
Akhirnya mobil tiba di tujuan, terlihat bangunan besar nan megah layaknya istana berdiri kokoh di hadapan ke empat orang yang baru turun dari mobil, di pintu Mama Ita dan Papa Robert sudah menunggu kehadiran putra-putra dan anak menantunya.
Ansel berjalan mengandeng tangan istrinya, sejak kejadian di pesawat tadi Ansel tidak membiarkan Bella jauh darinya, hal itu membuat Calista kesal bukan main, sementara Arka berjalan cepat menuju sang Mama yang terlihat menangis.
"Ma.." panggil Arka seketika Mama Tia menabrakkan tubuhnya pada dada bidang sang putra.
"Arka oma nak." ucap Mama Tia di iringi tangis kesedihan.
"Kita ikhlaskan saja Ma, oma pasti sedih melihat Mama seperti ini." ucap Arka.
Mama Ita mengangguk, setelah Mama Ita merasa baikan tidak lagi menanggis, Arka mengurai pelukannya.
Tidak lama ketiga orang di belakang Arka sudah berdiri di hadapan Papa Robert, Papa Robert terkejut saat melihat anak sahabatnya juga ikut.
"Loh Calista ikut kesini?" tanya Papa Robert.
Kedua orang tua Ansel hanya mendengar kabar jika sahabatnya meninggal karena kecelakaan, tanpa keduanya tahu sahabatnya meninggal karena ulah musuh dari putranya.
"Om turut berduka ya Nak." ucap Papa Robert saat melihat gadis itu hanya diam dengan mata yang sudah berembun.
Tanpa menjawab Calista langsung memeluk Papa Robert di sertai tanggis, ia ingin menunjukkan pada Bella bahwa dirinya lebih dekat dengan kedua orang tua Ansel.
Sementara Bella hanya berdiri mematung di samping Ansel, ia terlihat kesal melihat pemandangan yang begitu memuakkan di hadapannya, drama tangis pun usai, meraka semuanya memasuki mansion, Calista memapah Mama Tia di samping kiri sementara di samping kanan ada Bella yang juga memapahnya.
"Ansel, kenapa Calista ikut kesini nak?" tanya Mama Tia, mereka semua sudah berada di ruang tamu.
Para pelayan dengan gesit membuatkan minuman untuk cucu majikannya.
"Sebenarnya sudah 3 hari ini Calista tinggal di rumah Ma." jawab Ansel membuat kedua orang tuanya saling pandang.
"Kenapa?" tanya Mama Tia kembali.
"Papa sama Mama mati karena di bunuh Tante, aku takut mereka akan membunuhku juga, aku meminta tinggal di mansion Ansel hanya untuk berlindung." jawaban dari Calista membuat Pasutri parubaya itu syok.
"Bukankah orang tuamu kecelakaan sayang?" tanya Mama Tia.
"Tidak Tan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, mereka menembak kedua orang tuaku." jawab Calista dengan tubuh tergoncang.
__ADS_1
Mama Tia mendekat dan memeluk Calista erat, memberikan ketenangan untuk gadis malang itu, sementara Bella hanya diam duduk di samping Ansel, lama-lama Bella jenuh melihat drama Calista yang semakin menjadi-jadi, ia pun pamit pada kedua mertuanya untuk mencari udara segar di luar mansion.
"Pa Ma Bella mau jalan-jalan keluar sebentar ya!" pamit Bella, Ansel menatap tajam istrinya.
"Mau kemana kamu?" tanya Ansel.
"Keluar sebentar." jawab Bella meninggalkan semuanya tanpa perduli tatapan tajam dari Ansel.
Selepas Bella keluar, Ansel dan Arka izin ke kamar untuk menaruh pakaian mereka, rencananya mereka akan 2 hari tinggal disini, setelahnya keduanya kembali ke ruang tamu.
"Ma, apa Bella belum kembali?" tanya Ansel menatap sekitar tapi tidak melihat istrinya.
Mama Tia yang sedang berbincang dengan Calista, menghentikan obrolan.
"Sepertinya belum sayang, coba kamu cari Sel." suruh Mama Tia kawatir.
Ansel mengangguk ia pun keluar disusul Arka di belakangnya, mereka mencari Bella di sekitaran mansion.
"Kemana perginya wanita itu?" monolog Ansel.
"Kamu sih Kak labil, kalau mau sama Kak Calista ya pilih Kak Calista aja biar Bella sama aku." ucap Arka, ia sudah memancing serigala yang sedang lapar.
"Bertanggung jawab apa maksud mu Kak?" tanya Arka penasaran.
"Sudahlah kau ini malah bahas hal yang tidak penting, Kakak Iparmu hilang kita harus cari kemana lagi." ucap Ansel menjambak rambutnya kesal.
"Maaf, kita coba cari lagi Kak." ucap Arka.
Keduanya kembali mencari, selang beberapa jam Ansel dan Arka tidak berhasil menemukan Bella, membuat semuanya bertanya-tanya kemana Bella saat ini.
Panik? tentu saja semuanya panik apalagi si Ansel, tapi tidak untuk Calista dia tersenyum smirk, hilangnya Bella membuatnya senang.
Ansel yang sudah kembali ke mansion sang oma, lekas mengabari anak buahnya untuk mencari dimana istrinya berada, ia juga mengajak Arka untuk menyusuri jalan sekitar mansion tapi hasilnya sama-sama nihil.
"Brengsek.." umpat Ansel, ia begitu kawatir dengan istrinya.
Papa Robert melihat ada keganjilan disini, dia pun mencari tahu lewat detektif rahasia, ia partner lama Papa Robert, sebenarnya sudah sangat lama Papa Robert mencurigai anaknya masuk ke dunia hitam, tapi hatinya berusaha menyakinkan dirinya sendiri jika itu tidak benar.
__ADS_1
"Jangan sampai putraku mengikuti jejakku dulu." batin Papa Robert.
Ya Papa Robert mantan seorang gangster pada zamannya, ternyata skill Ansel menurun dari sang Papa, sebuah rahasia yang Papa Robert tutup rapat-rapat bahkan dari istrinya sekalipun.
Papa Robert juga menyuruh semua anak buahnya untuk mencari dimana menantunya berada.
Tidak berselang lama Papa Robert mendapat panggilan telpon yang membuatnya mematung, ia mencerna perkataan demi perkataan dari sang detektif, tidak di sangka-sangka kekawatiran yang selama ini beliau rasakan terjadi di depan matanya, dengan cepat Papa Robert berlari mencari putranya, tapi mansion sebesar itu hanya ada beberapa pelayan dan Calista yang sedang menenangkan istrinya yang kembali menangis saat tahu menantunya menghilang.
"Ma Ansel kemana?" tanya Papa Robert.
"Ansel keluar sama Arka Om." jawab Calista, sedangkan Mama Ita masih menangis.
Papa Robert meraup wajahnya dengan kasar, siapa yang berani berurusan dengan keluarganya, akhirnya Papa Robert menghampiri istrinya, ia hanya bisa diam menunggu kabar dari anak buahnya.
Disisi lain seorang wanita cantik di sekap di gudang kecil yang begitu penggap, tangan dan kakinya di ikat, matanya juga di tutup dengan kain hingga membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa.
"Brengsek siapa yang melakukan hal ini?" batin Bella.
Wanita cantik yang di sekap itu adalah Bella, tidak habis fikir kenapa dirinya bisa tertangkap dengan mudah seperti ini, untung saja pistol yang ia bawah masih berada di saku jaketnya.
Di depan gudang berdiri 3 pria berbadan besar berwajah sanggar menunggu Bos besarnya datang.
"Cewek di dalam cantik bro." ucap salah satu dari mereka.
"Jangan macam-macam, kalian mau di sabit habis sama bos." ucap yang lainnya.
Keduanya bergidik ngeri saat menginggat Bosnya jika dalam keadaan marah bisa membunuh orang tanpa ampun.
Hampir 30menit Bos yang di tunggu-tunggu tidak kunjung datang, sementara Bella di dalam berpura-pura pingsan untuk mengelabuhi ketiga pria berbadan besar itu, karena sang Bos belum juga terlihat kedua pria berbadan besar itu masuk untuk melihat keadaan Bella di dalam, sementara pria satunya berjaga-jaga di depan takut ada penyusup yang masuk.
Kira-kira siapa ya yang menculik Bella?
Penasaran ngak?
Penasaran lah masak enggak😁
tetap setia dengan karya receh ku ya😚
__ADS_1
lope-lope buat pembaca🥰
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMEN😍