Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Extra Part 2


__ADS_3

Tidak di sangka-sangka sepulang dari markas, Ardolp dan tiga rekannya di halau oleh musuh, untung saja mereka membawah senjata tajam, senjata berupa pisau lipat dan pistol selalu mereka bawah untuk berjaga-jaga, keempatnya saat ini sudah berada di dalam mobil, mobil melaju membelah jalanan kota A menuju mansion milik Ardolp.


"Nanti sore ada even road race di gelar, kalian tidak tertarik untuk melihatnya?" tanya Kaya.


"Benarkah, kenapa aku tidak tahu." jawab Grisham.


Ardolp berfikir apa salahnya menonton, pasti pertandingannya seru, lagi pula mereka juga tidak ada pekerjaan.


"Kita kesana nanti sore, kalian semua wajib ikut." ucap Ardolp tiba-tiba.


Ketiga rekannya terkejut, tumben Ardolp mau membuang waktunya untuk melihat even seperti ini, tentu saja jawaban dari Ardolp membuat ketiga rekannya berwajah cerah.


"Siap Bos." ucap ketiganya serempak.


Di Mansion Ansel


"Rin saya mau ke kantor mengantar bekal makan siang untuk Tuan, kalau ada tamu cepat kabari ya." dua bekal sengaja Bella bawah untuk suaminya dan Revan.


"Baik Nyonya."


Siang ini Bella membawah mobil sendiri, tentunya Bella memakai salah satu koleksi mobil milik suaminya, saat mata itu sibuk mencari mobil yang cocok untuknya, tidak sengaja Bella melihat dua motor sport berwarna merah dan kuning yang menarik perhatiannya.


"Wow kenapa aku tidak tahu kalau suamiku memiliki motor sport sekeren ini." Bella tersenyum ingatan tentang masa mudanya yang diam-diam ikut road race terbayang di kepalanya.


Bella menatap jam yang melingkar di tangannya, dia sampai lupa harus cepat-cepat ke kantor, rencananya sepulang dari kantor mereka berdua akan mengambil Stella di rumah Mama Eva.


Tidak menunggu lama Bella memilih mobil sport berwarna kuning, kunci sudah di tangannya, mobil pun melaju menuju Perusahaan Guinandra.


Wanita cantik beranak satu ini, mencoba skillnya mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, untung saja jalanan siang ini tidak terlalu ramai, hanya butuh waktu 15 menit Bella sudah berada di gedung parkir Perusahaan Guinandra.


"Selamat siang Bu." Security di depan kantor menyapa Bella dengan sopan.


Bella hanya menjawabnya dengan anggukan kepala serta senyuman manis menghiasi bibirnya, semua karyawan yang berpapasan dengan Bella serempak memberi hormat.


Hampir 2 menit berada di lift, akhirnya Bella sampai juga di depan ruangan Ceo.


'Tok Tok Tok..' Bella mengetuk pintu sebelum masuk.


"Masuk." suara bariton dari Ansel terdengar dari dalam.


Bella tersenyum, tangan lentik itu mendorong handel pintu, hingga pintu terbuka, di lihatnya sang suami sibuk memeriksa berkas yang menumpuk di atas mejanya, padahal sudah hampir jam makan siang, tapi pekerjaan Ansel masih terlihat banyak.


"Ehem." demenan Bella membuat Ansel mendonggak.


"Sayang, aku kira Revan yang datang." Ansel tersenyum, ia beranjak menghampiri istrinya yang terlihat sangat cantik siang ini, tangan kekar itu memeluk pinggang sang istri dengan posesif, ia menarik tangan Bella mengajaknya duduk di sofa.


"Aku bawahkan dua bekal untuk mu dan Revan."

__ADS_1


"Terima kasih sayang." Ansel mencium bibir Bella sekilas.


Ansel menatap jam yang melingkar di tangannya, sudah waktunya jam makan siang tiba.


"Sebentar sayang, aku panggil Revan dulu."


Bella hanya mengangguk, Ansel menekan intercom, ia menyuruh Revan untuk segera keruangannya, tidak lama terdengar bunyi ketukan pintu dari luar.


'Tok Tok Tok..'


"Masuk.."


Saat Revan masuk, ia tidak sengaja melirik istri dari bosnya, hal itu membuat penyakit Ansel tiba-tiba datang.


"Mata mu melihat apa ?" ucap Ansel dingin.


"Maaf Pak." ucap Revan dengan gugup.


Bella mengeleng sikap suaminya selalu sama, sikap posesifnya datang tidak pandang tempat.


"Revan ini makan siang untukmu." Bella berdiri memberikan bekal berwarna biru pada Revan.


Revan menerimanya dengan senang hati. "Terima kasih Bu." ucap Revan tersenyum.


"Sudah sana pergi, tidak usah memamerkan senyum buaya mu itu." ucap Ansel.


Selepas Revan keluar, sepasang pasutri ini kembali ke sofa, seperti biasa Bella harus menyuapi bayi besarnya yang manja, sesekali Bella juga ikut makan walaupun sesuap dua suap, karena sebelum pergi ke kantor Bella sudah mengisi perutnya.


"Suamiku, sejak kapan kamu memiliki dua motor sport?" tanya Bella sembari menyuapi bayi besarnya.


"Kamu melihatnya?"


Bella mengangguk. "Sudah lama motor-motor itu berada di bagasi, hanya untuk koleksi saja sayang." ucap Ansel.


Jam makan siang sudah lewat, Ansel menyuruh Bella untuk istirahat di ruangan pribadinya sembari menunggu jam pulang kantor tiba.


Waktu terus berputar, tak terasa sudah waktunya untuk pulang, Ansel bergegas membereskan mejanya, dan membangunkan istrinya yang masih terlelap.


"Sayang, ayo kita pulang." bisik Ansel di telingga Bella, membuat sang pemilik terganggu.


"Jam berapa ini?"


"Hampir jam 4 sayang." Ansel memeluk istrinya, sesekali mengendus aroma Bella yang membuatnya tenang.


Bella menginggat sesuatu hal, dia memberanikan diri bicara dengan suaminya. "Suamiku sore ini ada even road race loh."


Ansel mengernyit. "Lalu..?" tanya Ansel.

__ADS_1


"Aku ingin kesana." Bella menggigit bibir bawahnya, tidak seharusnya memang ibu satu anak ini menginginkan sesuatu hal yang tidak penting.


Ansel menatap istrinya lekat-lekat, sejak kapan Bella menyukai hal semacam itu.


"Kamu serius?" tanya Ansel.


"Iya."


"Baiklah nanti malam saja kita menyusul Stella." Ansel beranjak dari ranjang.


"Tapi.." ucap Bella menggantung.


"Tapi kenapa sayang." Ansel berbalik menghampiri istrinya.


"Aku ingin membawah motor sport kuning milikmu."


Ucapan Bella membuat Ansel terkejut, apa benar istrinya bisa membawah motor sebesar itu, Ansel tidak ingin menanggung resiko yang membuatnya menyesal.


"Tidak tidak, kamu bonceng aku saja."


"Please.." Bella menunjukkan wajah pupy eyes andalannya.


"Tapi kamu benar-benar bisa membawahnya bukan?" tanya Ansel tidak percaya.


"Bisa jangan kawatir."


"Baiklah." Ansel mengalah, percuma melarang istrinya yang keras kepala ini, sesulit apapun Ansel membujuk tetap saja jawabannya sama.


Bella beranjak dari ranjang, pelukan hangat ia berikan pada suaminya.


"Terima kasih sayang." bisik Bella.


Ansel membeku, tidak pernah ia mendengar Bella berucap semanis itu. "Katakan sekali lagi!" suruh Ansel.


"Terima kasih."


"Bukan, bukan yang itu tapi kata yang terakhir." Ansel mengurai pelukan istrinya, ia ingin mendengar sekali lagi panggilan manis yang baru saja Bella ucapkan.


"Sayang." ucap Bella malu-malu.


Karena gemas Ansel langsung menahan tengkuk Bella dan memberikan kecupan mesra sebagai hadiahnya.


"Panggil aku seperti itu saja, panggilan itu lebih manis dari suamiku." Ansel melepas pagutannya.


Bella mengatur nafasnya sebelum menjawab. "Baiklah sayang, ayo kita harus cepat-cepat, mungkin road racenya sudah di mulai." Bella langsung menarik tangan Ansel keluar dari ruangan pribadi suaminya.


Jangan Lupa Dukungannya ya readersđŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2