
Waktu terasa begitu cepat. gadis kecil nan cantik putri dari pasangan Ansel dan Bella kini sudah beranjak remaja. saat ini usianya menginjak 18 tahun. kecerdasan dan keberanian dari Stella tentu menurun dari Bella Adonia Abraham wanita yang melahirkannya.
Kedekatan Stella dengan Damien sampai saat ini masih terjalin. meskipun baru-baru ini Damien sudah berpindah kembali ke negara asalnya. keputusan Damien membuat Stella terpukul dan kehilangan saat Om nya memutuskan untuk kembali ke Prancis. bahkan Stella menangis sesenggukkan saat mengantar kepergian Damien ke bandara. tanpa berfikir panjang Stella meminta pada sang Mama untuk bisa meneruskan pendidikannya disana.
"Ma Stella ingin melanjutkan kuliah di universite ENSAD." Stella membaringkan dirinya di bahu Bella. mata bulat itu menatap Mamanya dengan tatapan sayu penuh harap.
"Kenapa harus jauh-jauh disini juga banyak kampus terbaik." Bella mengelus sayang kepala putrinya, tentu saja dirinya keberatan mengizinkan Stella tinggal sendiri di negeri orang.
"Aku inginnya disana Ma, bukankah disana ada Om Damien. pasti Om Dam akan menjaga ku, tolong bujuk Papa untuk ku ya." renggek Stella.
Bella membuang nafas kasar. Stella memang jiplakan dari dirinya, dengan berat hati ia mengiyakan.
"Baiklah, nanti Mama coba membicarakannya dengan Papa."
Tidak lama terdengar teriakan twins dari arah belakang menganggu Stella yang sedang merunding Mamanya.
"MAMA.." Teriak keduanya serempak. Azzam terlihat sangat tampan dengan gaya coolnya sementara Azurra terlihat sangat manis dengan gaya centilnya.
"Berisik banget sih dek." Stella beranjak bangun saat melihat kedua adiknya muncul dari belakang sofa.
Azurra dan Azzam mengejek sang Kakak dengan mengeluarkan lidahnya. hampir setiap hari putra dan putri Bella ribut, bukan mereka tidak akur tapi kedua adik Stella menunjukkan rasa sayangnya dengan cara yang berbeda. Azzam dan Azurra sangat suka mengoda sang Kakak karena pada dasarnya Stella juga sering berbuat usil pada kedua adiknya.
"Sini sayang." Bella merentangkan kedua tangannya, kedua Kakak beradik ini pun berhambur memeluk Bella sedangkan Stella menyingkir dengan cepat sebelum Azzam mendorongnya.
Walau usia twins sudah menginjak 12 tahun, tapi Bella menganggap keduanya masih sama seperti 13 tahun yang lalu. bayi kembar yang sangat mengemaskan.
"Ma Stella ke kamar dulu, jangan lupa yang tadi." Stella mengedipkan satu matanya pada Bella, gadis remaja itu berlalu menuju kamar.
"Yang tadi apa Ma?" seperti biasa adik centil Stella ini selalu kepo. Zurra selalu ingin tahu apa saja yang di bicarakan sang Mama dengan Kakaknya.
"Dik itu urusan orang dewasa." ucap Azzam pada adiknya Azurra, seketika gadis manis itu cemberut.
Bella tersenyum menatap kedua anaknya. waktu terasa begitu cepat, baru juga kemarin Bella mengendong keduanya, kini baby twins sudah tumbuh dewasa.
__ADS_1
"Kalian berdua ganti baju dulu, Mama akan siapkan makan siang untuk kalian." tangan Bella mengelus kepala keduanya dengan sayang.
"Siap Ma.." ucap Azzam dan Azzura serempak, keduanya pun berlalu ke kamar masing-masing, sementara Bella berlalu menuju dapur.
Siang berlalu begitu cepat. keseharian Bella dan putra putrinya berjalan seperti biasa. kini hari berganti sore, terdengar mobil milik Ansel terparkir di bagasi, Bella buru-buru menyambut suami tercinta.
"Sore Ma." satu kecupan Ansel berikan pada pipi kanan Bella.
"Sore juga Pa, bagaimana pekerjaan kantor hari ini?" Bella bergelanyut manja di lengan kekar suaminya, keduanya berjalan menuju kamar.
"Baik Ma, tidak ada masalah." jawab Ansel, tangannya melingkar manja di pinggang istrinya.
"Kemana anak-anak Ma?"
"Di kamar Pa." jawab Bella, keduanya sudah berada di kamar. Bella membantu suaminya melepas jaz dan kemeja milik Ansel, membiarkan suaminya bertelanjang dada.
"Papa langsung mandi ya, selepas mandi Mama ingin bicara." Bella menaruh baju kotor Ansel di ranjang.
"Mandi dulu, kamu bau ih." Bella melepas tangan Ansel dengan paksa.
Ansel terkekeh, Kedua pasutri ini masih tetap sama selalu romantis meskipun usia keduanya tidak muda lagi. Ansel selalu mengutamakan istri dan anak-anaknya dari pada urusannya yang lain. Ansel selalu menomorsatukan keluarganya.
Pria tampan dengan tubuh atletis meski usianya tidak lagi muda itupun berlalu menuju kamar mandi. Ansel jadi penasaran apa yang akan di bicarakan oleh istrinya, hanya butuh waktu 15 menit, Ansel keluar dari kamar mandi sudah memakai baju santainya. terlihat sang istri bersandar di ranjang sambil membaca novel, kebiasaan Bella dari dulu tak pernah berubah.
"Sayang sini." Bella menepuk ranjang kosong di sampingnya.
Ansel tersenyum, dia mendudukkan dirinya persis di samping Bella. sebelum bicara Bella mengambil nafas dalam, sebenarnya berat sekali jika harus melepaskan putrinya jauh, tapi saat menginggat disana juga ada Damien Bella memutuskan mengiyakan kemauan putrinya. setidaknya ada yang menjaga Stella jika putrinya jadi melanjutkan pendidikan disana.
"Kamu ingin membicarakan apa heem." Ansel menyandarkan kepala Bella di pundaknya, mengelus kepala istrinya dengan lembut.
"Putri kita ingin melanjutkan pendidikannya di prancis." Bella menatap mata suaminya dalam, ia ingin melihat reaksi Ansel.
Alis tebal Ansel menyatu. "Aku tidak setuju, kenapa harus jauh-jauh kesana. universitas disini tidak kalah bagus." ucap Ansel menolak.
__ADS_1
Sudah Bella duga suaminya tidak akan mengijinkan. Bella tidak ingin membuat putrinya kecewa, wanita ini terus membujuk Ansel.
"Sayang." Bella menghimpit wajah Ansel dengan kedua tangannya.
"Putri kita kesana kan bertujuan untuk belajar, dia ingin meraih cita-citanya sebagai seorang designer terkenal. apa kamu tega memupus harapan putri kita." Ansel masih setia mendengar istrinya bicara, Bella pun melanjutkan ucapannya.
"Kita bisa menitipkan putri kita pada Damien, kamu tahu kan bagaimana kasih sayang Damien pada putri kita? dia sudah menganggap Stella seperti putrinya sendiri." ucap Bella.
Ansel menghembuskan nafas dalam, dia mengelus tangan Bella yang masih berada di kedua pipinya.
"Baiklah jika kamu menyetujuinya, tidak ada alasan untuk aku melarangnya." Ansel mencium kedua punggung tangan Bella.
"Terima kasih." Bella tersenyum, memberikan hadiah berupa pelukan hangat untuk sang suami.
"Sama-sama sayang." Ansel membalas pelukan Bella dengan sayang.
"Sudah waktunya makan malam, mungkin putra putri kita sudah menunggu di meja makan." ucap Bella mengurai pelukannya.
Ansel mengangguk, keduanya beranjak dari ranjang. sepasang pasutri ini turun dari tangga dengan bergandengan tangan dan benar saja putra putri mereka sudah berkumpul di meja makan.
Besok pagi-pagi sekali Ansel akan mengabari Damien, tentu keputusannya malam ini sangat berat untuknya. tapi saat melihat sang istri begitu mempercayai pria menyebalkan itu, membuat Ansel terpaksa mengiyakan. ia pun berusaha mempercayainya juga.
Hai-hai readers tersayang
"Om Damien Mine"
Kenapa novel "Om Damien Mine" Akoh pindah kesini? Karena novel ini sudah lama tidak update dan Akoh mau rencana lanjutin kisah Stella dan Damien disini aja.
Di tunggu
LIKE, VOTE DAN KOMENNYA
Author setia memantau dukungan dari kalianš„°
__ADS_1