Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Om Damien Mine 27


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu, selepas mengetahui siapa tersangka utamanya Damien tidak ingin terburu-buru melancarkan aksi balas dendamnya atas meninggalnya sang Papa, dia lebih fokus melebarkan wilayah kekuasaan Rick Devil agar kelompok mafia yang baru di resmikan itu semakin kuat.


Di sisi lain, seiring berjalannya waktu kedua twins sibuk mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan mereka di jenjang sekolah menengah atas, keduanya memilih bersekolah di tempat Kakaknya dulu.


Pagi ini dimana keluarga Ansel sudah bersiap untuk sarapan, semuanya sudah berada di meja makan kecuali Azzura.


"Azzam dimana adikmu?" Ansel duduk dengan tegak menatap sang putra dengan alis mengkerut.


"Ah biar Mama panggil sebentar, mungkin dia kesiangan." Bella bangkit dari duduknya, berjalan menuju tangga, baru saja Bella melangkah ketiganya di kejutkan dengan seorang gadis yang berpenampilan culun sedang menuruni tangga.


"Astaga benarkah yang ku lihat ini." gumam Azzam dengan suara pelan sembari menatap sang adik.


Sementara Bella menghentikan langkahnya, ia menatap Ansel yang juga sedang menatapnya.


"Melihat putriku berpenampilan seperti itu jadi menginggat masalalu ku."batin Bella.


"Selamat Pagi semua." ucap Azzura dengan riang.


"Sayang haruskah kau berpenampilan seperti itu?" Ansel menatap putrinya lekat tanpa menjawab sapaan Azzura, begitu juga yang lain.


"Aku sedang menjalankan misi Pa."


Kedua putra putri Ansel sudah menginjak remaja, twins dulunya selalu riang dan banyak tingkah, kini sifat keduanya terlihat lebih dewasa.


Ansel, Bella dan Azzam menautkan kedua alisnya saat mendengar jawaban ambigu dari Azurra.


"Misi apa sayang yang kamu maksud?"


"Rahasia." ucap Azurra tersenyum.


Ketiga orang yang bersama dengannya dengan kompak mengelengkan kepala melihat tingkah absurd Azurra, tanpa banyak bertanya lagi mereka segera menyantap makanan yang sudah di hidangkan oleh Bella.


"Adik, jika penampilanmu seperti ini aku tidak janji akan mengenalkanmu kepada teman-teman baruku sebagai adik kandungku." ucap Azzam yang saat ini sudah berada di dalam mobil bersama Azurra.


"Siapa juga yang mau di kenalkan, ingat di sekolah nanti kita harus berpura-pura tidak saling mengenal."


"Maksudmu?"


"Ya.. aku ingin menutupi identitas ku, Pak stop aku turun disini saja." ucap Azurra.


Dengan mendadak supir menginjak rem karena kaget mendengar suara majikannya yang tiba-tiba menyuruhnya untuk berhenti.


'Ciiiiiiitttt..' anggap saja itu bunyi mobil si twins😅


"Mau kemana?" Azzam segera mencekal tangan adiknya saat gadis itu ingin menuruni mobil.


"Aku akan naik gojek saja Kak, tenanglah Zurra akan baik-baik saja." jawab Azurra.


"Tapi-"


"Tenanglah Kak aku bisa jaga diri." Azzura segera keluar dari mobil, sementara Azzam hanya bisa menghembuskan nafas kasar saat melihat adiknya bersikap konyol.


"Jalan Pak." teriak Azzura dari luar, tak lama mobil pergi meninggalkan gadis cantik berparas culun itu.


Gadis berparas culun yang tidak lain ialah Azzura kini sudqh berdiri di depan gerbang sekolah, ia menghembuskan nafas dalam lalu mengeluarkannya sebelum memasuki kawasan sekolah, tak lama terdengar bunyi keributan para siswi saat menatap seseorang yang baru keluar dari mobil mewahnya, membuat gadis itu berbalik menatap ke belakang.


"Waaahhh tampan sekali siapa dia?"

__ADS_1


"Aaa pangeranku."


"Semoga aku satu kelas dengannya."


Masih banyak lagi teriakan para siswi hingga membuat gadis berparas culun itu memutar bola matanya malas, bagaimana tidak jika ia tahu yang di maksud para siswi itu ialah Azzam sang Kakak.


Azzam berjalan dengan tegap menuju gerbang sekolah, ia hanya melirik Azzura sekilas lalu kembali menatap kedepan tanpa memperdulikan para siswi yang meneriakinya.


Entah sebuah kebetulan atau apa, Azzura dan Azzam kali ini tidak satu kelas, padahal keduanya sama-sama cerdas, harusnya Azzura berada di kelas yang sama dengan Azzam, tapi gadis itu malah berada di kelas yang rata-rata siswanya ber IQ rendah, saat ini ada beberapa siswa siswi sudah berada di dalam kelas Azzura.


"Ih siapa dia, lihatlah penampilan dan wajahnya." ucap salah satu siswi yang duduk tidak jauh dari Azzura.


Semua memandang gadis itu aneh, hingga terdengar suara tawa dari seorang siswa yang dengan sengaja menempelkan sesuatu di punggung Azzura.


"Hei udik cepat menyingkir dari sini, ini tempatku." usirnya.


Azzura tanpa menolak langsung berdiri dan berpindah tempat, hingga semua yang berada disana melihat sesuatu yang berada di punggung Azzura, tak lama terdengar suara tawa dari siswa siswi yang berada di kelas.


"Hahaha memang pantas di panggil cewek udik."


Tawa mereka semakin kencang, Azzura yang sadar ada sesuatu di belakang punggungnya langsung merabanya dan benar saja ada secarik kertas yang bertuliskan "Nama ku udik" tangan lentik itu seketika meremas kertas yang membuatnya di tertawakan, tanpa bisa melawan Azzura hanya diam dan kembali duduk.


Tak lama bel masuk berbunyi, semua siswa siswi banyak yang baru datang, hingga mereka menempati tempat duduk masing-masing karena jam pelajaran akan segera di mulai.


***


Di ujung negara lain kawasan kampus tempat Stella menimba ilmu kini begitu ramai dengan teriakan para mahasiswi, hal itu membuat Stella penasaran.


"Loe tau ngak mereka ngeributin apa Lex?" tanya Stella.


"Entahlah sepertinya ada dosen baru yang mengantikan Pak Damar." Lexa menatap puluhan wanita yang sedang mengerubungi dosen itu.


"Ros gue ikut." Stella berlari menyusul Rosi, sementara Lexa hanya menatap sahabatnya dari jauh, dia tidak ingin merusak rambutnya yang baru saja perawatan ke salon.


Satu persatu mahasiswi mulai bubar karena bel masuk sudah berbunyi, hingga tubuh dan wajah dosen baru itu terlihat jelas, Stella yang tadinya ingin berlari ke kelas kini mematung saat melihat orang yang sepertinya pernah ia jumpai.


"Astaga pria itu." gumam Stella dengan mulut terbuka saat dosen baru itu mengerlingkan mata ke arahnya.


Kini Stella dan ke empat sahabatnya sudah berada di kelas menunggu dosen mereka datang, tidak lama terdengar bunyi derap sepatu menuju ke arah kelas mereka.


'Tap tap tap..'


"Selamat pagi anak-anak." ucap seorang dosen wanita yang bernama Anggi.


"Pagi Buuuuu..." seru semuanya.


"Hari ini Ibu akan mengenalkan dosen baru kita kepada kalian, yang mengantikan Pak Damar untuk sementara waktu."


"Mari Pak silahkan masuk." lanjutnya.


Terdengar para mahasiswi saling berbisik, mereka tidak sabar ingin melihat dosen baru yang masih muda dan sangat tampan itu.


'Tap tap tap.'


Dari pintu nampak pria tampan itu berdiri dengan tersenyum, kemudian melanjutkan langkahnya masuk menghampiri Bu Anggi.


Bu Anggi tersenyum. "Semoga lancar Pak, saya permisi." ucap Bu Anggi dengan sopan.

__ADS_1


Selepas keluarnya Bu Anggi dari sana, kelas kembali ricuh dengan suara mahasiswi yang bersahut-sahutan menggoda dosen baru itu, sementara Stella menatap kesal pada pria itu karena dari tadi pria itu tidak berhenti menatapnya.


"Baiklah, perkenalkan nama saya Albert, saya yang akan mengantikan dosen kalian untuk sementara waktu, saya harap kalian semua tidak membuat saya kesulitan, baiklah mari kita mulai belajar."


Pria itu ialah Albert, ia sengaja menjadi seorang dosen karena kampus merupakan tempat ter-aman untuk mendekati gadis itu.


Ya Albert sudah tahu siapa Stella dan siapa Damien, ia harus merebut wanita dan kekuasaan yang di miliki musuh besar sang Daddy, tentu saja ini salah satu rencana Gent untuk menghancur leburkan Damien.


Flash back on


Selepas mengantarkan sang adik ke apartmennya, Albert mendapat pesan dari Gent yang menyuruhnya untuk segera ke markas, mobil sport itu pun kembali melesat membelah jalanan, tiba-tiba terlintas di benak Albert siapa itu Damien, mendengar namanya seperti sangat familiar di telinganya.


"Siapa pria itu, kenapa Arra bisa tergila-gila dengannya padahal usianya sangat jauh di atasku." gumam Albert sembari menyetir, sesekali pria itu mengetuk-ngetuk stir mobil sambil menginggat.


Tak lama mobil pun sampai, Albert segera turun dan memasuki markas.


"Dad.." Albert memeluk Gent dan duduk berhadapan dengan Daddynya, disana juga ada Dru.


"Om.." sapa Albert, sementara yang disapa hanya tersenyum.


"Daddy memanggilmu kesini ingin memperlihatkan sesuatu." Derward membawa sesuatu di tangannya.


"Apa itu Dad?"


"Lihatlah.." Derward menyerahkan beberapa foto pada putranya.


Di semua foto itu masing-masing sudah tersemat nama, hal itu membuat Albert mengernyit menatap sang Daddy dengan binggung.


"Mereka personil Rick Devil."


Albert mengangguk, ia melihat satu persatu foto itu sembari tersenyum smirk, hingga senyum itu pudar saat melihat foto terakhir.


"Bukankah dia Damien, pria yang di sukai Arra."batin Albert.


"Namanya Damien, dialah pemimpin Rick Devil." ucap Derward membuat Albert tertegun.


Flash back off


Kelas pun usai, kini semua mahasiswa keluar dari kelas masing-masing.


"Stella.." sapa Albert, dia mensejajarkan langkahnya di samping Stella, saat pria itu tidak sengaja melihatnya berjalan sendiri.


Sementara gadis cantik itu nampak acuh membuat Albert semakin penasaran dengannya.


"Jaga sikap anda Pak, apa anda tidak lihat semua orang tengah menatap kita." ucap Stella tanpa menatap lawan bicaranya.


"Itu bukan masalah bagiku." kini keduanya berada di depan gerbang kampus, membuat Stella mau tidak mau menatap pria itu.


"Kenapa bpk berdiri disini? bukankah tadi anda membawah mobil." Stella menautkan kedua alisnya.


"Jangan memanggil Bpk kita sudah berada di luar gerbang." Albert bersisik dan sedikit mendekatkan tubuhnya pada Stella.


Stella memutar bola matanya malas dan sedikit menghindar, saat mulutnya ingin bicara kembali, sang bodyguard sudah berada di depannya.


"Mari Nona." ucapnya mempersilahkan Stella untuk memasuki mobil, bodyguard itu melirik sekilas ke arah Albert lalu berlari ke arah kemudi, sementara Stella langsung masuk mobil tanpa berpamitan pada dosennya.


"Aku pasti bisa mendapatkan mu." Albert tersenyum smirk lalu kembali masuk menuju ke arah parkiran.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2