Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Om Damien Mine 11


__ADS_3

Satu jam sudah Damien berada di kamar mandi, pria itu keluar hanya dengan balutan handuk di tubuh berototnya, rencananya selepas berganti baju ia akan pergi ke ruang bawah tanah.


Damien berjalan mengendap-endap, untuk saat ini dia tidak ingin bertemu dengan Stella dulu, gadis itu benar-benar membuat kepalanya nyut-nyutan.


Di ruang bawah tanah tempat penyekapan Fay, terlihat Robby sedang mengintrogasi pria yang sudah tidak berbentuk itu, wajahnya hancur penuh luka, bibirnya bengkak dengan darah segar menetes di kedua sudut bibirnya.


"Cepat katakan siapa yang menyuruh mu?" teriak Robby, pria itu nampak murka karena yang di tanya hanya tersenyum menyeringgai.


Tidak lama Damien datang, berjalan angkuh ke arah Fay dengan menyelipkan kedua tangannya di dalam saku celana bahan miliknya.


"Bagaimana Robb?" Damien berdiri tegap dengan bersendekap dada, lihatlah sikapnya sangat berbeda kali ini, nampak gagah dan berwibawah.


"Maaf Tuan, pria ini masih tidak mau mengaku, lihatlah dia lebih memilih mati dari pada menyebutkan nama Bosnya." Robby melirik tajam ke arah Fay.


Damien berjalan mendekati Fay, berjongkok di depannya dan menarik kaos pria itu dari luar jeruji. "Apa benar yang Robby katakan? kau lebih sayang Bos mu dari pada nyawa mu sendiri?" kalimat Damien penuh dengan penekanan.


Fay masih sempat-sempatnya tersenyum, kepalanya tidak bisa tegap lagi, tubuhnya gemetaran merasakan rasa sakit yang teramat sangat di sekujur tubuhnya.


"Lebih baik aku mati." ucapnya dengan lemah di iringi senyum menyeringgai.


Damien melepas kaos Fay dan mendorongnya dengan kasar, hingga membuat tubuh lemah itu terjengkang ke belakang.


"Akan ku kabulkan permintaanmu." Damien berdiri, menepuk-nepuk tangannya, merasa kotor setelah memegang pria itu.


""Robb."


"Saya Tuan." Robby menunduk hormat.


"Eksekusi pria itu, buaya peliharaan kita sudah lama tidak memakan daging manusia." ucap Damien dengan entengnya.


"Siap Tuan." Robby sangat bersemangat, ia sudah sangat geram karena Fay terus saja menantangnya, akhirnya kekesalannya berakhir dengan kelegaan.


Robby mengambil parang panjang, ia membuka jurujinya dengan rasa tidak sabaran, sementara Fay semakin ketakutan dia hanya mengeleng keras tidak mampu mengeluarkan suaranya, kini giliran Robby tersenyum menyeringgai, tanpa rasa kasihan dengan sekali ayunan Robby berhasil memengal kepala Fay hingga lehernya hampir saja terputus, seketika itu juga nyawa Fay melayang, seperti perintah dari Bosnya jasad Fay langsung di lempar ke kolam peternakan buaya milik Damien.


Selepas memerintah Robby, Damien kembali ke mansion karena sudah waktunya jam makan siang, sebelum kaki jenjang itu kembali melangkah, Damien mengambil nafas dalam dan membuangnya perlahan, jantungnya lagi- lagi tidak terkendali, menginggat sebentar lagi dia akan bertemu kembali dengan Stella.


"Sampai kapan aku bisa menahannya? kenapa saat berdekatan dengan Arrabel tubuhku tidak bereaksi sama sekali." gerutu Damien di sepanjang langkahnya.

__ADS_1


"Om Dam." terdengar teriakan Stella dari belakang, tubuh Damien seketika membeku di tempatnya, bulu kuduknya mulai berdiri, entah kenapa bertemu Stella lebih menakutkan untuk Damien, dari pada bertemu makhluk tak kasat mata.


"Om kemana saja? dari tadi aku mencari Om, teh hangat yang Om minta sudah aku minum tadi." gadis itu berlanyut manja di lengan Damien.


"Ti-tidak apa-apa sayang." ucapnya dengan gagap.


Sentuhan dari Stella layaknya energi listrik tegangan tinggi yang bisa menegangkan sesuatu di bawah sana.


"Ki-kita makan siang sayang." Damien mulai melangkah kembali, sementara Stella tetap sama, bermanja-manja di lengan Om nya.


Hari ini tidak ada teror kotak kado lagi, sejak tertangkapnya Fay tidak ada lagi yang berani mengirim paket ke mansion Damien.


"Bagaimana dengan Fay, apa pria itu mau mengaku?" tanya Papa Daniel, ketiganya sudah berada di meja makan.


"Papa tidak usah memikirkan hal itu, biar Damien yang selesaikan semuanya, Papa hanya boleh menikmati masa tua Papa." jawab Damien.


"Benar Oppa apa kata Om." seru Stella menambahi.


Makan siang pun berjalan seperti biasa, Damien beberapa kali bertatap muka dengan Stella membuat pria itu tersedak.


"Ukhuk-ukhuk.."


Papa Daniel hanya mengeleng kepala melihat kelakuan putranya yang tidak berhati-hati.


"Terima kasih sayang." ucap Damien pada Stella.


Acara makan siang pun usai, Damien sengaja mengambil masa cutinya untuk bisa memecah masalah yang sedang di landanya saat ini, sementara untuk masalah kantor Damien terima beres, semua itu di kerjakan oleh Robby dari mansion.


Papa Daniel mulai beranjak dan kembali ke kamarnya untuk tidur siang, sementara Stella merenggek pada Damien, meminta pada Om nya untuk menemaninya jalan-jalan ke taman.


"Om temani Stella jalan-jalan ke taman yuk!"


"Sayang cuacanya masih sangat terik, nanti sore saja ya Om janji padamu, lebih baik sekarang Stella tidur siang." Damien menarik tangan Stella mendorong pelan gadis itu ke kamarnya.


"Temani sampai aku tertidur ya Om!" pinta Stella dengan wajah memelas.


'Degh'

__ADS_1


Damien menelan ludahnya dengan kasar, semoga miliknya tidak kembali menegang, saat harus berada di satu kamar bersama Stella.


"Baiklah." jawab Damien dengan pasrah.


Stella mulai berbaring di atas ranjang miliknya, sementara Damien duduk di sisi ranjang sembari mengusap kepala Stella dengan lembut, agar gadis nakal itu cepat tertidur, semakin lama mata Stella semakin redup, gadis itu pun tertidur dengan pulas, terdengar dengkuran halus yang keluar dari bibirnya.


"Sayang Om mencintaimu." bisik Damien di telingga Stella, pria itu mencuri ciuman sekilas di pipi cabi milik gadis itu.


Damien sadar dengan perasaannya, dia tidak berani mengungkapkan cintanya pada Stella karena saat berada di dekat Stella rasa kepercayaan dirinya entah mengurai kemana, ia malu sendiri dengan usianya andai saja Damien bisa memilih dia ingin terlahir lebih lambat saja.


Biarkan waktu yang akan menjawab, Damien hanya bisa pasrah dengan takdir hidupnya yang sudah di gariskan oleh sang pencipta.


Melihat gadis nakalnya sudah terlelap Damien beranjak meninggalkan kamar Stella, ia berjalan menuju kamar miliknya, rencananya ia juga ingin tidur siang, Damien melepas baju yang dia pakai menyisahkan celananya saja, saat tubuh itu mulai berbaring terdengar notifikasi pesan dari ponselnya.


"Akh menganggu saja." Damien beranjak dari ranjang king size nya, mengambil ponsel yang berada di atas nakas.


Di bukanya pesan yang baru saja masuk, nampak guratan kemarahan yang terlihat di wajah tampannya, ia baru saja mendapat pesan dari Lano, isi pesan itu tertulis siapa dalang dari pelaku teror yang di alami Stella, tidak Damien sangka para pelaku yang melakukannya ialah orang di masa lalunya, pemimpin gang mafia Carter Sinaloa, kelompok mafia yang pernah Red Blood habisi saat menyelamatkan kedua orang tua Bella, kenapa mereka datang lagi? setelah sekian lama menghilang.


"Brengsek aku tidak akan membiarkan masalah ini menjadi berlarut-larut, mungkin mereka akan melakukan hal lain untuk menyakiti keluarga ku." monolog Damien, ia langsung mencari nomor ponsel Ansel dan langsung menghubungginya.


'Tuuuuuttt' panggilan tersambung.


"Hallo Sel, aku ingin berbicara serius dengan mu."


"Bicaralah." ucap Ansel di sebrang sana, kebetulan saat ini Ansel berada di kantor.


"Gang Mafia Carter Sinaloa kembali, mereka lah yang menteror putri mu, kita harus memperketat penjagaan di mansion kita, tidak menutup kemungkinan mereka juga menyerang keluarga mu disana." ucap Damien.


"Brengsek, sepertinya mereka ingin balas dendam." ucap Ansel.


"Ya kita harus cepat-cepat bertindak sebelum mereka menyerang, kamu tahu gang Carter pemilik anggota mafia terbanyak, bahkan kelompoknya tersebar di berbagai negara dan di dalamnya banyak orang-orang hebat."


"Sepertinya kita harus mengumpulkan anggota kita menjadi satu, apa perlu kita rubah marga kita?"


"Ide berlian, besok aku dan anggota Red Blood terbang kesana, tidak lupa membawa Stella bersama ku."


Telpon pun terputus setelah Ansel dan Damien melakukan kesepakatan itu, tentunya keduanya harus membicarakan hal ini terlebih dulu kepada rekan-rekan gangsternya, tidak mungkin mereka dengan seenaknya merubah marga tanpa persetujuan anggota yang lain, jika memang kesepakatan ini mendapat persetujuan dari kedua belah pihak, maka mereka akan menjadi pesaing gang Carter, karena jumlah anggota mereka jika di gabungkan menjadi satu tidak kalah banyak dari gang Carter.

__ADS_1


Selepas melakukan panggilan dengan Ansel, Damien mulai terlelap di atas ranjangnya.


Bersambung ...


__ADS_2