Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Nasip Cinta Damien


__ADS_3

"Ehkem.." deheman Arka membuat Ansel sadar, wajah yang biasanya terlihat dingin itu seketika memerah, saat melihat Mama Eva menatap dirinya dengan senyum tertahan.


Untuk menutupi rasa malunya, ia kembali bersikap dingin, sasarannya siapa lagi jika bukan sang adik.


"Keluar kamu." suruh Ansel dengan mata tajam.


Sebelum pergi Arka memonyongkan bibirnya mengejek sang Kakak, ia pun berlari keluar dengan cepat, hampir saja Kakak kulkasnya itu menampol kepalanya.


"Istriku belum juga sadar Ma?" Ansel berusaha biasa saja, ia menghampiri istrinya dan mendudukkan dirinya di tepi ranjang.


"Belum nak, kamu jaga istrimu ya, Mama mau ke bawah melihat Papa Tio." Mama Eva beranjak dari ranjang.


"Iya Ma.."


Setelah kepergian Mama Eva, mata Bella mengerjap, kepalanya terasa sedikit pening.


"Sayang.." Ansel tersenyum, senyuman itu terlihat tidak seperti biasanya di mata Bella.


"Kamu kenapa, sepertinya bahagia sekali?" tanya Bella, ia berusaha untuk duduk.


"Hati-hati sayang." Ansel membantu istrinya sebelum memberikan kabar bahagia ini.


"Sayang mulai detik ini kamu harus berhati-hati, jangan sampai buah cinta kita yang berada disini kesakitan." ucap Ansel sembari mengelus perut istrinya.


"Maksudnya?" Bella melotot menatap perutnya.


Ansel tersenyum dan mengangguk, seketika itu juga Bella memeluk suaminya.


"Terima kasih ya sayang." seluruh wajah Bella tidak luput dari serangan Ansel terutama bibir manis milik istrinya.


Ansel ikut membaringkan diri dan membawah Bella tidur di pelukannya.


"Sekarang kita tidur, tidak baik ibu hamil tidur larut malam." Ansel mengelus punggung Bella, hingga wanita itu terlelap, Ansel pun sama, tanpa menunggu lama, ia mulai berpetualang di alam mimpinya menyusul sang istri.

__ADS_1


Di monsion Damien.


Pria tampan ini masih belum bisa tidur, kabar bahagia yang datang dari keluarga Abraham tadi mengusik fikirannya.


Damien duduk di depan jendela sembari merenungi nasip cintanya, baru saja jatuh cinta harus merasakan patah hati.



"Bisakah aku melupakan perasaan ini?" di tangan Damien memegang satu gelas berisi wine, di teguknya wine itu hingga tandas.


"Nak sudah larut malam, kamu tidak tidur?" suara Papa Daniel mengagetkannya, kebetulan Papa Daniel ingin ke kamar mandi, ia mendapati putranya belum juga tidur.


"Dam belum mengantuk Pa."


Papa Daniel melihat satu botol wine tersisa setengah di bawah lantai.


"Apa kamu memiliki masalah nak, ceritalah pada Papa." Papa Daniel berjongkok di hadapan putranya.


Papa Daniel menghembuskan nafas dalam.


"Baiklah, jangan tidur terlalu malam, dan jangan terlalu banyak minum." Papa Daniel berdiri, ia beranjak ke ranjang untuk kembali tidur, membiarkan putranya sendiri.


Damien membuka galeri ponselnya, banyak sekali foto Bella disana, dia mendapatkannya saat Bella berada di mansionnya dulu, diam-diam Damien menyuruh orangnya untuk melaporkan segala aktifitas yang Bella lakukan, Di lihatnya satu persatu foto itu, bibir Damien tersenyum saat melihat foto Bella yang sedang berselfi dengan gaya malu-malunya.



"Meskipun tidak bisa memiliki mu, aku akan selalu melindungi mu." Damien mencium foto Bella dengan penuh perasaan, ia pun beranjak ke ranjang dengan tubuh sempoyongan, tidak terasa Damien sudah menghabiskan dua botol wine malam ini.


*


Hari berganti hari, bulan berganti bulan, sejak kematian Darren paman tiri dari Bella, keadaan aman terkendali, kini perut Bella sudah terlihat membuncit, kehamilannya sudah menginjak 8 bulan, selama 8 bulan ini Ansel tidak pernah pendengar kabar dari Calista, entahlah wanita itu menghilang kemana.


Ansel selalu menjadi suami siaga untuk istrinya, pagi ini Ansel tidak ke kantor karena hari ini hari libur, ia menemani istrinya menonton tv di ruang keluarga, setelah perut Bella mulai membuncit Ansel sengaja memasang lift khusus untuk istri tercinta.

__ADS_1


"Pagi anak Papa, kamu sudah kenyang belum."


Obrolan Ansel dengan anaknya pagi ini, ia mencium perut buncit istrinya, membuat baby yang ada di dalam sana menendang.


"Sayang dia merespon." Ansel tersenyum sumringah, ia kembali mencium perut istrinya dengan gemas.


Bella bahagia saat ini, benar-benar bahagia, tidak ada lagi musuh, tidak ada lagi pelakor, semuanya kembali aman, hidupnya akan lebih bahagia lagi saat putrinya nanti lahir.


Ya kedua pasutri ini sudah melakukan USG, keturunan keluarga Abraham ini berjenis kelamin perempuan, Ansel begitu bahagia mendengarnya, begitu juga dengan kedua orang tua mereka.


Keromantisan keduanya terganggu saat asisten Ririn menghampiri Ansel dan juga Bella.


"Tuan di luar ada tamu."


"Siapa?" tanya Ansel.


"Saya tidak boleh memberitahu Tuan."


Jawaban Ririn membuat Ansel menautkan kedua alisnya, dengan rasa penasaran Ansel beranjak ke ruang tamu.


Jangan Lupa dukungannya untuk Author😍


________________________Like Vote Dan Komen


________________________


Kenalan sama othor yuk follow instagram othor.


Wuland4ri_05


Facebook


Wulan

__ADS_1


__ADS_2