Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Om Damien Mine 21


__ADS_3

Selepas kepulangan Ansel dan kedua wanitanya, Damien di bantu oleh rekannya membubarkan para wanita sexy yang sudah di bayar untuk menemani mereka, Damien dan rekan lainnya memilih tidur di markas, tidak mungkin bukan Damien membiarkan mereka menginap di mansion Ansel dalam keadaan mabuk berat.


Tujuan Damien juga ingin menjaga jaraknya dengan Stella, ia tidak akan bisa mengontrol dirinya jika Stella mendekatinya di depan orang tua gadis itu.


Waktu terus berlalu hingga pagi hari tiba, kini terhitung dua hari Damien berada di kota A, pagi-pagi sekali di depan markas berhenti satu box mobil catering yang berisi banyak nasi kotak, tentu saja makanan itu pesanan Ansel.


"Wah tahu saja kalau kita lapar, ayo cepat kita bantu turunkan." ucap Garvin yang melihat mobil itu lebih dulu.


Hanya beberapa rekan anggota Rick Devil yang membantu, sementara yang lain banyak yang masih tidur.


Di tempat lain


Selang beberapa jam Damien dan rekan-rekannya berhasil kabur, Derward mendapatkan kabar jika pria tua yang sempat ia sekap kini sudah tidak bernyawa lagi, rasa sakit yang berada di lengannya terbayar impas dengan kematian Papa Damien, begitu juga dengan Calista, wanita itu langsung memberikan kecupan mautnya pada Derward.


"Thanks, kau sudah menepati janjimu." ucap Calista setelah melepas pagutannya, wanita itu tidak sama sekali malu pada Dokter yang tengah mengobati luka tembak suaminya.


"Yes baby, aku melakukan semua ini agar tidak kehilangan dirimu, tapi sebenarnya musuh ku yang sesungguhnya ialah kelompok gangster Damien dan Ansel, mereka yang harus aku musnahkan."


"Of course, musuhmu musuhku juga." ucap Calista sembari tersenyum menyeringai.


Tiba-tiba Calista terbayang-bayang wajah putrinya, bagaimana jika Damien dan Ansel mengetahui jati diri Arrabel, apa mereka akan membunuh Arrabel juga, sekejam-kejamnya seorang Ibu pasti terbesit rasa cinta di dalam hatinya.


"Derw, bisakah kamu menyuruh putramu pulang agar bisa menjaga Arrabel?"


"Sejak kapan seorang Calista menghawatirkan putrinya?" ejek Derward.


"Jawablah, jangan membuatku marah." geram Calista.


"Oke baby, aku akan menyuruh Albert pulang sesuai permintaanmu." Derward mentoel hidung mancung Calista.


Albert ialah putra angkat Derward, sebelum menikah dengan Calista Derward sudah mengangkat Albert kecil sebagai putranya, Albert ialah salah satu putra dari sahabat Derward yang dulu terbunuh oleh anggota Red Blood saat bertugas, pria kecil itu hidup semata wayang tanpa keluarga, ibunya sudah lama meninggal saat melahirkannya, sebab itulah Derward mau mengangkatnya sebagai anak.


Kini Albert berada di America, ia di tugaskan Papanya untuk memperluas wilayah dan memperbanyak anggota.


Pulau kecil yang tadinya sepi kini menjadi ramai saat kedatangan dua kapal yang isinya para anggota Cartel, semua orang turun dari kapal bergegas menuju markas, di sepanjang langkah mereka banyak mayat yang tergeletak bersimbah darah.


"Brengsek, hebat juga mereka." reaksi Dru saat menatap beberapa mayat yang tergeletak di sepanjang jalan.


Dru dan rekan-rekannya yang jumlahnya ribuan orang itu kembali melangkah menuju markas, dimana Derward dan istrinya berada.


"Gent.." panggil Dru pada Derward.


Hanya Dru yang berani memasuki ruangan pribadi Derward, sementara yang lain berada di ruang tamu.


"Kamu terluka?" tanya Dru ketika menatap luka perban Derward.


"Hanya sedikit, kamu datang bersama siapa?" Derward melangkah keluar meninggalkan ruangan pribadinya di susul Dru, sementara Calista tetap memilih berada di dalam.


"Semuanya." jawab Dru.


Di ruang tamu saat ini terlihat seperti lautan manusia, semuanya memilih beristirahat, saat dirasa tidak ada tugas penting yang harus mereka kerjakan.

__ADS_1


"Astaga, kenapa mereka tidur disini, lihatlah mereka seperti ikan asin yang di jual di pasar-pasar, hahaha." Derward tertawa saat mendengar ucapannya sendiri.


Sementara Dru mengeleng, sepertinya Derward tidak sama sekali memiliki beban, setelah mendapati markas rahasianya di datangi oleh musuh.


Kedua pria itu mendudukan dirinya di sofa ruang keluarga. "Apa rencana kita selanjutnya?" tanya Dru.


"Anggota Black Wolf dan Red Blood cukup kuat, beberapa kali rekan kita menyerang, beberapa kali pula mereka bisa melawan, bahkan incaran kita tidak pernah bisa kita dapatkan." yang di maksud Derward incaran ialah ketiga anak Ansel.


"Ya kau benar, oh ya bukankah kita masih memiliki musuh yang harus kita balas, siapa nama gangster satunya lagi?"


"Jevarck." jawab Derward, ia diam sejenak kemudian kembali melanjutkan ucapannya. "Sebenarnya aku ingin menghancurkan mereka secara bertahap, tapi sepertinya kita akan kesulitan melakukannya." Derward sebenarnya bimbang terlalu banyak musuh yang harus di musnahkan, dia pernah berfikir bagaimana jika ketiga anggota itu bergabung, apa Cartel bisa membunuh mereka semua.


"Ya Jevarck, dimana keberadaan mereka sekarang?" tanya Dru.


"Mereka ada di negara ini, semuanya sudah berkeluarga." jawab Derward.


Mereka terus membahas tentang musuh mereka, hingga tanpa sadar matahari mulai terbenam.


"Sudah malam, bahkan kita belum mandi." Derward beranjak dari duduknya menuju ruangan pribadinya, sementara Dru juga beranjak menuju kamar pribadi miliknya, hanya Dru dan Derward yang memiliki kamar pribadi, sementara yang lain saling berbagi, di dalam satu kamar terdapat 6 orang di dalamnya.


Selepas makan malam, Derward mendapat kabar dari Dru, jika kedua musuhnya bersatu untuk mengalahkannya, bahkan mereka memiliki marga baru untuk bisa memperluas jaringan mereka, hal itu membuat Derward murka, pria itu harus memikirkan rencana secara matang untuk bisa melumpuhkan musuh-musuhnya, menginggat beberapa kelompoknya yang berada di luar negeri masih menjalankan misi merebut wilayah kekuasaan, membuat dirinya tidak bisa menjalankan misi pentingnya untuk menghancurkan ketiga musuhnya, apalagi kedua musuhnya sekarang sudah menjadi satu kelompok, hal itu membuat Derward harus memperkuat kembali sistem perlawanannya.


"Dump it, sepertinya mereka ingin sekali menghancurkan ku." umpat Derward.


"Gent, kita harus mempersiapkan diri untuk melawan mereka." ucap Dru.


"Tenang saja putra ku besok akan datang, aku serahkan semua masalah ini padanya." ucap Derward tersenyum menyeringgai.


Hari berganti begitu cepat, kini saatnya Damien membawah Stella kembali ke negaranya, tinggal bersama kedua orang tua gadis yang di cintainya, membuat Damien tidak leluasa berduaan dengan Stella, karena Bella layaknya cctv yang tak pernah lepas dari aktifitas ketiga buah hatinya.


Kesedihan dan kebahagiaan Stella bercampur menjadi satu saat Stella akan menaiki pesawat, pelukan dan dekapan hangat Stella berikan kepada semua keluarganya, hari ini kedua Oma dan Oppanya tidak bisa ikut mengantarkan Stella, karena terkendala kesehatan.


Pesawat sebelumnya sudah berangkat satu jam yang lalu, tentu saja di dalamnya berisi rekan-rekan Damien.


"Dam aku titip putriku, jaga dia sebaik mungkin." pesan Ansel sembari menepuk pundak Damien.


"Tanpa kamu suruh aku akan menjaganya, benar kan Bell." goda Damien sembari tersenyum, Bella menangapinya dengan senyuman pula.


Melihat interaksi keduanya, membuat sorot mata Ansel berubah tajam." Sudah pergi sana." usir Ansel sembari mendorong keras tubuh Damien.


Damien tertawa mengejek, lalu berjalan memasuki pesawat menyusul Stella yang sudah masuk lebih dulu.


Perpisahan kembali terulang, tapi kesedihan yang dirasakan Bella dan kedua twins tidak sedalam dulu.


"Mari kita pulang." ajak Ansel pada keluarga kecilnya.


Mereka pun pulang setelah pesawat benar-benar menghilang.


Damien sengaja menaiki pesawat hanya berdua saja, sementara Robby ia suruh bergabung di penerbangan sebelumnya, rasa rindu yang mengunung membuat kemesuman pria itu semakin merajalela.


"Sayang." panggil Damien.

__ADS_1


"Heemmm." Stella lebih memilih bersandar memejamkan matanya.


"Kamu tidak merindukan ini." ucap Damien sambil menunjuk bibirnya.


Mendengar perkataan kekasihnya yang ambigu, membuat Stella memaksa membuka matanya.


"Merindukan apa Om?" tanya Stella sembari menegakkan tubuhnya.


"Ini.." Damien kembali menyentuh bibirnya.


Melihat tingkah mesum sang Om membuat pipi Stella bersemu merah, gadis itu hanya menunduk malu, tanpa mau menjawab ucapan Damien.


"Lihat aku." suruh Damien, Stella pun mendonggak menatap manik matanya.


"Mulai detik ini panggil Om dengan panggilan spesial, jangan memanggil Om lagi."


Tentu saja permintaan Damien membuat hati Stella seketika berbungga.


"Boleh Om? bagaimana kalau aku memanggil mu Hubby." ucap Stella dengan wajah berbinar, ia ingin seperti teman-temannya yang memanggil pacarnya dengan panggilan kesayangan.


"Heemm boleh juga, coba panggil aku ingin mendengarnya." pinta Damien.


"Hubby cayangku." Stella mencubit kedua pipi Damien dengan gemas.


Tanpa permisi Damien langsung memegang tengkuk kekasihnya, melabuhkan bibir sexynya ke bibir Stella yang semerah buah cerry, Damien dengan agresif mengulumnya, sementara Stella berusaha mengimbanginya, setelah keduanya sama-sama kehabisan nafas, Damien pun melepas pagutannya, kerinduannya selama 5 hari ini terbayar sudah.


"Kenapa pipimu memerah?" Damien mengapit kedua pipi Stella.


"Ah tidak by, aku hanya mengantuk." elak Stella sembari menguap.


Damien menahan senyum, alasan Stella sangat tidak masuk akal, mana ada orang mengantuk yang memerah pipinya bukan matanya, ia pun menarik kepala Stella agar bersandar di pundaknya.


"Tidurlah.." pinta Damien.


Stella mengangguk, ia pun mulai memejamkan mata, tidak lama gadis itu terlelap di pelukan Damien.


Perjalanan yang cukup jauh membuat kedua orang ini sedikit kelelahan, saat ini pesawat berhasil mendarat di landasan pribadi milik Damien, tanpa membangunkan gadisnya, Damien mengendong tubuh kekasihnya ala koala menuju mobil, di mobil sudah ada Robby yang menunggu keduanya, melihat Tuannya mengendong keponakannya, Robby langsung keluar dari mobil, dengan sigap ia membantu Tuannya tapi di tolak oleh Damien, dengan susah payah Damien memasuki mobil, ia memangku tubuh kekasihnya layaknya seorang bayi, mobil pun mulai melaju menuju mansion.


Tidak lama mobil Damien terparkir di bagasi, Robby segera turun membukakan pintu untuk Tuannya, dengan berhati-hati Damien membawah kekasihnya menuju kamar milik Stella, sebelum pergi ia mencium puncak kepala kekasihnya.


"Sepertinya dia benar-benar lelah." ucapnya dengan pelan sembari mengelus rambut Stella, Damien pun beranjak meninggalkan kamar Stella.


Damien menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar milik almarhum sang Papa, wajah yang dari tadi berbinar kini berubah senduh saat menginggat sang Papa, ia merasa belum bisa membahagiakan Papanya, bahkan permintaan Papa Daniel yang menyuruhnya untuk segera menikah masih terngiang-ngiang di telingganya.


Damien mencoba menguatkan hatinya, ia memilih memasuki kamar pribadi Papanya, mungkin rasa rindunya akan sedikit terobati, saat pintu itu terbuka, suasana yang penuh dengan kehangatan masih dirasakan oleh Damien seperti sebelumnya, saat sang Papa belum meninggalkannya.


"Maafkan Damien Pa, Dam sudah membuat Papa kecewa, dengan lancangnya Dam mencintai cucu Papa Stella." monolog Damien sambil meraba foto sang Papa, seketika mata elang itu meneteskan airmata.


Damien mendudukan dirinya di sisi ranjang, tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang berada di atas nakas.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2