
*Flash Back on
"Pa Ma Bella mau jalan-jalan keluar sebentar ya!" pamit Bella, Ansel menatap tajam istrinya.
"Mau kemana kamu?" tanya Ansel.
"Keluar sebentar." jawab Bella meninggalkan semuanya tanpa perduli tatapan tajam dari Ansel.
Bella berjalan keluar mansion, di sekelilingnya nampak tiang-tiang tinggi berjajar hingga menuju gerbang luar mansion, langkah itu terhenti saat Bella tidak sengaja melihat seekor kucing yang sangat lucu berlari ke tengah jalan, ia mengejar kucing lucu itu, tanpa Bella sadari dirinya sudah berjalan lumayan jauh dari Mansion Oma Ansel.
"Sialan kemana kucing tadi." monolog Bella celinggukkan mencari kucing itu kesana-kemari.
Saat Bella fokus mencari, dari arah belakang tangan Besar membekap hidungnya dengan sapu tangan yang sudah di lumuri obat bius, Bella pun tumbang tanpa perlawanan.
"Kita berhasil, pasti Bos akan senang." ucap salah satu dari mereka.
"Kamu benar, cepat kita bawah wanita ini ke mobil, lalu ikat kaki dan tanggannya." ucap Yang lainnya.
Ketiga orang itu membawah Bella menuju mobil, di mobil masih ada dua rekannya yang menunggu.
Tawa mereka pecah saat berhasil menggikat mangsa dan menutup matanya dengan kain.
"Hahaha.." tawa mereka mengiringi perjalanan menuju gudang kecil yang akan menjadi tempat penyekapan Bella.
Meskipun berada di negara orang Bella tidak sama sekali takut, dirinya yang sudah sadar berpura-pura tetap pingsan saat mendengar suara kelima pria itu tertawa dengan keras.
*Flash Back of
Sinar mentari menerpa wajah ayu Bella hingga membuatnya terbangun.
"Jam berapa ini?" monolog Bella.
Ia beranjak dari ranjang king size itu dan berjalan menuju kamar mandi, setelahnya ia kembali melangkahkan kakinya menuju dapur, di lihatnya seorang wanita dengan konstum ala-ala chef sedang memasak di dapur.
"Selamat pagi, bolehkah saya membantu?" tanya Bella sembari tersenyum.
"Excusez - moi made moiselle de quoi parlez-vous?".
("Maaf Nona anda berbicara apa?") tanya wanita berwajah blasteran.
Melihat dari wajahnya, dia asli warga prancis.
"Sepertinya dia chef disini." batin Bella.
Bella mematung tapi setelahnya tersenyum.
"Puis - je vous aider?".
("Apa boleh saya membantu anda?") tanya Bella terdengar fasih saat berbicara.
"Pas besoin, made moiselle, attendez juste à la table à manger!".
("Tidak usah, Nona tunggu saja di meja makan!") jawab Chef.
__ADS_1
Akhirnya Bella pergi membiarkan shef wanita itu melakukan tugasnya.
"Oh ya, mansion sebesar ini apa iya milik Ardolp, kenapa juga dia disini? apa dia mengikuti ku?" monolog Bella di sepanjang langkahnya sembari menatap sekeliling.
"Cari siapa celinggukkan begitu?" tiba- tiba suara seseorang mengagetkan Bella.
"Ardolp, bisa tidak permisi dulu, jangan buat orang jantungan." ucap Bella sambil memegang dadanya.
Ardolp tersenyum, "Maaf sudah membuatmu kaget." ucapnya.
"Kamu cari apa tadi?" tanya Ardolp kembali, keduanya saat ini duduk di ruang keluarga.
"Tidak ada yang aku cari, oh ya kenapa kemarin kamu bisa datang di saat waktu yang tepat, apa mungkin ini rencana mu." ucap Bella menatap Ardolp tajam.
Mendengar ucapan Bella Ardolp tersenyum.
"Apa gunanya aku menculik wanita cerewet sepertimu." ucap Ardolp.
Bella mencebik mendengar ucapan Ardolp, membuat Ardolp tersenyum gemas.
"Aku serius." ucap Bella.
"Aku sengaja terbang kesini, memang ingin menggikuti mu." ucap Ardolp membuat Bella semakin kesal.
"Tapi aku dan rekan-rekan ku bertujuan untuk melindungi mu, kamu tahu siapa yang menculikmu kemarin?" tanya Ardolp, Bella hanya menggedikkan bahunya.
"Musuh Ansel yang sebenarnya, bukan hanya musuh Ansel tapi juga musuh mertua mu." ucap Ardolp membuat Bella semakin penasaran.
"Musuh Papa Robert?" tanya Bella mengernyitkan dahi.
"Cepat katakan, ada apa ini sebenarnya?" tanya Bella.
Tiba-tiba Chef wanita tadi datang mengagalkan pertanyaan Bella membuat sang empunya mendengus.
"Monsieur le peti dèjeuner est prèt."
("Tuan sarapan sudah siap.") ucap chef wanita itu.
Ardolp hanya menjawabnya dengan anggukkan, chef itu memberi hormat dan melenggang pergi.
"Kita makan, aku akan panggil teman-teman ku dulu." ucap Ardolp berdiri meninggalkan Bella yang sedang kesal.
Tidak lama semuanya sudah berkumpul di meja makan, ke empat pria tampan ini bukannya makan malah memperhatikan Bella karena wanita cantik ini makan dengan sangat lahap seperti orang yang tidak makan berhari-hari.
Bella yang merasa di perhatikan pun mendonggak. " Kenapa kalian melihatku seperti itu? aku dari kemarin belum makan, sekarang aku lapar sekali." ucap Bella dengan pipi mengembung, wajah Bella malah terlihat imut di mata ke empat pria ini.
Ardolp, Kaya, Sea dan Grisham di buat gemas dengan kelakuan wanita satu ini, benar-benar sangat berbeda dengan wanita-wanita lainnya.
"Makanlah yang banyak agar pipi mu semakin chubby." ucap Kaya membuat Bella melotot.
"Kalian makanlah jangan membuatku kesal." suruh Bella.
ke empat pria tampan ini menurut saja seperti kerbau dicocok hidungnya.
__ADS_1
Bella benar-benar hebat bisa memiliki fans pria dari kalangan gangster, bayangkan saja ke empat tukang bunuh ini bisa menurut begitu saja pada Bella.
Sarapan pagi pun usai, perut Bella terasa enggap karena kekenyangan.
"Kami akan mengantarkanmu pulang." ucap Ardolp.
"Baiklah aku mau bersiap dulu, barangku masih ada di atas." ucap Bella, yang di maksud Bella barang ialah pistol miliknya, ia masih memakai baju yang ia pakai kemarin.
"Ganti bajumu!" suruh Ardolp menyerahkan papper bag yang berisi celana jeans dan hoodie.
Bella membuka papper bag dan melihat isinya.
"Wah kamu tahu saja seleraku." ucap Bella tersenyum senang.
Ardolp ikut tersenyum. " Sudah, sana cepat ganti!" suruh Ardolp, sedangkan ketiga rekannya berwajah masam melihat kedekatan Ardolp dengan Bella.
Bella mengangguk ia pun pergi meninggalkan ke empat pria itu.
"Jangan curi-curi kesempatan." ucap Sea pada Ardolp.
"Siapa?" tanya Ardolp tidak merasa, membuat Sea mencebik.
"Kenapa? kalian juga mau?" tanya Sea pada kedua temannya yang tidak lain ialah Kaya dan Grisham.
Yang di tanya bukannya menjawab malah saling pandang.
"Kalau aku sih pengen." ucap Sea kemudian.
Bantal sofa yang berada di dekat Kaya dan Grisham melayang dengan keras tepat di wajah Sea, keduanya pun tertawa melihat wajah rekannya memerah.
'Hahahaha' tawa Kaya dan Grisham.
"Brengsek." umpat Sea.
Sedangkan Ardolp tersenyum sembari menggeleng, rekan-rekannya ini sudah seperti anak kucing berebut ikan asin.
Tidak lama Bella datang dengan pakaian berbeda.
"Gila pakai hoodie malah terlihat imut." batin Sea.
"Sudah..?" tanya Ardolp.
"Sudah, ayo cepat pasti orang-orang di mansion menghawatirkanku." ucap Bella.
Bella keluar terlebih dulu, di ikuti empat pria tampan di belakangnya, pagi ini mereka akan mengantar Bella ke mansion Omanya Ansel.
Disisi lain Papa Robert mengebrak meja, ia sangat marah ketika mendapat kabar jika yang menculik menantunya adalah anak dari musuhnya dulu.
"Brengsek, mereka kembali." monolog Papa Robert.
Musuh yang sudah lama menghilang itu kembali lagi, Papa Robert masih ingat simbol dari mereka, sebuah fosil tengkorak yang mereka anggap sebagai marga kelompok gangster yang sudah lama mereka dirikan.
Jangan lupa dukungannya buat othor biji cabe, kecil-kecil tapi pedes🤣
__ADS_1
salam cinta buat kalian readers setia🥰