Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Calista Pergi


__ADS_3

Bukan hanya Damien, ke empat anggota Jevarck ini pun juga ikut kembali ke negaranya, setelah markas Jevarck di bakar habis, Ardolp membeli sebuah gedung kosong untuk mengantikan markasnya yang lama.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Kaya.


"Untuk saat ini kita break dulu, asal kalian tahu Damien sudah berada di kota ini, hal itu tentu sangat menguntungkan bagi kita." jawab Ardolp sembari tersenyum smirk.


"Ya kamu benar, kita tidak perlu susah-susah untuk menyingkirkan pria kulkas itu." tambah Sea.


"Tapi satu hal yang aku kawatirkan." ucap Ardolp, mata elang itu tiba-tiba berubah senduh.


"Bella.." dengan kompak ketiga pria tampan ini menyebut nama istri dari Ansel.


Ardolp mengangguk. "Pria itu sangat kejam." ucapnya kemudian.


"Katakan dengan jujur, apa di antara kalian ada yang menyukai Bella?" tanya Grisham pada ketiga pria di hadapannya.


Ketiganya hanya diam, tidak ada yang mau bersuara.


"Aku sudah tahu jawabannya." ucap Grisam tersenyum kecut, ternyata dugaannya benar sahabatnya juga memiliki rasa yang sama.


Ketiganya tersenyum sembari menggeleng, lucu memang dari sekian banyaknya wanita kenapa yang menarik di mata mereka hanya Bella, wanita yang sudah bersuami.


*


Di sebuah kamar mewah terlihat pria tampan sedang sibuk menelpon seseorang, membuat istrinya bertanya-tanya siapa yang menelpon suaminya? kenapa terlihat serius sekali.


Tidak lama telpon terputus, ia pun menghampiri istrinya.


"Bicara dengan siapa serius sekali?" tanya Bella penuh kecurigaan.


Ansel tersenyum. "Papa Tio, aku mengundangnya kesini untuk makan malam." jawab Ansel menarik pinggang istrinya agar duduk di pangkuannya.


"Tumben sekali." ucap Bella mengalungkan tangannya di leher Ansel.


"Aku ingin membahas pesta pernikahan kita." mata elang itu terus menatap istrinya.


"Kamu serius suamiku?" tanya Bella bersemangat.


"Apa aku terlihat seperti seorang pembohong?" seru Ansel.


Bella menggeleng cepat, ia pun memeluk suaminya dengan erat.


"Aku mencintaimu." ucap Ansel membalas pelukan istrinya.


"Tunggu-tunggu." ucap Bella tiba-tiba melepas pelukannya.


Ansel menautkan kedua alisya, menatap istrinya penuh tanya.

__ADS_1


"Kamu sudah membicarakannya dengan Calista?" tanya Bella.


"Belum, dari tadi aku bersamamu." jawab Ansel.


"Pergilah temui dia, aku mau dia pergi dari sini secepatnya." ucap Bella beranjak dari pangkuan Ansel.


Ansel menghembuskan nafas kasar, bisakah dirinya melakukan ini, bukankah sama saja dia mengusir Calista dari mansionnya.


"Baiklah akan ku coba." ucap Ansel melangkah keluar.


Langkah Ansel terhenti saat tidak sengaja berpapasan dengan Calista.


"Cal kita harus bicara." ucap Ansel berjalan lebih dulu meninggalkan Calista.


Sementara Calista menggekor di belakang Ansel, mereka berhenti di taman belakang.


"Ada apa Sel sepertinya serius sekali?" tanya Calista tersenyum manis.


Ansel melihat senyuman itu, senyuman yang sama saat mereka pertama kali bertemu, akankah Calista tersenyum lagi setelah ini? hati Ansel bagai terombang ambing seperti perahu di lautan lepas yang tak tahu kemana arahnya untuk berlabu.


"Ehem.." Ansel berdehem untuk menghilangkan kegugupannya.


"Situasi saat ini sudah aman, kapan kamu pindah ke apartement mu?" tanya Ansel dengan suara hampir tidak terdengar.


"Kamu mengusirku?" tanya Calista balik dengan mata berkaca-kaca.


"Maafkan aku Cal, aku sangat mencintai istriku, aku tidak ingin melukai perasaannya." seru Ansel.


Ansel merasa bersalah ia pun membawah Calista dalam pelukannya, tanpa Ansel sadari di balkon kamarnya, wanita cantik sedang mengamatinya dari atas sana.


"Aku tahu, kau hanya kasihan padanya suamiku." monolog Bella.


Ansel melepas pelukannya.


"Maafkan aku Calista, aku akan menyuruh anak buah ku untuk menjagamu." ucap Ansel.


"Tidak perlu Sel, aku bisa menjaga diriku sendiri." ucap Calista berlalu begitu saja meninggalkan Ansel.


Untung saja saat itu tidak ada orang di mansion, setelah pulang dari Prancis tadi, Arka langsung pergi ke kantor sementara Papa Robert mengantar istrinya berbelanja untuk menjamu besannya nanti.


Ansel menghembuskan nafas kasar, tidak sengaja ia menoleh ke arah balkon, dilihatnya Bella sedang berdiri disana membuatnya begitu terkejut.


Bella yang menyadari jika suaminya tahu keberadaannya langsung berbalik meninggalkan balkon.


"Shiitt .." umpat Ansel menjambak rambutnya frustasi, ia pun berlari menuju kamar untuk menemui istrinya.


'Braakk ..' pintu terbuka dengan keras.

__ADS_1


Ansel memasuki kamar tapi tidak melihat istrinya disana, terdengar suara kucuran air dari dalam kamar mandi, mungkin istrinya sedang ada di dalam, Ansel pun menidurkan dirinya di atas ranjang sembari menunggu istrinya keluar.


Tidak lama terdengar bunyi pesan masuk dari Felix hackers handal milik Black Wolf, Ansel pun membuka chatnya.


Seketika wajah itu berubah garang, tangan kekar itu mengeluarkan urat-urat kasar, sepertinya ada sesuatu hal yang membuatnya marah, ya Ansel mendapat kabar dari Felix jika Damien berada di kota ini.


"Kenapa?" suara merdu itu kembali mengejutkan Ansel.


"Sayang maafkan aku." ucap Ansel menarik Bella dalam pelukannya.


"Kamu tidak salah." ucap Bella.


"Tadi kamu melihatnya." Ansel memeluk istrinya erat.


"Tak apa hanya pelukan persahabatan bukan." ucap Bella.


Ansel mengangguk cepat, ia mencium kening istrinya cukup lama.


"Berjanjilah padaku, kamu tidak akan pernah meninggalkan ku." ucap Ansel memegang kedua bahu istrinya.


"Iya aku janji suamiku." senyuman terukir di bibir ranum Bella.


Sementara di kamar tamu Calista menangis sejadi-jadinya, ia merasa terbuang saat ini, bajunya yang berada di almari ia kembalikan ke tempat asal dirinya datang ke mansion ini, koper pink bertuliskan Love, koper yang pernah di belikan Ansel untuknya.


Calista keluar dari mansion begitu saja tanpa berpamitan pada pemiliknya, hatinya terasa sakit saat Ansel mengusirnya, hanya karena wanita yang ia benci Ansel sampai tega melakukan hal ini padanya.


"Selamat tinggal Sel, kelak aku akan kembali kesini dengan caraku sendiri." monolog Calista berlalu pergi dari mansion, para pengawal yang melihat Calista hanya memberi hormat tanpa berani bertanya.


Tidak lama Calista keluar, terlihat mobil memasuki gerbang, sepertinya Papa Robert dan Mama Tia sudah pulang.


Keduanya langsung masuk, sementara barang belanjaan di bawah oleh beberapa asisten ke dapur bersiap untuk di masak.


"Kok sepi sih Pa, anak-anak kemana?" tanya Mama Tia.


"Iya Ma, biasanya Calista nonton tv jam segini." jawab Papa Robert.


Kedua pasutri parubaya ini celinggukan, tidak lama terlihat Ansel dan Bella turun dari tangga.


"Sayang Calista mana tumben sepi?" tanya Mama Tia pada putranya.


"Sebentar Ma." ucap Ansel melangkahkan kakinya menuju kamar tamu.


Benar dugaannya Calista sudah pergi, kamar itu terlihat kosong, Ansel menjambak rambutnya frustasi, ia kembali berjalan menghampiri istri dan kedua orangtuanya.


"Calista sudah pergi Ma." ucap Ansel.


Mama Tia dan Papa Robert saling pandang, mereka bertanya-tanya kenapa Calista tidak berpamitan lebih dulu? apa ada masalah? pertanyaan itu hanya mereka pendam dalam hati.

__ADS_1


"Ya sudah nak, Mama mau bantu-bantu di dapur dulu, kamu mau ikut Bell." ajak Mama Tia.


"Tentu Ma." jawab Bella, wajah itu terlihat berbinar, akhirnya ular jadi-jadian itu keluar juga dari mansion suaminya.


__ADS_2