
Saat Bella masih memeluk Mamanya, Ansel berlari ke dalam disusul rekan-rekannya, Papa Tio mengernyit dan sedikit takut kenapa tiba-tiba rumahnya jadi tempat penampungan para Gangster, Papa Tio juga sedikit tau siapa-siapa saja yang sedang berdiri di hadapannya kini.
"Bella.." ucap Ansel kaget karena setahu Ansel Bella berada di mansion.
"Kemana Pa para penyekap itu?" tanya Ansel memperhatikan sekitar hanya ada beberapa tali di atas lantai yang berserakan, sama seperti Ansel rekan-rekan Ansel yang lain juga binggung karena tidak sama sekali melihat anggota Jevarck disana.
Papa Tio tidak menjawab pertanyaan Ansel, beliau malah tanya balik pada menantunya, karena sangat penasaran siapa sebenarnya Ansel ini.
"Jelaskan pada Papa Ansel dan kamu juga Bel kenapa kamu bisa mengenal pria tadi." ucap Papa Tio menatap keduanya tajam, Ansel menautkan kedua alisnya mendengar perkataan Papa Tio.
Sebelum Ansel menjawab pertanyaan Papa Tio, dia menyuruh semua rekannya untuk keluar, Ansel tidak ingin privasinya di dengar oleh rekan-rekannya.
"Maaf Pa sebenarnya Ansel salah satu anggota dari Black Wolf." ucap Ansel mantap tanpa takut sedikit pun.
Papa Tio menghembuskan nafas kasar, mau menyesal juga percuma, anaknya sudah resmi menjadi istri Ansel.
"Dan kamu Bel, apa pria tadi mengenalmu? kenapa pria tadi pergi begitu saja saat melihatmu, apa kamu juga mengenalnya..?" ucap Papa Tio dengan rentetan pertanyaan.
Ansel yang sangat penasaran menunggu jawaban Bella.
"Aku pernah bertemu dengannya di jalan Pa, saat itu dia terluka dan aku menolongnya." ucap Bella menunduk.
"Siapa yang kamu maksud..?" tanya Ansel menatap Bella lekat-lekat.
"Ardolp." jawab Bella, seketika wajah Ansel menegang.
"*A*da hubungan apa Ardolp dengan Bella hingga pria brengsek itu mau melepaskan mangsanya begitu saja.." batin Ansel.
Tangan Ansel mengepal kuat fikiran negatif terus berkeliling di kepalanya.
"Pa, maaf Ansel harus membawah Bella pergi sekarang." ucap Ansel.
Papa Tio yang sudah tidak berhak dengan anaknya pun mengangguk pasrah, sebenarnya dia masih merindukan anak semata wayangnya begitu pun juga Mama Eva yang masih saja menangis.
"Ma Bella pulang dulu ya, tidak akan ada yang berani menganggu keluarga kita lagi." ucap Bella mengecup pipi Mamanya.
"Pa jagain Mama ya, Bella pasti akan sering kesini." ucap Bella melirik Ansel.
__ADS_1
"Kamu hati-hati ya sayang, Sel jaga anak Papa baik-baik." ucap Papa Tio.
Ansel mengangguk, dia pun mengandeng tangan Bella dan membawahnya pergi, Mama Eva menangis di pelukan suaminya saat melihat anaknya meninggalkan mansion.
Rekan-rekan Ansel membubarkan diri, mereka kembali ke markas untuk mengembalikan senjata yang mereka bawah, tidak tahu bagaimana cara mereka menyembunyikan senjata-senjata itu sehingga dengan gampangnya bisa lolos dari jangkoan polisi.
"Ada hubungan apa kamu dengan Ardolp?" tanya Ansel menatap Bella tajam, saat ini mereka sudah berada di mobil.
"Tidak ada, aku hanya pernah merawat luka tembaknya." ucap Bella santai.
"APA?" teriak Ansel di barengi suara rem berdecit saat mobil berhenti mendadak.
Bella mendengus. "Bisa tidak jangan mengerem mendadak seperti itu." ucap Bella jengkel.
Ansel hanya diam, dia masih dengan lamunannya, dirinya merasa jika Ardolp menyukai istrinya, sebab tidak mungkin mereka meninggalkan mangsanya begitu saja.
Tak lama mereka pun sampai di mansion Ansel, saat ini sudah pukul 18.00, Bella segera menuju kamar untuk membersihkan dirinya bergantian dengan Ansel.
Saat Ansel keluar dia melihat Bella yang memakai baju tidur celana pendek dengan atasan tanpa lengan, membuat Ansel menelan salivanya sampai tidak mendegar panggilan Bella yang beberapa kali memanggilnya.
"Eh iya, ada apa?" ucap Ansel mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ayo kita makan malam." ajak Bella, saat ia ingin keluar Ansel mengejar dan mencekal tangannya.
Bella menoleh. "Ada apa?" tanya Bella.
"Kamu mau mengoda Arka ya pakai baju seperti itu, cepat pakai jubah tidurmu." suruh Ansel.
Bella memutar bola matanya malas dia pun kembali mengambil jubah tidurnya dan lekas memakainya, Ansel melengkungkan sedikit bibirnya, dia pun mengandeng tangan Bella erat menuju meja makan.
Ternyata Arka belum ada disana, Ansel menarik kursi untuk Bella duduk, Bella mengernyit kenapa tiba-tiba suaminya bisa semanis ini, pipi putih itu mulai bersemu merah.
"Kenapa pipimu merah sekali, apa kau sakit?" tanya Ansel yang membuat Bella tersadar.
"Emm tidak, a-aku tidak apa-apa." jawab Bella nampak kikuk.
Tak lama Arka datang, tatapannya langsung tertuju pada Bella Kakak iparnya.
__ADS_1
"Kakak Ipar, makin hari makin cantik saja." ucap Arka membuat Bella tersenyum malu.
"Jangan mengoda istriku di depan ku Arka." ucap Ansel datar menatap Arka tajam.
Hah! apa tidak salah dengar? istriku katanya, baru pertama ini Ansel menyebut Bella istriku.
"Kakak jangan terlalu tegang, aku hanya bercanda, iya kan Kakak Ipar?" tanya Arka pada Bella.
Bella hanya mengangguk dan itu membuat Ansel bertambah kesal. "cepat habiskan makananmu, kita lekas kembali ke kamar." ucap Ansel.
Bella mempercepat makannya karena melihat tatapan Ansel yang begitu tajam. "Kami ke atas dulu ya Ar.." pamit Bella tersenyum ramah, Ansel segera menarik tangan Bella karena tidak ingin adiknya terus-menerus menatap Bella.
"Kamu kenapa sih?" tanya Bella kesal, saat ini mereka sudah berada di kamarnya.
Ansel hanya diam, dia pun mendekat pada Bella.
"Bell, apa yang aku lakukan ini akan menjawab semua pertanyaan yang ada dibenak ku." ucap Ansel membuat Bella mengernyit.
Ansel memegang pipi Bella dia mulai mendekatkan wajahnya. "Apa yang akan kau lakukan?" tanya Bella menghindar,j antungnya sudah bertalu-talu karena merasakan sentuhan tangan Ansel di pipinya.
"Diamlah.." ucap Ansel, dia pun kembali mendekatkan wajahnya, deruh nafas Ansel terasa hangat di pipi Bella, Bella terbawah suasana ia pun memejamkan mata, Ansel yang mendapat lampu hijau memulai aksinya, Ansel mengecup bibir Bella dengan penuh kelembutan, dia ingin mencari jawaban akan perasaannya pada Bella, Bella yang memang tidak ahli dalam hal seperti ini berusaha membalasnya, kecupan itu terus berlanjut hingga membuat kamar itu terasa begitu panas, Ansel mengiring Bella keranjang tanpa ingin melepas pagutannya hingga membuat Bella terlentang di ranjang.
Saat keduanya sama-sama kehabisan nafas, Ansel terpaksa melepas ciumannya, nafas keduanya sama-sama memburu, pipi Bella terlihat merah merona karena malu, dia mengalihkan wajahnya menghindari tatapan Ansel. "Lihat aku.." suruh Ansel dengan suara lembut.
Bella kembali menatap pria dingin itu, tatapan mata Ansel menyusuri mata indah gadis yang ada di hadapannya, dia mendekat menempelkan bibirnya di telingga Bella dan berbisik. "Aku mencintaimu." bisik Ansel.
Ansel sudah mendapatkan jawabannya, dia sudah tidak ragu lagi akan perasaannya pada Bella.
Seketika Bella melotot tidak percaya, mana mungkin Ansel mencintainya, apa ini hanya mimpi? dada Bella sudah ingin meledak karena posisi mereka saat ini sangat intim, di tambah pernyataan cinta dari Ansel membuat pipi Bella semakin merah. "Jangan melotot." ucap Ansel tersenyum.
Senyuman itu begitu asing, baru kali ini Bella melihat senyuman tulus dari seorang Ansel, Bella kembali mengalihkan wajahnya dia tidak ingin mati mendadak karena serangan jantung, melihat senyuman Ansel membuatnya melayang, Ansel beranjak dia duduk di sisi ranjang di ikuti Bella.
Ayooo siapa yang dari pagi nungguin up nya Author🤭maaf ya,mulai besok Author gak janji bakal up setiap hari tapi tetap akan aku usahakan buat para readers setia🥰
Jangan lupa dukungannya 😊
lope-lope untuk pembaca🥰
__ADS_1