangannya.


"Kamu harus berhati-hati, Damien sangat terobsesi dengan istrimu, mungkin tujuannya sekarang bercabang, membalaskan dendam Papanya dan merebut Bella darimu." ucap Felix.


Ansel langsung melangkah cepat keluar dari markas, meninggalkan Felix disana.


"Dasar kulkas bucin." ucap Felix menggeleng.


*


Selepas mendengar informasi dari Felix, Ansel malah semakin over protektif terhadap istrinya.

__ADS_1


4 hari berlalu begitu cepat, hari ini adalah hari dimana Ansel dan Bella melangsungkan acara resepsi pernikahan mereka.


Para tamu dari kalangan pejabat, pengusaha besar sudah berkumpul di bawah.


Sementara kedua pengantin masih berada di atas.


"Anak Mama cantik sekali." ucap Mama Eva saat melihat putrinya seperti princess yang berada di negri dongeng.


Bella tersenyum mendengar pujian dari Mamanya.


Tidak lama Mama Tia datang dari balik pintu.


"Wah kamu cantik sekali nak." puji Mama Tia.


"Terima kasih Ma." pipi Bella bersemu merah.


"Sudah siap kan?" tanya Mama Tia pada perias.


"Sudah Nyonya." jawabnya.


"Kemana pengantin laki-laki?" tanya Mama Tia.


Ansel di rias di sebelah ruangan yang saat ini Bella tempati.


"Aku disini Ma." ucap Ansel.


Pria tampan ini membeku saat melihat Bella berdiri menghampirinya.


"Kamu cantik sekali." bisik Ansel di telingga Bella.


"Ekhem-ekhem, nanti malam saja di lanjutkan." ucap Papa Robert, beliau baru saja masuk malah melihat pemandangan seperti itu.


Sepasang pengantin ini tersenyum malu mendengar ledekan dari Papa Robert.


"Ayo, para tamu sudah menunggu." ajak Mama Tia kepada semuanya.


Ansel mengandeng tangan Bella, mereka turun dari tangga di susul keempat orang tua mereka.


Seketika itu juga ruangan begitu senyap semua mata tertuju kepada pasangan pengantin ini.


Di luar penjagaan super ketat, tamu yang masuk harus menunjukkan kartu khusus, karena Ansel memberikan kartu khusus untuk para tamu undangan agar mempermudah mereka untuk masuk.


"Bagaimana apa tidak ada yang mencurigakan?" tanya Felix pada para pengawal.


"Sampai detik ini belum ada Tuan." jawab Pengawal.


Felix dan lainnya membantu pengamanan mansion agar tidak kecolongan.


Pesta pun berlangsung aman, hingga detik-detik terakhir tiba-tiba saja lampu menjadi gelap, semua orang yang berada disana menjerit.


"Brengsek ada apa ini." umpat Ansel, ia saat ini tidak bersama dengan istrinya karena Ansel menemui rekan-rekan dan para koleganya.


Para pengawal berbondong-bondong menyalakan senter hp begitu juga para tamu.


Tidak lama lampu kembali menyala membuat semua orang merasa lega.


Saat ini yang membuat panik bukan kegelapan lagi tapi pengantin wanita.


Ya Bella hilang begitu saja, Ansel berlari menemui ketiga sahabatnya.


"Brengsek kerjaan kalian apa? kenapa sampai kecolongan begini." teriak Ansel.

__ADS_1


"Sepertinya ada orang dalam yang berkhianat." ucap Garvin.


Karena acara juga hampir usai, akhirnya atas nama keluarga meminta maaf pada para tamu, semua tamu pun membubarkan diri.


__ADS_2