
Pesta terus berlanjut, keakraban ketiga gangster ini sangat langkah terjadi, mereka saling memperkenalkan diri masing-masing, pesta malam ini seperti layaknya acara reuni bagi mereka.
Keramaian di pesta yang penuh dengan canda itu seketika menegang, saat Bella tiba-tiba saja jatuh pingsan, beruntung Ansel selalu berada di samping istrinya, ia pun langsung membawah Bella ke kamar, disusul orang tua Bella dan orang tua Ansel, seketika semua orang kembali riuh, mereka bertanya-tanya ada apa dengan wanita cantik itu.
Keempat anggota Jevarck dan Damien yang juga merasa kawatir, mereka pun ikut menyusul ke atas.
"Sayang bangun nak, kamu kenapa?" Mama Eva menangis di samping putrinya.
Ansel keluar kamar, dengan cepat ia menelpon Dokter pribadi keluarganya, ia tidak peduli meskipun hari sudah malam.
'Tuuuuttt' Sambungan Terhubung.
"Hallo, cepat ke mansion sekarang, aku beri waktu 10 menit untukmu." Ansel langsung menutup telponnya dengan sepihak, sementara Dokter di sebrang sana mengumpat, Bosnya satu ini selalu seenaknya sendiri.
Saat dirinya ingin kembali masuk, kelima pria yang membuat hati Ansel panas dingin ini menghampirinya.
"Ansel Bella kenapa?" Damien terlihat begitu cemas, terlihat dari cara bicaranya.
Ansel mengernyit, ia bertanya-tanya kenapa kelima kucing itu ikut keatas.
"Dia masih pingsan." jawab Ansel, Ansel kembali masuk ke kamar di susul kelima pria tadi.
Tidak berselang lama ketiga rekan Ansel dan Arka ikut datang melihat Bella, tugas mereka untuk membubarkan pesta sudah selesai, Arka dari pihak keluarga juga sudah meminta maaf, para tamu juga memaklumi akan kejadian yang tidak terduga ini.
Kini kamar yang nampak luas itu seketika berubah sempit, karena menampung banyak orang disana.
Tidak lama Dokter datang, ia langsung masuk mansion dan berlari ke kamar Ansel setelah di beritahu oleh asisten Ririn, nafasnya sampai tersengal-sengal karena lelah berlari.
"Malam Tuan Ansel." Dokter mengatur nafasnya yang masih memburu karena lari-larian tadi.
Ansel menatap jam di tangannya.
__ADS_1
"10 menit lebih 5 detik." Ansel menatap Dokter itu dengan tajam.
"Maaf Tuan, saya sudah berusaha datang kesini dengan cepat."
"Sudahlah, cepat periksa istriku." suruh Ansel.
Dokter menyuruh semua orang untuk keluar terlebih dulu, disana hanya menyisahkan Ansel dan Mama Eva, Dokter pun mulai memeriksa keadaan Bella.
"Bagaimana keadaan istriku?" Ansel menatap Dokter itu dengan tajam.
Sebelum menjelaskan Dokter itu tersenyum.
"Begini Tuan sepertinya istri anda sedang mengandung, untuk trimester pertama tolong jangan membuat istri anda kelelahan, karena itu akan berakibat buruk bagi kandungannya, jika anda masih ragu anda bisa memeriksakannya langsung ke dokter spesialis obegyn."
Mama Eva dan Ansel masih mencerna ucapan sang dokter, detik kemudian keduanya mulai mengembangkan senyum mereka.
"Istri saya hamil?" Ansel terlihat sangat bahagia, hampir saja dirinya bersorak dan melompat, tapi dengan cepat Ansel mengembalikan kesadarannya, mau di taruh dimana wajah Ansel jika hal itu sampai terjadi.
Dokter mengangguk dan tersenyum, dirinya ikut bahagia mendengar kabar baik ini.
"Terima kasih." Ansel menepuk bahu sang Dokter.
Dokter tersenyum, ia pun berlalu keluar dari kamar Ansel.
Di luar semua orang masih menunggu, setelah melihat dokter pergi Damien dan yang lainnya masuk, sementara Mama Tia dan Papa Robert mengantar Dokter ke depan, sembari menemani Papa Daniel di bawah.
"Bella sakit apa?" tanya Ardolp, pria ini tidak kalah kawatirnya dengan Damien.
Sebelum berbicara Ansel tersenyum, dengan bangganya ia mengumumkan kepada semua orang yang berada disana.
"Bella baik-baik saja, dia saat ini sedang mengandung anak ku." Ansel menciumi kening Bella yang belum juga siuman.
__ADS_1
Bagai disambar gerobak nasi goreng, keenam pria yang menaruh hati pada Bella seketika bersedih, mereka benar-benar sadar akan kenyataan, kenyataan jika wanita itu sudah memiliki seorang suami, kenyataan jika cinta mereka tidak mungkin terbalas, dengan berat hati ke enam pria ini berusaha mengubur perasaan mereka dalam-dalam, hingga ada wanita lain yang bisa membuat hati mereka bergetar saat melihatnya.
"Selamat untukmu, kalau begitu kami permisi." ucap Ardolp.
"Terima kasih sudah datang." Ansel sangat puas, ia puas melihat keenam pria itu patah hati berjamaah.
Ardolp pun berlalu disusul ketiga rekannya.
"Selamat sebentar lagi kau menjadi seorang Daddy." Damien mengulurkan tangannya.
"Terima kasih, kau juga akan menjadi seorang Om, Om yang begitu menjengkelkan." ucap Ansel pelan di akhir kalimatnya.
"Aku juga permisi, Papa mungkin sudah menungguku di bawah." pamit Damien, sebelum pergi dia sempatkan untuk melirik wanita yang sudah mencuri hatinya.
"Hati-hati.." Ansel hanya mengantarkan Damien sampai pintu kamar.
"Selamat Tuan, saja juga ingin pamit." wajah Vero terlihat masam, walaupun begitu ia harus menerima ini semua, karena dari awal dirinya tahu jika wanita yang ia suka sudah bersuami.
"Hati-hati Ver."
Vero mengangguk, setelah kepergian kucing-kucing liar itu Ansel berjingkrak riang, tanpa dirinya sadari dua orang yang masih berada di dalam kamar sedang menatapnya, sang adik terkejut hingga bibir Arka menganggah, ia tidak habis fikir Kakak yang selalu bersikap dingin padanya kini malah terlihat seperti anak paud yang baru saja mendapat hadiah mobil-mobilan, sedangkan Mama Eva hanya bisa menahan senyum.
Jangan Lupa dukungannya untuk Author😍
________________________Like Vote Dan Komen
________________________
Kenalan sama othor yuk follow instagram othor.
Wuland4ri_05
__ADS_1
Wulan