Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Kabar Duka


__ADS_3

"Loh nak Ansel, kapan kesini?" tanya Papa Tio.


"Pa maafin Ansel, buk.." ucapan Ansel terhenti saat mulutnya di bungkam oleh Bella.


"Maaf Pa kita permisi dulu." ucap Bella menarik tangan suaminya memasuki kamar pribadi miliknya.


Papa Tio hanya mengangguk.


"Apa yang ingin kamu katakan pada Papa?" tanya Bella.


"Aku ingin meminta maaf, jangan pernah berfikir untuk pergi dariku." jawab Ansel.


"Siapa yang mau pergi darimu?" tanya Bella menautkan kedua alisnya.


"Kalau bukan untuk pergi, kenapa kamu pulang kesini tanpa seizin ku?" Ansel membalikkan pertanyaan.


"Mama sakit suamiku, aku datang kesini untuk menjengguk Mama." jawaban Bella membuat Ansel mematung.


"Sial, aku kira dia melarikan diri karena Calista." batin Ansel mengrutuki kebodohannya.


"Lalu kenapa ponselmu mati?" tanya Ansel lagi.


"Ponsel ku lowbat." jawab Bella membuat Ansel menutup wajahnya dengan satu tangan.


"Sebentar, kamu menggira aku melarikan diri begitu?" tanya Bella sambil menahan senyum.


Ingatan tentang Ansel yang memohon masih bergentayangan di benak Bella membuatnya ingin tertawa, seorang gangster bisa bertingkah bodoh seperti itu.


Ansel mengalihkan wajahnya, sumpah demi apapun ia ingin sekali melarikan diri dari istrinya ini.


"Cepat katakan!" ucap Bella semakin memojokkan Ansel, tawa lepas pun tidak bisa ia bendung lagi saat melihat wajah suaminya mulai memerah.


'Hahahaha..' tawa Bella lepas.


Ansel menatap istrinya lekat dengan sorot mata tajam, membuat tawa Bella terhenti seketika.


Pria yang terlanjur malu ini berjalan menuju pintu, ia mengunci pintu dan memasukkan kunci di kantong saku miliknya.


Bella menatap tajam Ansel, mau apa dia sampai harus mengunci pintu, Ansel mulai mendekat membuat Bella mundur teratur hingga tidak ada celah lagi untuknya menghindar.


Ansel menggungkung Bella di dinding, ia tidak ingin membiarkan wanita itu lolos begitu saja, kerinduan yang di rasakannya membuat dirinya hilang kontrol, dengan cepat Ansel menyesap bibir yang membuatnya candu, Bella hampir saja terlena akan permainan Ansel tapi setelahnya ia berusaha mendorong dada bidang itu hingga ciuman mereka terlepas.


"Kenapa..?" tanya Ansel dengan mata berkabut, ia menginginkan hal lebih, 2 hari tidak tidur dengan istrinya sudah membuatnya frustasi.

__ADS_1


"Aku harus menghindar." batin Bella.


Bella harus berjaga-jaga dirinya belum siap untuk hamil, karena Ansel belum mempublish hubungan mereka.


"Sudah cukup, aku tidak ingin mempercayaimu lagi." jawab Bella.


"Apa maksudmu?" tanya Ansel tidak mengerti.


"Kamu sudah mengingkari janjimu padaku, mana janjimu kemarin yang ingin mempublis pernikahan kita." jawab Bella bersendekap dada.


Hasrat yang sebelumnya membara itu berangsur surut saat mendengar ucapan istrinya.


"Kamu lihat orang tua Calista, mereka jadi korban karena diriku, aku tidak ingin terjadi hal yang sama pada kalian, maafkan aku jika harus melakukan ini untuk sementara waktu saja." ucap Ansel.


"Itu hanya alasanmu saja, bukankah kamu sudah mengirim banyak bodyguard ke mansion ini, apa belum cukup penjagaan super ketat untuk melindungi keluargaku, bahkan hanya ingin bertemu orang tua ku saja aku harus menahannya." ucap Bella menggebu.


Ansel menghembuskan nafas kasar. " Sial, jadi gagal kan nanam bibitnya, dedeg emes ngak mau tidur lagi." batin Ansel.


Ansel berencana ingin membuat Bella hamil, mungkin anak itu akan menjadi penghalang agar Bella tidak meninggalkannya, sementara Bella menahan senyuman saat melihat wajah bernafsu itu berubah kusut.


"Baiklah selepas Mama sembuh, aku akan publis hubungan kita." ucap Ansel.


"Jangan hanya ucapan, aku bosan mendengarnya." ucap Bella.


Obrolan terhenti saat mendengar suara Papa Tio memanggilnya.


"Iya Pa.." jawab Bella.


Kepala Ansel serasa ingin pecah, benar-benar rencananya gagal total kali ini, dengan lemas ia memberikan kunci pintu pada istrinya yang sedang menenggadahkan tangannya.


"Buktikan dulu ucapanmu, baru kita main." bisik Bella di telingga Ansel, membuat jiwa Ansel kembali bergelora.


Bella meninggalkan Ansel yang masih berdiri mematung di kamarnya, sedangkan Ansel terpaksa menuntaskan hasratnya sendiri di kamar mandi.


"Berani sekali dia menarik ulur hasratku seperti ini, sial." umpat Ansel di kamar mandi.


Karena menunggu Ansel tidak kunjung turun, Papa dan Bella akhirnya makan terlebih dulu sementara Mama di jaga oleh Asisten Ira.


Satu jam berlalu, Bella menunggu suaminya keluar sembari membaca novel, Ansel keluar dari kamar mandi dengan wajah kusut saat melihat istrinya berada di ranjang.


"Wajah mu kenapa? ayo makan malam dulu!" ucap Bella mengajak suaminya untuk turun.


*

__ADS_1


Di lain tempat seorang wanita parubaya sedang menangis di atas pusara ibunya, di atas gundukan tanah Mama Tia menumpahkan kesedihannya.


"Pa kabari putra-putra kita, suruh berangkat hari ini juga." ucap Mama Tia pada Papa Robert.


"Iya Ma, sekarang kita pulang Mama harus istrirahat." ajak Papa Robert.


Sudah hampir dua hari Mama Tia tidak tidur, Ibunda yang dua hari ini sesak nafas membuat Mama Tia tidak ada waktu untuk beristirahat.


Papa Robert membantu istrinya untuk berdiri, mereka berjalan menuju mobil, disana sudah ada sang supir menunggu mereka, melihat kedua majikannya sudah memasuki mobil, sang sopir langsung melajukan mobilnya membelah jalanan kota paris.


Ya kedua orang tua Ansel berada di negara perancis, sudah beberapa bulan ini keadaan Oma Ansel semakin memburuk, Mama Tia tidak ingin menganggu pekerjaan anaknya maka dari itu beliau tidak sama sekali mengabari Ansel tentang keadaan Omanya.


Ansel yang saat ini berkumpul di kamar mertuanya merasa terkejut saat Papanya mengabari kematian sang Oma.


"Sayang hari ini juga kita harus terbang ke Perancis." ucap Ansel pada istrinya.


"Kenapa? tapi bagaimana dengan Mamaku, siapa nanti yang membantu Papa untuk mengurus Mama?" tanya Bella.


"Omaku meninggal." jawab Ansel dengan suara rendah.


Ketiga orang di hadapan Ansel terkejut.


"Kami turut berduka cita nak." ucap Mama Eva.


"Kamu ikut suamimu saja biar Papa dan mbak Ira bergantian menjaga Mama." ucap Papa Tio.


"Tapi Pa.." ucap Bella terpotong.


"Sudah sayang, ikut suamimu kemana pun dia pergi, Mama tidak apa-apa." ucap Mama Eva.


Bella mengangguk, mereka segera berpamitan untuk pulang dan bersiap-siap, mobil melesat jauh meninggalkan sang Mama yang masih menetap di fikiran Bella.


"Kalau kita ke Prancis, bagaimana dengan Calista?" tanya Bella membuyarkan lamunan Ansel yang sedang mengemudi.


Masih sempat-sempatnya Ansel melamun padahal mobil sedang melaju.


"Apa kita ajak saja?" tanya Ansel.


Bella memutar bola matanya malas saat mendengar pertanyaan suaminya.


"Jangan berfikiran aneh-aneh, Mama dan Papa kenal Calista dari ia masih bayi, lagian Arka juga ikut kalau kita bertiga terbang ke Prancis Calista bagaimana?" tanya Ansel.


"Terserahmu saja." jawab Bella dengan malas.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya😊


lope-lope buat pembaca🄰


__ADS_2