Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Harus Waspada


__ADS_3

Pagi pun tiba derap langkah seseorang terdengar melangkah ke arah kamar utama, gedoran pintu terdengar lembut membuat pemimpi yang sedang terlelap itu mulai terbangun.


"Ansel, sudah waktunya sarapan." teriak Calista dari luar di barengi ketukan pintu yang semakin keras.


"IYA.." teriak Ansel merasa kesal, semalam dirinya tidak bisa tidur membuat pagi ini enggan untuk bangun.


Calista membalikkan badan, melangkah turun menuju meja makan, pagi ini ia sengaja memasak sarapan untuk menarik perhatian si pemilik Mansion.


Seperti semalam hanya Bella yang belum nampak di meja makan, membuat Ansel celinggukkan menunggu istrinya, tidak lama terlihat Bella berjalan anggun menuju ke arahnya, mata elang itu menatap tajam saat melihat sang istri pagi-pagi begini sudah terlihat rapi, membuat Ansel bertanya-tanya mau pergi kemana istrinya itu.


"Kamu itu tamu, dasar tidak tahu diri." ucap Calista dengan nada tidak suka.


"Sorry.." ucap Bella tidak mengubris ucapan wanita yang hanya numpang itu, alasan Bella untuk diam hanya satu, ia merasa kasihan pada Calista, saat Bella ingin mendudukan dirinya di samping Ansel terdengar tanda pringgatan dari Calista.


"Eh, kamu duduk disana saja." suruh Calista menunjuk kursi di sebelah Arka.


Arka tersenyum saat melihat reaksi Kakaknya yang sempat menjambak rambutnya sendiri, sepertinya Kakak bodohnya ini sudah mulai migren.


Bella mendengus tanpa banyak bicara dia pindah di kursi yang lain begitu saja, tanpa berkata apapun.


Acara sarapan pun berlangsung.


"Bagaimana masakan ku enak bukan?" tanya Calista pada Ansel membanggakan dirinya.


"Lumayan." jawaban Ansel membuat Arka dan Bella menahan senyum, sementara Calista tersenyum kecut, ia sudah bersusah payah memasak malah mendapat nilai lumayan, padahal dirinya tidak sama sekali bisa memasak.


"Coba ini." ucap Calista menyodorkan jamur di depan bibir Ansel.


Ansel masih terdiam, ia menatap istrinya yang cuek membuat jiwa nakalnya meronta-ronta, dengan sengaja ia memanas-manasi istrinya agar cemburu.


"Aaaa.." ucap Ansel melahap jamur dari tangan Calista.


"Hemmm ini enak sekali." ucap Ansel, ia mencoba menatap istrinya yang mulai terlihat kesal.


Di dalam hati Ansel tersenyum, ia berhasil membuat istrinya cemburu.


"Mau kemana Bell, pagi-pagi sudah cantik?" tanya Arka saat mereka sudah selesai sarapan.


"Mau pergi." jawab Bella.


Jawaban Bella membuat rasa percaya diri Ansel tadi hilang entah kemana.


"Kemana? kenapa tidak izin padaku?" tanya Ansel nampak geram.


Arka yang melihat drama ikan terbang live di hadapannya membuatnya malas, ia pun beranjak berdiri untuk pergi ke kantor.


"Aku duluan ya Bell, telpon aku jika ingin di jemput." ucap Arka di sertai senyuman ia pun bergegas pergi.

__ADS_1


Ansel kembali menatap istrinya, Istri yang biasanya penurut ini malah menjadi pembangkang sejak kehadiran Calista di mansionnya.


"Aku ada urusan sebentar." jawab Bella tanpa menatap Ansel.


"Kenapa mengalihkan pandangan? tatap orangnya." ucap Ansel penuh penakanan.


Bella mendengus, ia pun menatap suaminya yang sangat menyebalkan itu.


"Aku ada urusan sebentar." ucap Bella kembali menggulang perkataannya.


Sementara Calista menatap aneh pada Ansel, terlihat dari cara Ansel berbicara jika ia sangat perduli dengan wanita itu.


"Biarkan saja Sel." ucap Calista sewot.


"Biar aku antar." ucap Ansel tanpa memperdulikan Calista.


Seketika Bella tertegun, apa iya dirinya meminta Ansel untuk mengantarkannya ke arena tembak, bisa-bisa di jajah habis dia oleh suami gangsternya.


Ya Bella berencana ingin pergi ke arena tembak, sudah sangat lama ia tidak melatih skillnya.


"Tidak perlu, kamu kan harus segera ke kantor." ucap Bella.


Ansel terlihat gelisah, benar kata istrinya pagi ini dirinya harus menghadiri meeting penting.


"Baiklah setelah urusanmu selesai cepatlah pulang!" suruh Ansel dengan berat hati.


Melihat Ansel sudah pergi, Calista mulai berlagak.


"Hei anak kecil, kamu disini hanya numpang jangan nyusahin." ucap Calista menghentikan langkah Bella yang ingin pergi.


Bella membalikkan badannya," Kalau aku numpang terus kamu apa." ucap Bella, ia lekas pergi tanpa mendengar omelan wanita ular itu.


Bella sudah memesan gojek, ia begitu rindu menaiki gojek langganannya dulu.


"Pagi neng, mau di antar kemana?" tanya gojek.


" Pagi Pak, antarkan ke hitwomen Pak." jawab Bella.


Motor melaju dengan lihainya meskipun jalanan pagi ini cukup macet.


Tidak lama mereka sampai di depan hitwomen, Bella mengambil uang berwarna merah dua lembar, memberikannya begitu saja pada gojek.


"Neng ini kebanyakan." ucap gojek.


"Itu untuk anak bapak." ucap Bella.


Nampak senyum mereka di wajah gojek yang berkulit keriput itu.

__ADS_1


Tanpa di sangka saat Bella mulai melatih kembali skillnya ia harus di kagetkan dengan suara yang terdengar tidak asing di telingganya.


"Bella.." panggil seseorang itu.


Bella menoleh, seketika wajahnya berubah sewot, ia sepertinya tidak suka jika bertemu dengan orang itu.


"Ada apa..?" tanya Bella tetap berlatih.


"Jangan dingin seperti ini, apa ini semua karna suamimu?" tanya Ardolp.


Ardolp anggota Jevarck? ya memang benar, tanpa Bella ketahui jika Ardolp memendam rasa padanya.


"Kenapa kamu bawah-bawah dia?" tanya Bella tidak suka.


Ardolp tersenyum penuh arti, inilah percakapan terpanjang yang pertama kali ia lakukan, jangankan dengan orang asing, dengan rekan-rekannya saja dia sangat irit bicara.


"Kenapa kamu senyum-senyum begitu?" tanya Bella mengernyitkan dahi.


"Tidak mengapa, aku hanya senang bisa bertemu denganmu lagi." jawab Ardolp.


Bella memutar bola matanya malas, ternyata gangster tidak selamanya kaku dan menyeramkan, buktinya ada Ansel suaminya dan sekarang bertambah Ardolp.


"Pergi sana, aku ingin berlatih tidak ingin di ganggu." usir Bella.


Memang si Bella benar-benar, berani sekali ia mengusir gangster sekejam Ardolp.


Ardolp tersenyum menatap wajah Bella yang terlihat semakin cantik.


"Oke, aku akan pergi, satu pesanku untuk mu berhati-hatilah banyak musuh Ansel yang mengincarmu." ucap Ardolp berlalu pergi.


Bella mematung, apa benar yang di katakan Ardolp tadi bahwa musuh Ansel mengincarnya, Bella berusaha setenang mungkin, untuk apa kawatir yang harus di kawatirkan justru Calista bukan dirinya.


Ia sudah ahli dalam segala hal staminanya masih tetap sama selalu energic, tapi tetap Bella juga harus waspada.


Bukan hanya ke arena balap, seharian ini Bella menggempur staminanya dengan berolahraga, sudah lama dia tidak nge gym, badan sebagus dan seindah itu, stamina yang mumpuni dapat dari mana jika bukan dengan berlatih dan berolahraga.


Di mansion Bella semuanya ada, dari usia 15 tahun ia berteman dengan gym, maka tidak bisa di ragukan lagi jika wanita pewaris keluarga ini begitu hebat dalam segala hal, tidak hanya cantik dan cerdas tapi Bella juga bisa di juluki sebagai wonder woman.


Waktu terus berputar, tidak terasa sore hari pun tiba, Bella bergegas untuk pulang.


'Huuuufft'


Helaan nafas keluar dari bibir Bella saat menginggat Calista, semenjak wanita itu tinggal di mansion suaminya, jarak antara dirinya dan Ansel mulai merenggang, mansion yang awalnya penuh dengan cinta sekarang malah berwujud neraka.


Jangan lupa dukungannya🄰


Lope-lope untuk pembaca😘

__ADS_1


__ADS_2