
Toni segera menelpon Bos nya Daniel, ia tidak ingin terjadi sesuatu pada keluarganya.
'Tuuuuuutt' tidak lama sambungan terhubung.
"Selamat pagi Pak."
"Ya pagi, ada apa Ton?" Papa Daniel mengernyitkan dahi tumben Toni pagi-pagi begini menelponnya.
"Maaf Pak ada kendala di perusahaan, data keuangan perusahaan tidak sesuai dengan laporan yang baru saya terima, sepertinya ada seseorang yang mengelapkan dana perusahaan."
"Baiklah saya akan segera kesana."
'Tuuuuuuutt' sambungan terputus.
"Maapkan saya Pak." Toni langsung mengirim pesan pada nomor yang tadi mengancamnya.
"Aku harus mengabari Pak Damien." monolog Toni.
Di mansion Toni
Setelah mendapat pesan dari Toni, kedua pria itu segera keluar dari mansion, meninggalkan kedua wanita dewasa dengan tubuh terikat, kedua mobil itu kembali melaju menuju target mereka.
Sementara Papa Daniel pergi dengan beberapa bodyguard, di tengah perjalanan mobil Papa Daniel di hadang oleh dua mobil asing yang tidak lain milik Dru dan rekannya.
"Keluar kalian." teriak Dru dan rekan-rekannya.
"Tuan jangan keluar." ucap salah satu bodyguard.
Kelima bodyguard beserta supirnya keluar dari dalam mobil, jika melihat dari jumlah lawannya sepertinya mereka tidak bisa mengalahkan semuanya.
"Siapa kalian, kenapa menghadang mobil kami?" salah satu bodyguard bersuara.
"Kami tidak memiliki urusan dengan kalian, biarkan Tuan kalian turun, maka nyawa kalian akan selamat." ucap Dru.
"Tidak semuda itu, langkahi dulu mayat kami."
Dru tersenyum menyeringgai. "Baiklah jika itu mau kalian." Dru memberi kode pada rekan-rekannya.
Pertarungan pun tidak terelakkan, Dru dan rekan-rekannya sengaja menyerang mereka tidak memakai senjata, kesepuluh orang itu melahan 6 orang lawannya dengan mengunakan tangan kosong, hingga akhirnya ke 6 bodyguard ambruk tidak sadarkan diri, Dru segera berjalan menghampiri mobil Papa Daniel.
"Cepat buka." teriak Dru dari luar.
Dengan tubuh gemetar Papa Daniel membuka pintunya, tidak ada jalan lain selain menyerah, setelah pintu terbuka dengan kasar Dru menarik tangan Papa Daniel untuk keluar, membuat tubuh tua itu tersungkur ke aspal dengan sangat keras.
"Si-siapa kalian?" tanya Papa Daniel dengan tubuh gemetaran, keningnya berdarah karena terbentur kerasnya aspal.
"Cepat bawah pria tua ini." tanpa menjawab pertanyaan Papa Daniel, Dru meninggalkannya begitu saja, menyerahkan Papa Daniel pada rekan-rekannya.
Papa Daniel pasrah, mereka membawah Papa Daniel pergi, meninggalkan para bodyguard yang masih pingsan di tengah jalan yang nampak sepi.
Disisi lain Damien baru saja tiba di kota A, tubuh pria itu menegang saat mendengar kabar buruk dari Robby, sekertarisnya mengabari jika Papa Daniel dalam bahaya, tidak lama bodyguard yang di tugaskan Robby untuk menjaga Tuannya juga memberi kabar buruk, Papa Daniel berhasil di bawah kabur oleh segerombolan orang yang tidak mereka kenal, tapi mereka mengenal salah satu dari 10 orang asing tadi, Dru salah satu anggota mafia Cartel Sinaloa.
__ADS_1
"Brengsek.." umpat Damien, wajah tampan itu mengeras, tangannya mengepal erat hingga mengeluarkan otot-otot bisepnya.
"Robb urus semuanya yang berada disini, aku percayakan semuanya padamu, separuh dari kalian ikutlah dengan ku." Damien mendapat anggukkan dari Robby dan rekan-rekan Red Blood, meskipun mereka belum tahu apa yang telah terjadi.
"Om ada apa?" Stella baru membuka suaranya, gadis itu dari tadi hanya mendengar tanpa mengerti apa yang di bicarakan Robby dengan Damien.
"Sayang, Om harus kembali ke Prancis, ada masalah yang harus segera Om selesaikan." ucap Damien dengan wajah sendu.
Seketika mata Stella berkaca-kaca. "Stella ikut Om saja ya." pinta gadis itu dengan manja, airmatanya sudah menetes di pipi mulusnya, saat ini Stella terlihat begitu mengemaskan membuat Damien tidak rela meninggalkan keponakan sekaligus kekasihnya.
"Mama dan Papa mu sudah menunggu mu, jangan membuat mereka kecewa." Damien menghapus airmata Stella dengan Ibu jarinya.
"Cepatlah pergi, Om akan segera menyusulmu kesini jika urusan Om sudah selesai." ucap Damien.
Stella mengangguk pasrah, dia Robby dan separuh rekan Red Blood turun dari pesawat.
Di bawah dari jauh nampak Mama, Papa dan kedua adiknya berkumpul menyambut kedatangan mereka, sementara pesawat Damien kembali lepas landas meninggalkan landasan pribadi milik Ansel.
"Papa Mama." Stella berlari memeluk kedua orang tuanya lalu berganti memeluk twins.
"Kakak.." panggil mereka serempak.
Ansel menautkan kedua alisnya, mata elangnya mencari seseorang tapi tidak berhasil menemukannya.
"Kemana Damien?" tanya Ansel pada Robby.
Robby mendekat dia membisikkan sesuatu pada Ansel, membuat pria itu mengepalkan tangan kuat, Ansel kembali mengontrol dirinya.
Di gedung kosong yang nampak sangat gelap, terlihat pria tua dengan tubuh terikat, di dalamnya minim sekali penerangan membuat orang yang berada di ruangan itu hanya bisa menatap siluetnya saja, Papa Daniel terduduk lemas dengan wajah penuh darah dan tubuh yang terasa remuk redam, kini hanya bisa pasrah.
Tak lama terdengar langkah kaki seseorang mendekat. 'Hahahahahaha' terdengar tawa seorang wanita mengema di ruangan senyap itu.
"Siapa kamu?" tanya Papa Daniel dengan suara lemah.
Wanita itu masih terdiam, wajahnya nampak bahagia akhirnya dendamnya akan segera terbalaskan.
"Hahahahahaha.." terdengar tawa seorang wanita yang tidak asing di telingga Papa Daniel.
'Klek..' lampu mulai menyala menampakkan seorang wanita yang berdiri tegap dengan seringgai di wajahnya.
"Siapa kamu?" tanya Papa Daniel lagi, ia tidak mengenali siapa yang berdiri di hadapannya saat ini.
Wanita itu berjalan mendekati Papa Daniel. "Kenalkan namaku Calista, apa Om pernah mendengar namaku dari putra brengsek mu itu." ucap Calista menatap Papa Daniel tajam.
Papa Daniel terkejut, ia masih menginggat di saat dirinya lumpuh, Damien sering bercerita jika ia sudah membunuh mertua dari Ansel, dan nyatanya putranya salah orang, kedua orang tua Bella masih sangat sehat waktu itu.
"Jadi dia orang tuamu nak?" Papa Daniel merasa sangat bersalah.
"Ya putramu sudah membunuh kedua orang tuaku, dia sudah menghancurkan hidupku." teriak Calista dengan berlinang airmata.
"Maafkan putra Om nak."
__ADS_1
"Hahaha tidak semudah itu Om, hutang nyawa harus di bayar dengan nyawa, putramu sudah membunuh orang tuaku, dia harus membayarnya sekarang dengan nyawamu."
'Plak..' satu tamparan keras Calista berikan pada Papa Daniel.
"Tangan ku terlalu kotor untuk menyentuh pria tua sepertimu, sebentar lagi suami ku datang, akan ku pastikan nyawa mu melayang di tangannya."
"Hahahahaha.." tawa Calista semakin menghilang, sementara tubuh Papa Daniel sudah sangat lemas, sejak kemarin pria itu belum makan apapun.
Di tempat lain Damien dan rekan Red Blood sudah sampai di negaranya, dan saat ini mereka berada di markas Red Blood, Damien langsung menyuruh Lano bertindak cepat untuk melacak keberadaan Papa nya.
"Bagaimana Lan?" tanya Damien setelah hampir setengah jam Lano mengotak atik komputer miliknya.
"Mereka membawah Om Daniel ke pulau kecil ini." jawab Lano sambil menunjuk map yang tertera di komputer canggihnya.
"Dimana itu?" Damien berdecih, ia sangat muak dengan dirinya sendiri.
"Sepertinya itu markas tersembunyi mereka." jawab Lano.
Tiba-tiba Damitri mendekat, pandangannya menatap lekat ke arah panah yang di tunjuk Lano tadi.
"Aku tahu tempatnya, kita harus siapkan kapal untuk pergi kesana." seru Damitri.
Dengan gesit Damien bertindak, mengambil ponsel di sakunya dan menghubungi seseorang. "Ayo kita berangkat sekarang." ucapnya pada anggota Red Blood setelah menutup telponnya, tidak lupa masing-masing membawah senjata andalannya.
Damien membawah rombongannya menaiki kapal Very, tentu saja Damien menyewah kapal itu khusus untuk mencari Papanya, saat semua rombongannya bersiap menaiki kapal, Damien di kagetkan dengan kedatangan 10 pria yang mengaku orang suruhan Ansel, setelah memastikan jika mereka benar-benar orang suruhan Ansel, Damien pun mengijinkan 10 orang itu untuk ikut, memerlukan waktu hingga 2 jam untuk mencapai pulau kecil itu, sebenarnya hal ini sangat beresiko, karena mereka langsung menyerang ke kandang lawan.
Beruntung sekali Damien dan para rekannya siang ini, nampak pulau kecil itu sangat sepi tanpa penjagaan ketat, sepertinya tempat ini hanya sesekali di datangi oleh anggota Cartel.
Satu persatu mulai turun dari kapal, masing-masing sudah mengenggam pistol di tangannya. "Kita harus berhati-hati, bisa saja mereka bersembunyi untuk mengelabuhi kita." ucap Damien pada rekan-rekanya.
"Kita berpencar, bagi menjadi empat bagian." ucap Damien lagi.
Semua rekan Damien langsung berpencar, mereka berjalan secara mengendap-endap, memastikan keadaan aman terkendali, setelah melewati beberapa pepohonan dan semak-semak belukar akhirnya Damien dan rekannya berhasil mencium tanda-tanda kehidupan, dari jauh nampak mansion mewah nan megah berdiri menjulang tinggi, sementara tidak jauh dari sana terdapat gudang yang cukup besar, terlihat gudang itu di kepung beberapa anggota Cartel, tidak salah lagi pasti Papa Daniel di sekap di gudang itu.
"Mungkin Papa ku berada di gudang itu sekarang." tunjuk Damien pada gudang kosong, nampak penjagaan disana sangat ketat sekali.
"Iya Om tapi tunggu rekan-rekan yang lain, kita belum tahu berapa banyak anggota mereka yang berada di sini sekarang." ucap Lano.
Damien mengiyakan, sementara ketiga bagian yang lain mendapat penyerangan dari anggota Cartel, mereka saling beradu pistol, ada pula yang hanya menyerang mengunakan tangan kosong, karena ingin menghemat peluru.
"Om kenapa wajah mereka berubah panik? apa terjadi sesuatu?" tanya Lano merasa penasaran.
"Entahlah, mungkin mereka sudah tahu kedatangan kita." jawab Damien.
Tidak lama terdengar bunyi letusan pistol saling bersahut-sahutan.
'Dor Dor Dor...' dari ujung timur, barat dan selatan.
Nampak satu persatu rekan Red Blood terlihat, Damien dan lainnya mulai keluar dari sarangnya, dan menembakkan beberapa peluru ke arah lawan.
'Dor Dor Dor..' bunyi letusan pistol mengema, satu persatu musuh mulai berjatuhan, begitu juga dengan rekan dari Red Blood hanya ada beberapa yang terbunuh.
__ADS_1
Bersambung ...