Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Om Damien Mine 30


__ADS_3

Dari kejauhan Brayen menatap tajam semua siswa siswi yang berada disana, hingga satu persatu dari mereka menyingkir memberikan jalan untuk Brayen, ia berjalan semakin mendekat sedangkan gadis yang membuli Azzura masih terus menarik dan memaki tanpa menyadari kehadiran Brayen yang sudah berada di belakangnya.


"Lepaskan tanganmu darinya."


Siswi yang membuli Azzura terperanjat kaget hingga tangannya terlepas, ia berbalik melihat Brayen yang menatapnya sangat tajam membuat gadis itu ketakutan dan berlari menjauh.


"Akh.. rintih Azzura, kepalanya terasa berdenyut saat itu.


"Loe baik-baik saja kan?" Brayen mendekati Azzura.


Azzura mendonggak menatap siapa yang berbicara padanya. "Ya.." setelah menjawab gadis itu pergi begitu saja, membuat semua siswi yang berada disana saling berbisik.


"Ish udah jelek belagu pula."


"Dasar udik ngak tahu terima kasih."


"Berani sekali dia mengacuhkan pria tampan seperti Brayen."


Terdengar para siswi mengunjing dan menatap Azzura dengan tatapan jijik, sementara Brayen hanya bisa menatapnya dengan perasaan entahlah hanya Brayen dan Author yang tau😂


"Brayen, nama loe udah di panggil." teriak temannya, sementara Brayen langsung berbalik kembali ke tempat sebelumnya dengan tatapan dingin.


Waktu cepat berlalu tak terasa jam tambahan pun berakhir kini para siswa saling berhambur keluar, ada yang menuju kantin, ada yang masih nongkrong di depan kelas, ada pula yang langsung pulang.


Azzura keluar dari kelas dengan kepala menunduk, ia melewati para siswa yang masih nongkrong di depan kelasnya, dari 5 orang siswa itu salah satunya ialah Farel.


Farel siswa tertampan di kelas itu, dia juga menjabat sebagai ketua kelas, meskipun begitu pria itu tidak secerdas Azzura bahkan jauh di bawah Azzam, ia memilih kelas C karena di kelas ini tidak banyak aturan, Farel terkenal sebagai pelajar badung, karena orang tuanya salah satu penyumbang rutin di sekolah, maka wali kelas maupun guru yang lain tidak berani menolak keinginan Farel.


Pria itu tidak perduli saat melihat Azzura di buli bahkan untuk melihat wajah Azzura saja ia tidak mau, sebab hal itu tidak lah penting baginya, tapi setelah mendengar gosip jika seorang Brayen sempat menolongnya membuat Farel penasaran dengan rupa gadis itu.


"Eh lihat itu cewek udik, udah udik songgong lagi." ucap cowok berambut kribo.


"Buta mungkin ya mata Brayen, ngapain belain cewek jelek kayak dia." cowok berambut jabrik menyauti.


Azzura memutar bola matanya malas, ia sama sekali tidak terpengaruh dengan omongan teman laki-lakinya, bahkan gadis itu tetap melanjutkan langkahnya melewati mereka.


Farel yang dari tadi memainkan ponselnya tiba-tiba mendonggak, ia menatap Azzura dari atas sampai bawah, pandangannya begitu merendahkan dan ia merasa geram saat gadis itu melewatinya begitu saja.


Di mansion Damien


Saat ini Stella sedang mondar mandir di kamarnya, gadis itu sedang binggung, mau menolak ajakan Albert atau menerimanya.


"Aduh bagaimana ini, Kak Al ngechat terus lagi." ucap Stella, ia ragu-ragu untuk meminta izin pada Om sekaligus kekasihnya.


"Ah sudahlah di coba saja dulu." Stella mencari nomor kontak dengan nama Om sayang lalu mendealnya.


'Tuuut tuuutt..' ( ini suara operator ya bukan kentut🤭)


"Hallo ada apa sayang." terdengar suara bariton itu menyapanya lebih dulu.


"Om emm Stella mau minta izin." ucapnya takut.


Alis Damien menyatu, tumben gadis nakal itu meminta izin, mau pergi kemana dia? dengan siapa?

__ADS_1


"Om, apa Om mendengar Stella." ucapnya saat Damien hanya diam.


"Ehm..mau kemana kamu?" Damien berdehem untuk menutupi kecurigaannya.


"Dosenku mengajak ku makan malam, bolehkah Stella pergi?"


Damien terdiam, sebenarnya siapa dosen itu? berani-beraninya ia mengajak Stella untuk makan malam, sepertinya bayangan dosen bertubuh pendek dengan perut buncit itu tidak lah benar.


"Pergilah." ucapnya kemudian.


"Serius? terima kasih ya Hubby, muuach." Stella pun menutup telpon tanpa mendengar jawaban dari Damien.


"Menyebalkan, aku saja belum membalas ciumannya." gerutu Damien, ia pun kembali menemui rekan-rekannya di markas.


"Bagaimana Lan, apa kamu mendapat informasi mengenai identitas dari pemimpin baru Cartel?" Damien kembali duduk di sofa, disana ada Dimitri, Lard dan juga Bray.


Lano mengklik enter tak lama muncul identitas lengkap beserta foto Albert disana.


"Namanya Albert, dia dari Amerika anak angkat dari Gent, dia memiliki kemampuan dalam ilmu bela diri, menembak dan merakit bom." ucap Lano dengan gamblang.


Damien lebih mendekat, dia menginggat-ingat foto pria itu yang tidak asing baginya, tiba-tiba matanya membola dia baru menginggatnya, pria yang bernama Albert pemimpin Cartel ialah Kakak dari Arrabel.


"Brengsek, mereka membodohiku." umpat Damien dengan mengepalkan tangannya.


Semua yang berada disana mengernyit, apa yang di maksud Om Dam pikir mereka.


"Apa Om mengenalnya?" tanya Dimitri.


"Bukan mengenal lagi bahkan dia pernah ke mansion ku." ucapnya.


Saat Damien ingin menceritakan semuanya, tiba-tiba ia menginggat kekasihnya lalu menatap jam di tangannya.


"Ah sial, aku lupa.." Damien berdiri, ia berlari meninggalkan ke empat juniornya yang masih ternganggah.


"Vero ikuti kemana Stella pergi, setelah itu kirim lokasinya padaku." Damien menyempatkan untuk menelvon Vero dan langsung menutup telpon itu dengan sepihak membuat orang di sebrang sana menggerutu.


"Sialan, bos tidak membiarkan ku bicara." umpat Vero di sebrang sana.


.....


Sore hari sudah berganti petang, kini Stella sudah berdiri di depan gerbang menunggu sang Dosen, gadis itu terlihat sangat cantik dengan dress mini sederhana yang ia pakai, membuat siapa saja yang melihatnya terpesona , tak lama datang sebuah mobil sport berhenti tepat di depannya, Albert turun dari mobilnya ia sedikit berlari dan membukakan pintu untuk gadis cantik itu, Albert terpesona akan kecantikan alami yang di miliki Stella, pria itu pun terus tersenyum hingga mobil melesat meninggalkan mansion milik Damien.


Setelah kepergian Stella, tidak lama Robby datang membawah mobil yang biasa ia gunakan untuk mengantar Bosnya ke kantor, mobil itu memasuki mansion dengan kecepatan sedang, hingga sampailah Robby di garasi, saat pria itu turun dari mobil ia di kagetkan oleh seseorang yang tiba-tiba menabraknya.


'Braak.'


"Aduh kening ku." rintih Vero sembari mengusap keningnya yang terbentur dada bidang Robby.


"Sedang apa kamu?" Robby menautkan kedua alisnya merasa heran, biasanya setelah menjemput Stella gadis itu pulang ke apartmentnya dan kembali besoknya lagi untuk mengantarkan Stella ke kampus.


Sedangkan Vero merasa terkejut, ia pikir dirinya tadi menabrak tembok.


"Tu tuan Robby (Vero membungkuk) maaf Tuan saya terburu-buru." gadis itu tidak menjawab ia malah berlari menuju mobil yang biasa ia pakai dan apesnya kaki jenjang itu terpleset, hampir saja ia terjatuh jika Robby tidak sigap menangkap tubuhnya.

__ADS_1


"Astaga tampan sekali." batin Vero gadis itu terpesona dengan wajah dingin Robby.


Keduanya saling bertatapan sepersekian detik, hingga keduanya tersadar dan sama-sama melepaskan diri.


"Ah sekali lagi maaf Tuan."


Robby hanya mengangguk." Mau kemana kamu? kenapa terburu-buru?" tanya Robby kemudian.


"Ah ia, Tuan Damien menyuruh saya untuk membuntuti Nona Stella, mungkin saat ini saya sudah kehilangan jejak." ucap Vero dengan gusar.


Robby berjalan menuju mobil yang baru di parkirkan tadi, "Kalau begitu masuklah, aku akan membantumu mencari Nona Stella." ucapnya membukakan pintu mobil untuk Vero.


"Baiklah Tuan, terima kasih." Vero pun akhirnya masuk di ikuti Robby, mobil pun melaju kembali menembus gelapnya kota paris.


Di dalam mobil keduanya saling diam, Robby fokus mengemudi menatap lurus ke depan, ia sempat melirik Vero yang terlihat tidak tenang, sementara Vero celinggukan mencari mobil milik Dosen yang menjemput majikannya tadi, melihat Robby yang tenang saat mengemudi membuat Vero bertanya-tanya, apa pria itu tahu Nona Stella berada dimana pikirnya, karena penasaran akhirnya Vero memberanikan diri bertanya pada Robby.


"Tuan sepertinya anda tahu keberadaan Nona Stella." ucapnya gugup.


Keduanya yang jarang bertemu membuat mereka canggung saat di hadapkan dengan situasi seperti ini.


"Heem.."


Mendengar jawaban Robby membuat nyali Vero menciut untuk bertanya lagi, dia hanya bisa berperang dengan fikirannya sendiri.


"Ternyata Tuan Robby sama dinginnya dengan Tuan Damien." batin Vero.


Tak lama terdengar bunyi handpone berdering, ternyata Vero mendapat pangilan telpon dari Damien, gadis itu masih ragu untuk mengangkatnya, sebab ia belum tahu kemana tujuan mobil yang di tumpanginya saat ini.


Robby melirik Vero kemudian membuka mulutnya. "Siapa yang menelpon mu, kenapa tidak di angkat?" tanya Robby.


"Tuan Damien yang menelpon, saya tidak berani mengangkatnya karena tidak tahu tujuan kita kemana." Vero menatap hp nya dengan gelisah.


"Bilang saja Nona Stella berada di resto Larpage." Robby melirik sekilas kemudian kembali fokus ke depan, Vero mengangguk dan segera mengangkat telponnya.


'Tuuut' panggilan tersambung.


"Lama sekali kau mengangkat telpon dari ku Hah." teriak Damien dari sebrang sana membuat telingga Vero berdenggung hingga gadis itu menjauhkan handpone dari telingga.


"Ma maaf Tuan." jawab Vero dengan tangan gemetar, hal itu sempat terlihat oleh mata Robby.


"Dimana Stella sekarang, kenapa kamu tidak segera mengirim lokasinya padaku, katakan cepat jangan membuat ku menunggu atau kau akan aku pecat hari ini juga." teriak Damien yang sudah di liputi emosi.


"Sial baru kali ini kena semprot Bos." batin Vero.


"Nona Stella berada di resto Larpage Tuan." ucapnya dengan cepat.


'Tuuuutttt.' Damien langsung menutup panggilannya membuat Vero berkali-kali mengumpat.


"Dasar burung beo, bisanya cuma marah-marah." gerutu Vero, ia lupa jika di sampingnya masih ada Robby tangan kanan Damien, mendengar umpatan Vero membuat bibir Robby melengkung sempurna.


Sementara Damien


"****.. dasar tidak berguna." umpatnya setelah menutup telpon.

__ADS_1


Damien yang sudah mendapat info langsung menuju ke lokasi dimana Stella berada.


Bersambung ...


__ADS_2