Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Kebenaran Papa Daniel


__ADS_3

Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, penantian yang sudah lama Damien tunggu-tunggu akhirnya datang juga.


Mungkin ini sebuah pelajaran kehidupan untuknya, dari kecil Damien selalu meminta sesuatu pada orang tuanya, tentu hal itu di dapatnya dengan mudah, semua yang di inginkannya selalu terwujud.


Sejak kejadian tragedi 15 tahun yang lalu, Damien kecil seorang anak yang keras kepala dan egois, di gembleng oleh Om Tedi hingga menjadi seorang pria yang penuh dengan tanggung jawab dan sosok pria yang memiliki keberanian tinggi.


"Akhirnya hari yang ku tunggu-tunggu tiba juga." Bulir air bening menetes di pelupuk mata pria tampan ini.


Tidak lama mobil Damien sampai juga di mansion, keadaan di mansion masih dalam pengawalan ketat, terlihat banyak sekali para bodyguard berjejer menyambut kedatangan bosnya.


Langkah pria tampan ini terhenti saat menatap pria parubaya yang duduk di kursi roda dengan senyuman tulusnya.


"Papa.." Damien berlari ke arah sang Papa, tubuh kekar itu bersimpuh memeluk pria yang sangat di sayanginya.


"Dam-ien.." ucap Papa Daniel terbata, Papa Daniel memeluk putra semata wayangnya dengan linangan air mata.


Begitu pun dengan para perawat dan Dokter, 15 tahun mengabdikan dirinya pada keluarga ini tidaklah singkat, mereka juga ikut menangis haru, kedua pria berbeda usia ini layaknya keluarga sendiri untuk mereka.


Damien membawah sang Papa masuk ke dalam di susul Dokter dan para perawat.


"Terima kasih, atas kerja keras kalian akhirnya Papa bisa sembuh." ucap Damien pada keempat orang yang berdiri di depannya.


"Sama-sama Tuan ini sudah tugas kami." sang Dokter ikut berbahagia.


"Kalau begitu kalian boleh beristirahat, biar Papa saya yang jaga."


Keempat orang ini undur diri.


Dokter dan ketiga perawat sama-sama sudah berkeluarga, mereka pulang hanya setahun sekali, meskipun begitu Damien mengeluarkan dana tidak sedikit untuk membayar mereka, setimpal lah dengan gajinya.


"Nak Pa-pa ingin bi-cara sesuatu."


"Silahkan Pa." Damien terus mengurai senyuman, butuh waktu 15 tahun untuknya menunggu, bisa bercakap dengan sang Papa seperti sekarang ini.


"Nak jangan ganggu ke-luarga Robert, bu-kan dia yang mem-bunuh Mama mu."


Senyuman yang terukir itu seketika musnah saat mendengar ucapan sang Papa.


"Maksud Papa bukan Om Robert yang membunuh Mama?"


Papa Daniel mengangguk.


Damien meraup wajahnya kasar, ini benar-benar di luar dugaannya, dia merasa sangat bersalah pada keluarga itu apalagi pada Bella.


"Jangan ikut ke-lompok gangster lagi." pesan Papa Daniel.


"Tapi Pa.."


"Nak.." Papa mengelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Baiklah Pa, aku akan meninggalkan dunia gelap itu." janji Damien kepada sang Papa.


Papa Daniel tersenyum.


"Papa ingin me-minta maaf pada Robert."


Damien menghembuskan nafas kasar, mana mungkin dia membawah Papanya menemui Om Robert, pastinya ia akan berjumpa dengan Ansel juga, apakah Ansel mau memaafkannya atas apa yang pernah dia lakukan, entahlah Damien jadi binggung.


"Nak Papa mo-hon." pinta Papa Daniel.


"Baiklah tapi Papa harus sehat dulu, kalau bicara Papa sudah lancar, Papa juga kuat untuk berdiri, Damien janji akan bawah Papa menemui Om Robert." ucap Damien.


Papa Daniel kembali menangis, ia memeluk putra kebanggaannya.


Di mansion Ansel.


Malam mulai berganti pagi, Bella mengerjap karena terganggu oleh pantulan cahaya dari balik gorden.


"Astaga kapan dia pindah kesini." Bella terkejut melihat Ansel tidur di sampingnya.


Bella beranjak dari ranjang menuju kamar mandi, tak lama ia keluar hanya mengunakan sport bra dan leging, hari ini hari libur ia ingin berolahraga di lantai atas.


Sebelum keluar Bella mengambil jubah panjang dan memakainya.


Di mansion utama lantai 3 terdapat ruangan khusus untuk berolahraga, Bella hanya beberapa kali mengunakan alat fitnes disini.


Bella mengawalinya dengan pemanasan dulu, selain mencegah kram otot, pemanasan dapat menjaga tulang dan persendian agar terhindar dari resiko cedera saat berolahraga.


Kucuran keringat mulai membasahi tubuh sexy Bella, dirasa cukup melatih otot kakinya, Bella berpindah ke ez curl bar kegunaannya untuk melatih otot lengan bricep dan tricepnya.


Tanpa Bella sadari di pintu berdiri pria tampan yang hanya memakai baju sport lengan pendek yang membentuk tubuhnya dan celana pendek yang membuat pria itu nampak sexy.


Ansel dari tadi sibuk mencari sang istri, saat tahu istrinya berada di tempat gym, Ansel langsung berganti baju.


Dilihatnya Bella sudah selesai berolahraga, ia sedang meneguk minuman botol sambil memunggungi Ansel.


Dengan iseng Ansel menyerang sang istri, Bella yang kaget langsung membalas serangan dari suaminya, saat ini malah Ansel yang di buat terkejut, kenapa istrinya bisa dengan gesit membalas serangannya, padahal niat Ansel hanya ingin mengerjai sang istri.


Sudah kepalang tanggung, suaminya sudah mengetahui kemampuannya, Bella pun menyerang sang suami tanpa ampun.


Hampir 20 menit mereka berkelahi, Ansel yang mendapat kesempatan langsung memeluk istrinya dari belakang, nafas keduanya sama-sama memburu dengan peluh membanjiri tubuh keduanya.


"Kamu bisa ilmu bela diri?" tanya Ansel, ia masih memeluk istrinya dari belakang.


"Heem." Bella masih menormalkan nafasnya.


"Kenapa aku tidak tahu." bisik Ansel, melihat istrinya yang terlihat begitu sexy membuat Ansel tidak bisa mengendalikan dirinya, dia mulai mengendus leher Bella, seperti seekor kucing yang mendapat jatah ikan asin.


"Kamu tidak tanya." Bella iseng menyikut perut Ansel membuat pria tampan yang mulai bergairah itu mengerang.

__ADS_1


"Argh, kamu curang sayang." Ansel memegang perutnya yang terasa sakit, Bella tadi menyikutnya cukup keras.


"Apa dia benar-benar Bella istriku, astaga tenaganya kuat sekali." batin Ansel.


"Aku capek jangan macam-macam." Bella mengambil handuk kecil untuk mengeringkan peluhnya, tenaganya cukup terkuras saat melawan suaminya tadi.


Ansel menghampiri istrinya.


"Kalau cium boleh kan?" renggek Ansel, entahlah pria ini terlihat semakin bucin pada istrinya, nilai plus dari Bella semakin bertambah di mata Ansel.


Bella tersenyum, pria gangster ini benar-benar berubah menjadi seekor kucing yang imut.


Bella mendekat mengalungkan tangannya di leher suaminya.


"Lakukan." ucap Bella.


Tanpa menunggu lama, Ansel langsung melahap bibir istrinya sampai habis, seakan-akan bibir itu seperti makanan yang wajib di habiskan.


Aktifitas mereka terhenti saat mendengar suara langkah kaki mendekat.


"Tuan Nyonya, sarapan sudah siap." ucap Ririn.


Untung saja Ansel dan Bella sudah melepas pagutannya, kalau saja Ririn melihat mereka berciuman, itu artinya Ansel dan Bella ke gap asisten Ririn untuk kedua kalinya.


"Baik Rin sebentar lagi kami turun." ucap Bella.


Ririn mengangguk, ia pun pamit kembali ke bawah.


Ansel masih menatap bibir istrinya, sepertinya ciuman tadi masih kurang puas baginya.


"Sayang lagi." pinta Ansel.


Astaga, Bella sampai memijat pelipisnya melihat suami gangsternya satu ini.


"Kita sarapan dulu ya."


Mendengar ucapan sang istri, wajah Ansel berubah masam.


"Cup, kita lanjut nanti malam." satu kecupan Bella berikan pada suaminya, ia berjalan meninggalkan Ansel yang masih berdiam mematung.


"Yes.." Ansel terlihat girang, ia pun menyusul istrinya yang membuatnya semakin tergila-gila.


Jangan lupa kasih dukungan kalian untuk author😍


_______________________


LIKE VOTE KOMEN


_______________________

__ADS_1


Kenalan sama Author yuk follow ig. Wulan_056t7


__ADS_2