
Selamat membacaš„°
Suasana di mobil begitu hening karena kecanggungan dari keduanya kembali terjadi, usai tahu perasaan Damien padanya Bella jadi tidak enak hati, begitu juga dengan Damien saat ini, ia menahan perasaannya, perasaan tidak rela yang mulai menyelubungi hatinya.
Mobil tiba-tiba berhenti membuat Bella mengernyitkan dahi.
"Ada apa?" tanya Bella menatap ke arah Damien.
Damien membuka seat beltnya.
"Jangan marah." ucap Damien langsung mendekat, menempelkan bibirnya pada bibir Bella.
Bella molotot, tubuhnya membeku ia berusaha mendorong tubuh Damien, tapi apalah daya ia tidak bisa bergerak dengan leluasa.
Bibir yang awalnya hanya menempel kini menjadi sesapan, Damien mencium Bella dengan penuh perasaan, sedangkan Bella menutup bibirnya rapat-rapat, tangannya tidak tinggal diam dia tetap berusaha mendorong tubuh Damien yang tiba-tiba menyerangnya.
Damien yang sadar langsung melepas pagutannya.
"Maafkan aku Bell aku tidak bisa menahannya." ucap Damien membersihkan bibir Bella dengan ibu jarinya.
Bella menutup matanya, mengambil nafas dalam lalu membuangnya dengan perlahan.
"Sabar Bell sabar, jangan emosi jika kamu marah Damien tidak akan memulangkanmu." batin Bella.
"Jangan di ulangi lagi." ucap Bella tanpa menatap Damien.
Damien tersenyum, mungkin dirinya kurang ajar sekali berani mencium istri orang, tapi apalah daya Damien tidak bisa menahan perasaannya, apa lagi Bella akan tinggal jauh darinya, kenapa cinta harus berlabuh ke tempat yang salah? hingga menjadikan luka untuknya sendiri.
Jika saja Damien tidak membuat Bella koma, mungkin saat ini dirinya akan memaksa Bella untuk hidup dengannya selamanya, memang ada hikmah di balik musibah ini.
Mobil pun kembali melaju membelah kota paris.
Disisi lain Ansel sudah bersiap untuk mencari istrinya, tiada kata lelah untuk Ansel, pagi siang sampai malam, waktunya hanya ia habiskan untuk mencari istrinya, di temani ke empat pria yang selalu setia, meskipun semangat mereka harus di gantikan dengan rasa kecewa karena usahanya tidak membuahkan hasil.
"Mana skill mu Fel tunjukkan padaku! kenapa kamu jadi lelet begini." Ansel kesal pada Felix karena temannya tidak berhasil mencari informasi tentang Bella.
"Damien bukan orang sembarangan, dia pintar sekali menyembunyikan hal mengenai kehidupan pribadinya." ucap Felix.
Ansel mendengus kesal mendengar ucapan Felix.
Saat ini mereka sedang menikmati sarapan pagi, Ansel memutuskan untuk tinggal sementara di mansion Omanya yang tidak lama lagi akan menjadi miliknya.
__ADS_1
Tidak lama asisten disana mengaggetkan kelimanya, ia berlari dengan tergopo-gopoh membuat kelima pria yang sedang makan ini bertanya-tanya.
"Tu-Tuan Nona Bella pulang." ucapnya sembari gemetaran.
Damien tidak ikut mengantarkan Bella sampai ke mansion, karena Bella melarangnya, bukan apa-apa Bella tidak ingin terjadi pertumpahan darah antara keduanya.
Ansel beranjak dari kursinya, ia berlari menuju ruang tamu di susul Felix, Mads, Garvin dan Vero di belakangnya.
Langkahnya terhenti saat melihat wanita cantik berdiri jauh di depannya, senyuman mengembang di bibir Ansel di barengi tetesan airmata, ia berlari ingin cepat mengapai istrinya.
Bella melebarkan tangannya agar sang suami memeluknya, akhirnya sepasang pasutri ini bisa bersatu kembali, pelukan erat nan hangat nampak mengharukan di mata semua orang yang melihatnya.
"Sayang apa kau baik-baik saja?" Ansel bertanya sembari menciumi puncak kepala istrinya berkali-kali.
"Aku baik-baik saja suamiku." Bella sangat bahagia masih diberikan umur panjang dan bisa bertemu lagi dengan suaminya.
Pelukan mereka terlepas Ansel membawah istrinya duduk di sofa ruang tamu, sementara ke empat pria yang masih berdiri berada jauh dari kedua pasutri ini kini mulai mendekat.
"Bagaimana kabarmu Bell?" tanya Felix pada Bella.
Bella tersenyum, belum juga ia menjawab sudah di dului oleh Ansel.
Mendengar ucapan Ansel Felix tersenyum kecut, sedangkan yang lainnya menahan tawanya.
Bella melihat seseorang sepertinya tidak asing baginya, begitu juga dengan Vero dirinya baru sadar saat melihat Bella dari dekat.
"Kamu.." ucap keduanya sama-sama menunjuk ke arah lawan bicaranya.
Ansel mendengus, inilah hal yang paling tidak ia suka, keramahan istrinya pada pria membuat para pria terpesona.
"Dia Vero tangan kanan baruku, kamu harus jauh-jauh dari pria ini, dia suka makan orang." ucap Ansel pada istrinya.
"Benarkah?" tanya Bella dengan wajah polos, membuat semuanya menahan senyum, kecuali Vero ia sedikit kesal, kenapa bosnya jadi ngomong ngelantur begitu.
"Sudahlah tidak usah di bahas, kamu kesini di antar siapa?" tanya Ansel mulai terlihat serius.
"Damien." jawab Bella membuat Ansel melotot.
"Suamiku jangan dendam padanya, dia sudah menolongku jika saja waktu itu Damien terlambat pasti aku sudah." ucapan Bella terputus karena Ansel membekap bibirnya.
"Jangan bicara lagi." ucap Ansel kembali memeluk istrinya.
__ADS_1
"Suamiku aku malu." bisik Bella, melihat ke empat pria sedang menatapnya membuatnya sungkan.
Ansel melepas pelukannya.
"Untuk kalian aku ucapkan terima kasih, kalian bisa beristirahat hari ini, besok kita kembali ke negara A." ucap Ansel.
Mads berdiri, "Kita tidur saja ayo." ajak Mads menarik kedua sahabatnya.
"Vero pergilah, jangan membuat pawang kelinci marah." ucap Mads lagi.
"Kalau begitu saya permisi Tuan, mari Bel eh Nona Bella." ucap Vero keceplosan, ia mendapat pelototan dari Ansel.
Bella tersenyum ia rindu sekali melihat tingkah suami kulkasnya ini.
"Suamiku aku rindu." ucap Bella memeluk Ansel erat, ia tidak sungkan lagi karena disana hanya ada mereka berdua.
"Aku juga rindu sayang, sangat rindu." ucap Ansel membalas pelukan Bella.
Lama mereka berpelukan, hingga membuat Ansel lupa ingin bertanya.
"Sayang, selama kamu disana pria gila itu tidak menyentuhmu kan?" tanya Ansel saat pelukan mereka sudah terlepas.
Tubuh Bella menegang, tidak mungkin bukan dia bilang jika Damien tadi mencium bibirnya, bisa-bisa perang dunia akan terulang jika Bella mengatakannya.
"Tidak suamiku, dia tidak pernah macam-macam malah dia baik sekali mau merawatku, menyuap." ucapan Bella terhenti saat melihat mata Ansel seperti ingin keluar dari tempatnya.
"Jangan memuji pria lain di depanku." ucap Ansel.
"Maaf.." ucap Bella menunduk.
Ansel tersenyum, ia gemas sekali dengan istrinya, dari awal melihat Bella Ansel sudah salah fokus, salah fokus dengan bibir ranum yang membuatnya candu.
"Sayang kita ke kamar yuk." ajak Ansel.
"Masih pagi suamiku, mau ngapain ke kamar?" tanya Bella dengan polosnya.
"Nanti aku ceritakan, sekarang kita ke kamar dulu." ucap Ansel langsung menarik tangan istrinya menuju kamar.
Mau ngapain ya Ansel ngajak Bella ke kamarš¤
Jangan lupa dukungannya yaš
__ADS_1