Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Ardolp Murka


__ADS_3

Sepasang pasutri ini belum bertegur sapa hingga waktu makan malam tiba.


"Sayang ayo kita makan malam dulu." terdengar teriakan Mama Tia dari luar kamar.


"Iya Ma .." teriak Ansel.


Ansel berdiri dari ranjang, sedangkan Bella masih asik dengan bukunya.


"Kita makan malam dulu, aku tunggu di bawah." Ansel berbicara tanpa menatap istrinya.


Ansel turun terlebih dulu meninggalkan Bella di dalam kamar.


"Kita lihat saja nanti siapa yang akan kalah." monolog Bella.


Bella beranjak dari ranjang, ia ikut turun.


"Malam Ma ." Bella mencium pipi kedua Mamanya.


"Malam sayang." jawab kedua wanita parubaya itu serempak.


"Pa.."


Papa Tio langsung memeluk putrinya, ia baru tahu jika putrinya sudah ditemukan.


"Kamu baik-baik saja sayang?" tanya Papa Tio.


"Bella baik-baik saja Pa.."


"Syukurlah nak, kami semua sangat menghawatirkanmu." tambah Papa Robert.


"Kakak Ipar ." sapa Arka.


Bella hanya tersenyum, ia pun melayani semuanya seperti biasa.


Makan malam pun berjalan dengan hikmat, makanan di meja makan pun tandas tak tersisa, rencananya besok pagi Papa Tio dan Mama Eva akan pulang ke mansion mereka.


Semuanya saling bercakap setelah selesai makan, sedangkan Ansel pamit ke kamar lebih dulu meninggalkan Bella, membuat semuanya saling pandang.


"Suamimu kenapa sayang, apa kalian bertengkar?" tanya Mama Eva.


"Tidak Ma dia hanya kelelahan." Bella tidak ingin masalah rumah tangganya di ketahui oleh keluarga.

__ADS_1


"Oh ya Kakak Ipar, aku lihat mobil Kak Ansel kaca belakangnya pecah, kenapa?" tanya Arka.


Semuanya terkejut, pandangan mereka serempak tertuju pada Bella, Bella binggung harus mencari alasan apa, ia tidak ingin semuanya menjadi kawatir.


"Tadi ada orang tidak sengaja melempar batu mengenai kaca mobil." Bella terpaksa berbohong.


"Ohh.." ucap semuanya serempak.


"Bella ke kamar duluan ya." pamit Bella kepada semuanya.


Bella berjalan cepat menuju kamar, ia akan menjalankan aksinya, di bukanya pintu kamar terlihat Ansel tengah bersandar di ranjangnya dengan memegang laptop, Bella masuk ia mencoba melirik suaminya yang terlihat sibuk sendiri dengan laptopnya.


Bella berjalan ke arah wardrobe dia memilah-milah baju yang menurutnya sexy, di ambilnya cosplay kostum sailor, ia pun memakainya.


"Lihat saja nanti." Bella tersenyum penuh arti.


Bella berdiri di depan cermin, ia melihat pantulan dirinya yang terlihat perfect, laki-laki mana yang tidak tergoda saat melihat pemandangan indah seperti ini.


Ansel saat ini masih sibuk dengan laptopnya, terdengar suara langkah kaki mendekat, ia semula menatap ke arah wardrobe, hanya sekilas saja mata Ansel kembali menatap ke arah laptop, dia masih sangat kesal dengan istrinya.


Tidak lama Bella datang, ia berjalan berlenggak-lenggok menuju ranjang, awalnya Ansel tidak tertarik menatap istrinya, tapi saat mata itu mulai melirik, seperti ada magnet yang menariknya, hawa panas mulai mengelayuti tubuhnya.


"Brengsek, dia mengodaku." batin Ansel, tubuh Bella bak lem perekat hingga mata Ansel hanya fokus pada tubuh molek itu.


Melihat pemandangan indah disampingnya membuat Ansel tidak berdaya, ia jadi gusar sendiri tak tahan melihat betis mulus istrinya, Ansel mulai mendekat.


"Sayang.." panggil Ansel.


Hintungan Bella hanya sampai angka lima, suaminya sudah mulai kepanasan, Bella masih diam, senyumannya mengembang ternyata rencananya berhasil.


Ansel menarik Bella agar menghadap ke arahnya.


"Sayang, maafkan aku."


"Kenapa meminta maaf, bukankah aku yang salah." Bella pura-pura kesal.


"Kamu tidak salah, aku yang membesar-besarkan masalah." mata elang itu mulai berkelana dari ufuk timur hingga ke ufuk barat.


"Baiklah aku maafkan." Bella menahan tawa sebisa mungkin, melihat wajah Ansel yang sedang ingin, itu sangat terlihat lucu menurutnya.


"Kenapa kamu memakai baju seperti ini, kamu ingin mengodaku." bisik Ansel.

__ADS_1


"Aku hanya ingin memakainya."


Ansel sudah tidak tahan, ia merampas bibir istrinya tanpa ampun, hingga perbuatannya berujung pertarungan senggit di atas ranjang.


Malam ini menjadi malam panjang untuk keduanya, kemarahan yang semula menganjal hati, kini Ansel curahkan pada kegiatan panas yang penuh dengan peluh.


Disisi lain Ardolp sangat murka mendengar Bella hampir celaka karena ulah rekan-rekannya, para rekan dari anggota Jevarck melakukan penyerangan terhadap Black Wolf tanpa seizin dari Ardolp, para rekan-rekan Jevarck merasa jika Ardolp begitu lelet atau ada hal lain yang membuat keempat nyawa Jevarck itu masih tidak menyusun rencana untuk menghancurkan Black Wolf.


"Kenapa kalian melakukan penyerangan tanpa seizin dariku." teriak Ardolp.


Di sebuah gedung gosong Ardolp mengumpulkan rekan-rekan Jevarck disana, terhitung jumlahnya lebih dari 300 orang yang ikut melakukan penyerangan kemarin, mereka membagi kelompok mereka menjadi 20 kelompok, satu kelompok mendapat jatah masing-masing satu orang.


"Karena kalian tidak kunjung menyusun rencana, malah sibuk mencari wanita itu." jawab salah satu dari mereka.


Ardolp berjalan menghampiri rekannya, satu bogeman telak mendarat di pipi rekannya itu, hingga membuat yang lainnya diam tak berkutik.


"Kalian jangan asal main menyerang, aku minta mulai detik ini, siapa yang tidak mau mengikuti aturan kelompok kita, silahkan keluar dari sini." teriak Ardolp.


Di bekalang beberapa orang saling pandang, ada sekitar 50 orang yang berani keluar dari tempat itu, saat Kaya ingin menghalau mereka Ardolp menahannya.


"Biarkan saja." Adrolp membiarkan mereka pergi.


Bukan apa-apa Ardolp juga menghawatirkan semua rekan-rekannya, jika saja penyerangan rekannya pada Black Wolf di ketahui oleh pihak berwajib, maka bubar sudah kelompok gangster yang sudah lama Ardolp dirikan.


Musuh juga tidak mungkin melaporkan mereka, karena para gangster sangat anti dengan hukum.


Setelah 50 orang keluar, tidak ada yang berani bicara atau bergerak saat ini, semuanya hanya menunduk.


"Aku juga menghawatirkan kalian, melakukan penyerangan harus dengan rencana yang matang, jangan sampai ada kelalaian di dalamnya yang bisa merugikan kelompok kita, kalian mengerti." ucap Ardolp dengan suara lantang.


"Mengerti.." ucap semuanya dengan serempak.


"Kali ini kami memaafkan kalian, tapi jika hal ini terjadi lagi, nyawa kalian akan melayang di tangan kami." Sea mengarahkan pistol ke kepalanya sebagai tanda peringatan.


Semua orang yang berada di ruangan itu bergidik ngeri melihat ke empat pria berdiri dengan wajah murkanya.


Jangan lupa kasih dukungan kalian untuk author😍


___________________


LIKE, VOTE DAN KOMEN

__ADS_1


__________________


Kenalan sama Author yuk follow ig. Wulan_056t7


__ADS_2