
"Apa itu..?" karena penasaran Damien beranjak mengambilnya.
Nampak satu buah kertas, dibawahnya terdapat kotak kayu entah apa isinya, ia membuka selembar kertas itu, ternyata di dalamnya berisi surat, tulisan asli sang Papa yang isinya.
Untuk Putraku Damien
*Nak, maafkan Papa belum bisa menjadi orang tua yang baik buatmu, terima kasih nak sudah berhasil mengembalikan kehidupan Papa layaknya manusia normal, entah mengapa perasaan Papa bilang jika waktu Papa tidak akan lama lagi( Damien berhenti sejenak, ia menghembuskan nafasnya dalam lalu mulai membacanya kembali) Dam Papa tahu jika kamu memiliki hubungan khusus dengan cucu Papa Stella (Damien terkejut), maafkan Papa yang tidak mengerti perasaanmu nak, bahkan Papa memaksamu menjalin hubungan dengan Arrabel, perjuangkan cintamu nak, Papa merestui kalian, semoga kalian bisa menghadapi segala rintangan.
Salam sayang untukmu dan juga Stella❤*
Airmata Damien sudah tidak bisa di bendung lagi, perasaan bersalah yang baru ia rasakan berubah menjadi kebahagiaan.
"Papa merestui kami, terima kasih Pa." monolog Damien mencium surat dari sang Papa.
Flash Back On
Damien beranjak dari sofa meninggalkan Papa Daniel, pria parubaya itu menatap putranya dengan tatapan nanar, sepertinya hubungan Damien dan Arrabel tidak ada perkembangan sama sekali, padahal beliau berharap Damien segera meminang Arrabel dan memberinya cucu, melihat tingkah Stella yang tidak seperti biasanya, Papa Daniel pun mengikuti Damien diam-diam.
Langkah Damien terhenti tepat di depan kamar Stella, ia ragu-ragu ingin masuk dan menemui gadis yang masih merajuk padanya, tapi ia tidak bisa menundanya lagi untuk meminta maaf, tidak mungkin bukan saat mereka terbang ke kota A, Stella bersikap sedingin ini padanya, bisa-bisa Ansel mencongkel kedua matanya karena membuat putri sulungnya merajuk.
Sebelum mengetuk pintu Damien membuang nafas dalam, semoga ia berhasil membujuk Stella.
'Tok tok tok...'
Sudah berkali-kali Damien mengetuk pintu, tetap tidak ada jawaban dari dalam, akhirnya Damien memutuskan untuk masuk, matanya menyusuri setiap ruangan tak ada siapa pun disana, terdengar suara kucuran air dari dalam kamar mandi, mungkin Stella sedang mandi, Damien berjalan ke arah sofa, memilih menunggu Stella disana, tidak ada waktu lagi untuk menundanya, karena nanti malam Damien harus pergi menemui anggota Red Blood untuk mendiskusikan rencana yang Ansel tawarkan padanya.
'Kreeeeekk..' pintu kamar mandi terbuka.
Mata Damien teralihkan, menatap Stella yang hanya memakai hotpan dan tangtop, rambutnya yang basah membuatnya terlihat nampak sexy, Damien berkali-kali menelan ludahnya, hanya dengan Stella tubuhnya bereaksi.
"Kenapa Om kesini?" suara Stella terdengar dingin, sebenarnya ia malu harus bertatap muka dengan Om nya setelah kejadian tadi siang.
Damien berusaha mengendalikan tubuhnya, ia berdiri menghampiri Stella.
"Sayang maafkan Om, Om sudah membentak kamu." Damien memegang kedua bahu Stella, memaksa Stella agar menghadapnya.
Stella melepas tangan Damien dari bahunya. "Sudahlah Om tidak usah di bahas lagi, memang semuanya salah Stella." ia menghindar menjaga jarak dengan Om nya.
Saat ini Stella memunggungi Damien, gadis itu tidak berani menatap wajah Om nya, sementara Damien meraup wajahnya kasar, pria itu langsung menghampiri Stella memeluk tubuh gadis itu dari belakang, membuat tubuh Stella menegang.
Melihat sang putra yang tak kunjung keluar dari kamar cucunya membuat Papa Daniel penasaran, beliau membuka pintu kamar Stella tanpa mengetuknya, di bukanya pintu itu pelan-pelan, mungkin karena kedua orang berbeda jenis itu terlalu serius, hingga tidak menyadari ada seseorang yang tengah mengintip.
"Sayang jangan seperti ini, asal kamu tahu bahwa Om." suara Damien tercekat, debaran jantungnya semakin bertalu-talu saat ingin mengucapkannya, mata elang itu terpejam. "bahwa Om juga sangat mencintai mu."
'Degh'
Papa Daniel di buat terkejut dengan ucapan Damien, apa dirinya tidak salah dengar, kenapa harus Stella yang di cintainya, kenapa bukan Arrabel, Papa Daniel kembali menutup pintu itu dengan pelan, ia akan menunggu beberapa menit lagi untuk masuk.
Stella melepas tangan Damien yang melingkar di perut rampingnya, membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Om nya, apa Stella tidak salah dengar jika Om nya memiliki perasaan yang sama sepertinya?
"Om bilang apa tadi?" Stella tersenyum menatap Damien, gadis itu malah iseng ingin mengoda Om nya.
Damien menunduk malu, membuat Stella menahan tawanya, sikap Om nya seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta.
"Om coba katakan."
__ADS_1
Damien semakin salah tingkah, gadis yang usianya baru 18 tahun ini berhasil mempora-porandakan isi hatinya, wajahnya sudah memerah, entah mengapa lidahnya menjadi kaku, pria itu mencoba melirik gadis di depannya, alis tebalnya saling bertaut, melihat Stella menahan senyum membuatnya berfikir gadis itu memang sengaja ingin mengodanya.
Damien lebih mendekat, matanya menatap nyalang Stella, membuat gadis itu mundur teratur hingga tubuhnya menempel ke dinding, ia tidak bisa bergerak lagi karena tubuh Damien menghimpitnya.
"Kamu ingin mengoda Om heeemm." bisikan Damien membuat tubuh Stella meremang, untuk pertama kalinya tubuhnya merasakan sensasi berbeda.
"Ti-tidak Om, Stella.."
Belum selesai ucapan Stella, Damien berhasil membungkam bibir gadis itu dengan bibirnya, Damien melakukannya dengan sangat lembut, membuat Stella terbuai, aktifitas ini mengalir begitu saja, hingga suara ketukan pintu memaksa Damien untuk melepas pagutannya.
"Kenapa lama sekali, sepertinya aku harus masuk sekarang." monolog Papa Daniel, ia pun mengetuk pintu dulu dan meminta izin, sebelum sang cucu mengizinkannya untuk masuk.
"Sayang boleh Oppa masuk." teriak Papa Daniel dari luar.
"Stella..." teriaknya lagi.
Mata keduanya melotot sempurna dan saling pandang, dengan cepat Damien mencari tempat untuk bersembunyi.
"Sebentar Oppa.." teriak Stella panik.
Papa Daniel tahu pasti Damien akan bersembunyi, dan benar saja saat dirinya masuk tidak ada seorang pun disana kecuali Stella cucunya.
Flash Back Off
Selepas menutup surat, Damien meraih kotak kayu yang berada di atas nakas.
"Apa lagi ini?"
Tanpa menunggu lama, Damien langsung membuka kotak kayu itu, ternyata di dalamnya berisi sepasang cincin pernikahan, cincin itu nampak simpel tapi terlihat begitu elegan, dibawahnya terdapat nota kecil, Damien pun mengambil dan membacanya.
Damien mengambil satu cincin dan mencobanya, cincin itu sangat pas di jari manisnya.
"Semoga ukuran cincin ini cocok untuk jari Stella." Damien membolak balikkan cincin itu, minggira-ngira apa cincin itu cocok di jari manis kekasihnya.
Dirasa puas mencoba, Damien melepas cincinnya dan mengembalikan ke tempatnya semula, ia akan menyimpan baik-baik cincin itu hingga waktunya tiba.
Waktu berputar begitu cepat, hari ini dimana Stella akan memulai kuliahnya, pagi-pagi sekali gadis ini sudah rapi dengan pakaiannya, berbeda dengan sang Mama, jika Bella lebih suka memakai celana jeans saat kuliah dulu, Stella putrinya lebih suka mengikuti tren style anak muda jaman sekarang, saat ini ia memakai rok mini jeans warna biru dengan atasan crop, menunjukkan setengah perutnya yang mulus, karena menurutnya itu terlalu terbuka, Stella pun menambahnya dengan memakai jaket jeans dengan warna senada seperti rok yang ia pakai.
Stella hanya memakai make up tipis, ia tidak terlalu suka dengan yang namanya alat tempur wanita, gadis cantik nan sexy ini berjalan menuju meja makan, nampak disana sudah ada sang kekasih dan tangan kanannya.
Mata Damien dan Robby tidak berkedip, pagi-pagi begini sudah di suguhkan pemandangan indah, melihat Robby juga ikut menatap Stella, Damien langsung melempar buah jeruk yang berada di depannya ke arah Robby.
"Aduh.." ucap Robby terkejut.
"Apa yang kamu lihat Robb?" tanya Damien dengan suara dingin.
Stella cuek saja, gadis itu mulai menyantap sarapannya, tanpa menghiraukan kedua pria yang sedang berdebat.
"Saya tidak melihat apa-apa Tuan." elak Robby.
"Berani sekali kamu membohongi ku, jangan pernah kamu menatap kekasihku ataupun meliriknya." geram Damien.
"Dasar Tuan tidak ingat umur, beruntung sekali pria tua ini bisa mencuri hati Nona Stella." batin Robby.
Ya kemarin selepas menyimpan kotak hadiah yang di berikan sang Papa, dengan semangat Damien menceritakan hubungannya dengan Stella pada Robby, tentu saja hal itu sangat mengejutkannya, bukankah Nonanya lebih pantas menjadi putri Tuannya jika dilihat dari usia keduanya yang terpaut sangat jauh.
__ADS_1
"Kamu dengar kan Robb?" Damien menatap Robby dengan tajam.
"I-iya Tuan." jawab Robby terbata.
"Sudahlah by jangan seperti anak kecil, Om Robby kan hanya melihat bukan menyentuh, benar kan Om?" tanya Stella pada Robby.
"Benar Nona." Robby menjawabnya dengan percaya diri saat Stella membelanya, tapi kepercayaan dirinya seketika runtuh saat menatap mata elang Damien.
Sarapan pagi yang penuh dengan keributan kini usai sudah, Damien memaksa untuk mengantar tapi Stella menolaknya.
"Aku bisa pergi sendiri by." tolak Stella.
"Baiklah kalau tidak ingin aku antar, di luar sudah ada supir dan 2 pengawal yang akan mengawalmu." ucap Damien.
Wajah Stella seketika di tekuk. "Kenapa harus pakai pengawal sih." ucap Stella sembari memanyunkan bibirnya.
Dengan gemas Damien mencium Stella tanpa permisi di depan Robby, kecupan itu berubah menjadi ******* yang mengairahkan, sementara Stella mencoba melepaskan diri.
"Ciihh spesies pemakan daging, kasihan Nona Stella." decih Robby pelan sembari memalingkan wajahnya.
"Hubby ih .." Stella memukul dada Damien setelah pagutan keduanya terlepas.
"Lain kali jangan manyun seperti tadi, ingat jangan membantah, ayo Robb." sebelum pergi Damien mengelus rambut kekasihnya.
Dengan terpaksa Stella menuruti perintah Damien, hari ini di kampus Stella menjadi bahan tontonan, setiap Stella melangkah dua pengawal itu selalu setia mengikutinya, bahkan ke toilet pun mereka ikut.
"Stop, Om-om diam disini." pinta Stella.
Kedua pria bak manekin itu hanya mengangguk patuh, mereka membalikkan badan dengan setia menunggu Stella tepat di depan pintu toilet wanita, tentu saja keberadaan mereka berdua membuat para mahasiswi risih.
Hari pertama di kampus ialah hari yang sangat menyebalkan untuk Stella, sepulang dari kampus gadis itu meminta berhenti di depan mini mart, entah tiba-tiba saja ia ingin memakan es cream.
"Pak berhenti di depan mini mart ya!" pinta Stella.
"Baik Nona."
Mobil pun terparkir tidak jauh dari mini mart. "Stop, kalian pantau Stella dari sini saja." pinta Stella dengan wajah cemberut.
"Tapi Nona.."
"Tidak ada tapi-tapian, aku hanya beli es cream sebentar." Stella langsung keluar dari mobil, ia menutup pintunya sedikit keras, menunjukkan rasa protesnya kepada kedua pengawal itu.
"Huh hari pertama ke kampus bukan mendapat banyak teman malah semuanya takut padaku." keluh Stella di setiap langkahnya.
Tanpa sengaja Stella menabrak seseorang, hingga dirinya hampir saja terjatuh, dengan cekatan pria tampan itu menangkap tubuh Stella, membuat pria itu terpesona pada pandangan pertama saat melihat kecantikannya.
"Ah maaf Kak." Stella langsung menjauhkan dirinya dari tubuh pria asing itu.
"No problem, you are not from here?" pria itu menatap Stella lekat.
"Yes I'm here to continue my education." Stella berfikir pria asing itu memang tidak bisa bahasanya.
"Ohh, nama ku Albert, senang bertemu denganmu." Albert pergi begitu saja saat ponselnya tiba-tiba berdering.
"Hah dasar pria aneh." umpat Stella, ia melanjutkan langkahnya menuju mini mart.
__ADS_1
Bersambung...