
Saat Arrabel sibuk bermain-main terdengar dering panggilan dari ponselnya, ia menyibakkan selimut dan beranjak dari ranjang mengambil ponsel dengan tubuh polosnya. kebutulan tas miliknya berada di atas Sofa.
"Ya ada apa Ma?"
"Dasar gadis bodoh, apa yang kamu lakukan?" Mama Arrabel malah balik bertanya.
"Dia sangat dingin padaku Ma, ini satu-satunya cara agar bisa mendapatkannya."
"Bodoh, apa yang kamu lakukan? ini bisa menghancurkan rencana kita, cepat pulang Mama akan urus semuanya."
Telepon terputus, Arrabel menatap jam dinding sudah hampir setenga jam lebih Damien pingsan. dengan buru-buru Arrabel memakaikan kembali baju Damien yang berserakan di atas lantai, setelahnya ia memakai bajunya sendiri dan bergegas untuk keluar.
Sudah 10 menit Arrabel meninggalkan Damien, pria itu mulai mengerjap kepalanya masih sedikit pusing.
"Dimana aku?" Damien beranjak duduk, ia menginggat-inggat apa yang terjadi sebelumnya.
"Bukankah tadi aku berada di mall bersama gadis itu." Damien buru-buru membuka selimut yang menutupi setengah tubuhnya.
"Syukurlah.." Damien bernafas lega melihat celananya masih utuh.
Damien beranjak dari ranjang mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, rencananya ia akan menghubungi Robby.
"Sial.." umpat Damien saat melihat ponsel miliknya lowbet.
Damien bergegas keluar dari kamar. sebelum pulang ia sempat menanyakan pada resepsionis siapa yang membawah dirinya kesana.
"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya resepsionis dengan sopan sambil menangkup kedua tangannya.
"Kamar 4312 check-in atas nama siapa?"
"Sebentar ya Pak."
Damien mengangguk, ia masih setia menunggu. tidak lama petugas resepsionis itu bersuara kembali.
"Kamar 4312 check-in atas nama mr.Damien Pak." jawab resepsionis.
Damien menautkan kedua alisnya. "Itu nama saya, maaf siapa tadi yang membawah saya kesini?" tanya Damien.
__ADS_1
"Seorang pria Pak, dia hanya mengantar Anda ke kamar lalu pergi lagi." jawab resepsionis.
Setidaknya jawaban dari resepsionis membuat hati Damien sedikit lega, tapi siapa pria itu.
"Baiklah, terima kasih." Damien langsung berlalu keluar. ia menginggat Stella, mungkin gadis itu sudah menunggunya lama. kali ini Damien menaiki taksi menginggat ponselnya masih lowbet.
Tidak lama taksi sudah berada di depan mansion milik Damien. selepas membayar Damien segera keluar. ia berlari ke tempat penjaga, meminjam motor yang biasanya di gunakan untuk bertugas keliling saat malam hari. jarak gerbang dan mansion cukup jauh, tidak mungkin Damien kesana dengan berjalan kaki.
Kedatangan Damien membuat semua orang yang duduk di ruang tamu merasa lega. Stella yang dari tadi menangis berlari menghambur ke arah Damien sementara Robby menatap Bosnya penuh tanya.
"Om Dam hiks hiks.."
"Jangan menangis sayang, cup." satu kecupan lolos di kening gadis cantik itu.
Damien membawah Stella duduk di samping Papa Daniel. tangis gadis itu masih sama. dia sangat kawatir dengan keadaan Omnya saat tangan kanan Robby bilang jika Damien menghilang.
"Sebenarnya ada apa nak, kenapa kamu tidak mengabari Robby dan membuat kita semua kawatir?"
Damien terdiam tidak mungkin ia menceritakan semuanya pada Papanya ataupun Stella.
"Ponsel Dam lowbet Pa, tadi Dam mengantarkan Arrabel pulang." jawab Damien berbohong.
"Baru saja Stella mendapat teror entah dari siapa itu. kamu bisa lihat kotak kado yang berada di gudang." ucap Papa Daniel.
Alis tebal milik Damien menyatu. siapa yang berani-berani meneror keponakannya. "Benar begitu sayang?" tanya Damien.
Stella mengangguk, tanpa berbicara gadis itu langsung menarik tangan Damien menuju gudang.
"Lihatlah Om." Stella menunjukkan boneka berlumuran darah yang mulai mengering.
"Astaga siapa yang melakukan ini padamu sayang, tapi kamu tidak apa-apa kan?" Damien mengecek tubuh Stella dari atas hingga bawah.
"Stella baik-baik saja Om, Stella dari tadi nungguin Om loh, Om tega sekali lebih mementingkan gadis itu dari pada aku." wajah Stella cemberut.
Damien tersenyum, sepertinya gadis di depannya sedang merajuk. "Kamu marah?" Damien memegang kedua bahu Stella.
Stella hanya menjawabnya dengan anggukkan. sebenarnya Stella berencana merajuk lama pada Omnya tapi karena kejadian tadi membuatnya urung.
__ADS_1
"Ikut Om, Om pastikan kamu tidak akan merajuk lagi." Damien menarik tangan Stella membawah gadis itu ke kamar tamu.
Damien menghentikan langkahnya saat bertemu dengan Robby di ruang keluarga.
"Robby tunggu aku di ruang kerja ku, sebentar lagi aku kesana." ucap Damien.
"Baik Bos."
Damien melanjutkan langkahnya, pria itu sudah tidak sabar menunjukkan hasil karyanya pada Stella. langkah keduanya berhenti tepat di depan pintu ruang tamu, Damien membuka pintu itu dengan semangat.
'Ceklak' suara pintu terbuka.
Mata Stella membola melihat dekorasi kamar yang terlihat begitu manis. dinding bermotif strawberry di mix dengan warna pink kesukaannya, semua barang yang berada disana berbentuk dan bermotif strawberry. tentu saja Damien memesan semua itu langsung ke tempat produksinya. Damien hanya ingin membuat Stella nyaman saat tinggal di mansionnya.
"Ayo.." Damien menarik tangan Stella untuk masuk.
"Bagaimana kamu menyukainya?" tanya Damien.
Stella langsung memeluk Om nya. "Stella suka Om terima kasih." jawab Stella.
"Sama-sama sayang, Om harus menemui Om Robby dulu ada hal penting yang harus Om bicarakan dengannya."
Stella mengangguk, tanpa menunggu lama Damien langsung meninggalkan kamar Stella menuju ruang kerjanya. ternyata Robby sudah menunggu, pria itu duduk di sofa sembari meminum minuman kemasan.
"Robb cepat tugaskan beberapa anak buah mu untuk memeriksa cctv yang berada di resto Shigeru dan hotel Shangri, ada seseorang yang ingin menjebakku."
Alis Robby menyatu. "Maksudnya Tuan?"
Damien menceritakan semuanya tanpa ada yang tertinggal sedikit pun. mendengar cerita dari Bosnya sepertinya memang ada seseorang yang ingin merencanakan hal buruk pada Bosnya. hal yang membuat Robby bertanya-tanya kemana Arrabel pergi? bukankah gadis itu orang terakhir yang menemani bosnya? apa gadis itu juga terlibat aksi teror yang di alami Nona mudanya? sepertinya Robby harus menyelidiki gadis itu juga.
"Baiklah bos saya akan selesaikan masalah ini secepatnya." Robby langsung bergegas keluar.
Damien meraup wajahnya dengan kasar. semoga tidak akan terjadi hal-hal yang bisa menjatuhkan reputasinya sebagai pengusaha terkenal karena sibuk memikirkan masalah yang penuh dengan teka-teki ini Damien sampai melupakan Arrabel.
"Oh ya, kalau yang membawah ku ke hotel seorang pria lalu kemana gadis itu?"
Damien membuang tubuhnya ke sofa dengan kasar. apa dirinya harus menceritakan masalah teror Stella pada Ansel, akh lebih baik jangan dulu, Damien tidak ingin membuat Bella kawatir. nanti saja jika teror itu terus berlanjut Damien akan membicarakannya pada Ansel.
__ADS_1
"Lebih baik aku kembali ke kamar Stella." Damien beranjak, dia tidak ingin membuat Stella merajuk lagi.
Bersambung ...