Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Tidak Mau Berharap Lebih


__ADS_3

Ansel tidak mungkin mengiyakan selama dirinya belum meminta izin pada istrinya.


"Aku ke toilet dulu Cal." pamit Ansel, dirinya hanya beralasan agar bisa menemui istrinya di kamar.


Calista mengangguk, Ansel berjalan santai masuk ke dalam, baru setelah sampai di tangga ia berlari ingin cepat-cepat melihat keadaan istrinya.


Pintu Kamar terbuka, terlihat kamar sudah seperti lautan tisu, istrinya tidur tengkurap dengan bahu tergoncang, Ansel tahu jika saat ini istrinya sedang menangis, ia berjalan mendekat menepuk punggung Bella pelan membuat wanita yang sedang galau itu terperanjat kaget.


"Istriku jangan menangis, kamu salah faham." ucap Ansel duduk di sisi ranjang.


Bella masih diam tidak bersuara.


"Kedua orang tua Calista di bunuh oleh musuhku." ucap Ansel terasa sangat berat saat mengucapkannya.


Bella seketika bangun, apa dia tidak salah dengar.


"Maksudmu orang tuanya di bunuh Jevarck?" tanya Bella, kesedihannya seketika menghilang berganti menjadi rasa penasaran.


"Bukan Jevarck tapi kelompok gangster lain." jawab Ansel dengan menghembuskan nafas kasar.


"Lalu..?" tanya Bella.


"Bolehkah dia tinggal disini untuk sementara?" tanya Ansel balik.


"Silahkan ini rumahmu." ucap Bella tidak perduli.


"Tapi.." ucapan Ansel tertahan.


"Tapi apa?" tanya Bella mengernyitkan dahi.


"Aku sudah terlanjur bilang padanya, jika kamu kerabatku." jawab Ansel.


Bella diam matanya kembali perih, tidak jangan jangan tunjukkan kelemahanmu, suasana seketika menjadi hening, Ansel terdiam menunggu jawaban istrinya.


Bella mengangguk-anggkukkan kepalanya, oke sudah cukup sebelum cintanya terlalu dalam dia tidak mau berharap lebih, tanggisan ini mungkin akan menjadi tanggisan terakhirnya menangisi seorang pria.


"Bukan aku yang harus bertekuk lutut di hadapan pria, tapi pria yang harus bertekuk lutut di hadapanku." batin Bella.


"Oke jika itu pilihanmu." ucap Bella beranjak dari ranjang ia memungguti tisu yang berserakan di lantai.


"Kamu tidak mengapa kan istriku?" tanya Ansel.


"Apa hak ku melarangmu." ucap Bella kembali mendudukkan dirinya di ranjang.


"Kamu istriku, kamu berhak melarangku." ucap Ansel tidak suka melihat sikap Bella seakan cuek jika dirinya berdekatan dengan wanita lain, apa dia tidak cemburu, lalu apa yang ia lihat tadi, kamar sudah seperti lautan tisu.


"Apa kamu punya alasan untuk bisa menolaknya?tidak kan, jadi terserahmu aku tidak perduli." ucap Bella, ia lebih memilih membaca novel dari pada menatap suaminya.

__ADS_1


Ansel sangat kesal mendengar perkataan istrinya, ia juga tidak punya pilihan lain.


"Ya sudah aku keluar dulu untuk menemuinya." ucap Ansel.


"Oke aku akan bereskan barangku, tidak mungkin kan kita tidur di dalam satu kamar." ucap Bella.


Ansel meraup wajahnya kasar, fikirannya nampak kacau hari ini, dirinya hanya bisa mengiyakan ucapan istrinya dan menjauh pergi dari kamar.


"Huuufft" terdengar helaan nafas dari Bella.


"Ah sudahlah kita lihat saja nanti." ucap Bella pasrah.


Di ruang tamu Calista masih melamun, lamunannya buyar saat mendengar derap langkah kaki Ansel.


"Lama sekali kamu?" tanya Calista.


"Iya perutku sakit." jawab Ansel berbohong.


"Kamu boleh tinggal disini, tapi setelah keadaan aman kamu bisa pergi." ucap Ansel.


Calista tersenyum senang, akhirnya dia bisa selalu berdekatan dengan Ansel, perasaan yang lama terpendam tidak mampu Calista bendung pada teman masa kecilnya ini.


"Terima kasih Sel." ucap Calista memeluk Ansel dengan erat.


Tangan Ansel mengantung dia tidak ingin membalas pelukan Calista.


"Kamu bisa tidur di sini." ucap Ansel membuka pintu kamar tamu yang cukup luas.


"Baiklah terima kasih." ucap Calista.


"Beristirahat lah!" ucap Ansel ingin keluar dari kamar.


"Tunggu .." panggil Calista.


Ansel berbalik. " Ada apa..?" tanya Ansel.


"Aku tidak membawah baju sama sekali." jawab Calista.


"Tenang saja, biar nanti orangku yang akan mengambilkannya." ucap Ansel.


Calista mengangguk, Ansel pun pergi meninggalkan kamar tamu tidak lupa menutup pintu.


Ansel berlalu menuju kamarnya, saat Ansel membuka pintu kamar nampak kosong sepertinya Bella sudah berpindah kamar.


Helaan nafas berat lolos di bibirnya.


"Kenapa jadi seperti ini." monolog Ansel membanting tubuhnya di sofa.

__ADS_1


Lama Ansel melamun seketika ia menginggat adiknya Arka.


"Shiiitt." umpat Ansel.


Ansel bergegas mengambil ponselnya, mengirim chat pada adiknya jika Arka harus berpura-pura menganggap Bella seperti kerabatnya, ia juga bercerita apa alasan ia melakukan hal itu, Arka mengiyakan saja.


Sore hari sudah berganti malam, saat ini semua sudah berada di meja makan kecuali Bella, Ansel di buat gelisah, kenapa istrinya tak kunjung keluar?apa dia marah?, semua pertanyaan berputar di kepala Ansel.


Calista duduk tepat di samping Ansel, " Apa kerabatmu tidak ikut makan?" tanya Calista membuyarkan keheninggan di meja makan.


Tidak lama Bella keluar dengan memakai baju sexy, bajunya tidak sexy sih tapi karena Bella yang memakainya nampak terlihat sexy, tubuh elok yang lama dia sembunyikan di balik baju big size kini memancarkan kecantikannya.


Mata Arka tidak berkutik saat melihat Kakak Iparnya terlihat sangat cantik malam ini, begitu pun juga dengan Ansel.


"Malam Bell.." ucap Arka pada Kakak Iparnya.


"Malam.." ucap Bella tersenyum manis.


Coba tebak bagaimana wajah Ansel sekarang, mata elangnya menusuk ke arah lawan, bibirnya manyun 10cm belum tangan yang sudah biasa membinasakan lawan itu menggengam erat, mungkin sekali pukulan saja membuat lawannya pingsan.


Bagaimana dengan Arka? jawabannya whatever, ya dia tidak perduli dengan Kakaknya, Arka berfikir jika Kakaknya ini terlalu bodoh, memasukkan ular di sangkar seekor naga.


Arka berdiri mempersilahkan Bella untuk duduk di sampingnya.


"Duduk disini Bell!" suruh Arka.


"Terima kasih." ucap Bella.


"Manis sekali, kalian berdua sangat cocok." ucap Calista, ia tidak tahu jika apa yang dia ucapkan membuat orang di sampingnya kebakaran jenggot.


"Benarkah Kak, wah aku minat sekali." seru Arka tersenyum memandang wajah Bella.


"Kalian mau makan apa arisan?" tanya Ansel, dirinya muak sekali mendengar ucapan adiknya.


"Santai dong Sel, ya sudah kita mulai makan." ucap Calista.


Ansel terpaksa mengambil makanannya sendiri, tiba-tiba Ansel harus mendengar hal memuakkan lagi dari Arka.


"Bel tolong ambilkan dong!" suruh Arka memberikan piring kosong pada Bella.


Bella pun berdiri melayani Arka, membuat pria di hadapan mereka mengelatukkan giginya.


Suara sendok milik Ansel terdengar paling nyaring, ia jadi kesal pada dirinya sendiri, ternyata mengijinkan Calista tinggal di rumahnya adalah kesalahan besar.


Makan malam pun usai semuanya pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat, padahal Calista masih ingin mengobrol dengan Ansel tapi malah Ansel pamit lebih dulu.


Di tengah malam wanita cantik tertidur lelap di bawah selimut tebalnya, berbeda dengan pria tampan ini dia tidak bisa menutup matanya karena otaknya terusik dengan kejadian di meja makan tadi.

__ADS_1


Dukung aku ya kak jangan lupa kasih like,vote dan komen Author tunggu🥰


__ADS_2