Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Om Damien Mine 19


__ADS_3

Para rekan Red Blood berlari menuju ruangan dimana Papa Daniel di periksa, mendengar teriakan Damien membuat semuanya panik.


"Om ada apa?" Damitri dan lainnya sudah berada disana.


"Papa meninggal." Damian menunduk, dia tidak ingin semua rekan Red Blood melihatnya menangis.


Semuanya terkejut, satu persatu rekannya mengucapkan bela sungkawa pada Damien, mereka turut berduka dan merasa terpukul karena tidak berhasil menolong Papa dari mantan pemimpin mereka.


"Maafkan Lano Om tidak bisa melindungi Tuan Daniel." pria muda nan tampan itu menduduk, merasa sangat bersalah.


Damien mendongak. "Sudahlah kita tidak bisa melawan takdir, ini bukan salah mu." ucap Damien.


Tak lama kapal sudah sampai di pelabuhan, dari jauh nampak sebuah mobil ambulance, mereka membawah jazad Papa Daniel menuju mobil itu, kesedihan terus nampak di wajah Damien, baru saja ia merasakan kasih sayang dari orang tuanya, kini Damien harus benar-benar kehilangan kasih sayang itu.


Mobil ambulance mulai melaju menuju mansion Damien, di susul mobil-mobil lainnya yang berisi Damien dan rekan-rekannya, di dalam mobil Damien sempatkan mengirim pesan kepada Ansel dan juga kekasihnya, jika Oppa Stella sudah tutup usia.


Waktu terus berputar, hingga Damien saat ini sudah berada di atas pusara milik Papanya, pria itu terus meneteskan airmatanya di temani rekan-rekan Red Blood.


"Selamat tinggal Pa, maafkan Dam tidak bisa melindungi Papa, maafkan Dam." Damien meremas tanah liat yang masih basah, ia teringat wajah keriput yang terlihat semakin menua itu kesakitan, karena banyaknya darah yang keluar dari dadanya.


"Aku akan membalasnya Pa, aku akan membunuh Derward dengan tanganku sendiri." ucapnya, mata dengan tatapan sendu itu berubah menjadi tatapan elang yang sangat menyeramkan, jati dirinya yang lama ia pendam mulai terlahir kembali.


"Om sebaiknya kita pulang, cuaca sedikit mendung mungkin sebentar lagi turun hujan." bujuk Damitri menepuk-nepuk pundak Damien memberikan semangat untuknya.


Damien mengangguk, sebelum pergi ia mencium batu nisan itu dengan penuh perasaan, semuanya pun bangkit dari sana meninggalkan pemakaman dan melanjutkan perjalanan menuju landasan pesawat miliknya, Damien tidak mau membuang waktu lagi, ia ingin cepat-cepat membalaskan kematian Papanya.


Sementara di mansion Ansel, Stella menangis terisak setelah mendengar kabar meninggalnya Oppa Daniel, begitu juga Bella dan Azzura mereka ikut bersedih mendengar kabar duka ini.


"Brengsek Derward." Ansel mengepalkan tangannya, amarahnya terlihat berapi-api.


Ansel menghampiri ketiga wanitanya. "Sayang-sayang ku jangan menangis lagi." Ansel memeluk ketiganya dengan penuh kasih, sementara Azzam ikut menenangkan adiknya Azzurra.


Tidak lama Robby datang menemui Ansel. "Tuan Ansel maaf saya menganggu, Tuan Damien kembali terbang kesini, dia meminta Tuan Ansel untuk mengumpulkan semuanya di markas Black Wolf."

__ADS_1


"Baiklah aku akan mengabari rekan-rekanku."


Robby lekas pergi dari hadapan Ansel, ia juga akan mengumpulkan rekan-rekan Red Blood sekarang juga.


"Kalian jangan menangis lagi, ikhlaskan Oppa Daniel." ucap Ansel pada ketiga wanita tercintanya yang masih menangis.


Ketiganya mengangguk, sama-sama menghapus airmata masing-masing, kabar buruk ini memang datang secara mendadak, membuat semuanya bersedih, terutama Stella gadis itu merasa sangat terpukul, ia selalu terbayang-bayang wajah Oppa Daniel yang nampak bersedih saat ia dan Omnya ingin meninggalkannya.


"Papa tinggal sebentar, kalian baik-baik di rumah, Zam jaga ketiga wanita kita." Ansel menepuk bahu putranya.


"Siap Pa." ucap Azzam dengan mantap.


Perkumpulan kali ini ialah perkumpulan terbesar sepanjang sejarah, kelompok Red Blood dan Black Wolf akan berkumpul menjadi satu di markas, bahkan di perkumpulan pertama ini, tidak semua kelompok Red Blood ikut terbang ke kota A, hanya separuh dari mereka yang ikut Damien.


Ansel segera mengabari Felix, ia menyuruh Felix untuk mengumpulkan semua rekan-rekannya di markas tanpa terkecuali.


Ansel saat ini sudah sampai di markasnya bersama anggota Red Blood, ia mempersilahkan tamunya untuk masuk.


"Kami merasa tersanjung, Anda memperlakukan kami seperti keluarga sendiri." ucap salah satu anggota Red Blood.


Ansel tersenyum. "Kita adalah keluarga." ucapnya mulai melangkah masuk disusul anggota Red Blood.


Didalam banyak hidangan yang tersaji, botol-botol wine nampak tertata di meja dengan sangat rapi, ada beberapa wanita sexy yang sudah Felix siapkan untuk menemani tamu-tamunya nanti, tapi wanita-wanita itu masih Felix sembunyikan, mereka saling menyapa dan berkenalan sembari menunggu kedatangan Damien.


Suara riuh canda tawa berubah menegang saat Damien mulai memasuki markas, aura kejam yang telah lama terkubur kini terlihat kembali, mata elang dengan tatapan tajam khas seorang Damien, dengan rahang tegas terbaca oleh Ansel, tatapan itu sama seperti 18 tahun silam saat Damien masih bergabung dengan anggota Red Blood, begitu juga dengan yang lainnya, bukan hanya dari anggota Black Wolf, bahkan anggota Red Blood sendiri sampai bergidik ngeri melihatnya.


Ansel berjalan mendekati Damien, pria itu memeluk Damien sembari mengucapkan turut berbela sungkawa.


"Dam aku ikut sedih mendengar Tuan Daniel tiada." Ansel menepuk bahu Damien, memberikan support padanya.


"Ya semua itu sudah kehendak Tuhan." Damien mengurai pelukannya.


Ansel mengangguk. "Kita mulai sekarang?" tanyanya.

__ADS_1


"Oke.."


Ansel membawah ribuan orang itu memasuki sebuah ruangan yang begitu luas, ruangan itu kosong tanpa ada benda satupun, penerangannya juga sangat redup, semuanya berdiri berbaris rapi, disebelah kanan untuk anggota Black Wolf dan di sebelah kiri untuk anggota Red Blood.


Felix segera menyalakan proyektor yang sudah di siapkannya, di dinding putih nampak jelas tersorot tayangan yang isinya fisi dan misi masing-masing marga, kemudian berganti dengan tayangan beberapa koleksi senjata milik kedua marga ini, tayangan itu di selinggi dengan penjelasan dari Ansel dan juga Damien, semua nampak serius mendengarkan penjelasan dari kedua pria yang sangat berpengaruh itu.


"Kita akan menyatukan koleksi persenjataan kita, kita juga harus memperluas wilayah kekuasaan, lebih banyak wilayah yang kita kuasai, lebih besar pula nama marga kita." ucap Ansel.


"Untuk peresmian nama marga baru, aku dan juga Damien sudah bersepakat menamai marga baru ini dengan sebutan "Rick Devil", bagaimana menurut kalian?" tanya Ansel.


Seketika itu suasana yang tadinya sepi senyap kini terdengar ramai dengan suara masing-masing, sebelumnya Ansel dan Damien sudah membahas hal ini melewati telpon, dan keduanya sangat cocok dengan nama marga itu, kini keduanya tinggal menunggu bagaimana pendapat dari rekan-rekan lainnya.


Damien mengangkat tangannya ke atas memberi kode pada semua untuk diam. "Yang setuju angkat tangan kalian!" ucapnya dengan lantang.


Hawa ruangan seketika menegang, melihat sorot mata Damien yang menakutkan membuat tangan masing-masing anggota terangkat begitu saja, setelah semua anggota setuju, Damien melirik Ansel menyuruh Ansel untuk melanjutkannya.


"Oke fine, nama marga baru kita "Rick Devil" (Ansel berhenti sejenak lalu melanjutkan ucapannya) di dalam setiap kelompok pasti ada yang terbaik dari yang baik, ada yang terkuat dari yang kuat, tidak seterusnya pendapat atau fikiran kita sama, pasti ada kalanya kita berselisih paham atau semacamnya, hal itu membuat kekuatan kelompok kita semakin melemah, jadi untuk menghindarinya, kita butuh satu pemimpin, pemimpin yang menentukan pilihan mutlak dari semua pendapat, pemimpin yang menjadi hakim saat perseteruan antar kelompok terjadi, tidak ada yang bisa menolak keputusan pemimpin, jadi di marga kita yang baru ini, kita butuh pemimpin yang kuat, tangkas, yang memiliki ambisius tinggi, menurut kalian siapa yang pantas memimpin marga baru kita kali ini?"


Suasana kembali riuh, semua orang terlihat binggung, di depan sana berdiri 11 orang yang memiliki semua kemampuan di atas rata-rata dari beribu-ribu anggota, 11 orang itu dari pihak Black Wolf maupun Red Blood, dari anggota lama maupun anggota baru.


Ansel mengangkat tangannya. "Begini saja, cek ponsel kalian masing-masing, Felix sudah mengirim satu aplikasi secara otomatis ke ponsel kalian semua, silahkan kalian memilih dari 11 kandidat yang sudah tercantum disana, siapa yang pantas menjadi pemimpin "Rick Devil" menurut kalian?"


Semuanya dengan serentak mengecek ponsel masing-masing dan benar saja, satu aplikasi asing masuk secara tiba-tiba ke ponsel mereka, dengan sekali klik tombol vote langsung tertera di layar besar, disana terpampang foto ke 11 orang yang menjadi kandidat.


"Arg sangat memalukan, kapan mereka mengambil gambar." umpat Bray, sementara ketiga kawannya menahan tawa saat melihat foto Bray seperti orang mengantuk.


Layar led di dinding seketika padam, detik ini dimana pemimpin "Rick Devil" akan di tentukan, Ansel mulai menghitung mundur.


" 3 2 1.." klik muncul satu foto di dinding.


Ayooooo nungguin ya🤣🤣


lanjut nanti ya bumil mau rebahan dulu😁

__ADS_1


__ADS_2