Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Om Damien Mine 36


__ADS_3

Semua ruangan satu persatu sudah mereka periksa tapu tidak membuahkan hasil, hingga akhirnya Albert mengirimkan sinyal pada rekannya yang masih tersisa untuk segera meninggalkan markas lawan.


"Sepertinya istri Daddy tidak berada disini."


"Ya son kau benar." terlihat jelas raut kekecewaan dari wajah sang Daddy, hal itu bisa di lihat oleh Albert.


"Sebaiknya kita keluar dari sini Dad, aku sudah mengirim sinyal pada rekan lainnya agar mereka mundur." Derward hanya menjawabnya dengan anggukkan, keduanya kini berusaha keluar dari markas Rick Devil.


Setelah kekacauan itu terjadi, salah satu rekan Rick Devil mengabari kelima orang yang sangat berpengaruh di geng mereka, siapa lagi jika bukan Damien, Lano, Lard, Bray dan Dimitri.


Saat ini posisi mereka masih berada di teras mansion Damien. "Lihat Om jangan sekali-kali mengusir kami, kau masih membutuhkan ku untuk menghancurkan musuhmu itu." Lard kembali memasuki ruang tamu dan mendudukan bokongnya kembali ke sofa di ikuti rekan-rekannya.


Damien mendengus." Oke kalian boleh beristirahat disini, pilih salah satu kamar tamu yang berada di bawah untuk kalian tempati." ucap Damien akhirnya, dan meninggalkan keempat bocah itu begitu saja.


"Padahal aku ingin tidur di kamar atas agar bisa bertemu gadis cantik itu." gerutu Lard.


"Sudah jangan bawel cepat istirahat karena tugas nanti malam akan sangat melelahkan untuk kita." Dimitri beranjak dari sofa, berjalan masuk disusul yang lainnya.


.....


Damien berjalan menuju kamar Stella, sudah terlalu lama ia mengacuhkan gadisnya hanya karena menemani juniornya yang menyebalkan itu, Damien membuka pintu dengan sangat pelan, nampak gadis cantik sedang menangis tersedu disana, posisi Stella membelakanginya, ia berjalan pelan dan mendudukkan dirinya di sisi ranjang.


"Sayang maafkan Aku, Aku tidak bermaksud kasar padamu, Aku hanya tidak ingin kamu dekat-dekat dengan pria lain, apalagi si Albert itu." Damien mengepalkan tangan saat menyebut namanya.


"Hiks..pria sialan."


Umpatan Stella membuat Damien terkejut, sebegitu marahkah kekasihnya hingga membuat gadisnya berbicara kasar, ia pun merasa sangat bersalah.


"Ya hubby memang pria sialan, kau boleh menghukum ku tapi jangan menangis seperti ini." ucapnya sendu, Damien juga merasakan sakit saat melihat wanitanya menangis.


"Kenapa kamu berselingkuh dengan sekertaris mu itu." gerutu Stella kembali.


Damien menautkan kedua alisnya, berselingkuh dengan sekertaris? apa kekasihnya lupa jika tangan kanannya Robby juga merangkap sebagai sekertarisnya di kantor. mungkinkah Stella mengira jika dirinya belok? membayangkannya saja sudah membuatnya bergidik.


"Sayang aku masih normal, walaupun aku pernah mendapat gelar jomblo akut tapi aku masih menyukai wanita." Damien mengoyang bahu Stella agar gadis itu menghadapnya.

__ADS_1


"Apa'an sih by." Stella berbalik dan mendudukkan dirinya dengan kesal, nampak tangan kanan gadis itu tengah memegang sebuah buku.


"Hubby tidak berselingkuh sayang, masak iya aku berpacaran dengan Robby." ucapnya sembari bergidik.


Stella menautkan kedua alisnya mendengar ucapan Damien, ia terdiam sejenak lalu sedetik kemudian tertawa terbahak-bahak.


"Hahahaha.."


"Mungkin benar kata Dimitri, aku terlalu mengekangnya hingga membuatnya setres." batin Damien menatap wanitanya sendu, sembari mengelus kepala wanitanya dengan lembut.


Melihat ekspresi kekasihnya yang menyebalkan, dengan reflek Stella menipis tangan kekar itu dari kepalanya.


"Apa sih, Hubby aneh deh."


"Kamu tidak apa-apa kan?" Damien terlihat kawatir.


"Memang aku kenapa, sudah sana pergi ganggu orang baca novel saja." usir Stella sembari mengelap sisa airmata dan ingusnya.


Damien terbenggong seperti orang bodoh, ternyata dirinya salah tangap, pria itu berdehem untuk menutupi rasa malunya lalu keluar dari kamar Stella sambil menghela nafas. "Sungguh memalukan." gumamnya.


Gadis berwajah ayu yang baru selesai mandi merasa terganggu dengan suara bising di luar, karena penasaran ia pun berjalan ke balkon dan menatap ke bawah, ia begitu terkejut saat melihat puluhan pria tampan sedang berkerumun di halaman bawah, ya dalam misi penting ini Damien hanya memakai para pemuda untuk membantunya.


"Aaaaaa mereka tampan-tampan sekali." Stella berjingkrak senang.


"Apa Om Dam mengadakan sayembara untuk ku? ah bodoh itu tidak mungkin, aku kan kekasihnya." ia mengerutu sembari menepuk jidatnya.


Sementara di bawah sana banyak anggota Rick Devil yang sadar akan kehadiran bidadari surga. (Terlalu lebay tapi terserah Author)


"Coba kalian lihat, disana ada gadis cantik." ucap pria berwajah bule.


"Mana?"


"So beautiful, siapa ya dia."


"Cantik sekali." ucap mereka bersahut-sahutan.

__ADS_1


Para rekan Rick Devil yang tadinya fokus mendengar Damien kini malah lebih fokus melihat pemandangan indah yang mubazir jika di lewatkan, tentu hal itu tertangkap oleh mata Damien.


"Lihat apa sih mereka?" batin Damien mengikuti arah pandang juniornya.


"Shiiit.." umpat Damien, ia di buat geram dengan tingkah kekasihnya.


Dengan cepat Damien mengambil ponsel di saku celana bahannya dan mengetik sesuatu. sementara di balkon, Stella yang mendengar bunyi notifikasi pesan di ponselnya kembali masuk ke dalam.


"Siapa sih ganggu saja." Stella mengambil ponsel yang berada di atas ranjang dan membukannya.


Hubby


Masuklah jangan tebar pesona pada pria lain, kau milik ku.


Isi pesan dari Damien membuat Stella mendengus. " Tuh kan aku bilang apa, ngak mungkin Om ngadain sayembara untuk ku, sepertinya ada hal penting yang belum aku ketahui." wajah Stella berubah serius.


Gadis cantik ini memang tidak tahu jika sang kekasih tengah menyandra seorang wanita di ruang bawah tanah.


Waktu terus berputar, kini sore sudah berganti malam, belum ada tanda-tanda kedatangan Cartel, semua orang fokus berjaga di setiap sudut mansion dengan membawah senjata masing-masing, mereka baru saja selesai menyantap makan malam yang di sediakan oleh Tuan rumah, hingga sampai pukul 23.00 tak ada hal mencurigakan, tapi mereka tetap waspada.


Markas Cartel


Semuanya tengah bersiap dan sebentar lagi berangkat, Derward sangat yakin jika istrinya di sekap di mansion Damien.


"Dad bisa berangkat lebih dulu, kita bertemu di titik ini." Albert menunjuk peta sebuah bangunan besar yang tidak lain mansion milik Damien.


"Baiklah son, Dad tunggu disana." Damien melangkah menuju mobil di ikuti beberapa orang.


Albert masih sibuk memgumpulkan beberapa senjata, kali ini mereka membawah empat mobil, dua mobil sudah berangkat menuju lokasi sementara dua mobil lagi masih tertinggal.


"Pastikan tak ada yang tertinggal, ingat kalian harus berhati-hati karena kita langsung menyerang ke kandang lawan."


"Baik Al." ucap para rekan Cartel, ada pula yang hanya menganggukkan kepala.


Kini dua mobil yang di tumpangi Albert sudah berangkat menuju mansion Damien, di mobil Albert sempat berfikir begitu besar cinta Daddy nya pada wanita itu, padahal setauh Albert Calista wanita yang suka menuntut dan tidak pernah bersikap baik pada Daddynya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2