
Di markas Black Wolf
Ansel dan Ardolp sudah berada di markas, siapa pun yang melihat kejadian ini tidak akan percaya, lawan yang dulunya saling membunuh kini berkumpul dan bercengkramah layaknya keluarga, sembari menunggu sang dokter mengobati mereka satu persatu.
"Pukulan mereka lumayan kuat hingga membuat bibirku sobek seperti ini." Felix memegang bibirnya.
"Dasar gangster cenggeng." seru Kaya membuat suasana tiba-tiba menjadi tegang, karena ucapan Kaya wajah Felix seketika berubah murka, saat mendengar Kaya mengejeknya.
"Ehem.." Ardolp berdehem sebelum memulai obrolan, bibir Kaya memang selemes bibir wanita dan setajam ucapan para netizen.
"Ya mereka cukup membuat kita kalang kabut." Ardolp berusaha mencairkan suasana yang mulai menegang.
Obrolan demi obrolan berlanjut, luka-luka mereka juga sudah di obati dengan ramuan herbal dari dokter pribadi Ardolp.
"Kami semua permisi dulu." pamit Ardolp pada Ansel.
"Jangan lupa nanti malam." ucap Ansel mengingatkan.
"Siap kami akan datang." Ardolp menjabat tangan Ansel di susul rekan-rekannya yang lain.
Ardolp dan rekan-rekannya pun berlalu pulang.
"Arka ayo kita pulang." ajak Ansel pada adiknya.
Arka hanya mengangguk, sebelum pulang Ansel berpamitan dan berterima kasih pada semuanya.
Di monsion Utama.
"Sayang cepat katakan, bagaimana bisa kamu menyusul kesana bersama Damien?" tanya Ansel, ia sudah berganti baju bersantai di ranjang dengan sang istri.
"Damien kesini, ia menawarkan bantuanya pada ku." jawab Bella dengan santai.
"Apa? kenapa dia bisa tahu?"
"Entahlah, mungkin Damien mendapat kabar dari rekannya." jawaban Bella membuat Ansel mengangguk.
"Aku cemburu." Ansel memegang tengkuk Bella, mulai mendekatkan wajahnya hingga hidung lancip itu bertabrakan dengan hidung mancung Bella.
Tubuh Bella mulai menegang, saat bibir mereka akan menyatu, entah mengapa perut Bella tiba-tiba seperti di aduk-aduk, ia langsung beranjak dari ranjang dan berlari ke arah kamar mandi, hal itu sukses membuat Ansel panik, ia ikut berlari menyusul istrinya.
"Sayang kamu kenapa?" Ansel memijat tengkuk istrinya.
"Entah, perutku rasanya tidak enak sekali." jawab Bella, muntahan Bella hanya berupa air.
__ADS_1
"Aku panggilkan dokter saja ya?"
"Tidak usah mungkin ini hanya masuk angin biasa." Bella mengelap bibirnya, ia kembali berjalan menuju ranjang dipapah oleh Ansel.
"Wajahmu pucat sekali sayang."
"Aku akan istirahat, mungkin dengan istirahat aku akan kembali baik." Bella menidurkan dirinya, kepalanya seketika terasa berat.
Melihat istrinya memejamkan mata dengan wajah pucat, membuatnya merasa kawatir.
"Tidurlah aku akan menemanimu." Ansel mengusap kepala Bella dengan sayang, karena semalam dirinya tidak tidur, ia pun ikut terlelap disamping istrinya.
Sedangkan di bawah semua orang heboh menyiapkan acara untuk nanti malam.
"Pak taruh itu disana, bungganya hias di setiap sudut saja ya Pak." Mama Tia dan Mama Eva mengantur dekorasinya.
Untuk makanannya mereka lebih memilih mengunakan jasa catering langganan Mama Tia, karena waktunya sudah sangat mepet.
Di mansion Ardolp
"Gila Bella semakin mempesona." ucap Kaya.
Ardolp dan ketiga rekannya sedang bersantai di tepi kolam, selepas pulang dari markas Black Wolf tadi.
"Apa perlu kita datang ke acara Ansel malam nanti?" Sea ikut menimbrung.
"Ya haruslah." jawab Grisham.
"Ya kita harus datang, sekarang kalian istirahat saja, kejadian semalam membuat tenaga kita terkuras." Ardolp juga ikut menimpali, dia bangkit dari sana dan meninggalkan kolam, disusul ketiga kawannya
Sore hari mulai berganti malam, kini di mansion Ansel semua orang sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan acara yang akan di mulai dua jam lagi.
Bella yang baru bangun tidur kembali mual.
"Sayang sebaiknya kamu istirahat saja, biar aku saja yang menemui para tamu." Ansel mengendong dan merebahkan istrinya di atas ranjang.
"Tidak suamiku, ini adalah hari bahagia untuk ku, aku tidak mau melewatkannya." Bella bersikeras.
Ansel membuang nafas dalam, istri cantiknya ini kalau sudah ingin sesuatu, tidak bisa di ganggu gugat.
"Baiklah sekarang kamu mandi, aku akan siapkan baju untukmu."
"Memang kamu bisa memilih, awas saja jika pilihanmu jelek." ucap Bella.
"Tidak akan sayang." ucapan Ansel disusul satu kecupan tipis yang ia berikan pada bibir istrinya.
__ADS_1
Bella beranjak ke kamar mandi, sedangkan Ansel berjalan ke arah wardrobe.
"Aku harus memilih gaun yang tertutup." Ansel mengacak-acak baju yang tergantung di lemari istrinya.
"Nah ini cocok." Ansel menemukan satu gaun yang menurutnya cocok.
Tidak lama terdengar langkah kaki mulai memasuki wardrobe, Bella hanya berbalut handuk menghampiri suaminya.
"Mana bajunya?" tanya Bella.
"Taraaa, bagus bukan pilihanku." Ansel tersenyum sumringah, sementara Bella melonggo dengan bibir sedikit menganggah.
"Astaga, suamiku ini bukan gaun, baju ini malah seperti daster." gaun yang Ansel pilih berkerah panjang hingga menutupi leher, potongan bajunya juga sangat lebar seperti baju yang biasanya emak-emak pakai untuk acara pengajian.
"Ini bagus loh sayang, lihatlah." Ansel tetep kekeh memaksa Bella untuk memakainya.
Kepala Bella sudah pusing malah bertambah pusing, melihat sikap absurd dari suaminya.
"Minggir biarkan aku memilih sendiri." Bella mengeser tubuh suaminya pelan.
Bella memilah-milah mencari gaun yang cocok untuk ia pakai malam ini.
"Nah ini kan bagus." Bella mengambil dress warna pink soft polos.
Ansel mengacak rambutnya saat pilihan istrinya jatuh pada dres bermodel kemben.
"Sayang yang lain saja ya."
"Aku mau yang ini." tanpa menghiraukan suaminya Bella berjalan ke ruang ganti.
Ansel menghembuskan nafas kasar, percuma juga melarang istrinya, ia pun berlalu menuju kamar mandi.
Jangan Lupa dukungannya untuk Author😍
________________________Like Vote Dan Komen
________________________
Kenalan sama othor yuk follow instagram othor.
Wuland4ri_05
Wulan
__ADS_1