
Di Resto Larpage
Albert dan Stella baru saja sampai, pria yang memakai jaz berwarna putih itu nampak sangat tampan, ia segera turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Stella.
"Silahkan tuan putri." Albert tersenyum manis sembari membungkuk hormat bersikap layaknya seorang pelayan, membuat Stella tersenyum sungkan.
"Astaga kenapa dia membawa ku ketempat seromantis ini." batin Stella berkecamuk. ia fikir mereka akan makan malam biasa saja, bahkan baju yang Stella pakai sangat tidak cocok jika di sandarkan dengan Albert, karena dress yang di gunakannya terlalu santai.
Albert memberikan tangannya untuk di gandeng, sementara Stella masih mematung di tempatnya.
"Hanya kali ini saja." pinta Albert dengan wajah memelas.
Dengan terpaksa Stella mengandeng tangan kekar itu, tapi sebelum tangan lentik itu mengandengnya suara bariton dari belakang mengejutkan keduanya.
"Jauhi kekasih ku pria brengsek." ucap Damien dengan lantang, tangan kekar itu sudah mengepal erat, apalagi saat melihat siapa dosen yang di maksud Stella membuat rahang tegas itu mengetat.
Albert menghembuskan nafas kasar dan menatap Damien dengan tajam, dia sangat geram makan malam yang harusnya romantis kini gagal karena kedatangannya, bahkan pria itu merasa terkejut saat Damien mengatakan jika Stella ialah kekasihnya.
Hanya sebentar saja wajah Albert menampakkan keterkejutannya, setelahnya pria itu tersenyum smirk ke arah Damien, dengan sengaja ia mendekatkan tubuhnya ke arah Stella lalu berbisik di telinga gadis cantik itu.
"Benarkah dia kekasihmu?" bisik Albert, mata itu sengaja menatap Damien di sertai seringgai licik di bibirnya, hal itu membuat Damien emosi dan tidak bisa di kendalikan lagi, pria itu berlari dan memberi satu bogeman mentah ke wajah tampan Albert, sementara Stella menepuk jidatnya, ia berfikir kenapa masalahnya bisa menjadi runyam seperti ini.
Albert tidak diam saja, pria itu juga membalas pukulan Damien tepat mengenai pipi kirinya, keduanya sama-sama aduh jotos membuat Stella dengan terpaksa melerai kedua pria itu.
"STOP, aku bilang stop." teriak Stella dengan lantang sembari melerai keduanya dengan merentangkan tangan.
Keduanya berhenti, tangan mereka sama-sama berada di udara saat mendengar Stella berteriak, akhirnya pertarungan sengit itu terhentikan juga, alhasil wajah keduanya sama-sama bonyok, Stella dengan segera berjalan ke arah Damien dan menarik tangan pria itu, sebelum pergi ia berpamitan dan meminta maaf pada Albert.
"Kak aku minta maaf tidak bisa menemani mu makan malam." gadis itu menatap Albert jengah, tapi ada rasa kasihan saat melihat luka lebam di pipi dan matanya.
"Tidak apa-apa, tapi lain kali usahakan ya dan aku meminta kejelasan darimu, apa maksud pria ini menyebutmu kekasihnya." ucapnya dengan lembut sembari meringgis merasakan perih.
"Brengsek.." ucapan Albert membuat Damien semakin marah hingga membuat pria itu kembali ingin menyerang Albert, sebelum hal itu terjadi Stella dengan cepat menarik tangan Damien menuju mobilnya.
Albert tersenyum kecut karena tidak mendapat jawaban dari Stella, ia pun lebih memilih kembali ke markas dari pada melanjutkan makan malamnya yang gagal total.
__ADS_1
Sementara Robby datang terlambat, pria itu baru tiba saat Stella mencoba menarik Damien ke dalam mobil.
"Tuan maaf kami terlambat." Robby dan Vero menundukkan tubuhnya sebagai tanda permintaan maaf, melihat wajah Bosnya yang babak belur membuat keduanya merasa takut, Robby pun berfikir mungkin Bosnya sempat berkelahi dengan pria yang membawah Nona mudanya.
Damien berhenti dan menatap keduanya dengan tajam. "Kalian sangat tidak berguna, bagaimana bisa kalian berpacaran disaat aku membutuhkan bantuan hah." teriak Damien membuat orang-orang yang berada di sekitar mereka menatap aneh.
Robby dan Vero saling berpandangan, lalu sama-sama mengaruk tengkuk mereka yang tidak gatal.
"Kenapa jadi kami yang disalahkan, kenapa Tuan memberi izin jika ujung-ujungnya marah-marah, dan bodohnya lagi kenapa Tuan membuang waktu menyuruh Vero membuntuti Nona Stella, apa dia melupakan gps yang sudah terhubung di ponselnya." gerutu Robby, tentu saja hanya berani menggerutu dalam hatinya.
"Saya minta maaf Tuan." ucap Robby.
"Saya juga." sambung Vero kemudian.
Damien langsung memasuki mobilnya Tanpa menjawab permintaan maaf kedua orang itu.
"Sudahlah jangan terlalu di pikirkan." ucap Stella pada keduanya sebelum memasuki mobil.
Robby dan Vero hanya bisa mengangguk, kini mobil milik Damien melesat pergi meninggalkan dua orang yang nampak canggung setelah mendengar ucapan Bos nya yang menggira mereka menjalin hubungan.
"Ekhem, sebaiknya kita pulang juga." ucap Robby memecah keheningan di antara keduanya.
Keduanya pun memasuki mobil, Vero yang merasa penasaran kenapa Robby bisa tahu keberadaan Stella akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Tuan.." panggil Vero.
"Heem." masih sama sedingin es batu.
"Kenapa anda bisa tau jika Nona Stella berada di resto Laspage?" Vero menghadap kesamping menunggu jawaban dari Robby.
"Ponsel Nona Stella terhubung ke ponsel ku dan Tuan Dam." jawab Robby masih fokus menatap kedepan.
"Kalau ponsel Tuan Dam terhubung dengan ponsel Nona Stella, kenapa dia menyuruhku untuk membuntuti mereka?" ucapnya kesal.
Robby hanya mengangkat kedua bahunya, hal itu membuat Vero semakin kesal.
__ADS_1
"Dasar pria menyebalkan." gerutu Vero dengan suara pelan.
"Kamu bilang apa?" tanya Robby yang mendengar Vero bergumam.
"Ah bukan apa-apa Tuan." ucap Vero sembari tersenyum, gadis itu kembali menghadap kedepan, ia pun memilih untuk memejamkan mata karena hari ini sangat melelahkan untuknya, bukan lelah fisik tapi telinganya terlalu lelah saat mendengar suara teriakan dari majikannya.
"Hubby kenapa kamu semarah itu, bukankah kamu sendiri yang memberikan ku izin." Stella merasa kesal dengan sikap Om sekaligus kekasihnya itu, kenapa harus memakai kekerasan, padahal ini hanya kesalah pahaman saja.
Sementara Damien menutup rapat mulutnya, ia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk membalas ucapan Stella, pria itu sangat kesal dengan kekasihnya, kenapa dia tidak bilang jika orang yang pernah menolongnya kemarin ialah Dosennya.
Melihat Damien masih mendiamkannya, akhirnya Stella lebih memilih untuk tidur, situasi di mobil terasa hening, Damien yang tidak mendengar suara lagi mencoba melirik gadis yang berada di sampingnya.
"Astaga bukannya membujuk ku dan bertanya malah tertidur." batin Damien semakin kesal.
Mobil Damien kini sudah sampai di mansion miliknya, ia menyingkirkan rasa gengsinya akhirnya Damien memilih membangunkan Stella, Damien menatap wajah lelah kekasihnya membuatnya tidak tega mendiamkannya.
"Sayang bangun kita sudah sampai." Damien mengelus pipi halus itu kemudian turun ke bibir ranum milik Stella, bibir manis ini sudah lama tidak ia rasakan, Stella yang tak kunjung bangun membuat Damien iseng, ia mendekatkan wajahnya dan mencuri ciuman dari Stella membuat gadis itu mengerjap.
"Om mencuri ciuman dariku?" Stella menatap Damien tajam rasa kantuknya hilang seketika.
Melihat reaksi sang kekasih membuat Damien berfikiran buruk tentang Stella, sepertinya gadis itu keberatan jika ia menciumnya.
"Apa kamu tidak mau ku cium?" Damien balik bertanya sembari menatap nya dengan tajam, tatapan itu lebih tajam dari silet membuat Stella bergidik.
"Ya aku tidak suka kalau Om mencuri ciuman dariku, tapi aku lebih suka jika Hubby mencium ku langsung seperti ini." Stella menarik kerah baju Damien dengan kasar membuat Damien terkejut dan bibir keduanya kini menempel sempurna, saat itu kaca mobil depan terbuka, membuat dua orang yang baru saja sampai menelan ludah dengan kasar saat tidak sengaja melihat adegan kiss secara live di depan matanya.
"Ekhem.." deheman Robby membuat dua orang yang saling bertukar saliva itu terkejut dan langsung melepas ciuman mereka.
"Sialan kau Robb, akan ku potong 50% gajimu karena berani menganggu kesenangan ku." batin Damien.
Sementara Vero begitu syok melihat kedua orang itu, bahkan mulutnya saat ini masih menganggah.
"Apa aku tidak salah lihat, Paman dan Ponakan main sosor-sosoran." batin Vero.
"Tutup mulutmu." ucap Damien menatap Vero tajam, Vero reflek langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.
__ADS_1
Damien dan Stella akhirnya keluar dari mobil, pria itu menatap tajam keduanya.
Bersambung ...